Cyrus Online II: The Great Guild War

Cyrus Online II: The Great Guild War
Chapter 16: Council of Grim



Downtown, Kota Paradis...


Di dalam sebuah bar yang bercahaya remang-remang bersahaja. Orang-orang melampiaskan semua ekspresi mereka dengan berbagai hal yang ada di bar.


Minum alkohol, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, berjoget ria mengikuti alunan musik country yang khas, dan saling bertukar rayuan maut yang menembus palung hati.


Downtown terasa begitu hidup malam ini, entah berapa lama semenjak terakhir kali mereka merasakan ini.


Semua itu terjadi karena beberapa kekacauan yang sedang terjadi di Uptown saat ini, mereka semua sedang mengadakan pesta peringatan keberhasilan mereka. Walaupun masih jauh dari kata berhasil, namun mereka sudah cukup puas dengan keadaan saat ini.


Kekacauan di pasar sampai membuat harga barang-barang sedikit terganggu, kekacauan di arena duel yang membuat cukup banyak nyawa orang tak bersalah melayang, hanyalah sebagian kecil dari kekacauan-kekacauan yang terjadi di kota atas.


Bagi orang-orang kota atas mungkin masih belum terlalu berarti, karena ada beberapa petinggi negara yang menganggap hal itu hanyalah hal yang remeh. Namun berbeda untuk orang-orang di kota bawah, bagi mereka semua hal itu adalah pencapaian besar dan mereka bersiap untuk hal yang lebih besar.


Di lantai kedua bar itu, terdapat orang-orang yang memiliki pengaruh kuat di kota bawah. Orang-orang kota bawah sering menyebut mereka dengan sebutan, Council of Grim.


Orang-orang Council of Grim lah yang mengatur kota bawah agar tidak lepas kendali dan tidak hilang arah, serta mereka juga yang memberikan harapan itu untuk orang-orang kota bawah.


Dan ketua Council of Grim adalah orang yang dikenal dengan sebutan The Number Zero alias Andrade el Ídolo.


Andrade duduk di meja paling ujung diantara ujung, dengan menggunakan jas mewah berwarna putih terang. Andrade dengan santai meminum Tequilla tanpa merasa terganggu dengan keributan yang dilakukan para anggota lainnya.


Mengapa Andrade dikenal dengan sebutan The Number Zero atau sang angka nol? Alasannya sangat sederhana, karena organisasi kejahatan Council of Grim memiliki sepuluh orang petinggi yang disesuaikan dengan angka 1-10.


Semakin kecil angkanya, semakin penting dan berpengaruh pula sosok orang itu di Council of Grim. Sama seperti Andrade yang dikenal sebagai Number Zero, maka ia adalah orang yang sangat berpengaruh di Council of Grim melebihi siapapun.


Berbicara soal orang paling berpengaruh di organisasi, Andrade yang sedang asik menikmati Tequillanya dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang hendak memberitahukan sebuah informasi padanya.


Matanya yang tajam tertutup kacamata hitam itu, memandang ke sosok yang baru saja datang tadi. "Bicaralah!" ujar Andrade dengan santai.


"Sepertinya ada beberapa orang mencurigakan di kota bawah Tuan Zero. Gerak-gerik mereka terkesan memata-matai tempat ini, saya takut kalau mereka adalah utusan kekaisaran" ucap sang pemberi laporan.


Wajah Andrade tetap tenang, seolah ia tak terusik sama sekali dengan hal tersebut. Ia lanjut meminum Tequillanya hingga tetesan terakhir, lalu ia pun menjawabnya dengan santai. "Aku rasa kekaisaran tak akan sudi membahas dan menginjakkan kaki mereka di tempat busuk seperti ini! Tetapi, sepertinya aku akan menyambut mereka. Biar nomor 6 dan nomor 9 yang akan mengurus mereka"


Dengan gerakan penuh makna Andrade menyuruh sosok tadi untuk segera menjauh dari hadapannya, sosok itu langsung membungkuk dan pergi dari situ untuk kembali ke tempat posnya.


Andrade menyerahkan gelas kosong ke bartender, tanpa banyak tanya lagi si bartender langsung memasukkan Tequilla yang entah keberapa kalinya ke dalam gelas kaca mungil yang saat ini digenggam erat oleh Andrade.


Setelah meneguk sedikit Tequilla dan membuatnya kembali tenang, ekspresi wajah Andrade langsung berubah total, bahkan terkesan lebih menyeramkan dari sebelumnya.


"Nomor 6! Nomor 9!"


Saat namanya dipanggil, sosok yang diduga si nomor 6 dan nomor 9 langsung ke depan dan menghadap ke Andrade.


"Sambut tamu-tamu kita itu, dan pastikan mereka semua menerima pelayanan terbaik dari kita semua" ujar Andrade sambil sedikit tersenyum.


Tidak banyak kata, nomor 6 dan nomor 9 langsung menjalankan tugas mereka. Mereka pamit, dan segera mencari sosok tamu yang dimaksudkan oleh Andrade, bagi mereka berdua tidak ada hal yang lebih penting dari perintah Andrade.


Andrade kembali menikmati Tequilla, di putarnya minuman itu di gelas mungilnya sehingga membuat suasana hatinya terasa lebih ringan dan santai seperti sebelumnya. Sebelum ia meminumnya, Andrade menikmati aroma khas minumannya itu dan langsung menegaknya hingga tak bersisa di gelas.


"Tidak akan kubiarkan ada orang yang mengacaukan rencana yang sudah kupersiapkan sejauh ini!" ujar Andrade sambil memandangi cahaya remang yang menerangi dirinya saat ini.


...****...


Archie dan Ashiya sampai ke Desa Spezia saat matahari sudah begitu tinggi dan terik-teriknya. Hal itu dikarenakan perhitungan Archie yang sedikit meleset, ia memperkirakan akan tiba di Desa Spezia pada saat pagi harinya namun ternyata perjalanan mereka lebih panjang dan melelahkan dari yang Archie kira sebelumnya.


Namun bukan hal itu yang dikhawatirkan oleh Archie, ia merasa sedikit khawatir dengan hal-hal yang ada di Desa Spezia.


Archie merasa desa ini benar-benar damai sekali, walaupun hari sangat panas siang ini namun entah kenapa ia bisa melihat orang-orang di Spezia masih merasa biasa-biasa saja dan terkesan menghiraukan hal itu.


Bagi Archie kedamaian adalah sesuatu hal yang mengerikan, karena mungkin saja akan ada badai setelah ketenangan berlalu.


Begitu Archie menyuruhnya untuk memperhatikan hal-hal yang dirasa aneh di Desa Spezia, benar saja Ashiya juga menyadari hal tersebut.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi sebaiknya kita berhati-hati" ucap Archie.


"Baiklah lieve!" jawab Ashiya singkat.


Lalu mereka pergi ke sebuah tempat makan yang ada di desa, di sana banyak orang-orang yang sedang menikmati makan siang mereka atau hanya sekedar berbincang dengan teman.


Saat Archie dan Ashiya masuk ke tempat itu, semua mata memandang kepada mereka berdua. Archie merasa tatapan mereka semua bagaikan tatapan predator yang mengawasi mangsanya, dan dirinya dan Ashiya lah mangsa mereka semua itu.


Namun Archie berusaha tetap tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan, Ashiya begitu juga. Mereka lantas duduk untuk segera memesan pesanan mereka.


"Ada yang bisa kubantu?" si pelayan menghampiri meja Archie dan Ashiya.


"Ah aku mau pesan makanan yang paling rekomendasi di kedai ini"


"Untuk makanan paling rekomendasi adalah Roti manis yang direndam dalam kuah susu ditambah sedikit madu, untuk minumannya kalian bisa memesan susu segar" ucap si pelayan


"Baiklah aku pesan itu" Archie merogoh kantongnya bersiap untuk membayar pesanannya. "Berapakah harga untuk semua pesanan ku?"


"Totalnya 4 keping perak dan 60 keping perunggu"


Archie pun membayarnya dengan 5 keping perak, hal itu membuat si pelayan sedikit terheran karena ia yakin sudah memberitahukan pada Archie harga yang sebenarnya.


"Ah itu anggap saja tip untukmu!" ujar Archie sambil sedikit tersenyum ke arah si pelayan yang masih terlihat begitu tidak peduli itu.


"Baiklah kalau begitu aku berterimakasih. Sebelum aku pergi apa ada hal lagi yang ingin kau tanyakan?"


"Oh iya, apa kau tahu di mana kami bisa menemukan penginapan? Kami berdua berjalan cukup jauh sehingga kami memerlukan tempat untuk beristirahat untuk sementara. Jika kau bisa memberitahukannya kepada ku, akan ku beri lagi 1 perak untukmu"


Tawaran dari Archie sangat menggiurkan bagi si pelayan, akhirnya ia pun mengambil satu keping perak dari tangan Archie lalu memberitahukan tempat yang dimaksud.


"Setelah kalian keluar dari kedai ini, kalian belok ke arah kiri dan lurus saja hingga hampir di pertigaan. Di sana akan ada penginapan dengan nama High Moon!"


"Terima kasih atas informasinya!"


Si pelayan lalu pergi ke belakang untuk menyiapkan pesanan Archie sebelumnya.


Archie langsung memberikan kode ke Ashiya kalau umpan mereka sudah berhasil menjerat target, Archie dan Ashiya lalu lantas mencoba memperhatikan orang-orang yang ada di kedai itu tanpa sepengetahuan mereka semua. Dan mereka semua merasa puas, entah apa yang membuat mereka bisa puas seperti itu namun nampaknya hal itu bukanlah hal yang bagus bagi Archie dan Ashiya.


Beberapa menit telah berlalu, makanan yang dipesan Archie juga sudah habis disantap. Archie dan Ashiya pun langsung pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh si pelayan tadi.


Benar saja, memang ada penginapan dengan nama High Moon dan mereka langsung saja mengurus keperluan untuk menginap.


Archie membayar 5 perak untuk dua kamar serta pelayanan makanan. Ashiya sebelumnya sempat menolak usulan Archie yang memesan dua kamar karena menurutnya itu terlalu boros, namun Archie berpikir sebaliknya kalau mereka memang harus ditempatkan di kamar yang berbeda.


Menjelang sore hari, Ashiya masuk ke kamar Archie. Terlihat di bola matanya yang indah sosok Archie yang sedang duduk santai sambil memandangi langit sore yang indah di Spezia.


Menyadari Ashiya yang masuk ke kamarnya, Archie pun membalikkan badannya dan tersenyum ke arah Ashiya.


"Apa kau merasakannya Ashiya?" tanya Archie pada Ashiya.


Walaupun pertanyaan itu terkesan tidak nyambung dan aneh, namun Ashiya bisa mengerti maksud dari pertanyaan itu. "Ya lieve! Aku bisa merasakan ada beberapa orang yang sedang mengawasi kita berdua entah dari mana"


"Malam ini pasti akan terjadi hal yang merepotkan, maka bersiaplah untuk segala hal yang terjadi nantinya"


Dengan wajah serius, Ashiya menganggukkan kepalanya. Mereka berdua bersiap untuk menghadapi hal yang akan terjadi pada mereka berdua nantinya.