
Bunga-bunga api berterbangan di langit kota Paradis, tepatnya di kota bawah yang sedang terjadi kebakaran hebat. Di salah satu distrik kota bawah, terjadi kebakaran yang membakar banyak rumah yang kebanyakan berdempetan itu sehingga membuat api begitu cepat menyebar, bagai kedipan mata saja.
Asap hitam membumbung tinggi di angkasa, orang-orang berlarian kesana kemari berusaha untuk mencoba memadamkan api, meminta pertolongan, atau mencoba mencari benda berharga yang masih bisa mereka selamatkan. Namun agaknya usaha mereka tidak membuahkan hasil, karena semakin lama api itu semakin membesar dan seakan ingin menelan semua yang ada di hadapannya.
Kaki tangan Andrade sudah berada di tempat kejadian begitu api mulai berkobar, sayangnya mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena kota bawah yang memiliki banyak kekurangan bahkan untuk kebutuhan air bersih. Yang bisa mereka lakukan, hanya membantu orang-orang di sana untuk mengungsi, atau membantu menenangkan mereka.
Begitu Andrade sampai di sana bersama dengan rombongan tamunya itu semuanya sudah begitu terlambat, api tidak terlihat segera padam atau segera teratasi. Malahan, api itu semakin besar dan besar, Andrade seperti bisa melihat naga api dari balik kobaran api itu.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" Pertanyaan Escobar memecah keheningan
"Masih ada!" Ujar Andrade. Lalu ia memanggil beberapa kaki tangannya untuk ia berikan tugas. "Panggil Clara kemari! Kalo bisa seret dia kemari"
"Siap bos laksanakan!" Kaki tangan tadi langsung pergi mencari keberadaan orang yang bernama Clara itu.
Selagi mereka menunggu kedatangan orang bernama Clara itu, Andrade dan yang lain berjibaku untuk menyelamatkan warga kota bawah yang masih kesusahan untuk pergi dari tempat itu.
Walaupun masih kelihatan tenang, sebenarnya Andrade sudah kelewat pusing bukan kepalang dengan apa yang melanda di kota bawah. Pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan keburukan orang-orang dari kota atas, apalagi pada orang-orang yang ada di istana kaisar.
Walaupun ia belum menerima laporan resmi tentang kebakaran ini, namun ia sudah bisa menebak atau mungkin sudah mengetahui sejak pertama kali, siapakah dalang dibalik kejadian ini. Memikirkannya, membuat Andrade semakin murka pada kekaisaran.
Escobar serta D'Lo menangkap apa yang tengah dirasakan oleh Andrade, mereka berdua coba untuk tidak memberikan suara apapun karena hal itulah yang paling bijak yang mereka bisa lakukan saat ini. Kata-kata manis tidak akan menghibur suasana hati Andrade saat ini, mungkin mereka akan kena getahnya jika mereka memaksakan pemikiran mereka itu pada Andrade dalam kondisi saat ini.
Menit demi menit telah berlalu, Clara yang ditunggu masih belum datang juga. Andrade semakin gusar dibuatnya, dirinya hampir kehilangan akal sehatnya dan sudah berniat untuk meruntuhkan semua yang ada di hadapannya saat ini. Namun seruan salah satu kaki tangannya menggugurkan semua niat nya tadi.
Ia menoleh ke arah yang ditunjuk oleh kaki tangannya, di sana terlihat seorang perempuan sekitar dua puluh tahunan tengah berjalan lambat dengan wajah setengah mengantuk.
"Bos bos bos! Aku sudah membawa Clara!" Ujar kaki tangan yang tadi diberikan tugas untuk memanggil Clara.
Andrade tidak tersenyum sama sekali, wajahnya masih serius seperti sebelumnya sampai membuat kaki tangannya itu ketakutan setengah mati.
"Kemari kau, akan ku beri kau hadiah karena telah melaksanakan tugas dengan baik" ujar Andrade namun masih dengan wajah serius.
Si kaki tangan menjadi ragu-ragu untuk maju, namun Andrade terus memaksa dirinya dan pada akhirnya ia pun maju setelah melihat sedikit cahaya dari sedikit senyum yang ditunjukkan oleh Andrade pada dirinya.
Dan disaat dirinya berada sekitar beberapa langkah dari Andrade, Andrade langsung memberikan pukulan yang sangat kuat dan kencang pada sosok kaki tangannya itu. Wajah si kaki tangan langsung menyentuh tanah dibawahnya, wajahnya tak karuan dengan darah mengalir di pipinya, sungguh malang nasibnya.
"Dasar tidak berguna! Kenapa perlu waktu yang lama hanya untuk memanggil perempuan tidak berguna ini!" Andrade marah besar, komplikasi perasaan yang ia alami membuatnya seperti itu.
Si kaki tangan yang kena pukulan telak tadi tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa tengkurap di tanah dengan mulut yang menganga lebar sekali. Masih jauh dari kematian, namun ia hampir saja bertemu dengan dewa kematian.
Pandangan mata Andrade kini beralih ke arah sosok perempuan muda berwajah menarik itu. Cepat sekali Clara menggosok-gosok wajahnya biar terlihat segar, tentu saja ia tidak ingin bernasib serupa dengan sosok kaki tangan yang tadi.
"Lakukan tugasmu perempuan tak berguna!" Andrade berteriak keras, suaranya bagai petir di siang hari.
"Siap bos laksanakan!" Jawab perempuan itu cukup takut pada sosok bos besarnya itu.
Lalu Clara menutup matanya dan mengatupkan kedua tangannya di sekitar dadanya. Mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra atau rapalan sihir lainnya, namun orang-orang tidak bisa mendengar apa yang ia gumamkan. Clara seperti sedang berbisik-bisik pada Tuhan, hanya dia yang tahu apa yang sedang ia bisikan itu.
"Song of the Ocean!" Ucap Clara yang membuat dirinya bisa menimbulkan air yang besar seperti sedang melakukan sihir.
Air-air itu ia kendalikan dengan mudahnya, ia arahkan air-air itu ke rumah-rumah yang sedang terbakar api besar yang sepertinya akan semakin membesar itu. Dengan sangat lihai Clara mengendalikan air-air itu sehingga bisa dengan mudah memadamkan api yang besar itu, hingga tak kurang dari 10 menit semua pekerjaan sudah diselesaikan oleh Clara sepenuhnya.
Tidak ada lagi api dan asap, hal-hal yang bisa memicu kembali kebakaran juga sudah diamankan oleh Clara. Clara sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.
Biasanya jika sudah berhasil melewati hal yang berat seperti ini, akan ada sambutan besar yang akan diterima oleh Clara seperti tepuk tangan atau sanjungan contohnya.
Namun saat ini tidak ada hal seperti itu yang terjadi. Tidak ada sanjungan, tidak ada tepuk tangan, tidak ada suara gegap gempita haru tangis atau sebagainya, yang ada hanyalah diam kehampaan di dalam keputusasaan.
Para korban hanya bisa berputus asa walaupun masalahnya sudah teratasi, namun tempat kenaungan mereka sudah habis dilalap api yang membara. Apalagi yang mereka punya? Selain itu saja di kota bawah ini, kota yang jauh dari yang namanya kesejahteraan dan kebahagiaan.
Andrade pun juga tidak bisa berkata apa-apa, ia sama frustasi dan putus asa seperti para korban. Namun perasaan putus asanya itu bercampur dengan perasaan benci yang mendalam pada kekaisaran, ia menatap istana kaisar yang terlihat megah dari kota bawah dengan tatapan permusuhan dan akan membalas hal yang serupa pada gedung yang megah itu.
D'Lo yang tahu tatapan Andrade itu langsung memukul Andrade tepat di wajahnya, Andrade tidak membalasnya ia hanya tertunduk lemas tanpa niat untuk membalas pukulan D'Lo yang membuat wajahnya panas itu.
"Kau lihat!" Ucap D'Lo dengan nada marah. "Kau lihat hasil dari yang kau lakukan selama ini? Kebakaran kurasa masih mending daripada kehilangan nyawa"
"Itulah aku selalu katakan pada kalian semua! Kalian pikir aku tidak frustasi dengan masalah yang terjadi di kota bawah? Kalian sajalah yang berpikiran seperti itu! Aku lebih memikirkan nyawa kalian semua daripada kota busuk ini dan kalian semua tidak ada yang percaya padaku bahkan menganggap diriku pengecut!" D'Lo mengeluarkan semua kekesalan yang ada di hatinya.
Semua orang terdiam, perkataan D'Lo terasa menampar mereka semua. Mereka yang awalnya bersuka cita dengan idealisme dari Andrade, kini mulai memikirkan kembali pemikiran mereka tadi.
Andrade masih diam membisu tertunduk lemas, seolah-olah gravitasi dunia sudah berkhianat terhadap dirinya, ia coba ditenangkan oleh Butcher dan Blade namun tetap saja Andrade seperti itu.
D'Lo malah semakin frustasi melihat keadaan Andrade, ia yang sudah tidak tahan lagi langsung menarik kerah jas Andrade dan menatap wajahnya dengan tatapan yang mengerikan.
"Kau sudah mulai kehilangan harapan haah? Atau kau pikir semuanya sudah berakhir dengan kejadian ini? Bila ku jadi kau, aku akan melanjutkan apa yang ku lakukan apapun taruhannya!" Ucap D'Lo yang mencoba meyakinkan kawan lamanya itu.
Andrade bisa melihat sedikit cahaya harapan dari tatapan mata kawan lamanya itu, ia tidak ingin mengakuinya namun tatapan mata itulah yang menolongnya dari keterpurukan semenjak dulu. Langsung Andrade mendorong tubuh D'Lo dengan sangat kasar, ia melewati D'Lo begitu saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun padanya.
Hanya ada satu tujuan jelas yang ada di dalam pikirannya saat ini, yaitu membalas apa yang dilakukan oleh orang-orang dari kekaisaran itu. Balasan setimpal adalah nilai yang selalu dijaga Andrade sedari dulu, mata dibalas dengan mata, telinga untuk telinga, dan nyawa dibalas dengan nyawa.
Para kaki tangan dari Council of Grim pun juga langsung mengikuti langkah pemimpin mereka itu, tatapan mereka juga sama seperti pemimpin mereka. Tidak ada lagi kesedihan ataupun keputusasaan, mereka membuang semua itu untuk memberikan hal itu kepada para penduduk kota atas dan orang-orang di istana kekaisaran yang selalu hidup dalam kemewahan.
Escobar, Raul dan Mendoza hanya bisa terdiam sambil melihat rombongan orang-orang itu tengah menuju satu tempat. Bagi mereka bertiga yang melihat kejadian itu dari awal hingga akhir, mereka tidak bisa percaya kalau yang mereka lihat adalah sebuah item yang paling dicari di game ini, yaitu sebuah arcana.
Seorang NPC yang mereka anggap sebuah program biasa yang sedikit ditingkatkan kualitasnya, memiliki arcana yang mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa kuatnya. Mereka sudah tidak habis pikir dengan apa yang terjadi di dalam game ini.
Seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Escobar, D'Lo pun menepuk pundak Escobar sebelum menjelaskan dari mana datangnya kekuatan milik Clara tadi. "Clara memiliki sebuah arcana berbentuk seperti hiasan rambut yang indah sekali. Nama arcana itu adalah Lamia Tiara!"
Escobar sudah sulit untuk terkejut, ia hanya berekspresi kosong menanggapi ucapan D'Lo tadi.
"Sebaiknya kalian segera pergi dari sini" D'Lo kembali mengingatkan mereka bertiga. "Tempat ini akan menjadi tempat yang kacau nantinya, dan sebaiknya kalian pergi sebelum kalian terlibat dengan semua kekacauan itu" ujar D'Lo
Usulan dari D'Lo pun diiyakan oleh mereka bertiga, dan akhirnya mereka bertiga berniat untuk meninggalkan kota bawah Paradis sebelum semuanya semakin kacau dan terlambat.