
Mobil melaju kencang di jalanan yang cukup sunyi dan sepi, terlihat begitu jelas kalau orang yang mengendarai mobil itu sedang berpacu dengan waktu.
Ikhsan dan Reina yang mengendarai mobil itu memiliki ekspresi yang bertolak belakang satu sama lainnya. Ekspresi wajah Reina begitu menikmati perjalanan ke bandara itu, mulai dari bau aspal, pemandangan yang sepintas, dan rasa adrenalin yang tinggi karena sedang berkendara dalam kecepatan yang cukup tinggi di jalanan yang sepi itu.
Sedangkan Ikhsan? Jangan harap ia menikmati semua hal saat perjalanannya kali ini, dri awal saja dirinya sudah merasa tidak nyaman. Apalagi saat ini, dirinya merasakan nyawanya bisa saja melayang kapan saja karena sedang di bawa oleh iblis ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Satu jam setengah perjalanan mereka menuju bandara, dan itu merupakan satu jam setengah waktu terburuk yang pernah Ikhsan alami selama ini.
Reina yang melihat Ikhsan tidak berdaya itu hanya bisa tertawa sambil menepuk-nepuk pundak adiknya yang tengah kesusahan itu.
"Jadi di mana kah orang yang ingin kau temui itu adik kecilku?" ucap Reina mencoba mengalihkan topik agar lebih segar lagi.
Ikhsan melihat jam di layar smartphonenya, dan menurut perhitungannya sosok yang ia tunggu akan tiba dalam beberapa menit lagi. Ikhsan memang orang yang praktis, dan prinsip hidupnya itu mempengaruhi segala hal dalam kehidupannya, termasuk tentang jam.
Ikhsan tidak punya jam tangan, makanya ia hanya melihat jam lewat smartphonenya saja. Ikhsan bukannya tidak punya uang untuk membeli jam tangan, bahkan saat dirinya masih dalam keadaan rumit saja ia masih mampu membeli jam tangan yang harganya murah. Dan dalam hidupnya yang sekarang ini, mengeluarkan uang ratusan ribu untuk satu buah jam tangan hanyalah hal yang mudah bagi dirinya, namun ia sama sekali tak ingin membelinya karena bagi dirinya jam tangan tidaklah praktis. Karena sudah ada jam di smartphone, maka ia rasa tidak perlu lagi membeli jam tangan, bukankah fungsinya sama saja menurut Ikhsan.
Reina sendiri tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya itu, namun ia cukup senang karena ia memiliki adik yang sudah berpikiran dewasa dan matang, bahkan ia rasa melebihi dirinya sendiri.
"Sebaiknya kita menunggu di dalam saja, kebetulan aku sedikit lapar bagaimana kita makan chicken katsu di sana kak Reina?" ucap Ikhsan sambil menunjuk sebuah resto yang ada di dalam bandara.
"Baiklah!" Reina tersenyum manis sambil menatap mata Ikhsan dengan sangat intens. "Tetapi, kau yang traktir ya dik hihihi"
Ikhsan tersenyum miring lalu menghela nafasnya, mau tidak mau ia harus mentraktir kakaknya itu. Walaupun sebenarnya ia sendiri tidak memperdulikan hal itu, karena baginya, Reina adalah bagian dari keluarganya yang begitu berharga di matanya.
Ikhsan pun berjalan tanpa penolakan menuju ke arah resto yang ia tunjukan tadi, sehingga membuat Reina begitu senang dan bahagia. Reina langsung saja meraih lengan Ikhsan, dan memeganginya dengan erat karena saking senangnya.
Di dalam hati kecilnya ia tidak ingin melepaskan lengan itu walaupun ia tahu hal itu tidaklah bagus untuk dirinya dan juga untuk Ikhsan sendiri, namun ia tidak bisa membohongi perasaannya itu.
Ikhsan dapat menangkap kesedihan yang diderita oleh Reina dari balik matanya, seakan tidak ingin membuat kakak tirinya itu tambah bersedih, Ikhsan pun membiarkan saja dirinya seperti itu dan tersenyum manis ke arah Reina yang membuat Reina semakin bahagia, ia sedikit melupakan statusnya sebagai kakak tertua.
...****...
Setelah selesai makan malam, Ikhsan dan Reina kembali ke tempat kedatangan karena sebentar lagi orang yang Ikhsan tunggu akan datang di tempat itu.
Reina yang tadi merasakan kesenangan, kini kembali di buat gelisah tentang siapa yang sebenarnya ingin ditemui oleh adik kecilnya itu. Jiwa sebagai seorang kakak dan juga sebagai perempuan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya-tanya, walaupun ia tidak langsung bertanya pada Ikhsan.
Ikhsan hanya menjawab bahwa orang itu adalah orang penting, selebihnya tidak ada penjelasan lagi dari mulutnya. Sehingga hal itu membuat Reina tambah gelisah, dan pikirannya semakin kacau karena telah memikirkan berbagai kemungkinan yang buruk.
"Bagaimana jika yang ia temui itu seorang perempuan, lalu mereka berdua sudah mengikat janji sehidup semati?" ucap Reina dalam hatinya. "Oh Tuhan! Jauhkanlah pikiran kacau ku ini"
Melihat kakaknya yang tengah gundah dan gelisah, membuat Ikhsan sedikit khawatir. Apalagi setelah melihat beberapa kali perempuan itu menepuk-nepuk keras pipinya sendiri, semakin khawatir lah Ikhsan dengan apa yang tengah kakaknya itu pikirkan.
Namun ia tidak memiliki cukup waktu untuk mengkhawatirkan kakaknya itu, karena orang yang ia tunggu sedari tadi, sekarang sudah tiba dan ada di depan matanya.
Sosok perempuan berwajah oriental, berkulit putih bagaikan salju di Himalaya, rambutnya panjang berwarna hitam yang tergerai bebas, serta memiliki bola mata yang indah bagai permata. Sosok itu mampu membius laki-laki yang menatapnya dengan keindahan tubuhnya, apalagi ia diberkahi dengan aset yang membuat laki-laki pasti ingin menatapnya.
Bahkan Ikhsan sendiri hampir saja terbuai dengan ilusi super hebat karya Tuhan itu, andai kata dirinya tidak memukul wajahnya sendiri sudah pasti ia akan terbuai jauh hingga ke alam nirwana.
"Hei kau baik-baik saja?" Perempuan itu langsung mendekat ke arah Ikhsan dan mengkhawatirkannya.
Suara perempuan itu sangat halus dan indah, membuat Ikhsan yang mendengarnya bagai mendengar nyanyian indah sang malaikat. Ikhsan langsung buru-buru mundur selangkah, lalu pada akhirnya ia menjawab pertanyaan dari perempuan itu.
"Tunggu sebentar!" ucap si perempuan oriental.
Lalu perempuan itu sekali lagi memperhatikan seluruh tubuh dari sosok laki-laki yang ada di depan dirinya sekarang ini. Saat ia perhatikan tubuh laki-laki itu, mata indahnya terhenti di rambut yang berwarna putih keperakan itu.
Ia mulai mengingat sosok yang sama yang pernah ia lihat sebelumnya di dunia Cyrus Online, lalu ia pun menyadari kalau sosok yang ia cari saat ini ada di depannya.
"Archie? Kau itu Archie kan?" ucapnya dengan setengah heboh sambil menunjuk-nunjuk ke arah Ikhsan.
"Hei jangan panggil nama itu di tempat seperti ini, namaku Ikhsan" balas Ikhsan dengan sedikit meninggi karena ia khawatir akan ada yang mendengar percakapan itu. "Jika kau memanggilku seperti itu, berarti kau Diane?"
"Benar, perkenalkan namaku Mei Lianshi putri dari pembuat game Cyrus Online yang sering di kenal dengan Lei Huang"
"Putri Lei Huang!" suara lebih heboh terdengar dari tempat mereka setelah mendengar fakta itu.
Suara itu berasal dari Reina yang sangat shock mendengar hal tersebut, sebenarnya Ikhsan pun terkejut namun ia masih bisa menahan dirinya untuk tidak berteriak keras apalagi di tempat seperti ini.
"Siapa dia?" tangan Mei mengarah ke sosok perempuan yang tak kalah jauh indah dari dirinya itu.
"Ah perkenalkan ini Reina, ia adalah kakakku namun beda ibu" Ikhsan memperkenalkan Reina ke Mei Lianshi. "Jika di Cyrus Online, kalian sudah pernah bertemu, dia dikenal dengan nama Viand sang Ratu Es dari Nebula"
"Oh jadi kau Viand, tak ku sangka kau benar-benar cantik. Jadi karena Ikhsan memanggilmu kakak, izinkan diriku juga ikut memanggilmu kakak" Mei mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Reina.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mei tadi membuat Reina sedikit merasa aneh, mengapa sosok perempuan itu harus memanggil dirinya kakak juga? Apakah ada sesuatu hal yang terjadi dengan dirinya dan juga Ikhsan sehingga Reina pun harus terikut juga.
Untuk mengetahui hal itu Reina pun langsung menatap Ikhsan dengan tatapan penuh makna, namun sebenarnya tatapan itu mengandung sebuah makna yang mengerikan bagi Ikhsan.
Ikhsan pun hanya bisa mundur selangkah demi selangkah untuk menghindari kakaknya yang tengah mengejarnya dan menunggu jawaban tepat keluar dari mulut Ikhsan, tetapi sepertinya hal itu hanyalah hal yang sia-sia bagi Ikhsan karena ia tahu kakaknya pasti tidak akan melepaskan dirinya begitu saja.
"Nona muda, semua barang anda sudah siap untuk dibawa" Suara pengawal pribadi Mei mengejutkan semuanya.
Ikhsan pun sedikit kebingungan dengan kehadiran sosok pengawal pribadi itu, Mei menangkap hal itu dan langsung memperkenalkan pengawalnya itu kepada mereka semua.
"Perempuan ini namanya Yu dengan marga Zhao. Dia adalah pengawal pribadi sekaligus temanku" ujar Mei Lianshi.
Perempuan bernama Yu itu menunduk pelan ke arah semuanya sambil ternyata manis, tidak ada kepalsuan terpancar dari senyumannya itu.
Wajahnya semanis senyumannya, walaupun secara tingkatan, tingkat kecantikan Yu berada satu tingkat dari Mei Lianshi namun tetap saja cantik karena setiap wanita itu indah.
Wajah oriental yang kental, kulitnya juga putih sama seperti Mei namun sedikit kurang perawatan saja, rambutnya bergaya bob pendek yang membuatnya terlihat imut.
Ikhsan kurang menyadari keimutan sosok Yu, dirinya jauh lebih penasaran dengan nama marganya Zhao itu. Ia merasa pernah kenal dengan sosok yang bernama marga Zhao.
Namun pertanyaan itu ia simpan untuk saat ini, karena sekarang ia harus pergi dari sini sebelum menanyakan lebih jauh dari tentang marga Zhao itu.
Maka dari itu Ikhsan pun langsung mengajak mereka semua untuk pergi ke parkiran dan mengambil mobil untuk segera menuju ke rumah karena Ikhsan merasa perjalanan jauh yang ditempuh oleh Mei Lianshi dan Zhao Yu pasti membuat mereka lelah.
Selain hal itu, ada satu hal lagi yang menunggu Ikhsan di rumahnya, ada satu orang yang sedang menanti kedatangan Ikhsan untuk bisa masuk ke dalam rumah.