Cyrus Online II: The Great Guild War

Cyrus Online II: The Great Guild War
Chapter 9: Pergerakan Tidak Biasa



Dengan keberhasilan misi pertama dari kelompok Death Triangle, hasilnya sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya.


Tidak hanya berhasil mendapatkan kepercayaan dari bangsa Hobbit, Archie dan yang lainnya juga berhasil mendapatkan suatu wilayah yang memiliki perkebunan teh berkualitas cukup tinggi dan memiliki harga lumayan di pasaran. Ini bagaikan menjatuhkan dua burung dengan satu batu saja.


Tetapi, hal itu sama sekali tidak diketahui oleh pimpinan tertinggi mereka semua, sang penguasa Silverland yaitu Diane.


Ini semua murni pemikiran sepinya dari Archie, tanpa ada koordinasi sama sekali dengan sosok Diane yang tidak memasuki game selama beberapa hari karena ada beberapa urusan yang harus ia lakukan di kehidupan nyata.


Seth ikut mengkhawatirkan situasi yang dialami sosok yang ia anggap sebagai mentor dirinya itu, ia pun lalu bertanya kepada Archie apakah situasi ini baik-baik saja kedepannya.


Dengan wajah gelap Archie menjawabnya.


"Aku pun tidak tahu Seth, mungkin saja jika aku menjelaskan semuanya pada Diane ia akan mengerti dan memaafkan diriku" ujar Archie.


Bukan jadi lebih tenang, Seth malah tambah khawatir dengan jawaban mentornya itu. Tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, karena hal ini juga sudah jauh dari kuasanya.


"Aku akan log-out untuk sementara waktu, kalau ada apa-apa hubungi aku" ucap Archie dengan nada yang datar dan kaku, lalu ia pergi meninggalkan Seth untuk log-out.


"Semoga kau baik-baik saja guru!" hanya itu yang bisa Seth ucapkan kepada mentornya yang sedang dilanda masalah rumit.


...****...


Matahari sore membiaskan cahaya ke arah manik mata Ikhsan yang baru saja membuka matanya, ia baru saja log-out dari Cyrus Online karena ada beberapa urusan yang harus ia lakukan hari ini.


Jam menunjukkan pukul 18:20, petang menjelang malam. Ikhsan harus bergegas sekarang juga atau tidak ia akan terlambat.


Ikhsan langsung bergegas mandi, berpakaian rapi dan memakai sedikit wewangian. Hal itu membuat Reina yang masih ada di rumahnya bertanya-tanya mau kemana kah adik kecilnya itu.


Insting sebagai seorang kakak sekaligus seorang perempuan Reina menyeruak keluar, ia langsung bisa sadar kalau adiknya itu akan ke luar dan pergi bersama perempuan lain yang cantik-cantik di luar sana. Sebagai kakak yang baik, ia tidak akan membiarkan adiknya itu tertipu dengan rayuan dunia seperti itu.


Tanpa sepengetahuan dari Ikhsan, Reina langsung bersiap-siap untuk ikut pergi dengan Ikhsan.


Reina memakai riasan wajah yang cukup sederhana namun membuat aura kecantikan dirinya keluar, sedikit wewangian khas wanita dewasa dan sedikit sentuhan akhir berurusan dengan lipgloss.


Saat dirinya sudah siap dan keluar kamar, ia langsung berpapasan dengan Ikhsan yang sudah begitu rapi dan wangi itu. Rambut panjangnya ia ikat sementara, karena ia tidak mau terlihat seperti seorang kriminal dihadapan seseorang yang akan ia temui.


"Kakak mau pergi kemana?" tanya Ikhsan yang melihat Reina seperti hendak pergi ke pesta pernikahan.


"Kau sendiri mau kemana rapi seperti itu? Seingat ku kau tidak suka berpenampilan seperti itu" Reina juga tak mau kalah.


"Aku mau ke bandara menjemput seseorang yang penting, jadi aku ingin pinjam mobilmu dulu kak. Tidak mungkin kan aku pergi menjemput tamu penting pakai motor gado-gado yang sudah legenda itu" ucap Ikhsan tanpa berkedip sama sekali.


Ikhsan masih melirik-lirik ke arah kakaknya yang punya gelagat aneh itu, ia tidak tahu apa yang kakaknya rencanakan namun ia merasa tahu kalau kakaknya akan merencanakan sesuatu hal yang tidak-tidak bagi dirinya.


Namun Ikhsan tidak punya banyak waktu untuk membahas hal itu, ia langsung menadahkan telapak tangannya, meminta kunci mobil milik kakaknya karena ia ingin segera pergi ke bandara atau tidak ia akan menimbulkan kesan yang buruk pada tamunya itu.


Reina tersenyum, ia tanpa penolakan memberikan kunci mobilnya kepada Ikhsan. Dan dari situlah apa yang ditakutkan oleh Ikhsan semenjak tadi mulai terlihat jelas di mata Ikhsan, namun semuanya sudah sangat terlambat semenjak Ikhsan menerima kunci mobil itu.


Tanpa sepengetahuan Ikhsan dirinya sudah terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh kakaknya sendiri, Ikhsan baru ingat kalau dia masih belum terlalu mahir untuk menyetir mobil milik kakaknya itu apalagi ke jalanan ramai seperti ke arah bandara.


"Ah sial!" Ikhsan mengumpat saat ia menyadari semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh kakaknya.


...****...


Paradise City, Kekaisaran Suci Naga Merah.


Suasana ibu kota dari kekaisaran suci benar-benar sesuai dengan gambaran dari namanya, yaitu Paradise atau surga.


Semuanya ada di sini. Barang-barang mewah, artifak kuno, gadis-gadis cantik yang akan menemani dirimu semalaman, makanan yang lezat, permainan yang tidak akan pernah membuatmu bosan hingga pertunjukan-pertunjukan yang mewah, apa saja ada di tempat ini.


Jika kalian ingin bersama dengan gadis-gadis cantik, kalian hanya perlu datang ke sebuah tempat seperti bar dan bayar dengan uang kalian maka keinginan kalian benar-benar terpenuhi. Sama layaknya surga.


Bar-bar perempuan memenuhi tiap jalanan, kasino-kasino tempat perjudian, toko-toko peralatan mewah dan sebagainya menerangi tiap jalanan kota Paradise dengan cahaya mereka, siang dan malam tanpa lelah.


Orang-orang di sana hidup dengan sangat bahagia, senang dan antusias setiap menyambut pergantian hari, bulan atau bahkan tahun. Bagi mereka hari baru adalah semangat baru.


Tetapi itu semuanya hanyalah gambaran luar yang ada di kota Paradise, jika kita menelaah ke dalam lukisan luar biasa itu maka kita bisa melihat betapa mengenaskannya si pembuat lukisan indah itu.


Diantara hiruk pikuk gegap gempita kota Paradise, terdapat penyimpangan sosial yang sangat dalam bagaikan jurang pemisah.


Banyak warganya yang merasakan kesakitan terhadap semua kebijakan yang dijalankan oleh para penguasa kerajaan suci. Setiap harinya mereka binasa, tanpa ada seseorang pun yang tahu ataupun peduli dengan nasib mereka.


Pajak yang sangat tinggi, biaya hidup yang tak ternilai lagi, sampai penindasan terhadap masyarakat yang miskin. Begitulah gambaran kehidupan orang-orang yang tinggal di lingkungan terendah di kota Paradise, atau biasa disebut dengan Lowtown.


Di Lowtown, kehidupannya sangat berbeda dari Uptown yang bagai surga itu. Di sini, kehidupannya bagaikan neraka yang terdalam.


Banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan sosial, kekerasan, konflik antar kelompok sampai kriminalitas yang sangat tinggi. Namun walaupun begitu, Lowtown sejatinya adalah kota yang sangat ramah bagi yang tinggal di sana, di sana mereka memiliki seorang pemimpin yang kharismatik dan memiliki visi yang luas bagai bentangan dunia.


Di bawah kuasanya lah Lowtown menjadi sedikit lebih tertata rapi dari sebelumnya, dan di bawah kuasanya jua Lowtown mendapatkan reputasi seperti sekarang ini.


Seseorang yang memulai semuanya dari rasa kekecewaan namun mulai mengubahnya menjadi kerajaan yang menampung semua kekesalan orang-orang di dalamnya, orang yang sangat sulit untuk di atur bahkan dengan hukumnya sendiri.


Sosok itu dikenal sebagai The Number Zero. Hanya segelintir orang saja yang tahu siapa dia sebenarnya, dan untuk memiliki urusannya dengan dirinya juga tidak segampang yang dikira.


Kali ini The Number Zero, memiliki sebuah agenda untuk melakukan penuntutan balas kepada para cecunguk yang belum kenyang-kenyang menyantap uang panas. Orang-orang tak bermoral yang selalu mengajarkan moral dan etika omong kosong kepada para penerus mereka, orang-orang yang selalu tertawa terhadap ketidak beruntungan orang lain. Para orang-orang di atas sana!


Sambil menghisap dalam rokoknya, sosok itu menatap kota atas dengan pandangan penuh dendam. "Mari kita buat kekacauan di kota atas!" ucapnya yang langsung di sambut baik oleh orang-orangnya.


...****...


Catatan Penulis:


Ned cuma mau nanya...


Apakah kalau perihal tentang level bagusnya di pertahankan aja atau dihilangkan aja ya?


Ned lagi bingung nih....


Bagusnya di gimanin ya?