Cyrus Online II: The Great Guild War

Cyrus Online II: The Great Guild War
Chapter 26: Para Pengungsi Dari Gorlum



Kejadian itu terjadi beberapa waktu yang lalu, sebuah kejadian yang menyakiti hati para penduduk Desa Gorlum, sebuah desa yang dihuni oleh para goblin dan yang lainnya.


Di desa Gorlum, para goblin hidup penuh dengan kedamaian, bersama dengan alpha wolf yang menjadi teman hidup mereka, bahkan diantara mereka ada yang melatih Alpha Wolf untuk dijadikan hewan tunggangan untuk menemani berburu.


Gorlum sendiri terletak diantara perbatasan Kekaisaran Re-Estize dan Kekaisaran Naga Merah. Di kedalaman hutan, desa itu bisa ditemukan, sebuah desa yang berbeda dari yang lain karena ini adalah tempat berkumpulnya kaum Goblin.


Goblin di desa Gorlum juga memiliki keunikan yang membedakan mereka dengan monster lainnya di dalam gim Cyrus Online, mereka memiliki kesadaran sendiri alias mereka memiliki akal yang membuat mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan sama seperti yang dilakukan player ataupun NPC lainnya yang memiliki kebebasan bertindak.


Mereka bisa membuat alat perlengkapan berburu mereka sendiri, bisa membuat rumah mereka sendiri bermodalkan hasil dari alam, ataupun mengatur koloni mereka sama seperti yang dilakukan oleh manusia, namun berada di tingkat yang lebih rendah dari manusia.


Tidak banyak yang mengetahui hal ini di Cyrus Online, bahkan untuk para player yang menghuni papan ranker dunia, alias pemain terbaik seluruh dunia. Tetapi, ada sekelompok orang yang mengetahui rahasia ini, kelompok ini lalu menyerang Gorlum untuk menjadikan para goblin itu sebagai budak demi kepentingan mereka. Mereka adalah World Dominator yang dipimpin oleh Gaahl.


Gaahl, bersama dengan seluruh pasukan dan aliansinya menyerang Gorlum selama beberapa hari, mereka ingin menjadikan penduduk gorlum sebagai prajurit yang bersedia mati demi kepentingan World Dominator, namun penduduk Gorlum tidak menyerah begitu saja dan mereka pun melawan penindasan yang dilakukan oleh World Dominator kepada mereka semua.


Perang itu berlangsung selama 5 hari penuh, penduduk gorlum berjuang mati-matian melawan pasukan World Dominator yang levelnya jauh di atas mereka semua. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak, namun World Dominator lebih diuntungkan karena mereka adalah seorang player yang bisa kembali setelah melewati masa hukuman walaupun juga ada pinalti bagi mereka, tetapi tetap saja mereka tidak bisa mati seperti para penduduk Gorlum yang mati dan tidak bisa hidup kembali.


Banyak pejuang dari Gorlum yang tewas dalam peperangan itu, pahlawan mereka saja Gorloth yang menjadi orang terdepan melawan penindasan World Dominator juga harus tewas setelah dihukum mati oleh World Dominator di depan penduduk Gorlum. Di hari ke enam, mental penduduk Gorlum yang melawan penindasan langsung jatuh setelah melihat eksekusi pahlawan mereka, tetapi Tetua mereka menenangkan mereka dengan memberikan usulan untuk meminta pertolongan pada para manusia ataupun ras lain.


Tentu saja hal ini menjadi pertentangan, tetapi mereka tidak memiliki cara lain untuk menang dalam situasi seperti ini. Mereka tidak ingin kebebasan mereka direnggut begitu saja, namun mereka juga tidak ingin membuat kesepakatan dengan manusia karena masa lalu mereka yang begitu kelam dengan kaum yang selalu bertindak kasar itu.


Tetapi, pilihan berat harus selalu diambil walaupun pengorbanannya lebih besar.


Tetua desa, membawa orang-orang Gorlum yang masih tersisa dan selamat untuk pergi menemui orang yang mau membantu mereka, itulah harapan terakhir mereka walaupun Tetua tau sendiri hal itu seperti mengharap bulan di siang hari yang terik.


Mereka terus berlari dalam kejaran pasukan World Dominator, mereka terus berlari sampai ke tempat dimana yang dituju oleh Tetua, sebuah tempat yang mungkin bisa membantu mereka mengatasi masalah ini, yaitu Silverland.


Dari mana Tetua tau Silverland? Ini adalah pesan terakhir yang diucapkan oleh pahlawan mereka yaitu Gorloth yang beberapa kali menceritakan tempat itu kepada Tetua setiap kali mereka ada waktu untuk berbincang berdua. Gorloth sendiri tahu dari seorang pedagang yang pernah ia tolong, pedagang itu tersesat di hutan di sekitar Gorlum. Awalnya pedagang itu takut akan kehadiran Gorloth, namun saat Gorloth mencoba ramah kepadanya akhirnya mereka bisa sedikit terbuka dan berbicara banyak hal. Dari sana lah Gorloth tahu Silverland, karena pedagang itu merupakan seorang pedagang yang bekerja di serikat dagang Silverland.


Dari sanalah Tetua menjadi sedikit yakin dengan orang-orang di Silverland, walaupun dia tidak sepenuhnya yakin.


Awal kedatangan mereka di Silverland, mereka terjebak di dalam hutan ilusi yang dibuat oleh Silverland dan mereka langsung dihadang oleh pasukan pengaman Silverland yang menyangka mereka semua adalah monster yang hendak menyerang kota. Namun saat para pasukan mendengar orang-orang Gorlum berdoa dan menangis memohon ampunan, mereka langsung keheranan dan berhenti untuk menyerang Goblin dari Gorlum, sampai pada akhirnya mereka pun dibawa ke hadapan penguasa Silverland di Istana Kenangan.


Dan sampailah kita di Istana Kenangan, Tetua Gorlum kini berada di Istana Kenangan yang mana di sana sudah banyak terlihat orang-orang yang memiliki kekuasaan di Silverland. Mulai dari Ratu Silverland sendiri yaitu Diane, Menteri Strategi dan Pengembangan Negara Caelius, Master of Coin alias orang yang ahli dalam keuangan negara Silverland dan Ketua Serikat Dagang Silverland T-Bold, serta banyak lagi yang lainnya.


Semua orang yang ada di dalam ruangan pertemuan Istana Kenangan terlihat terguncang begitu mendengar cerita dari Tetua Gorlum, tidak itu saja mereka juga terguncang karena sebuah fakta yang baru saja mereka lihat, yaitu monster yang memiliki pikirannya sendiri. Biasanya monster hanya bergerak dengan insting mereka, namun penduduk Gorlum tidak, itulah yang membuat mereka terkejut dan juga bersiap diri untuk hal yang buruk.


"Tolonglah! Tolonglah kami semua, aku akan melakukan apa saja asalkan kalian semua menolong kaumku ini!" Tetua Gorlum bersujud di hadapan Ratu Silverland.


Tidak ada yang bersuara, mereka masih dalam perasaan bimbang untuk menentukan hal ini karena ini terlalu mendadak bagi mereka. Begitu pula Diane, ia tidak ingin asal mengambil keputusan. Bisa saja saat ia menyetujui kehendak para goblin ini, posisinya sebagai penguasa akan goyah dan bisa-bisa menimbulkan pergolakan dari rakyatnya. Sejarah antara manusia dan goblin sendiri tidak bisa dilupakan begitu saja, manusia menganggap goblin sebagai monster pembunuh kaum mereka dan begitu pula goblin melihat manusia dari kacamata mereka. Manusia juga merupakan mesin pembunuh yang selalu membunuh kaum mereka demi kesenangan mereka.


Dalam situasi yang pelik dan tegang itu, pintu ruang pertemuan diketuk, seseorang masuk kedalam tanpa memperhatikan kondisi sama sekali. Dia adalah orang yang ditunggu oleh orang-orang di dalam ruangan itu, D. Archie.


Para goblin dari Gorlum langsung memperhatikan sosok laki-laki kumal dengan rambut perak itu. Mereka langsung bisa merasakan hawa mengerikan dari sosok itu, sehingga mereka langsung bereaksi untuk menyelamatkan diri mereka dari hal yang buruk yang akan terjadi.


Archie sendiri nampak terkejut dengan adanya goblin di istana, ia menyangka goblin itu hendak melakukan sesuatu yang buruk dan Archie sudah bersiap untuk membantai mereka, namun Archie langsung dihentikan oleh Lynch. "Mereka ini adalah tamu yang aku maksud tadi di jalan" ujar Lynch, lalu Archie pun kembali memasukkan pedangnya.


"Oh Archie syukurlah kau datang! Kami semua dalam kondisi yang bingung untuk bertindak" T-Bold langsung mendekati Archie dan ikut menjelaskan situasi kepada Archie.


Archie mulai mengerti dengan keadaannya, matanya tetap mengawasi para goblin itu terlebih lagi Tetua Gorlum yang merupakan sosok Goblin Shaman. Archie memperkirakan sosok Goblin Shaman itu bukanlah sembarangan, ia bisa merasakan kekuatannya yang mengerikan dari sosok itu.


"Jadi mereka ini adalah Goblin yang memiliki kesadarannya sendiri kah" Archie memperhatikan goblin-goblin itu dengan seksama. Ia memiliki beberapa gagasan dalam pikirannya, namun ia juga harus memiliki persetujuan dengan yang lainnya sebelum mewujudkan gagasannya itu.


Archie mulai menanyakan pendapat para orang-orang di sana, dimulai dari Caelius yang tidak setuju dengan penerimaan kaum goblin itu, alasannya karena sangat berbahaya bagi Silverland. Alasan Caelius tidak salahnya, karena bagaimanapun Goblin adalah monster dan bisa jadi berbahaya bagi manusia dan kaum yang lain. Lalu pendapat dari T-Bold, makhluk kecil itu menganggap kehadiran Goblin di Silverland bisa menguntungkan dan merugikan Silverland, begitulah menurut perhitungan pedagangnya. Karena negara yang bersekutu dengan monster akan di cap sebagai negara sesat, dan bisa membuat situasi Silverland bisa kacau.


Ashiya dan Momo juga memberikan pendapat mereka, mereka setuju saja karena sebelumnya mereka juga bekerjasama dengan kaum Dragulin yang mana tidak lebihnya Goblin itu sendiri.


Berbagai pendapat telah di dengar, ada yang mendukung dan ada pula yang tidak. Alasan mereka beragam namun tidak berdasarkan emosi pribadi, mereka memikirkan dampak bagi Silverland. "Lalu bagaimana pendapatmu sendiri Archie? Keputusanmu bisa menentukan nasib para goblin itu" ujar Diane dengan wajah dingin.


"Wah dingin sekali, padahal ini masih musim hangat" Archie sedikit bercanda. "Jadi jika aku ingin memenggal kepala mereka sekarang juga apakah kau akan menyetujuinya Ratu Diane?" Kini wajah Archie terlihat lebih serius.


Mendengar pernyataan Archie membuat semua orang terkejut, bahkan kaum goblin juga langsung mawas diri. Orang berambut putih itu tidak main-main pikir mereka, mereka berpikir bisa saja orang itu membunuh mereka saat dia masuk ke dalam ruangan ini beberapa saat yang lalu. Bahkan, Tetua Gorlum juga ikut berpikiran demikian, kekuatan sosok Archie melebihi apa yang diperkirakan dirinya, jadi dirinya hanya bisa menunduk dan menunggu nasibnya.


"Apakah kau serius Archie?" Diane kembali bertanya dengan wajah yang sama sekali tidak berubah, ekspresinya benar-benar menunjukkan seorang pemimpin yang tegas.


"Ya aku serius, tetapi jika mereka akan mengkhianati kepercayaan yang sudah aku berikan kepada mereka semua!"


Sekali lagi, Archie membuat mereka semua terkejut. Bagi kaum goblin, ini bagai penyiksaan batin yang dilakukan oleh Archie secara diam-diam. Mereka sudah melihat sedikit harapan, namun saat kedatangan Archie mereka kehilangan harapan itu dan sekali lagi mereka melihatnya.


Archie memandangi para goblin dari Gorlum yang rata-rata terdiri dari kaum wanita dan anak-anak itu, beberapa ada juga laki-laki yang sudah penuh luka. Archie bisa tahu perjuangan yang dialami oleh kaum goblin itu.


"Tunggu sebentar Archie! Kau tahu kan apa dampak dari keputusan ini, kita bisa dimusuhi oleh seluruh kerajaan!" T-Bold dan Caelius langsung maju ke tempat Archie dan meminta penjelasan lebih lanjut dari sosok orang aneh itu.


"Biarlah mereka memerangi kita" ujar Archie. "Untuk apa kita patuh dengan perkataan orang-orang yang masih melakukan penindasan kepada kaum lain. Urusan dengan rakyat Silverland biarkan aku yang mengurusnya, jadi bagaimana Ratu Silverland?"


"Jika memang begitu apa boleh buat, kalian kaum Goblin bisa tinggal di sini, di Hutan Kenangan ada tempat kosong yang bisa kalian jadikan hunian kalian dan harap mematuhi segala peraturan yang ada di Silverland" Wajah Diane kini sedikit lebih cerah, esnya sudah sedikit mencair dan menciptakan senyuman manis di wajahnya. "Selamat datang di Silverland" ujarnya dengan senyuman yang membuat seluruh kaum goblin dari Gorlum langsung bersujud sukur dan menangis tersedu-sedu.


Dan orang yang memberikan saran tersebut sudah keluar dari ruangan, tanpa sempat Tetua dan goblin yang lain memberikan ucapan terima kasih kepadanya. Tetua Gorlum terus akan mengingat hal ini, dan ia tidak akan pernah mengkhianati orang yang sudah membantunya, itulah sumpahnya dan tidak ada yang menyadari jika itulah awal kemunculan Warlock yang akan mengejutkan seluruh Cirus.