CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 50. Aku mencintaimu (Akhir)



Aiden, Amalia, Luciano, Anne diantar Joel pergi ke luar kota. Di mana Kenzo dan Arabella dimakamkan. Kairos meminta Joel menjaga Papa, Mama dan kedua mertuanya. Mereka semua pergi tanpa Isobelle dan Kairos.


Kairos dan Isobelle menatap kepergian mobil yang membawa orang tua mereka dan Joel.


"Pada akhirnya, semua baik-baik saja, kan?" Kata Isobelle.


"Kamu senang?" tanya balik Kairos.


Isobelle menatap Kairos, "Apa maksudmu?" tanya Isobelle.


"Apa kamu senang, kita tidak jadi melarikan diri?" jawab Kairos menggoda Isobelle.


Isobelle memukul bahu Kairos. Meminta Kairos untuk  diam tidak bicara lagi. Kairos tertawa kecil, melihat betapa lucu dan menggemaskannya wanita disampingnya itu. Kairos menggandeng tangan Isobelle, mengajak Isobelle masuk ke dalam rumah.


***


Isobelle, Kairos dan Sean pergi berbelanja kebutuhan rumah. Sean tampak senang, ia bisa mengambil sayur dan buah-buahan segar yang bisa ia masukkan dalam troli belanja. Isobelle juga mengenalkan nama


berbagai jenis sayur, buah dan apa saya yang ditanyakan Sean. Saat Isobelle sibuk meilih, Kairos lah yang menggantikan Isobelle memberitahu apa yang ditunjuk Sean juga menjelaskan apakah yang ditunjuk itu bisa dimakan atau tidak. Dan apa saja fungsi atau kegunaannya dari barang tersebut.


"M ... i ... l ... k ... Milk?" Sean mengeja satu persatu huruf dalam kemasan, lalu membacanya.


"Yeah, pintar sekali. Apa Sean mau pergi ke sekolah? bertemu teman dan Guru?" tanya Kairos.


Sean tersenyum menganggukkan kepala, "Mau, mau. Sekolah ... " jawab Sean.


"Ok, nanti Papa akan bicara dengan Mama. Agar Sean bisa sekolah, yeahh ... " kata kairos  bertepuk tangan.


Sean mengikuti Kairos bertepuk tangan. Isobelle selesai memilih dan kembali. Ia memasukkan barang belanjaan ke dalam troli. Melihat Kairos dan Sean yang senang, Isobelle ikut tersenyum. Isobelle lantas mengajak Kairos berpindah tempat. Ia merangkul lengan Kairos.


"Ayo, kita ke tempat snak." Kata Isobelle.


"Jangan banyak makan snak. Tidak baik," kata Kairos.


"Sendikit saja. Hanya beli keripik kentang dan biskuit untuk Sean. Ok," kata Isobelle menatap Kairos dengan mata berbinar.


Kairos menutup matanya, "Iya, iya. Hentikan tatapan berbinarmu itu. Dasar perayu ulung ... " kata Kairos.


Isobelle tertawa. Ia dan Kairos berpindah tempat. Kairos mendorong troli dan Sean ada di dalam troli bersama tumpukan belanjaan.


***


Tanpa Isobelle dan Kairos sadari, Alexander sedari tadi mengikuti dan mengintai mereka. Meski kesal, Alexander tidak boleh membuat celah ataupun kesalahan. Ia tidak mau ditangkap polisi untuk yang kesekian kalinya hanya karena ketahuan menguntit.


"Aku harus lakukan sesuatu untuk memisahkan mereka berdua. Bagaimana ya, caranya?" batin Alexander.


Alexander terus mengikuti sampai di tempat bermain anak-anak. Ia melihat anak kecil yang sedari tadi bersama Isobelle dan Kairos dititipkan penjaga untuk bermain bersama anak-anak lain. Ide gilanya pun muncul. Melihat situasi yang menguntungkan itu, ia pun bertindak.


Alexander memanggil salah satu penjaga wanita yang sedang bertugas. Mengajak bicara penjaga itu dan pergi dari kerumunan. Setelah berada di tempat sepi, Alexsnder langsung menawarkan sejumlah uang tunai denga nominal besar pada wanita itu. Dengan syarat harus membawa Sean padanya. Alexander berbohong dengan mengatakan, jika ia adalah ayah kandung Sean. Karena suatu alasan, mantan istrinya yang sudah menikah lagi tidak pernah sekalipun mengizinkannya bertemu putranya. Selain berbohong, Alexander pun memasang wajah sedih bahakan sampai menangis


Penjaga itu rupanya termakan ucapan Alexander. Ia setuju dan akan membawa Sean pada Alexander. Meminta Alexander menunggu, ia akan segara kembali dengan membawa Sean.


***


Penjaga itu berhasil membawa Sean dengan iming-iming permen dan mengatakan, jika Mama ingin


mengganti pakaian Sean yang kotor. Ia melakukan itu supaya Sean tidak menangis dan tidak ada orang yang curiga padanya.


Saat salah satu staf lain bertanya, petuas wanita itu pun berkata, jika ia diminta membawa Sean ke kamar mandi karena akan ganti pakaian. Staf itu tidak curiga dan hanya ber-oh ria membiarkan temannya pergi membawa Sean.


Petugas wanita itu menggendong Sean, dengan cepat ia berjalan menemui Alexsnder yang sudah menunggu. Sean pun diserahkan pada Alexander dan petugas wanita itu menerima uang yang dijanjikan. Alexander menyarankan petugas itu untuk segera pergi tanpa kembali bekerja, karena bisa saja mantan istrinya memanggil polisi karena putranya hilang dibawa Papanya. Mengatakan jika mantan istrinya sedikit gila saat marah. Alexander pun pergi meninggalkan petugas wanita itu. Ia menuju parkiran supermarket.


Petugas wanita itu lagi-lagi termakan ucapan Alexander. Ia pun segera pergi, tanpa kembali ke tempatnya bekerja. Baginya menerima banyak uang dari Alexander sudah lebih dari cukup. Ia bisa bertahan hidup selama beberapa tahun dan mencari pekerjaan lain. Begitu pikirnya.


***


Isobelle dan Kairos mencari-cari keberadaan Sean yang menghilang begitu saja. Padahal hanya ditinggal pergi membeli kopi di caffe dekat tempat bermain. Setelah diperiksa memalui rekaman kamera pengawas, seorang petugas wanita membawa Sean pergi. Petugas lain yang sebelumnya melihat pun membenarkan dan mengatakan alasan petugas wanita itu pergi. Persis sesuai dengan apa yang  dikatakan petugas wanita itu saat menggendong Sean.


Kairos pun mengklaim, jika ini adalah kasus penculikan anak dan segera menghubungi polisi. Baru saja ia akan menghubungi polisi, ponsel Isobelle berdering. Ia menerima panggilan dari nomor asing.


Isobelle menerima panggilan itu. Dan Alexander mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.


"Hallo, sayang ... " panggil Alexander.


"Kamu ... jangan hubungi aku. Aku ... " kata-kata Isobelle disela Alexander.


"Apa kamu tidak ingin anak tampan ini kembali? Dengae baik-baik, Isobelle. Jika kamu ingin anak ini selamat, bertukarlah dengannya. Tawaran ini berlaku hanya satu kali," kata Alexander.


Dahi Isobelle berkerut. Ia mengepalkan tangan kesal bercampur marah. Ia tidak ingin lagi menemui Alexander, tetapi ia juga tidak ingin Sean terluka.


Kairos memegang tangan Isobelle. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia tahu ada masalah besar dan itu membuat Isobelle kesulitan.


"Baiklah. Apa yang harus aku lakukan?" kata Isobelle menerima tawaran Alexander.


"Jangan! Jangan lakukan apapun. O-ok, aku akan mengikuti semua perkataanmu. Kumohon jangan sakiti dia," kata Isobelle.


Alexander memberitahu pastinya Isobelle harus pergi ke mana. Setelah mengarahkan, Alexander mengakhiri panggila dan menatau dari parkiran.


Isobelle pun mengajak manager tempat bermain untuk ikut serta. Ia berbisik pada Kairos, jika ia akan bertukar tempat dengan Sean. Kairos diminta untuk tetap tenang, agar Sean tidak dicelakai oleh Alexander yang gila itu.


Kairos melarang. Mengatakan kalau Isobelle pergi, maka Isobelle lah yang berada dalam bahaya. Isobelle menjelaskan pada Kairos, ia tidak akan bisa melihat Sean terluka. Lagipula sejak awal Alexander memang hanya mengincarnya.


"Tidak apa-apa. Aku akan menyelesaikan ini dan kembali," kata Isobelle.


Kairos tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak tahu harus apa. Isobelle pun pergi bersama manager. Dalam perjalanan menuju perkiran, Isobelle meninta orang yang bersamanya segera menyelamatkan Sean dan mengingat plat nomor mobil yang dilihatnya. Segera setelahnya, seseorang itu diminta Isobelle menghungi polisi. Seseorang yang bersma Isobelle mengangguk, tanpa memahami apa yang Isobelle ucapkan.


Mereka sampai diparkiran. Disebuah mobil hitam. Kaca mobil diturunkan. Isobelle bisa melihat Sean dalam pangkuan Alexander yang ada di kursi kemudi.


"Masuklah dan duduk di bangku belakang. Jangan berniat melakan sesuatu, atau aku akan mencelakai anak ini." kata Alexander memerintah.


Isobelle membuka pintu mobil, sesaat sebelum masuk ia menatap seseorang yang dibawanya dan menganggukkan kepala sebagai isyarat. Isobelle pun masuk. Ia duduk dan menutup kembali pintu mobil. Ia meminta Alexander menepati janji dan menyerahkan Sean pada orang yang dibawanya.


Alexander membuka pintu dan menurunkan Sean. Seseorang yang dibawa Isobelle segara menggendong Sean dan berjalan pergi. Seseorang itu sudah mengingat plat nomor dan segera melapor pada polisi. Saat ia berbalik, mobil yang membawa Isobelle telah pergi dan melaju kencang.


***


Dalam perjalanan, Isobelle dan Alexander bertengkar. Mereka saling memaki dan mengatai. Alexander yang emosi semakin mempercepat laju mobil yang dikemudikannya.


"Apa kamu gila?" kata Isobelle ketakutan.


"Apa kamu takut? hahaha ... " kata Alexander tertawa menatap ke belakang.


Isobelle melebarkan mata, ia melihat sebuah truk dari arah berlawanan yang sepertinya sedang hilang kendali melaju ke arah mobil yang ditumpanginya.


"Alex lihat ke depan! Aaaaa ... "teriak Isobelle keras.


Pada saat Alexander memalingkan pandangan, ia sudah telambat untuk bisa mengubah arah laju mobil. Dan akhirnya mobilnya bertabrakan dengan truk itu. Mobil yang ditumpangi Isobelle dan Alexander pun terseret sampai terbalik.


Seketika suasana disekitar tempat kecelakaan terjadi begitu riuh. Kairos yang berusaha mengejar mobil Alexander pun terpaksa menghentikan laju mobilnya. Ia keluar dan melihat apa yang terjadi. Saat tahu mobil yang sedang dikejarnya sudah dalam posisi remuk dan terbalik, tubuh Kairos langsung gemetar. Ia berlari mendekati mobil itu  ingin memastikan keadaan Isobelle.


Dilihatnya Isobelle tidak sadarkan diri dengan bermandikan darah. Kairos segera meminta bantuan orang disekitar untuk mengeluarkan Isobelle dari dalam. Setelah bersusah payah, Isobelle berhasil dikeluarkan dari dalam mobil. Sekujur tubuh Isobelle dipenuhi luka. Bahkan di bahu Isobelle tertancam pecahan kaca dan terus mengeluarkan darah.


Saat Kairos memeriksa nadi Isobelle, denyut nadi Isobelle terasa lemah. Isobelle masih bernapas. Kairos menangis memeluk Isobelle. Ia pun berusaha membuat Isobelle tersadar.


"Iso ... Iso bangun. Apa kamu mendengarku?" panggil Kairos.


Meski sudah dipanggil-panggil Isobelle tidak menjawab. Membuat Kairos semakin khawatir dan takut. Tidak lama mobil ambulan datang, dan Isobelle dilarikan ke rumah sakit.


***


Dua bulan kemudian ...


Alexander dinyatakan meninggal ditempat pada saat  kecelakaan terjadi. Kepalanya mengalami pendarahan hebat sehingga nyawanya tidak tertolong lagi.


Isobelle yang berhasil selamat dalam kecelakaan maut malam itu berangsur pulih. Ia sudah bisa duduk dan berjalan perlahan tanpa bantuan.  Kairos senang melihat Isobelle kembali sehat. Ia jugalah yang setia menemai Isobelle saat dalam masa-masa kritis sesaat setelah kecelakaan terjadi.


"Terima kasih," gumam Kairos.


"Ya? untuk apa?" tanya Isobelle menatap Kairos.


"Karena telah selamat dan berjuang untuk hidup. Kamu membuatku ingin mati malam itu, Isobelle ... " kata Kairos.


Isobelle mengusap wajah Kairos, "Maaf, aku sudah membuatmu khawatir. Terima kasih, sudah merawatku selama dua bulan ini. Berkatmu aku bisa pulih dengan cepat." kata Isobelle tersenyum.


Kairos memegang tangan Isobelle yang mengusap wajahnya, lalu mencium tangan itu. Ia menatap Isobelle dengan tatapan lekat.


"Apa ada sesuatu diwajahku?"  tanya Isobelle kebingungan.


"Kamu terlihat cantik," puji Kairos.


Wajah Isobelle memerah, ia pun langsunh memalingkan pandangan. Ia meminta Kairos untuk tidak bicara omong kosong.


"Aku tidak bicara omong kosong. Kamu memang cantik. Dari awal kita bertemu, hingga detik ini, aku menganggapmu adalah wanita yang paling cantik yang pernah aku temui." puji Kairos.


Melihat wajah merona Isobelle, membuat Isobelle tampak semakin cantik. Kairos menangkup wajah Isobelle, mencium kening Isobelle, hidung Isobelle dan mengatakan sesuatu hal yang mengejutkan.


"Aku mencintaimu, Isobelle. Jadilah istriku yang sesungguhnya. Apa kamu bersedia?" tanya Kairos. Ingin Isobelle benar-baner menjasi istrinya tanpa terikat kontrak.


Isobelle melebarkan mata. Tanpa sadar air matanya mengalir. Isobelle menganggukkan kepala, Ia langsung memeluk Kairos.


"Ya, aku mau. Karena aku juga mencintaimu." kata Isobelle terisak.


Kairos mengeratkan pelukan. Setelah puas berpelukan, mereka melapaskan pelukan dan berciuman mesra.


~Tamat~