CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 41. Mimpi Buruk



Isobelle bermimpi buruk. Ia berada di sebuah ruangan dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat di kursi. Mulutnya disumpal kain sehingga ia tidak bisa berteriak. Ia hanya bisa mengerang, dan menangis. Di depan Isobelle, berdiri sosok yang tidak ingin dilihat Isobelle, yakni Alexander.


Senyum Alexander mengembang sempurna. Ia menatap lekat pada Isobelle dan perlahan berjalan mendekati Isobelle. Tangannya menyentuh ujung rambut Isobelle, lalu menciumnya.


"Bagaimana bisa kamu lari sejauh ini dariku, sayang?" ucap Alexander.


Mata Isobelle membulat sempurna. Ia meronta-ronta ingin dilepaskan. Melihat ketidaknyamanan Isobelle setelah didekati, membuat Alexander semakin gencar menggoda Isobelle.


"Hahaha ..." tawa keras Alexander terdengar menggema di ruangan gelap dan pengap itu.


"Mhh ... mmmh ... mmmm ... " gumam Isobelle yang minta sumpalan mulutnya dilepaskan.


Alexander paham keingina Isobelle dan melepas sumpalan mulut Isobelle. Akhirnya Isobelle lega, karena mulutnya tidak tersumpal lagi. Ia langsung mengatai Alexander dan bertanya apa alasan Alexander sampai menculiknya.


"Apa-apaan ini, Lex. Lepaskan aku. Apa kamu gila?" sentak Isobelle.


Alexander tersenyum tampan, "Kamu benar, sayang. Aku memang gila. Sangat tergila-gila padamu," jawab Alexander.


"Dasar psikopat gila! Beraninya kamu melakukan ini padaku. Lepaskan aku, lepaskan." kata Isobelle meronta-ronta ingin dilepaskan.


Isobelle berusaha melepaskan tangannya yang terikat tali. Ia bahkan tidak peduli kalau tangan dan kakinya sudah lecet karena terus meronta agar tali yang mengikatnya longgar. Sayangnya usahanya itu sia-sia saja. Tali yang terikat begitu kuat, sehingga sulit bagi Isobelle melonggarkannya, apalagi sampai melepaskannya.


"Apa kamu bercanda? susah payah aku mendapatkanmu. Mau dengan mudah aku lepaskan? bisa-bisa kamu melarikan diri dariku." kata Alexander.


Alexander mengusap kepala Isobelle. Ia tidak akan pernah mau memenuhi keinginan Isobelle. Mau Isobelle menangis pun ia tidak akan melepaskan Isobelle. Ia justru senang kalau Isobelle sampai menangis. Baginya suara tangisan Isobelle terdengar merdu.


"Apa tujuanmu seperti ini?" Tanya Isobelle menatap Alexander.


"Apa lagi? tantu saja agar kamu tidak kabur dan melarikan diri. Apa kamu tahu, betapa gilanya aku kamu tinggalkan?" jawab Alexander menatap dingin pada Isobelle.


"Seharusnya kamu tahu diri. Apa alasanku pergi. Ingat, Lex. Seberapa besar usahamu membujukku, aku tidak akan pernah mau kembali padamu." kata Isobelle tegas.


Alexander tidak senang dengan ucapan Isobelle. Ia menangkup dahu Isobelle dengan tangannya dan meremat dagu Isobelle.


"Oho, jadi kamu memang berniat lari dariku, ya. Lihat apa kamu masih bisa pergi setelah ini. Aku akan membuatmu menjadi milikku, apapun yang terjadi." kata Alexander.


Alexander mencium paksa bibir Isobelle. Isobelle terkejut, ia tidak senang bibirnya dicium dan langsung menggigit bibir Alexander sampai berdarah. Alexander melapas ciuman, meringis kesakitan karena bibirnya digigit sampai berdarah. Setalah menyeka bibirnya, Alexander tersenyum masam dan langsung menarik pakaian Isobelle sampai semua kancing kemeja Isobelle terlepas.


"Aaaaa ... apa yang kamu lakukan? Kamu gila, ya? dasar bedebah gila, sialan!" umpat Isobelle marah dan kesal karena kemejanya dirusak Alexander.


Kemeja Isobelle koyak dan terlepas, membuat Isobelle semakin histeris. Ia tidak mau tubuhnya terlihat oleh Alexander. Sedangkan alexander hanya tertawa dan melakukan hal lebih gila lagi dengan membuka celana jeans yang dikenakan Isobelle.


***


Isobelle menangis saat sedang tidur dan berteriak-teriak memaki Alexander. Tubuhnya meronta seakan terikat. Kairos yang mendengar langsung bangun dan menyadarkan Isobelle dari mimpi buruk.


Kairos menggoyangkan pelan tubuh Isobelle dan memanggil-manggil nama Isobelle agar Isobelle bangun dari mimpi buruknya. Kairos khawatir, Isobelle terus saja bergumam tidak jelas.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Kairos menatap Isobelle.


Kairos mengusap wajah Isobelle, "Iso, bangunlah. Apa kamu mendengarku? ini aku, Kairos." bisik Kairos pelan di telinga kiri Isobelle.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Kairos.


Isobelle menatap Kairos, "A-ah, i-iya. Terima kasih," kata Isobelle gelisah. Ia masih teringat tentang mimpinya.


Kairos mengambil gelas dari tangan Isobelle dan meletakan gelas kembali ke tempatnya semula. Kairos menatap Isobelle, memegang erat tangan Isobelle.


"Apa kamu bermimpi buruk? aku mendengarmu mengumpat berkali-kali." tanya Kairos ingin tahu.


Isobelle terdiam dengan tubuh gemetar. Ia menundukkan kepala karena tidak tahu harus menjawab apa. Malu dan sedih bercampur menjadi satu. Ia malu untuk menceritkan mimpinya, tapi tersiksa jika memendamnya. Rongga dadanya penuh sesak seakan mau meledak.


Hiks ... hiks ...


Suara isak tangis Isobelle terdengar. Kairos mengeryitkan dahi. Ia membelai lembut kepala Isobelle. Ia tidak berani bertanya lagi, karena takut akan memperburuk keadaan Isobelle.


Kairos hanya bisa mengusap-usap kepala agar Isobelle bisa tenang. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Isobelle, sehingga ia tidak tahu apa yang harus ia lalukan.


"Kai ... " panggil Isobelle.


Isobelle menadahkan kepala menatap Kairos dengan wajah yang berantakan.


"Ya? katakan apa yang ingin kamu sampaikan saja. Aku tidak akan memaksamu bercerita sesuatu yang sulit untuk kamu ceritakan. Bicaralah, aku akan mendengarnya." jawab Kairos tenang.


Tangan hangat Kairos menyeka air mata Isobelle, lalu mengusap wajah Isobelle lembut.


"Aku ... aku ... a-aku memimpikannya," guman Isobelle.


"Memimpikannya? siapa?" tanya Kairos tidak mengerti.


"Alexander. Si bedebah itu. Dia ada dimimpiku," kata Isobelle kesal.


"Tunggu ... jangan katakan sesuatu dulu. Apa kamu yakim untuk bercerita? kalau tidak, maka jangan katakan apapun." kata Kairos.


Ia bukannya tidak mau mendengar keluhan Isobelle tentang mimpi buruk yang dialaminya. Hanya saja Kairos tidak mau melihat Isobelle sedih dan menangis lagi. Terlebih, jika Isobelle hanya sepenggal-sepenggal saat bercerita. Membuat Kairos tidak senang karena harus menebak-nebak maksud ucapan Isobelle.


Isobelle menganggukkan kepala, "Aku tidak apa-apa. Jadi ... maukah kamu mendengar ceritaku? aku tidak bisa memendamnya sendirian," tanya Isobelle menatap Kairos.


"Tentu saja aku akan dengar. Nah, sekarang kamu bisa ceritakan padaku apa pun itu. Jangan merasa tidak enak atau canggung," jawab Kairos.


Isobelle pun bercerita, tentang apa yang dialaminya di dalam mimpi. Meski itu hanya mimpi, tapi serasa nyata. Kairos terkejut, saat mendengar cerita Isobelle. Bahkan dalam mimpi pun, Alexander benar-benar mengerikan.


"Bedebah sialan! aku akan membunuhmu, jika kita bertemu." batin Kairos kesal.


Isobelle sampai menangis saat menceritakan Aexander yang hendak melecehkannya. Cerita Isobelle terhenti, Isobelle tidak melanjutkan ceritanya dan hanya terus menangis.


Kairos memeluk Isobelle, "Tidak apa-apa. Itu hanyalah mimpi. Dia tidak akan bisa menyentuhmu walau seujung kuku saat ini. Karena aku ada di sini. Aku pasti akan melindungimu, Isobelle." bisik Kairos.


"Tapi ... i-itu mengerikan. Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau melihatnya. Tidak,"  kata Isobelle terisak-isak.


Kairos yang memang sudah kesal menjadi semakin kesal pada sosok Alexander. Ia sungguh ingin melenyapkan pria busuk itu dari muka bumi. Sehingga tidak bisa lagi mencul dihadapan Isobelle.