CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 31. Liburan



Satu minggu kemudian. Akhirnya Kairos, Isobelle, Sean dan Enny tiba di Korea. General Manager Hotel menyambut Kairos sekeluarga dan mengatar Bossnya itu ke President Suite khusus untuk tempat tinggal Kairos beserta keluarga.


Setiap Hotel, baik pusat maupun cabang menyiapkan satu President Suite khusus bagi Kairos sebagai pemilik Hotel. Karena Kairos tidak ingin menempati kamar yang sama dengan para tamu, ia juga ingin privasinya lebih terjaga.


Enny terkejut, ini pertama kalinya ia akan menginap di Hotel bintang lima dan menempati President Suite. Bagi Enny, ini merupakan momen langka dan dia pun terlihat senang. Sean juga tampak senang, ia menikmati perjalanan kali ini tanpa merengek.


Kairos langsung meminta Isobelle, Enny dan Sean istirahat.


"Kalian istirahatlah lebih dulu," kata Kairos.


Sedangkan Kairos sendiri masih harus berbincang dengan General Manager yang masih menunggu.


Kairos menatap Isobelle, "Aku akan segera kembali. Jika ada yang kamu perlukan, bisa hubungi aku atau Front Office. Jangan ke mana-mana selagi aku pergi, ok." kata Kairos mengingatkan Isobelle.


Isobelle menganggukkan kepala, "Ya, aku mengerti. Pergilah, dan jangan khawatirkan kami." jawab Isobelle.


Isobelle mengajak Enny dan Sean masuk ke dalam kamar.


"Bibi, ayo ganti pakaian Sean dan tidurkan dia." kata Isobelle menatap Enny.


"Baik, Nyonya." jawab Enny.


Keduanya lalu masuk ke dalam kamar. Melihat Isobelle, Enny dan Sean sudah masuk ke dalam kamar, Kairos langsung mengajak General Manager Hotel pergi meninggalkan President Suite.


***


Isobelle pergi meninggalkan Enny dan Sean yang sedang istirahat. Ia pergi ke kamar lain untuk istirahat. Baru saja masuk ia langsung tertarik menikmati pemandangan diluar gedung Hotel.


"Wah ... dari sini bisa terlihat semuanya." gumam Isobelle. Ia menatap ke luar dan berdiri di depan kaca.


Tidak lama pintu kamar terbuka, Kairos pun masuk ke dalam kamar. Melihat Isobelle ada di dalam kamar, Kairos pun terkejut. Ia lantas meminta maaf, karena tidak mengetuk pintu lebih dulu.


"Oh, maaf. Aku mengira kamu ada di kamar sebelah." kata Kairos.


Isobelle berjalan menghampiri Kairos, ia tidak mempermasalahkan soal kedatangan Kairos yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu.


"Tidak apa-apa. Tadi aku menidurkan Sean karena Enny mandi. Setelah selesai aku minta Enny juga istirahat. Melihat mereka tidur pulas aku keluar saja daripada mengganggu, kan." kata Isobelle.


"Ah, begitu. Kamu tidak istirhat?" tanya Kairos.


Isobelle menggelengka kepala perlahan, "Tidak. Oh, ya. Bagaimana pertemuanmu dengan General Manger Hotel? Apa ada sesuatu?" tanya Isobelle.


Isobelle bertanya, apakah urusan dengan General Manager Hotel sudah selesai atau belum? dan apa urusan tersebut penting?


Kairos menjawab, "Tidak ada sesuatu yang istimewa. Dia hanya memintaku beritahu apa saja kebutuhan yang kuinginkan tanpa sungkan, lalu selebihnya memberitahu sedikit tentang keadaan Hotel." jawab Kairos.


Kairos juga meminta General Managet Hotel merahasiakan  kedatangannya beberapa hari kedepan. Kairos mengatakan, beberapa hari kedepan adalah waktunya bersama Isobelle dan Sean. Ia akan membawa mereka jalan-jalan menikmati indahnya negeri gingseng.


"Saat bersama keluarga adalah hal yang membahagiaakan. Makadari itu aku tidak ingin ada gangguan sekecil apapun." imbuh Kairos menjelaskan keinginannya.


Isobelle tersenyum senang. Ia berterima kasih karena Kairos selalu memperhatikan hal-hal kecil untuknya dan Sean. Selalu ingin menyenangkan hati keluarganya.


"Senangnya memiliki suami sepertimu," kata Isobelle.


"Untunglah kamu berpikir seperti itu. Aku juga senang bisa selalu memberikan yang terbaik, untukmu dan untuk Sean." sahut Kairos.


Isobelle bertanya lagi, apakah Kairos benar-benar tidak apa-apa menunda pekerjaan beberapa hari kedepan untuk jalan-jalan? jika memang sibuk, lebih baik Kairos tidak memaksakan diri. Kairos menjawab, jika pekerjaan seminggu kedepan sudah ia kerjakan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan mereka ke Korea.


Isobelle pun mengangukkan kepala. Itulah kenapa beberapa hari sebelum hari keberangkatan, Kairos sampai lembur dan pulang malam.


Isobelle semakin terkesan pada Kairos. Demi bisa membawanya dan Sean pergi liburan, Kairos selalu mempertaruhkan segalanya. Baik itu waktu, tenaga sampai pekerjaan. Itulah keistimewaan yang ada pada diri Kairos, yang belum tentu dimiliki orang lain.


Isobelle mengusap wajah Kairos. Ia bertanya, apakah ia boleh memberikan hadiah untuk Kairos?


"Boleh aku memberimu hadiah?" tanya Isobelle.


Kairos tersenyum dan menganggukkan kepala, tanda setuju. Isobelle pun mendekatkan wajahnya dan lansung mencium pipi Kairos. 


"Begini tidak apa-apa, kan?" batin Isobelle.


Tentu saja Kairos langsung membulatkan mata dan wajahnya memerah. Ia tidak menduga akan diberi hadiah cium pipi oleh Isobelle.


"Isobelle menciumku?" batin Kairos berdebar.


Kairos mengusap pipinya. Ia bertanya apakah hanya satu pipinya saja yang dicium? bagaiman dengan yang satunya lagi? Isobelle mendekat dan mencium sisi lain dari pipi Kairos.


Isobelle bertanya, apa ada tempat lain yang ingin dicium lagi? Kairos menunjuk kening, hidung dan dagunya. Isobelle tersenyum, ia mencium kening, hidung dan dagu Kairos setelah itu manatap Kairos.


"Sudah, kan?" tanya Isobelle.


Dengan jahilnya Kairos menunjuk bibirnya, dan berkata, jika bibirnya mengering.


"Bagian ini belum kamu cium. Lihatlah, bibirku kering." kata Kairos menggoda Isobelle.


Isobelle membekap bibir Kairos dan tersenyum. Ia mengatakan, agar Kairos tidak terus menerus menjahilinya.


"Hentikan. Sudah cukup menjahiliku," kata Isobelle.


Tanpa disangka Isobelle, Kairos menjilat telapak tangan Isobelle. Membuat Isobelle terkejut dan melepaskan bekapannya.


"Kai ... " panggil Isobelle meninggikan suara. Wajah Isobelle memerah.


Kairos tersenyum, ia senang dengan ekspresi terkejut Isobelle saat telapak tangan Isobelle tersentuh lidahnya.


"Hihihi ... lucu sekali." batin Kairos menahan tawa.


"Dasar kamu ini. Menyebalkan," gumam Isobelle menggerutu.


Isobelle merasa malu. Ia pun hendak pergi meninggalkan Kairos, tapi Kairos lebih dulu menahan kepergian Isobelle dengan memeluk Isobelle dari belakang.


"Mana boleh kamu pergi begitu saja," bisik Kairos di telinga Isobelle.


Isobelle terkejut, ia tidak bisa bergerak dan hanya bisa mematung. Aneh rasanya, Isobelle merasakan jantungnya berdegup kencang seperti akan meledak. Wajahnya pun memerah dan suhu tubuhnya meningkat.


"Di-di-dia ... dia ... " batin Isobelle terbata-bata.


Kairos mengeratkan pelukan. Ia menyandarkan dagunya ke bahu Isobelle. Kairos mengatakan, jika ia menyayangi Isobelle seperti halnya Kairos menyayangi Sean dan tidak ingin melihat Isobelle bersedih dan terluka.


"Jangan terluka, jangan juga bersedih. Aku menjadikanmu Istriku, dan Mama untuk Sean agar kamu bahagia. Bukan untuk menderita. Kamu mengerti?" kata Kairos.


Deg ... deg ... deg ...


Jantung Isobelle berdegup semakin kencang. Tidak hanya merasa hangat dipeluk Kairos, ia merasakan ketulusan dari perkataan yang diucapkan Kairos padanya


"Ya, aku mengerti." jawab Isobelle pelan. Isobelle mengusap tangan Kairos yang melingkar di perutnya.