
Seseorang sedang memandangi sebuah foto. Dia mengusap, lalu mencium foto tersebut.
"Ahh ... bagaimana ini? aku semakin merindukanmu, sayangku." gumamnya.
Senyum licik mengurai dari bibirnya. Ia adalah Alexander Noah. Matan kekasih Isobelle. Pria yang memiliki sejuta ide licik dan penuh trik. Pandai berpura-pura dan mempengaruhi pikiran orang lain. Yang lebih mengerikan, ia amat terobsesi pada Isobelle. Pria itu terus menyakinkan diri, jika ia akan kembali mendapatkan Isobelle.
"Aku akan mendapatkanmu kembali. Meski harus menghancurkan dunia. Kamu harus tetap menjadi milikku, Isobelle." kata Alexander memandang tajam foto Isobelle di tangannya.
Ia juga menyakini, jika hanya cintanyalah yang murni dan tulus dibandingkan siapapun.
"Di dunia ini. Hanya akulah satu-satunya orang yang sangat mencintaimu. Bukan begitu? bahkan aku rela menjadi gila karenamu. Hahaha ... Isobelle, Isobelle ... aku akan menantikan pertemuan kita." kata Alexander.
***
Di perjalanan pulang mengantar Isobelle ke rumah, Joshua ragu-ragu memberikan amplop cokelat yang ia terima pada Isobelle. Ia tidak yakin Isobelle akan terus diam seolah mengabaikan surat-surat misterius yang ia terima dari orang yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, ada rasa takut menghantuinya. Ia tidak mau tiba-tiba orang yang dibencinya muncul dan membuat kekacauan, bahkan menyakiti Isobelle.
"Bagaimana ini? aku tidak bisa lagi memberikan surat-surat tidak jelas itu pada Isobelle. Juga tidak bisa mengabaikan kata-kata si bedebah itu. Dia mencintai Isobelle, tetapi dia melakukan hal gila seperti ini? sungguh memuakkan." batin Joshua kesal. Ia menggengam erat kemudi stir.
Pada akhirnya Joshua pun memutuskan untuk menunda memberikannya karena isi kepalanya sedang kacau. Ia menunggu situasi dan keadaan lebih dulu.
Seperti halnya Joshua yang resah dan gelisah, Isobelle pun demikian. Ia memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil atas tawaran kontrak dari Direkturnya. Sementara waktu yang ditentukan tinggal sehari lagi. Isobelle mengerutkan dahinya, ia terus mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi. Sebab-akibat dari keputusannya.
"Semakin dipikirkan, semakin membuatku sakit kepala. Aku bahkan sampai tidak nyenyak tidur karena ini," batin Isobelle.
"Hahhh ...."
Tanpa sadar Isobelle pun mengehela napas berat, dan mengalihkan perhatian Joshua. Karena penasaran, Joshua melihat Isobelle dari kaca depan. Wajah Isobelle tampak kusut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang amat serius. Joshua lantas menegur Isobelle. Ia bertanya apa hal yang membuat Isobelle mengehela napas begitu berat. Isobelle menatap Joshua, ia meminta maaf kalau suara helaan napasnya sampai terdengar oleh Joshua. Tidak menjawab pertanyaan Joshua, Isobelle lebih memilih tersenyum.
"Apa yang dia pikirkan sampai seperti itu, ya?" batin Joshua.
"Aku tanpa sadar menghela napas di depan Joshua. Tentu saja dia langsung ingin tahu kan, aku kenapa. Jika aku katakan, jawaban yang sama akan dia katakan. Lebih baik diam saja," batin Isobelle.
***
Sampai tengah malam, Isobelle tidak bisa tidur. Ia bangun dan keluar dari kamar.
"Karena aku tidak bisa tidur. Ayo minum saja. Ya, lebih baik minum daripada gila memikirkan kontrak kerja, kan." batin Isobelle.
Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil gelas. Ia ingin minum wine untuk melepas stres. Isobelle minum sendirian di meja dapur, ia terus memikirkan tawaran kontrak iklan dari Direktur agensinya.
Pada saat Isobelle ingin mengambil gelas, gelasnya diambil oleh Kairos dan botol winenya juga diambil.
"Ini sudah tengah malam. Kenapa minum-minum?" tanya Kairos.
"Oh, Kai ... " gumam Isobelle menatap Kairos dan tersenyum cantik.
Isobelle memohon pada Kairos untuk memberikan gelas berisi wine padanya.
Melihat ekspresi murung Isobelle, Kairos pun bertanya apa hal yang mengganggu pikiran Isobelle. Kairos juga memberikan kembali gelas pada Isobelle dan meletakkan botol wine di atas meja dihadapan Isobelle.
"Katakan padaku. Apa yang mengganggu pikiranmu. Aku ini suamimu. Aku akan berusaha membantumu kalau kamu berada dalam kesulitan." kata Kairos dengan wajahnya yang serius.
Isobelle terkejut. Matanya melebar mendengar kata-kata Kairos. Ia merasa apa yang dikatakan Kairos bukanlah basa-basi
"Kenapa dia harus mengatakan itu? aku tahu dia suamiku, tapi ... dia sampai menekankan hal yang tidak terduga begitu. Apa alasannya?" batin Isobelle.
Suasana menjadi hening. Kairos dan Isobelle saling diam. Kairos duduk disamping Isobelle, memperhatikan Isobelle.
"Tidak mau bicara? jadi kamu berencana menyimpan semuanya sendiri?" tanya Kairos.
Tidak tahu harus apa, Isobelle lantas bercerita pada Kairos tentang tawaran kontrak yang mengganggu pikirannya. Isobelle bertanya, apa yang harus ia lakukan? keputusan apa yang ia harus ambil?
" ... bantu aku memikirkannya. Kalau kamu jadi aku. Bagaimana?" tanya Isobelle manatap Kairos.
Kairos diam sesaat, lalu menjawab. Kairos meminta Isobelle mengambil keputusan berdasarkan hati, dan pikiran jernih. Kairos menambahkan, jika ia tidak akan mempermasalahkan kalau Isobelle memang ingin menerima tawaran tersebut. Ia juga tidak memaksa, jika Isobelle tidak jadi menerima tawaran kontrak. Apapun keputusan Isobelle, Kairos akan selalu mendukung. Diakhir ucapannya, Kairos menambahkan, jika bekerja atau tidak pun, Isobelle akan tetap menghasilkan banyak uang, karena ia adalah istri seorang CEO A& Grup. Kairos menyombongkan diri, ia merasa mampu menafkahi Isobelle dan Sean bahkan sampai seratus tahun mendatang.
"Jadi kamu tidak perlu khawatir. Baik pilihamu mengambilnya atau tidak, kamu sama-sama akan dapatkan untung. Hanya saja, jika kamu terima, kamu lebih diuntungkan. Kembali lagi pada hatimu, Isobelle. Aku tahu kamu memikirkan Sean juga. Kalau nantinya kamu harus sibuk bekerja, akulah yang akan lebih memperhatikan Sean." kata Kairos.
Mendengar ucapan Kairos, Isobelle pun tersenyum. Isobelle mengatakan, jika ia sama sekali tidak pernah menyangka, akan menjadi istri seorang CEO sukses seperti Kairos. Meski hanya istri kontrak, ia merasa bangga.
"Kamu tahu, Kai?" kata Isobelle menatap Kairos.
"Tahu apa?" tanya Kairos.
"Sepertinya aku adalah wanita beruntung yang bisa menggapai pangeran berkuda putih sepertimu. Jujur saja, aku tidak menyangka akan menjadi Istrimu. Sungguh," kata Isobelle serius.
Mendengar perkataan Isobelle. Kairos pun tertarik dengan cerita cinta masa lalu Isobelle. Setelah meminta maaf, Kairos langsung bertanya. Bagaimana kisah cinta Isobelle pada masa lalu?
"Bisa kamu ceritakan padaku? kisah cintamu sebelum kita bertemu? Aku ingin tahu," kata Kairos. Ia penasaran dengan kisah cinta masa lalu Isobelle.
Isobelle terdiam. Ia menggelengkan kepala dengan menatap ke arah Kairos. Isobelle menjawab, tidak perlu membahas percintaannya. Kisah asmaranya bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan pada orang lain.
"Hal yang tidak perlu dibicarakan, sebaiknya tidak dikatakan, kan? kita bahas hal lain saja, ok." kata Isobelle.
"Maaf, Kai. Aku tidak akan sanggup menceritakan apa yang ku alami selama bersama pria sampah itu. Sebesar apapun keinginanku mengungkapkannya padamu, mulutku seketika terkunci dan air mataku pasti akan menetes sendirinya." batin Isobelle mengernyitkan dahi.
"Oh, baiklah. Maaf, karena aku terkesan memaksamu bicara. Aku tidak bermaksud begitu, hanya penasaran saja." kata Kairos.
"Pasti itu bukan hal baik, kan? wajahmu mengatakannya, Isobelle." batin Kairos.
Kairos mengerti, ia tidak memaksa Isobelle bercerita. Tanpa mendengar jawaban pun, Kairos merasa sudah cukup mengerti apa yang terjadi, karena ekspresi wajah Isobelle sudah memberitahunya lebih dulu.