CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 44. Bertemu Kembali



Tiga tahun kemudian.


Karena suatu alasan terkait keluarga Isobelle, Isobelle dan Kairos memutuskan pindah. Selama tiga tahun ini mereka tinggal disebuah kota kecil dan hidup bahagia. Meski Kairos harus sering bolak-balik ke luar negeri, ia tidak merasa keberatan sama sekali. Baginya yang terpenting Isobelle dan Sean merasa nyaman.


Tidak peduli seberapa jauh dan lamanya perjalanan yang di tempuh. Kairos tidak akan pernah mempermasalahkan itu.


***


Isobell dan Kairos mengajak Sean pergi jalan-jalan. Enny tidak ikut serta karena Enny izin pulang ke kampung halaman. Ibu Enny sakit, sehingga Enny harus merawat Ibunya. Isobelle memberikan libur panjang pada Enny. Setelah kesehatan Ibu Enny pulih, dan jika Enny kembali ingin bekerja, maka Enny diperbolehkan kembali.


Isobelle dan Kairos akan menerima dengan senang hati kedatangan Enny kembali. Karena Enny sudah dianggap keluarga oleh Isobelle dan Kairos.


"Papa, Papa ... " panggil Sean menunjuk Kairos saat Kairos berjalan ke arahnya.


Isobelle tersenyum, "Papa membelikanmu es krim. Apa kamu senang?" tanya Isobelle menggendong Sean.


Kairos berjalan mendekat, "Apa kalian menunggu lama? maaf, tadi ada dua anak kecil dan aku membiarkannya mengantri duluan dariku. Kasian mereka, karena sepertinya salah satu dari mereka menangis." kata Kairos.


"Oh, ya? wah ... kamu baik hati sekali." puji Isobelle.


"Sayang, ini untukmu. Hati-hati memegang, ya." kata  Keiros. Memberikan Sean es krim dalam cup.


Sean menerima, "Terima kasih, Papa." kata Sean tersenyum dan menerima pemberian Kairos.


"Kalau kamu aku saja yang suapi," kata Kairos menatap Isobelle.


Isobelle tersenyum. Semakin hari sikap Kairos semakin manis dan hangat. Tidak pernah sekalipun Kairos mengatakan kata-kata kasar saat bicara. Selama itu pula, perlahan perasaan suka Isobelle tumbuh. Bahkan sepertinya perasaan itu sudah lebih berkembang menjadi rasa sayang dan cinta.


Kairos menyuapi Isobelle es krim. Mereka berbagi satu cap es krim itu untuk dimakan bersama.


"Apa kamu suka rasanya? karena tidak ada rasa cokelat, maka aku beli rasa dark cokelat." kata Kairos.


"Tidak apa-apa. Meski sedikit pahit, aku suka." jawab Isobelle.


Kairos mengajak Isobelle dan Sean duduk di kursi taman.  Sean duduk sendiri dan makan es krim dengan lahap. Melihat Sean yang makan dengan cepat, Isobelle pun menasihati agar Sean makan denga perlahan saja.


"Sayang, makanlah pelan-pelan. Tidak akan ada yang merebutnya darimu," Kata Isobelle. Mengusap bibir Sean yang belepotan dengan sapu tangan.


"Mama marah?" tanya Sean.


Isobelle tersenyum, "Mana mungkin. Mama hanya khawatir saja. Apa Sean kira Mama marah?" tanya Isobelle.


Sean menganggukkan kepala. Sambil tetap makan es krim. Kairos mengusap kepala Sean dengan lembut dan menjelaskan kenapa Isobelle menegur Sean. Dengan bahasa sederhana, dan kata-kata lembut, Kairos akhirnya bisa membuat Sean mengerti maksud Isobelle.


Sean manatap Isobelle, "Maaf, Mama ... " ucap Sean.


Isobelle mengusap pipi Sean, "Ya, sayang. Tidak apa-apa. Maaf, kalau kat-kata Mama membuatmu terkejut, ya. Mama tidak akan mengulanginya." kata Isobelle.


"Anak pintar. Kamu selalu bisa membuat Papa bangga, Sean." puji Kairos.


Setelah selesai makan es krim. Mereka pun menutuskan untuk pulang. Isobelle harus segera memasak untuk makan malam. Kairos menggendong  Sean, mereka berjalan beriringan menyusuri jalan menuju rumah mereka.


Baru beberapa langkah berjalan, tangan Isobelle dipegang oleh seseorang dan membuat Isobelle terkejut. Isobelle pun berbalik. Ia melihat seseorang mengenakan jaket hitam dan topi memengang erat lengan tangan kanannya.


"Ma-maaf. Si-siapa kamu?" tanya Isobelle menarik tangannya, tapi tetap dipegang erat seseorang tersebut.


"Akhirnya aku menemukanmu, Isobelle ... " kata seseorang itu. Yang tak lain adalah Alexander.


Alexander menatap Isobelle dan tersenyum. Melihat seseorang yang memegang tangannya adalah Alexander, Isobelle pun terkejut.


"Tidak akan. Aku sudah susah payah mencarimu, dan sekarang aku menemukanmu. Bagaimana bisa aku melepaskanmu?" jawab Alexander semakin erat mencengkram lengan Isobelle.


"Uuhh sakit, Lex. Lepaskan!" kata Isobelle.


Tangan Alexander pun di pegang oleh Kairos. Melihat tangannya dipegang seseorang, Alexander pun menatap Kairos, lalu bertanya siapa Kairos.


"Siapa kamu? lepaskan tanganku," kata Alexander menatap tajam ke arah Kairos.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Lepaskan tanganku dari lengan Istriku!" kata Kairos dengan nada suara dingin.


Isobelle terkejut dan menatap Kairos. Ini pertama kalinya ia mendengar Kairos bicara dengan nada sedingin itu. Seolah ingin membuat lawan dihadapannya tertekan.


Mendengar ucapan Kairos, membuat Alexander terkejut sampai ia tanpa sadar melepaskan tangan Isobelle.


"Apa kamu bilang? Istri? Dia istrimu?" tanya Alexander menunjuk Isobelle.


Kairos menatap Isobelle, "Ya, Dia istriku." jawab Kairos, lalu menatap Alexander tajam, "Dan kamu, tidak punya hak apapun mengganggunya." lanjut Kairos bicara.


"Apa itu benar, Isobelle?" tanya Alexander menatap Isobelle.


Isobelle yang terkejut dan ketakutan bersembunyi dipunggung Kairos. Ia tidak ingin bicara dan hanya diam saja saat ditanya Alexander.


"Hei, kenapa kamu diam saja. Jawab aku," kata Alexander kesal.


"Hentikan! jangan ganggu kami dan pergilah." kata Kairos.


"Aku tidak punya urusan denganmu, sialan! Mau kamu suaminya atau siapapun itu, aku tidak peduli. Aku datang ke sini untuk bertemu Isobelle. Bukan kamu," kata Alexander kasar.


Isobelle menarik kaus Kairos, "Ayo, kita pergi saja." ajak Isobelle.


Kairos pun menuruti ucapan Isobelle dan mereka pergi. Baru saja melangkah pergi, rambut Isobelle ditarik kasar oleh Alexander, membuat Isobelle menjerit.


"Aaaa ... sakit!" seru Isobelle memegangi rambutnya.


Kairos menurunkan Sean dan berbisik sesuatu pada Sean. Ia langsung menghampiri Alexander dan memukul Alexander sampai tersungkur di jalan.


"Berani sekali kamu menyakiti istriku, kamu mau mati?" kata Kairos penuh Emosi. Matanya melebar dan wajah Kairos merah padam. Kedua tangan Kairos mengepal erat.


Isobelle memeluk Kairos, "Hentikan. Kita pergi saja. Aku tidak apa-apa," kata Isobelle.


Suasana mulai riuh. Beberapa orang berdatangan melihat apa yang terjadi. Alexander yang tersungkur hanya bisa tersenyum masam. Perlahan ia bangkit berdiri dan mengusap wajahnya yang dipukul Kairos.


"Lihatlah, orang macam apa yang menjadi suamimu, Isobelle. Dia sangat kasar," kata Alexander.


"Cukup, Lex. Hentikan omong kosongmu! Kamu pantas dipukul karena sikapmu yang kurang ajar." kata Isobelle marah.


"Apa? wah ... sekian lama tidak bertemu, kamu semakin berani, ya?" kata Alexander.


"Jangan menggangguku! atau aku tidak akan sungkan lagi," kata Isobelle.


Alexander kembali ingin mendekati Isobelle, tetapi dihadang oleh Kairos. Alexander yang kesal pun langsung memukul Kairos, tapi pukulan Alexander berhasil dihindari. Kairos berbalik memukul Alexander. Dan karena keributan itu Sean jadi menangis.


"Sean ... " gumam Isobelle. Ia langsung menghampiri Sean dan memeluk Sean.


Pertengakaran terjadi antara Kairos dan Alexander. Keduanya baku hantam. Tidak lama polisi datang melerai. Kairos menjelaskan, jika Alexander berniat mencelakai istrinya dan menyerangnya. Alexander juga membela diri, ia mengatakan Kairos telah memukulnya lebih dulu. Karena hal itu Kairos, Alexander, Isobelle dan Sean dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.