CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 37. Kenyataan Pahit



Kairos memeriksa video dan rekaman suara yang dikirim Joel. Kairos terkejut, ia tidak menyangka kalau Joshua adalah orang suruhan Alexander. Kairos berpikir, apa jadinya kalau Isobelle sampai tahu? Belum sampai ia selesai dengan ucapannya, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Isobelle masuk ke dalam kamar.


"Kai ... " panggil Isobelle.


Kairos terkejut, ia cepat-cepat menyembunyikan ponselnya di bawah bantal. Isobelle tersenyum mendekati Kairos, mengajak Kairos pergi jalan-jalan. Isobelle ingin makan dessert manis.


Kairos mengangguk, ia meminta Isobelle memberitahu Enny dan Sean agar bersiap-siap.


"Aku akan menyusul setelah ganti pakaian," kata Kairos.


"Ok," jawab Isobelle tersenyum.


Isobelle senang, ia segera berlari keluar kamar. Melihat Isobelle keluar dari kamar, membuat Kairos bisa bernapas lega.


"Hahhh ... (menghela napas) mengejutkan saja. Aku sampai panik," batin Kairos.


Kairos berpikir, jika ia tidak bisa terus menerus menyembunyikan kebenaran yang ada. Ia berniat memberitahu Isobelle apa yang sebenarnya terjadi  antara Joshua dan Alexander secara pribadi saat hanya berdua saja.


***


Kairos, Isobelle, Enny dan Sean sedang jalan-jalan. Enny menjaga Sean yang bermain di wahana permaianan khusus anak dengan pengawasan pekerja wahana. Tidak jauh, Kairos dan Isobelle mengamati sambil menikmati dessert dan kopi disebuah Caffe yang terletak disamping wahana.


Kairos terus kepikiran soal Joshua, ia ingin sekali cepat-cepat memberitahu Isobelle semua tentang Joshua.


Isobelle menatap Kairos, melihat alis dari pria berwajah tampan itu menyatu, membuat Isobelle penasaran. Tangan Isosbelle menyentuh alis Kairos. Isobelle bertanya, kenapa Kairos terlihat kesal dan ingin marah? apa ada sesuatu yang membuat Kairos kesal? atau Kairos kesal karena Isobelle meminta keluar, padahal Kairos banyak pekerjaan?


"Jawablah. Aku butuh jawabanmu," kata Isobelle.


Kairos langsung mengubah ekspresi wajahnya, ia menatap Isobelle dan mengatakan semua yang dikatakan Isobelle tidaklah benar. Kairos menjelaskan, jika ia hanya sedang memikirkan sesuatu hal serius. Ia terlihat kesal dan marah, karena memang ada seseorang yang membuatnya demikian.


"Jadi, bukan tentang permintaanmu yang ingin jalan-jalan. Mengerti?" kata kairos tersenyum.


Isobelle bingung, ia ingin tahu apa dan siapa yang membuat Kairos begitu kesal. Kairos mengusap kepala Isobelle, ia meminta Isobelle meluangkan waktu sebelum tidur. Karena ada yang ingin dibicarakan.


"Nanti jangan tidur dulu. Aku mau membicarakan sesuatu," kata Kairos.


Isobelle semakin penasaran. Ia pun menganggukkan kepala, mengiakan permintaan Kairos.


"Ya, baiklah." jawab Isobelle.


Setelah puas jalan-jalan. Mereka lanjut makan malam bersama disebuah restoran. Sean lebih dulu disuapi Enny, sekalian menunggu Isobelle selesai makan. Setelah itu gantian Enny makan dan Sean dijaga oleh Isobelle.


Melihat Isobelle dan Sean yang sedang bermain dan tertawa bersama, membuat Kairos senang.


"Melihat kalian tersenyum dan bahagia, membuat hatiku tenang. Kalian jangan khawatir, apapun yang terjadi, aku akan melindungi kalian berdua." batin Kairos.


Baginya kini tidak ada hal lain yang lebih penting dibandingkan kebahagiaan Isobelle dan juga Sean.


Isobelle menatap Kairos, ia melihat Kairos terpaku menatapnya dan Sean. Isobelle bertanya, apa ada sesuatu?


Kairos menggelengkan kepala, mengusap kepala Isobelle dan Sean bergantian. Ia mengatakan, jika ia senang melihat kedekatan Isobelle dan Sean.


Isobelle lantas menawari Kairos menggendong Sean. Memindahkan Sean ke pelukan Kairos. Sean tersenyum senang menatap Kairos dan memanggil "Pa" pada Kairos.


"Pa ... " ucap Sean menatap Kairos.


"Apa? dia tadi bilang apa?" tanya Isobelle takut salah dengar.


Isobelle kaget, ia senang Sean bisa memangil Papa pada Kairos. Jika sebelumnya Sean hanya bisa memanggil atau bergumam "Ma", "Mamam" , atau "Mamama" sekarang ada kata-kata Lain yang diucapkan Sean.


"Anakku semakin pintar, ya. Iya, sayang. Ini Papa. Coba ulangi, Papa. Pa-pa ... " kata Kairos.


Sean menatap Kairos dan tersenyum, "Pa, Pa ... Papapa ... " kata Sean lantas tertawa menunjukkan  giginya.


Tidak hanya Kairos dan Isobelle yang senang, sebagai pengasuh Enny pun merasa bangga. Ia selalu melatih Sean bicara, setiap kali ada kesempatan. Dan tidak pernah lelah untuk terus memberikan arahan pada Sean.


"Ah, Tuan Mudaku sudah semakin pandai." batin Enny.


***


Isobelle masuk ke dalam kamar setelah menidurkan Sean. Ia berjalan mendekati Kairos yang sudah menunggunya di atas tempat tidur. Ia naik ke atas tempat tidur, duduk memeluk bantal.


Isobelle menyandarkan kepalanya ke bahu Kairos. Ia mengucapkan terima kasih, karena Kairos sudah mengajaknya dan Sean jalan-jalan.


"Aku senang sekali hari ini. Ditambah lagi Sean memberikan kejutan. Dia akhirnya memanggilmu Papa dengan jelas," kata Isobelle senang.


"Ya, kamu benar. Dia juga semakin lucu, kan." sahut Kairos.


Isobelle menganggukkan kepala, "Setuju. Oh, ya, apa yang ingin kamu bicarakan? tadi kamu melarangku tidur kan?" tanya Isobelle.


Kairos menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Mendengar deru napas kasar Kairos, Isobelle menadahkan kepala menatap Kairos. Ia bertanya, ada apa?


Kairos sempat ragu, apakah Ia harus memberitahu Isobelle tentang Joshua. Kairos yakin Isobelle akan sangat terkejut dan sedih, saat tahu kebenaran yang ada. Ia juga tidak bisa diam saja, melihat Isobelle tidak tahu apa-apa.


"Bagaimana ini, ya?" batin Kairos bimbang.


Isobelle mendekatkan wajahnya ke wajah Kairos, "Kai, kamu tidak apa-apa, kan? apa kamu sedang sakit?" tanya Isobelle.


Kairos menggelengkan kepala, "Tidak, bukan itu. Aku ... " kata-kata Kairos terhenti.


Kairos pun memberikan ponselnya pada Isobelle. Meminta Isobelle melihat sendiri apa yang sudah dikirim Joel.


"Kamu lihat saja sendiri. Ada hal penting yang Joel sampaikan padaku," kata Kairos.


"Hal penting apa? Kenapa kamu gelisah dan panik begitu, Kai? kamu aneh," kata Isobelle.


Isobelle menerima ponsel Kairos. Ia mengetuk layar ponsel dan membuka pesan yang dikirim Joel.


"Aku jadi penasaran sesuatu yang penting apa," gumam Isobelle.


Seketika dahi Isobelle langsung berkerut. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Isobelle memutar video. Matanya pun membulat sempurna. Isobelle menatap Kairos, dan Kairos hanya menganggukkan kepala pelan sembari mengelus rambut Isobelle.


"Ti-tidak mungkin. Ini Joshua dan Alexander," batin Isobells.


Tidak hanya sekali,dua kali.  Isobelle memutar ulang video dan rekaman dari Joel. Ia terus melihatnya sampai ponssl Kairos terjatuh dari gengamannya.


"Hei, apa kamu baik-baik saja?" tanha Kairo.


"Ya, aku baik-baik saja. Ah ... maaf, ponselmu." kata Isobelle, mengambil ponsel Kairos dan diberikan pada Kairos.


Kairos tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Isobelle saat itu. Jelas sekali Isobelle terkejut. Yang ia bisa lakukan untuk Isobelle adalah menghibur ketika sedih, dan melindungi Isoelle dari ancaman bahaya.


"Apapun yang kamu pikirkan. Ingatlah satu hal ini, Isobelle. Aku, akan melindungimu. Jangan lupa ada aku yang bisa menjadi perisaimu," kata Kairos msnghibur Isobelle.


Isobelle diam. Pikirannya mendadak kacau. Ia tidak menyangka apa yang dilihatnya adalah kenyataan. Kepercayaan yang selama ini ia taruh pada Joshua, seketika hancur lebur.