CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 29. Bahagia Itu ...



Keesokan harinya. Isobelle meminta izin pada Direktur agensi karena tidak bisa masuk bekerja. Isobelle mengatakan, jika ia sedang sakit dan ingin istirahat beberapa hari. Isobelle sebelumnya sudah menghubungi Joshua, tetapi ponsel Joshua tidak aktif. Pada saat Isobelle melihat riwayat panggilan, ia melihat semalam Papanya telepon dan terangkat. Itu artinya ada seseorang yang sudah menerima panggilan Papanya. Isobelle berpikir, ia tidak menerima panggilan karena tidur, satu-satunya yang ada di kamar selain dirinya adalah Kairos. Isobelle pun pergi ke kamar Kairos untuk bertanya.


Sesampainya di kamar Kairos. Isobelle melihat Kairos tidak ada di kamar dan ada suara di kamar mandi. Artinya Kairos sedang ada di kamar mandi. Ia pun menunggu keluarnya Kairos dari kamar mandi. Tidak lama Kairos keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk melingkar dipinggang. Kairos sibuk mengeringkan rambutnya. Melihat Isobelle ada dikamarnya, membuat Kairos sedikit terkejut.


"Oh, Iso ... " panggil Kairos menatap Isobelle.


Melihat Kairos keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk, membuat Isobelle lansung mengalihkan pandangannya.


"I-iya ... " gumam Isobelle.


"Apa-apaan dia ini. Kenapa tidak pakai baju dulu?" batin Isobelle.


Kairos mendekati Isobelle, bertanya ada apa Isobelle datang menemuinya? Isobelle pun bertanya, apakah Kairos menerima panggilan tanpa nama semalam saat ia tertidur? dan Kairos pun mengiakan pertanyaan Isobelle.


Kairos menambahkan, ia tidak bersuara dan hanya mendengar seseorang mengomel tidak jelas. Kairos bertanya, apakah seseorang yang menghubungi Isobelle adalah Papa Isobelle? Isobelle pun mengangukkan kepala tanpa menjawab.


"Tolong jangan berbalik dulu. Aku mau ganti pakaian," pinta Kairos.


Kairos meminta Isobelle tidak berbalik, karena ingin berganti pakaian. Isobelle mengiakan dan diam berdiri membelakangi Kairos.


Diam-diam Isobelle mencuri pandang menatap punggung Kairos. Saat itu Kairos sudah mengenakan celana kerjanya, tapi belum mengenakan kemeja. Isobelle bertanya, apa Kairos banyak pekerjaan hari itu? Kairos menjawab, tidak banyak. Karena ia hanya akan menemui seorang klien di luar kantor dan pulang.


Isobelle berbalik dan mendekati Kairos, membantu Kairos mengancingkan kancing kemeja juga memasang dasi. Melihat rambut Kairos yang masih setengah kering, Isobelle pun meminta Kairos duduk agar ia bisa mengeringkan rambut Kairos dengan pengering rambut.


Kairos bertanya, apakah Isobelle tidak masuk kerja? Isobelle menjawab, jika ia sudah menghubungi Ditekturnya untuk izin sakit. Isobelle berkata, ia tidak semangat kerja dan perasaannya tidak baik. Entah mengapa ia merasa kesal tanpa sebab dan ingin marah-marah tidak jelas.


"Daripada aku memaksakan diri, lebih baik aku libur, kan." kata Isobelle.


Kairos menganggukkan kepala. Ia memahami ucapan Isobelle. Ia tahu pikiran Isobelle sudah sangat lelah karena begitu banyaknya tekanan yang diterima. Baik itu keluarga ataupun pekerjaan.


"Pasti sangat sulit baginya," batin Kairos.


Kairos berdiri dari duduknya dan mengusap kepala Isobelle. Ia mengatakan, jika Isobelle hanya perlu melakukan apa yang ingin dilakukan tanpa melihat apapun. Entah orang lain berkomentar apa, Isobelle hanya perlu membahagiakan diri sendiri tanpa perlu memikirkan perasaan orang lain.


"Tidak ada orang yang peduli padamu pada saat kamu kesusahan. Yang ada mereka hanya akan mengkritik dan menyalahkan. Karena itu, bersenang-senanglah tanpa ragu, tanpa memikirkan pendapat orang lain. Ok," kata Kairos menyemangati Isobelle.


Isobelle tersenyum, ia senang karena Kairos begitu perhatian dan pengertian padanya.


"Terima kasih. Kamu menis sekali, Kai." puji Isobelle.


"Manis? hmm ... baiklah karena kamu yang mengatakannya maka aku akan terima. Kamu juga sangat manis," puji balik Kairos.


"Ada apa menatapku begitu? bisa-bisa nanti kamu jatuh cinta padaku," kata kairos menggoda Isobelle.


Isobelle tersenyum, "Oh, ya? hmm ... entahlah. Bisa saja aku memang tergoda dan jatuh cinta. Lantas apa yang akan kamu lakukan? seandainya aku benar-benar jatuh cinta padamu?" tanya Isobelle ingin tahu isi pikiran Kairos.


"Apa, ya?" gumam Kairos berpikir. Kairos mencubit pipi Isobelle, lalu mencium pipi Isobelle. "Kalau aku pastinya senang. Bagaimanapun dicintai itu lebih baik daripada dibenci olehmu, kan. Nanti lagi kita sambung bicaranya. Aku berangkat dulu, ya." lanjut Kairos bicara.


Isobelle menganggukkan kepala, "Ya, hati-hati di jalan. Semangat untuk hari ini," kata Isobelle mengepalkan kedua tangan.


Kairos mengangguk, ia mengambil tas kerjanya dan pergi meninggalkan Isobelle di kamarnya.


***


Sore harinya. Saat Kairos dalam perjalanan pulang, Isobelle menghubunginya. Isobelle mengajak Kairos pergi jalan-jalan bersama Sean dan Enny, sekalian berbelanja kebutuhan dapur. Kairos pun setuju dengan ide Isobelle.


Sesampainya di rumah dan berganti pakaian, Kairos dan Isobelle lantas mengajak Enny dan Sean pergi ke supermarket dan taman bermain.


Sean terlihat senang, di taman banyak anak-anak sedang bermain. Ada juga beberapa yang seumuran dengan Sean. Isobelle meminta Enny menurunkan Sean dari gendongan agar bisa berjalan. Enny menurut dan mengikuti Sean yang berjalan tertatih.


Isobelle tersenyum, mengatakan ia senang menghabiskan waktu bersama. Kairos mengajak Isobelle duduk sembari mengamati Sean. Keduanya pun berbincang.


Isobelle bercerita sedikit pada Kairos tentang keadaannya dan keluarganya. Ia dijodohkan dan akhirnya mengakhiri perjodohan begitu saja karena suatu alasan. Itulah yang membuat Papa Isobelle marah dan kesal. Meminta Isobelle untuk kembali. Yang artinya kembali bersama pria yang tidak diinginkannya.


"Papaku adala orang yang keras kepala. Aku dan Kakakku dididik dengan keras tanpa ampun sejak kecil. Nilai-nilai kami, semua harus sempurna. Sikap kami, gaya bicara dan penampilan kami pun harus sempurna di mata Papa. Kalau tidak sesuai, kami pasti akan dihukum. Aku akui niatnya baik, semua beliau lakukan demi masa depanku dan Kakak. Hanya saja ... terkadang Papa memaksakan kehendaknya secara berlebih. Terkesan mendominasi kedihupan kami," jelas Isobelle menceritakan sedikit tentang Papanya.


Kairos menatap Isobelle dan bertanya, apakah Isobelle puas dengan apa yang dilakukannya? Apa Isobelle tidak menyesal?


"Oh, maaf. Maksudku itu kehidupan yang kamu jalani saat ini. Kamu kan sudah bebas sekarang dan bisa hidup sesuai keinginanmu. Apakah kamu puas denga ini? atau malah tidak senang? dan apakah ada penyesalan setelah kamu melarikan diri?" tanya Kairos.


Isobelle menatap Kairos dan tersenyum, ia menggelengkan kepala, lalu menjawab dengan tegas. Jika ia sama sekali tidak akan menyesali semua yang sudah terjadi. Ia sudah tidak ingin kembali, baik itu pada keluarganya, ataupun melakukan hendak keluarganya.


"Tidak ada juga yang perlu untuk disesali. Semua yang terjadi atas kehendakku. Akibat dari perbuatanku, aku akan menanggungnya. Lagi pula, begini jauh lebih baik. Daripada aku hidup menjadi boneka," jelas Isobelle.


Kairos tidak tahu, apakah ia harus senang atau tidak dengan jawaban Isobelle. Kairos bertanya lagi, apa rencana Isobelle kedepannya?


"Lalu apa rencanamu, Iso?" tanya Kairos.


Isobelle menjawab, jika rencananya tidak akan berubah. Ia akan menjalani hidupnya sebagai Mama dari Sean untuk seterusnya.


"Sekarang aku tidak akan egois memikirkan diri sendiri. Ada Sean yang harus aku pikirkan, aku perhatikan dan aku jaga. Dan pastinya ada kamu yang akan kujadikan sandaran kepala, pada saat lelah." jawab Isobelle.