CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 49. Rencana Alexander, Penjelasan Kairos dan Isobelle



Kairos dan Isobelle sepakat untuk memberitahu orang tua Kairos tentang semua yang sudah terjadi. Tentang Sean, tentang pernikahan yang sengaja mereka berdua rahasiakan.


Kairos tahu, Isobelle khawatir. Karena ia memberikan semangat, juga dukungan. Meminta Isobelle untuk percaya diri. Jika orang tua Isobelle saja mau mengerti, maka orang tua Kairos juga pasti sama.


Isobelle menatap Kairos, "Bagaimana kalau tidak sama? bagaimana kalau mereka justru kecewa karena kita menikah diam-diam tanpa mereka?" tanya Isobelle.


"Apa maksudmu mereka tak akan menerima pernikahan kita, begitu?" tanya Kairos.


Isobelle menganggukkan kepala. Ia takut kalau harus berpisah dari Kairos dan Sean. Bagi Isobelle, Sean dan Kairos sudah menjadi bagian dari hidupnya.


Jawaban mengejutkan keluar dari mulut Kairos. Yang mengatakan, jika akan membawa Isobelle dan Sean pergi sejauh mungkin dan tidak akan menemui orang tuanya lagi. Ia bisa saja hidup seperti Adiknya yang pemberani.


Isobelle tersenyum. Ia pun meminta Kairos untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan. Kabur bukanlah satu-satunya cara. Isobelle berkata, semisal ia ditolak, maka ia akan berusaha mendapatkam hati Papa dan Mama Kairos sampai keduanya luluh dan menerima Isobelle.


***


Sementara itu. Alexander sibuk mencari informasi tentang Isobelle dan Kairos. Ia mengeluarkan banyak uang untuk bisa menggali semua informasi yang diinginkannya.


Dihadapannya ada sebuah amplop berisikan data-data Kairos. Saat tahu siapa itu Kairos, Alexander pun terkejut. Ia tidak menyangka Isobelle akan menjalim hubungan sampai menikahi salah satu dari beberapa keluarga konglomerat terkenal.


"Wah-wah ... wanita kesayanganku memang berbeda, ya? dia tahu mana pria dengan nilai sempurna." gumam Alwxander menatap foto Kairos.


Alexander pun merobek kertas di tangannya. Ia kesal saat ingat ia dipukul, ia tidak suka pria itu menyebut-nyebut kata "Istriku" yang ditujukan pada Isobelle. Alexander tetap mengkalim, jika Isobelle adalah miliknya. Ia tidak akan pernah melepaskan Isobelle meski harus bertaruh nyawa. Dari sekian banyak wanita yang mengerubungi Alexander, hanya Isobelle yang membuatnya nyaman. Meski Isobelle terlihat takut, dan tidak nyaman disisinya.


Alexander pun merencanakan sesuatu. Karena ia tidak mau berbagi wanita yang sama dengan pria, ia berniat menyingkirkan batu penghalang yang menghadangnya dengan cara apapun. Ia harus melakukan sesuatu untuk bisa mendapatkan Isobelle kembali. Meski Isobelle menolak kembali bersamanya secara sukarela, ia akan melakukannya dengan paksaan.


"Kita lihat saja. Kamu kira aku akan menyerah, hanya karena kamu menggiringku ke kantor polisi saat itu. Hahaha ... aku masih punya seribu satu cara mendapatmu, sayangku. Ya, aku akan mendapatkanmu kembali. Tidak peduli, meski aku harus menyingkirkan semua orang di sisimu." kata Alexander menatap foto Isobelle.


***


Sebelumnya Kairos mengabari kedua orang tuanya lewat panggilan. Keduanya diminta datang, karena orang tua Isobelle ingin bertemu. Mendengar kabar itu tentu saja Mama Kairos antusias dan langsung pergi menemui Kairos.


"Ehemm ... Pa, Ma, ini adalah Papa dan Mama Isobelle. Dan ini adalah Sean," kata Kairos memperkenalkam orang tua Isobelle, dan Sean yang dipangku Mama Isobelle.


Orang tua Isobelle dan orang tua Kairos saling berkenalan. Melihat Sean yang sangat mirip dengan Kairos, Mama Kairos pun menduga itu adalah cucunya.


"Apa Sean itu cucuku?" tanya Amalia, Mama Kairos.


"Ya, Sean adalah cucu Mama dan Papa. Tapi lebih tepatnya,  Sean itu putranya Kenzo, aku dan Isobelle, kami belum memiliki anak. Kami menjadikan Sean sebagai anak angkat kami," jawab Kenzo, lalu menjelaskan.


Mendengar jawaban dan penjelasan Kairos. Amalia dan Aiden saling bertatapan. Keduanya terkejut, tidak percaya akan apa yang didengarnya.


"Ke-kenzo, Adikmu?" tanya Amalia ragu-ragu menatap Kairos.


"Tu-tunggu, tunggu ... apa maksdunya ini, Kai? Beliau adalah orang tua istri adikmu, beliau juga orang tua Isobelle. Jadi, apakah Istri Adikmu itu adalah Kakak Isobelle, begitu?" tanya Aiden memperjelas semuanya.


"Umh, maaf ... biar kami saja yang jelaskan. Apa boleh?" kata Anne.


"Ya, silakan, Nyonya." jawab Amalia.


Anne pun menjelaskan perlahan siapa Arabella dan apa hubungan Arabella dengan Isobelle. Lalu Anne menjelaskan apa yang terjadi pada Arabella dan suaminya, yang tidak lain adalah Adik Kairos, putra kedua Aiden dan Amalia.


Amalia dan Aiden mendengar dengan seksama penjelasan yang disampaikan Anne. Mereka tahu, Kenzo memang pergi melarikan diri dan berniat menikahi wanita yang dicintainya. Sayangnya Amalia dan Aiden tidak mencari tahu siapa wanita itu, atau berusaha menggali ingormasi tentang wanita yang disukai putra bungsunya. Karena kesal dan dipenuhi amarah serta rasa malu, mereka melupakan Kenzo begitu saja. Bahkan sampai hari kematian putra mereka, Aiden terutama, sangat menentang untuk datang. Karena sejak awal ia memang sudah menganggap Kenzo bukan anggota keluarganya lagi.


Anne mangatakan, jika ia menyesal telah mengabaikan putri sulungnya hanya karena tidak patuh. Luciano yang memang keras pun sangat msrasa bersalah dan ia menyesali perbuatannya. Sama seperti Luciano, Aiden pun juga ternyata menyesal. Dia bahkan sampai menangis karena merasa bersalah.


Suasana hening, hanya terdengar isak tangis dari Aiden dan Amalia. Luciano juga bersedih, karena masih merasa bersalah. Anne pun demikian, ia menyesal membiarkan Arabella kesulitan semasa hidupnya.


"Pa, Ma ... maukah Papa dan Mama mengunjungi makan mereka berdua? Papa dan Mama Iso juga bisa ikut serta." tanya Kairos.


Amalia menyeka air matanya, "Ah, tentu saja. Kami akan datang melihat mereka. Kami akan meminta maaf secara langsung." kata Amalia sesenggukan.


"Aku akan mengatur jadwal kepergiannya. Nanti Joel akan mengantar Papa, Mama juga Papa dan Mama Isobelle." kata Kairos.


Isobelle menarik lengan kemeja Kairos. Isobelle memberikan isyarat agar Kairos sekalian menyampaikan kabar tentang pernikahan Kairos dan Isobelle.


Amelia melihat Isobelle dan Kairos berbisik-bisik seperti sedang membahas sesuatu. Ia pun menegur, bertanya apa masalah yang terjadi.


"Kai, Iso, ada apa, sayang?" tanya Amalia dengan nada suara lembut.


Kairos menatap Mamanya dan Papanya bergantian, "Sebenarnya, ada satu hal lain yang belum aku sampaikan. Ini soal aku dan Isobelle. Kami ... " kata-kata Kairos dipotong oleh Amalia.


"Apa kalian akan memutuskan untuk menikah secepatnya? Itu ide bagus," sela Amalia tersenyum.


Isobelle tersenyum, "Umh, begini, Mama Amalia ... sebenarnya aku dan Kai, kami ... kami sudah menikah beberapa tahun lalu. Saat aku masih menjadi model, saat kita pertama kali bertemu. Ya, saat itu ... " jelas Isobelle ragu-ragu. Tangannya dingin dan berkeringat.


Amalian dan Aiden terdiam, mereka saling bertatapan. Isobelle dan Kairos saling berpegangan tangan, Kairos juga sebenarnya gelisah. Ia tidak tahu Papa Mamanya akam baik-baik saja atau marah.


"Hahaha ...."


Suara tawa Aiden diikuti Amalia. Membuat Kairos dan Isobelle bertatapn dan bertanya-tanya apa yang terjadi.


Amalia pun menjelaskan. Ia sedikit terkejut, tapi tidak akan mempermasalahkan itu. Amelia bertanya, apa ada alasan khusus, yang membuat Kairos dan Isobelle menikah?


Kairos dan Isobelle menjelaskan bergantian. Mereka menceritkan awal mula pertemuan mereka, tawar menawar yang mereka lakukan, sampai kesepakatan kontrak pernikahan. Itu semua karena Isobelle dan Kairos, sama-sama tidak ingin melepaskan hak asuh Sean.