
Isobelle sudah pulang dari rumah sakit. Kairos dengan baik mengurus Isobelle selama Isobelle di rumah sakit bahkan sesampinya di rumah.
"Apa ada lagi yang kamu butuhkan?" tanya Kairos.
Isobelle menggelengkan kepala, "Tidak. Terima kasih, Kai." jawab Isobelle.
Segala sesuatunya dilakukan Kairos, karena tidak mau Isobelle kesusahan. Isobelle sempat menolak bantuan Kairos, merasa tidak enak merepotkan orang yang seharusnya sibuk bekerja.
"Sudah berhenti menjagaku seperti anak kecil. Kamu bisa lanjut bekerja. Aku tidak mau mengganggumu. Maaf, ya. Aku banyak merepotkanmu," kata Isobelle.
"Apa yang kamu katakan? aku tidak masalah melakukan ini itu. Kamu bukanlah orang lain. Kamu adalah istriku. Sudah sepantasnya aku menjagamu, kan." jawab tegas Kairos.
Kairos terus mengingatkan Isobelle, jika antara suami-istri, tidak ada kata merepotkan atau menyusahkan. Bahkan tidak ada yang namanya balas budi. Dua menjadi satu, untuk bisa saling membantu, mengasihi dan bekerja sama.
"Berhenti merasa canggung. Kita sudah hidup berbulan-bulan bersama. Suka, duka kita harus lalui bersama. Bukankah itu yang kita ucapkan di altar?" kata Kairos tersenyum menatap Isobelle.
Isobelle tersenyum, ia memberikan sebuah kecupan di pipi Kairos sebagai ucapan terima kasih. Sebagai balasan, Kairos mencium kening Isobelle. Meminta Isobelle beristirahat dan tidak berpikir macam-macam.
"Istirahatlah. Aku mau mandi dan datang lagi nanti, ok." kata Kairos berpamitan dan dijawab anggukan kepala oleh Isobelle.
Kairos pun pergi mebinggalkan Isobelle yang sedang berbaring di tempat tidur. Isobelle menatap kepergian Kairos. Ia tersenyum melihat betapa baik hatinya pria yang menjadi suaminya itu.
"Dia bicara begitu untuk membuatku senang, kan? meski ini adalah pernikahan kontrak, dia terlihat serius. Membuatku jadi berdebar," batin Isobelle.
***
Selesai mandi Kairos mengunjungi kamar Isobelle. Ia membawa laptop dan beberapa berkas dokumen bersamanya. Isobelle senang Kairos datang, ia mempersilakan Kairos naik ke tempat tidurnya.
"Hai, sudah selesai mandi?" tanya Isobelle.
Melihat barang bawaan Kairos, Isobelle bertanya, apakah ada banyak pekerjaan?
Kairos menggelengkan kepala menjawab, jika hanya perlu memeriksa dokumen dan mencocokan dengan data yang tersimpan dilaptopnya.
"Tidurlah. Aku tidak akan membuat suara," kata Kairos.
Isobelle lantas menawarkan bantuan. Ia ingin membantu Kairos.
"Boleh aku membantumu? aku belum ingin tidur," tanya Isobelle menatap Kairos.
Kairos tersenyum, lalu memberitahu apa yang harus Isobelle lalukan untuk membantunya. Keduanya pun sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Setelah selesai bekerja, Isobelle yang mengantuk ingin pergi tidur.
"Hoaamm ... (menguap) sepertinya aku sudah mengantuk. Bekerja membuat mataku lelah," kata Isobelle mengusap-usap matanya.
Kairos merapikan berkas dokumen dan menumpuknya di atas laptop yang ia letakkan di atas nakas. Ia menyelimuti Isobelle, mengucapkan selamat malam.
"Tidurlah, jika sudah mengantuk dan lelah. Terima kasih sudah membantuku. Selamat tidur, Iso ... " ucap Kairos dengan suara lembut.
Isobelle tersenyum, ia meminta Kairos tidur di kamarnya, itupun kalau Kairos menginginkan. Jika tidak, Kairos diminta pergi setelah Isobelle tertidur.
"Aku tidak memaksamu tinggal, hanya saja temani aku sedikit lebih lama. Ok," pinta Isobelle.
Kairos mengsuap kepala Isobelle lembut. Ia menganggukkan kepala sebagai jawaban atas permintaan Isobelle. Mata Isobelle terpejam, tidak lama terlelap tidur.
Kairos memilih tinggal. Ia menemani Isobelle. Kairos tidak mengantuk, ia pun hanya diam menatap langit-langit kamar Isobelle.
"Sepertinya aku tidak akan bisa tidur karena belum mengantuk." batin Kairos.
Tidak lama ponsel Isobelle yang ada di atas bergetar, Kairos hanya melihat, lalu menatap Isobelle.
"Siapa yang menelepon Isobelle malam-malam begini?" batin Kairos.
Setelah ditunggu beberapa saat, ponsel Isobelle terus saja bergetar. Karena tidak ingin tidur Isobelle terganggu, Kairos pun mengambil ponsel Isobelle untuk tahu, siapa orang yang menghubungi Isobelle.
Melihat nomor tanpa nama, Kairos pun ragu, apakah ia harus menggeser panel hijau atau merah.
"Tidak ada nama tersimpan. Apa ini panggilan iseng? atau panggilan darurat?" gumam Kairos bimbang. Dahi Kairos pun berkerut.
Ponsel kembali berdering. Kairos akhirnya menggeser panel hijau untuk menerima panggilan. Kairos sengaja diam, ia ingin tahu siapa orang yang menghubungi Isobelle.
"Hallo, Isobelle ... " panggil seseorang di ujung panggilan.
Mata Kairos melebar. Ternyata itu adalah panggilan dari Luciano, Papa Isobelle. Di ujung panggilan Luciano mengomel agar Isobelle mau kembali pulang.
"Kenapa kamu tidak menerima panggilan Papa sejak tadi? Apa kamu sudah memutuskan? pulanglah, Papa janji tidak akan memaksamu lagi." kata Luciano.
Mendengar tidak ada jawaban dari putrinya, Luciano pun membantak sampai membuat Kairos keget.
"Hallo? Isobelle? kamu mendengarkan Papa atau tidak sebenarnya? Dasar anak durhaka," sentak Luciano.
Kairos menatap Isobelle, masih dengan mendengar omelan Luciano. Kairos mengusap kepala Isobelle lembut, lalu menggengam erat tangan Isobelle.
Dalam hati Kairos berakata, "apa karena ini Isobelle terluka?"
Dari situlah Kairos tahu, jika hubungan Isobelle dan Papanya sedang tidak baik-baik saja. Luciano semakin marah karena merasa diabaikan Isobelle. Ia pun mengatai Isobelle sebagai anak tidak tahu diri dan tidak tahu balas budi. Padahal sudah dibesarkan dengan susah payah. Kairos tidak senang dengan ucapan Luciano. Ia ingin menjawab, hanya saja ia tidak yakin. Bisa saja karena ia ikut campur, hubungan Isobelle dan Papanya semakin memburuk. Jika tidak dijawab, hanya akan membuat dadanya sesak. Meksi Luciano adalah orang tua Isobelle, tetap saja tidak seharusnya bicara kasar pada Isobelle sampai mengatai anak sendiri. Akhirnya Kairos mengakhiri sepihak panggilan Luciano dan melihat ulang nomor Luciano, lalu mematikan ponsel Isobelle.
"Lebih baik menyudahinya saja. Daripada aku emosi karena tidak tahan mendenagrkan ucapannya yang memaki Isobelle." batin Kairos.
Kairos mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Seorang teman lama di luar negeri yang bekerja khusus menjual jasa infomasi. Temannya mengelola sebuah usaha bar sebagai tempat menjual informasinya. Kairos meminta temannya itu menyelidiki nomor Papa Isobelle. Memberikan nomor Papa Isobelle pada temannya, Issac. Kairos ingin tahu, siapa pemilik nomor, alamat tempat tinggal, usaha dan hal-hal lain berkaitan dengan nomor itu termasuk keluarganya dan latar belakang.
Kairos meletakkan kembali ponselnya di nakas, ia menatap Isobelle lekat dan meminta maaf, karena telah sembunyi-sembunyi menggali informasi tentang keluarga Isobelle.
"Maafkan aku, Iso. Aku tidak bermaksud mencuri informasi dan diam-diam menyelidiki keluargamu. Hanya saja aku rasa aku butuh banyak informasi agar bisa melindungimu dari orang-orang yang jahat dan memperlakukanmu tidak sebagaimana mestinya." batin Kairos.
Kairos ingin melindungi Isobelle, ia hanya ingin tahu seperti apa Papa Isobelle, keluarga Isobelle agar bisa mempersiapkan segala sesuatunya dikemudian hari. Baginya Isobelle dan Sean adalah harta yang paling berharga. Ia tidak akan rela, jika sesuatu yang berharga miliknya diusik oleh orang. Bahkan disakiti. Kairos tidak akan bisa menoleransi orang-orang yang berniat jahat dengan menyakiti orang-orang terdekatnya. Meski itu adalah anggota keluarga sendiri, ia tidak akan tinggal diam.