
Seminggu sudah, Joshua tidak menemukan keberadaan Isobelle. Ponsel Isobelle terus tidak aktif, sehingga ia tidak bisa berkomunikasi dengan Isobelle. Sedangkan Alexander terus saja mendesak Joshua agar memberikan informasi tentang Isobelle. Sama seperti Joshua, Alexander menggila karena tak kunjung tahu keberadaan Isobelle. Tidak ingin terus menunggu, Alexander pun meminta bertemu langsung dengan Joshua. Ia ingin penjelasan Joshua secara langsung, agar Alexander tahu apakah yang dikatakan Joshua kebenaran atau kebohongan.
***
Isobelle sedang melihat-lihat fotonya di ponsel yang dipegangnya.
"Ini bagus. Nanti aku akan cetak saja dan pajang di kamar, hehe ..." batin Isobelle mengamati gambarnya sendiri.
Kairos mengintip. Ia memuji foto Isobelle.
"Kamu terlihat cantik," bisik Kairos di telinga Isobelle.
Isobelle terkejut, seketika memalingkan wajah dan tanpa sengaja bibirnya bersentuhan dengan bibir Kairos. Mata Isobelle dan Kairos sama-sama membulat. Keduany teekejut, karena memang kejadian itu tidak terduga.
"Uwaaa ... gila! apa yang aku lakukan?" batin Isobelle ingin menjerit.
"Umh, maaf. Aku tidak sengaja," kata Isobelle dengan wajah merona.
"Ti-tidak apa-apa. Aku yang merasa bersalah, dan aku juga minta maaf." jawab Kairos, wajahnya memerah karena malu.
"Bisa gila aku," batin Kairos.
Karena tidak nyaman diam saja. Isobelle pun meminta Kairos duduk, daripada berdiri dibelakangnya. Kairos tidak menjawab, tapi langsung duduk di samping Isobelle.
"Oh, ya. Apa nomor ponselmu yang lama masih tidak aktif?" tanya Kairos menatap Isobelle.
"Aku sengaja mematikan dan tidak membawa ponselku yang biasa aku pakai." jawab Isobelle
"Berikan ponselmu, aku akan berikan nomor ponselku yang ini," kata Isobelle mengulurkan tangan pada Kairos.
Kairos memberikan ponselnya. Isobelle memasukkan nomorya ke dalam kontak Kairos. Saat nomornya disimpan dengan nama "Isobelle", Kairos langsung meminta Isobelle menggantinya dengan "Sayangku", dan itu membuat Isobelle merasa aneh.
"Apa? apa aku tidak salah dengar?" tanya Isobelle.
"Nomormu yang lain aku simpan dengan nama "Istriku", kalau nomor ini aku harus simpan dengan nama siapa? tentu saja "Sayangku"." jawab Kairos beralasan.
"Kenapa tidak dengan nama saja?" tanya Isobelle.
"Tidak mau. Terserah aku mau menamai siapa. Ini kan ponselku," jawab Kairos mengambil ponselnya dari tangan Isobelle.
Isobelle hanya tersenyum, "Ya, sudah. Terserah kamu mau menamainya siapa." kata Isobelle.
Isobelle mengatakan pada Kairos, kalau itu adalah nomor pribadi yang sama sekali tidak diketahui orang lain. Kairos lah orang pertama yang diberi tahu nomor ponsel pribadinya itu. Sudah sejak lama Isobelle memiliki dua ponsel. Hanya saja, ia selalu menyimpan baik-baik ponselnya itu agar tidak diketahui siapapun. Isobelle bahkan sangat jarang menggunakan poselnya itu.
"Jadi ini nomor rahasia. Kamu mengerti?" tanya Isobelle.
"Ya, Nyonya. Aku mengerti," jawab Kairos.
Kairos menyampaikan pada Isobelle, jika ia diundang makan malam oleh seseorang teman lama. Menawari Isobelle, apakah ingin ikut?
"Apa kamu mau ikut?" tanya Kairos.
Isobelle bertanya, siapa teman yang dimaksud Kairos? benarkah Kairos punya teman?
"Aku tidak sangka seorang Kairos punya teman," kata Isobelle menggoda Kairos.
"Begini-begini aku juga punya teman. Teman sekolah, teman kuliah, teman semasa kerja paruh waktu, teman bermain dan banyak teman yang lain." kata Kairos memamerkan teman-temannya.
"Wah, keren. Itu semua temanmu? hm, baguslah kalau kamu punya teman. Apa kamu masih berhungan baik dengan teman-temanmu itu?" tanya Isobelle.
"Bagaimana menjelaskannya, ya. Aku tidak terlalu suka menjalin hubungan yang erat atau berteman dekat dengan mereka. Jujur saja, bagiku teman hanyalah teman. Kita saling kenal, tidak dengan ikut campur urusan satu sama lain. Apalagi saling ingin tahu hal pribadi masing-masing. Kamu mengerti kan maksudku?" jelas Kairos.
Kairos berusaha menjelaskan apa itu teman menurut segi pandangnya. Ia juga menceritakan sedikit tentang teman yang mengundangnya. Setelah menjelaskan situasinya, Isobelle akhirnya mengerti. Isobelle tersenyum, sebanarnya tanpa dijelaskan pun, ia bersedia datang menemani Kairos. Hanya saja ia ingin menggoda Kairos.
***
Malam harinya. Isobelle dan Kairos datang ke sebuah restoran. Pelayan restoran langsung menyambut dan mengantar kedua tamunya itu menuju tempat yang telah dipesan.
Ternyata di dalam ruangan, sudah ada seseorang yang menunggu Kairos dan Isobelle. Melihat tamu yang ditunggu datang, seseorang itu berdiri dan langsung menyambut Isobelle dan Kairos.
Seseorang itu adalah Issac Lorenz, teman lama Kairos saat Kairos belajar di luar negeri. Kairos memperkenalkan Isobelle pada Issac.
"Ini Issac, temanku. Isaac, dia istriku, Isobelle." kata kairos memperkenalkan keduanya.
Isobelle tersenyum, "Hallo, aku Isobelle. Senang bertemu denganmu," kata Isobelle ramah.
"Aku Issac Lorenz. Senang bertemu juga denganmu, Isobelle." kata Issac.
Setelah bersalaman dan ingin mencium punggung tangan Isobelle, Kairos pun mengulurkan tangan menggantikan tangan Isobelle. Membuat Issac tidak jadi melakukan apa yang ia inginkan.
"Apa-apaan. Aku tidak mau mencium tanganku. Dasar gila!" kata Isaac menampik tangan Kairos.
"Jangan macam-macam dengan istriku. Dasar mata keranjang," kata Kairos.
Isobelle tersenyum, ia tidak menyangka Kairos akan bersikap kekanakan begitu. Terlebih itu pada teman baiknya sendiri.
Issac mempersilakan Isobelle dan Kairos duduk. Isobelle mendekat dan berbisik pada Kairos, bertanya karena ingin tahu. Mencium punggung tangan lawan jenis, adalah salah satu bentuk salam dan penghormatan. Seperti mengungkapkan rasa kagum lewat sikap ramah. Kenapa Kairos bsrsikap tidak baik?
"Di luar negeri begitu kan bukan hal besar?" bisik Isobelle.
Kairos balik berbisik, mengatakan kalau Isobelle tidak perlu bersikap ramah pada predator. Kairos memberitahu, jika Issac adalah pria mata keranjang yang tidak akan pernah pada satu wanita. Baginya wanita cantik hanyalah mangsa. Saat berbicara seperti itu, Kairos sengaja meninggikan suara agar didengar Issac.
"Hei, apa yang kamu katakan?" sentak Issac.
Issac pun protes. Ia menyangkal tuduhan yang Kairos katakan tentangnya. Issac membela diri. Ia mengatakan, jika semua ucapan Kairos adalah sebuah kebohongan. Issac pun memukul pelan tangan Kairos dan marah-marah.
"Dasar bedebah gila. Kamu mau istrimu berpikir buruk tentangku? sialan!" Kata Issac mengomeli Kairos.
Isobelle menahan tawa sampai wajahnya memerah dan perutnya sakit. Ia tidak sangka Kairos bisa menggoda temannya sampai temannya itu kesal.
Isobelle lantas menghentikan keributan kecil yang terjadi. Meminta Kairos dan Issac tenang dan mengendalikan diri.
"Sudah-sudah, hentikan. Kalian seperti anak-anak yang berebut permen saja," kata Isobelle.
Karena makanan sudah datang, Isobelle menyarankan untuk makan lebih dulu, baru berbincang lagi.
Selesai makan, mereka bercakap-cakap tentang kesibukan masing-masing. Di atas meja tersedia dissert teman mengobrol. Isobelle dan Issac banyak berbincang. Kairos lebih banyak diam. Karena merasa sudah banyak tahu tentang Issac dan tidak perlu info apa-apa lagi.