
Setelah diselediki melalui rekaman kamera pengawas, Alexander dinyatakan bersalah karena sudah lebih dulu mengganggu dan menyerang Isobelle. Dan akhirnya membuat Kairos mengambil tindakan dengan memukul Alexander sebagai pembelaan diri.
Tentu saja keputusan polisi tidak membuat Alexander puas. Ia tetap gigih membela diri tidak bersalah. Alexander mati-matian menuduh Kairoalah yang bersalah karena sudah memukulnya. Meski dijelaskan sebanyak apapun, Alexander tidak mau disalahkan.
Polisi yang kesal pun akhirnya menyeret Alexander masuk ke dalam sel. Dan mempersilakan Kairos pulang. Kairos pun pergi menemui Isobelle yang sedang menenangkan Sean.
Kairos mendekati Isobelle yang menggendong Sean, "Apa dia tidur?" tanya Kairos.
Isobelle manatap Kairos, "Oh, kamu sudah keluar? bagaimana? apa dia akan ditahan? ya, Sean sepertinya kelelahan dan akhirnya tertidur." kata Isobelle.
Kairos menjelaskan apa yang terjadi di dalam pada Isobelle. Ia menggantikan Isobelle menggendong Sean dan mengajak Isobelle pulang.
***
Di rumah. Setelah menidurkan Sean di kamarnya. Isobelle pun menarik tangan Kairos agar keluar kamar bersamanya. Isobelle ingin ditemani minum teh oleh Kairos.
Kairos tidak menolak. Ia berjalan mengikuti Isobelle yang berjalan lebih dulu darinya sambil menggandeng tangannya. Kairos tahu, sepertinya ada yang akan Isobelle sampaikan. Ia berpikir, kemungkinan yang akan disampaikan adalah soal Alexander.
"Duduk di sini. Aku akan seduhkan teh untukmu juga," kata Isobelle. Meminta Kairos duduk di ruang tengah.
Saat Isobelle akan pergi, Kairos memegang Isobelle dan meminta untuk ikut dengan Isobelle ke dapur menyeduh teh.
"Apa boleh aku membantumu?" tanya Kairos.
Isobelle terdiam sesaat, lalu menganggukkan kepala. Ia tersenyum tipisa menatap Kairos.
"Ya, tentu saja." jawab Isobelle.
Kairos dan Isobelle pun pergi ke dapur bersama-sama. Kairos meyeduh air panas dan Isobelle menyiapkan teh berserta cangkir dan tatakannya.
Isobelle memikirkan sesuatu. Ia berpikir, bagaimana bisa Alexander tahu keberadaannya? Ia tidak habis pikir, bahkan Alexander sampai berani menyerangnya dihapan Kairos.
"Apa jangan-jangan selama ini dia menguntitku? ukhh ... " batin Isobelle mengusap-usap lengannya sendiri.
Bulu-bulu halus ditubuhnya berdiri, ia merasa merinding ngeri membayangkan kejadian yang sebelumnya dialaminya. Tidak hanya lancang memegang tangannya, Alexander bahkan menarik kasar rambutnya. Isobelle menyayangkan sikap Alexander yang tidak berubah sedikit pun.
Kairos sudah memanggil Isobelle beberapa kali. Karena sepertinya Isobelle tidak mendengar panggilannya, Kairos pun menepuk bahu Isobelle.
"Jangan sentuh! " sentak Isobelle tersadar dari lamunannya.
"Ma-maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ... " kata-kata Isobelle terpotong Oleh Kairos.
"Tidak apa-apa. Aku minta maaf karena sudah mengejutkanmu. Aku beberapa kali memanggilmu, tapi kamu diam saja. Jadi aku menepuk bahumu. Maaf, ya." jelas Kairos.
Kairos pun menyeduh teh dan Isobelle hanya diam melihat. Saat Isobelle ingin menggantikan Kairos menyeduh, Kairos menolak. Meminta Isobelle diam dan tidak melakukan apa-apa. Kairos tahu Isobelle banyak pikiran. Ia tidak mau Isobelle terluka karena tidak fokus melakukan sesuatu.
Setelah teh diseduh dan dituang ke cangkir, Kairos mengajak Isobelle ke halaman belakang rumah mereka. Isobelle mengangguk setuju. Ia merasa butuh menghirup udara segar.
***
Isobelle duduk berdampingan dengan Kairos. Mereka menatap ke arah taman belakang yang susah payah dirawat Isobelle.
"Bunga mawarmu sudah bermekaran," kata Kairos.
"Ya, aku harus segera memetiknya dan menaruhnya dalam vas." jawab Isobelle.
Suasana hening. Kairos diam terus menatap ke arah kebun bunga mawar. Isobelle menatap Kairos, ia pun memanggil Kairos.
"Kai ... " panggil Isobelle.
"Ya ... " jawab Kairos. Yang masih belum mengalihkan pandangannya dari kebun bunga mawar.
"Terima kasih. Berkatmu aku tidak terluka," kata Isobelle.
Kairos menatap Isobelle, "Untuk apa berterima kasih? itu sudah tugasku sebagai suami, yang harus melindungimu." jawab Kairos.
Isobelle mengusap tangannya, "Sebenarnya ... " gumam Isobelle menjeda ucapannya.
Kairos memegang tangan Isobelle, "Apa lenganmu sakit sekali? perlu ke rumah sakit?" tanya Kairos.
Isobelle menggelangkan kepala. Ia langsung menolak tawaran Kairos yang menawarinya untuk dibawa ke rumah sakit.
Isobelle pun menjelaskan, jika ia ingin menceritakan sesuatu. Isobelle ingin Kairos mendengar apa alasan Isobelle melarikan diri dari Alexander. Sejauh ini Kairos hanya tahu kalau "Ada sesuatu" yang membuat Isobelle pergi. Ia tidak tahu pasti apa maksud dari sesuatu itu.
"Sebenarnya, aku melarikan diri dari Alexander karena hal yang sama seperti yang aku alami tadi. Awalnya dulu dia tidak seperti itu. Setelah kami bersama beberapa lama, tiba-tiba saja dia meminta hal aneh. Dia ... memintaku tidur bersama dengannya. Karena aku tidak mau, akupun menolaknya. Pertama kali aku tolak, sikapnya masih biasa saja. Sampailah pada penolakan kedua, ketiga dan seterusnya. Aku selalu menolak ajakannya itu. Pria itu tiba-tiba menamparku dan menarik rambutku. Aku dikata-katai kasar sampai akupun terkejut mendengarnya. Itulah sosok gila darinya yang kulihat pertama kali. Awalnya juga aku pikir dia terlalu emosi, karena penolakanku yang berkepanjangan. Sampai dihari setelahnya, hari-hariku bak didalam neraka. Aku dikurung dan tidak boleh ke mana-mana. Dia terus menyiksaku, memukulku bakan selalu mengataiku dengan kata-kata kasar. Aku bahkan tidak bisa memberitahu orang tuaku, karena ponselku dihancurkan olehnya. Sampai pada saat aku menemukan kesempatan melarikan diri. Aku mengambil kesempatan itu dan berhasil pergi dari kamar. Sayangnya aksiku ketahuan dan itu membuatnya menggila. Aku masih ingat betul, pertama kali aku ingin melarikan diri. Pria itu langsung menarik rambutku dan membenturkan kepalaku ke dinding sampai rasanya kepalaku pusinng. Mungkin karena tubuhku lelah terus disiksa, aku pun tidak sadarkan diri. Saat terbangun, aku ada ditempat tidur dengan satu kaki terikat rantai. Aku sadar kalau aku sudah tidak bisa melarikan diri lagi saat itu. Pria itu datang membawakan makanan dan minuman untukku. Dia memintaku makan dan tidak berulah. Sikapnya berubah lembut. Ia juga yang mengobati semua luka-luka ditubuhku. Akhirnya aku menyerah untuk bermimpi aku bisa pergi dari psikopat gila itu. Akupun memintanya untuk melepaskan rantai dikakiku dan berjanji tidak macam-macam, asalkan dia juga berjanji tidak melakukan hal-hal aneh padaku apapun itu. Dia setuju, mungkin karena kasian, atau memang dia tertarik dengan kesepakatan yang ku ajukan. Entahlah, yang jelas aku tidak lagi terbebani dengan kakiku yang terikat. Dia tidak banyak bicara dan menatapku tajam. Ia memintaku memenuhi kata-kataku. Kalau tidak aku akan menerima akibatnya. Dalam pikiranku, kalau aku sampai berulah lagi, aku pasti akan mati ditangannya. Setelah kesepakatan kami, dia tidak pernah lagi melakukan kekerasan. Dan suatu saat aku melihat sesuatu yang membuat jantungku behenti berdetak. Saat aku tahu pintu kamarku tidak dikunci, aku mencoba membukanya dan mengintip dari cela pintu. Aku ingin tahu apa yag pria gila itu lakukan. Dia, dia ... dia menyiksa seorang pria dengan sadis. Aku sampai mual begitu melihat banyaknya darah dilantai dan disekujur tubuh orang itu, bahkan muka orang itu tak terlihat lagi."