
Joshua dihubungi oleh seseorang. Melihat nomor tidak asing dilayar ponselnya, membuat Joshua enggan menerima panggilan itu.
"Bagaimana ini? dia menghubungiku," batin Joshua.
Ponsel Joshua terus berdering, membuat Joshua panik. Joshua lantas menerima panggilan tersebut dan ia harus menerima disalahkan karena kehilangan jejak Isobelle. Ya, seseorang di ujung panggilan adalah orang yang memerintah Joshua untuk mengawasi gerak-gerik Isobelle dari dekat. Seseorang yang sangat terobsesi pada Isobelle, hanya saja tidak bisa sembarangan mendekat pada Isobelle.
"Ha-hallo ... " jawab Joshua gagap.
"Apa kamu sudah ingin mati? bisa-bisanya kehilangan jejaknya." sentak seseorang di ujung panggilan.
"Ma-maaf. Aku sungguh-sungguh tidak tahu apa-apa. Kata Diretur pun Isobelle tidak berkata apa-apa." jawab Joshua.
"Sepertinya dia sangat marah," batin Joshua panik.
Isobelle memang tidak memberitahu siappun, termasuk Joshua perihal kepergiannya sekeluarga berlibur.
"Tetap saja, seharusnya kamu terus memantau keberadaannya. Dasar bodoh! Apa yang bisa kamu lakukan selain terus membuatku marah, hah?" kata seseorang itu marah.
"Isobelle sepertinya memiliki alasan khusus," jawab Joshua.
"Dengar baik-baik, Joshua. Aku tidak mau tahu, apapun. Mau itu alasan khusus juga aku tidak peduli. Temukan dia secepatnya, paham?" sentak seseorang di ujung panggilan semakin marah.
Joshua hanya diam. Ia tahu, ia lalai dalam tugasnya mengawasi Isobelle. Hanya saja ia tidak sangka Isobelle akan pergi tanpa memberitahunya apa-apa. Padahal Isobelle akan selalu mengabari, jika ia ingin libur atau mengundur waktu bekerja.
"Apa kamu mendengarku bicara, Joshua? hallo ... " panggil seseorang itu.
"Ya, aku dengar. Ma-maaf. Aku akan mencari tahu segera keberadaannya. Jangan khawatir," jawab Joshua ingin meredam amarah seseorang itu.
Bukannya amarah orang itu redam. Seseorang itu justru semakin brutal mengatai Joshua. Tidak terima terus dipojokkan, Joshua yang kesal pun ingin mengakhiri semuanya. Ia sudah tidak berniat menjadi mata dan telinga seseorang asing tersebut. Baginya berada dibawah seseorang itu seperti penyiksaan yang tiada akhir.
Mendengar kata-kata Joshua, seseorang di ujung panggilan pun semakin marah dan menjadi-jadi sampai memaki Joshua. Ia mengatai Joshua dengan kata-kata lebih kasar yang menyakitkan hati.
Seseorang itu lantas mengancam Joshua, jika Joshua tidak mendengarkan ucapannya, maka Joshua akan menyesal. Ia yang ada di ujung panggilan kembali mengingatkan Joshua tentang adik satu-satunya yang kini sedang belajar di luar negeri.
Dahi Joshua berkerut. Ia pun berbalik mengatai seseorang tersebut. Ia menilai seseorang di ujung panggilan adalah seorang pengecut yang hanya bisa mengancam dan menindas yang lemah. Tidak lama kemudian, panggilan pun berakhir. Joshua mengepalan dua tangan dan mengayunkan pukulan dengan tangan kananya ke cermin.
"Sial!" umpatnya kesal.
Joshua merasa hidupnya menyedihkan. Seberapa kuatnya ia ingin terlepas dari tali yang menjerat lehernya, pada akhirnya ia akan tetap tertangkap dan dijadikan sebagai hewan pemburu. Ia teringat pada sang Adik dan menghubungi Adiknya.
Joshua berpesan, agar sang Adik berhati-hati pada orang asing. Tidak perlu untuk menjalani pertemanan dengan orang yang baru dikenal dan segera pergi, jika dirasa ada sesuatu yang mencurigakan. Setelah panggilan berakhir, Joshua kembali menghubungi Isobelle.
"Arrggh! ke mana sebenarnya kamu, Isobelle?
Joshua ingin tahu keberadaan Isobelle. Sayangnya ponsel Isobelle tidak aktif. Membuat Joshua mau tidak mau hanya bisa menunggu Isobelle menghubunginya lebih dulu.
Di lain tempat. Alexander membanting ponselnya ke sofa. Ia kesal karena tidak bisa tahu informasi tentang Isobelle dari Joshua.
"Dasar bodoh!" teriak Joshua kesal.
"Berani sekali dia terus beralasan. Apa dia mengira aku ini tidak tahu maksudnya?" batin Alexander.
Pria tampan itu mengerutkan dahinya, ia ingin memberikan Joshua pelajaran, agar tahu siapa orang yang diremehkan Joshua. Alexander kembali memungut ponselnya dan menghubungi seseorang.
Ia ternyata telah menempatkan seorang mata-mata untuk Jessica, Adik Joshua. Dan ia pun memberikan tugas pada orangnya itu untuk mengganggu Jessica. Panggilan berakhir, senyum lebar mengembang dari bibir Alexander. Ia pun menyombongkan diri, jika bisa melakukan segala sesuatu dengan apa yang dipunyainya.
"Hahaha ... hidup ini memang bergantung pada uang, ya. Jika banyak uang, bisa membeli dan melakukan apa saja." kata Alexander senang. Karena ia sudah tahu benar, jika Joshua tidak akan pernah lepas dari tali kekangnya.
Alexander memang harus berhati-hati terhadap Isobelle. Ia tidak bisa seenaknya menempatkan mata-mata, karena ia tidak mau lebih dibenci oleh Isobelle. Oleh karena itu, Ia menempatkan Joshua sebagai mata dan telinganya untuk mengawasi Isobelle.
Selama ini, banyak informasi yang didapat Alexander mengenai Isobelle. Nomor ponsel dan keberadaan Isobelle pun bahkan diberitahukan Joshua pada Alexander kecuali pernikahan Isobelle dan Kairos. Meski begitu, Alexander masih menunggu waktu yang tepat untuk menemui Isobelle. Ia tidak mau terburu-buru bertindak, karena tidak ingin recananya gagal.
Alexander memegang foto Isobelle, mengusap dan mencium foto tersebut. Alexander mengatakan, jika ia pasti akan kembali mendapatkan Isobelle. Walau dengan cara yang istimewa sekalipun.
"Kamu ada di mana, sayang? kenapa kamu terus berlari dariku?" kata Alexander.
Baginya Isobelle adalah segalanya. Isobelle adalah wanita satu-satunya yang ia cintai. Tidak ada wanita manapun yang bisa menggeser Isobelle di hati Alexander, sekalipun Alexander dihadapkan pada ribuan wanita cantik dari belahan dunia.
Seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan kimono handuk. Wanita itu mendekat dan memeluk Alexander dari belakang.
"Sayang ... " panggil wanita itu dengan suara seksi.
Alexander mengusap lembut tangan wanita itu dan melepaskan tangan yang melingkari perutnya. Ia berbalik menatap wanita itu.
"Sudah selesai mandi? biar kuperiksa, apakah mandimu bersih atau tidak," kata Alexander tersenyum.
Wanita seksi itu tersenyum cantik menatap Alexander, seolah menggoda Alexander. Tangan halus mulusnya meraba setiap inci dari kulit Alexander.
"Hmm ... boleh saja. Periksalah sekarang. Kalau mandiku tidak bersih, kamu mau memandikanku?" kata wanita itu tersenyum nakal.
Melihat betapa menggiurkan wanita dihadapannya, membuat Alexander tersenyum. Ia menarik rambut wanita itu dan berbisik sesuatu.
"... cepat berlutut!" bisiknya memerintah. Alexander mencium leher wanita itu.
"Ya ... " jawab lembut wanita itu.
Wanita itu berlutut dihadapan Alexander dan melakukan apa yang diinginkan Alexander. Entah mengapa Alexander tampak tidak senang. Dahinya berkerut seperti sedang kesal. ia pun menarik tangan wanita itu dan mendorongnya ke sofa. Ia menarik kasar tali kimono handuk yang dikenakan wanita itu. Alexander dengan ganasnya mencium bibir wanita itu, seolah sedang meluapakan kekesalan dan amarahnya.
Ia mencium leher dan bagian lainnya dari tubuh wanita itu, hingga pada akhirnya Alexander dan wanita itu pun bercinta. Aneh memang, tubuhnya bersama wanita cantik yang melayaninya, tetapi pikiran Alexander terus saja terbayang oleh wajah cantik Isobelle. Membuat Alexander semakin kesal dan emosi. Lagi-lagi kekesalannya diluapkan pada wanita cantik yang sedang bersamanya.