CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 33. Joshua Mencari Isobelle



Keesoakan harinya, Joshua bertemu Direktur agensi dan berbincang. Direktur bertanya, apakah Joshua tahu sesuatu tentang Isobelle? apa alasan Isobelle ingin pensiun dini?


Mendengar pertanyaan Bossnya, membuat Joshua tersentak kaget. Ia tidak tahu apa-apa perihal pengunduran diri Isobelle, kapan dan kenapa? pikiran Joshua berpikir keras menemukan jawabannya.


"Apa? Isobelle mengundurkan diri? Tidak mungkin," Batin Joshua.


Joshua menggelengkan kepala pelan. Ia menajwab, jika ia tidak tahu apa-apa perihal pengunduran diri Isobelle.


"Maaf, Pak. Saya tidak tahu apa-apa. Bahkan saya terkejut  mendengarnya. Isobelle tidak pernah membahas tentang ini sebelumnya," kata Joshua.


Joshua balik bertanya, kapan Isobelle mengatakan akan mengundurkan diri? dan ke mana Isobelle pergi? karena saat didatangi ke kediamannya, Isobelle tidak berada di tempat. Rumahnya kosong.


"Apa Isobelle mengatakan hal lain pada Pak Direktur?" tanya Joshua.


Direktur menjawab, kira-kira semingguan lalu Isobelle mengubunginya dan keduanya bertemu secara pribadi di sebuah caffe. Isobelle menyerahkan surat mengunduran diri, berikut pembayaran denda yang harus ia bayar, jika ingin mengakhiri kontrak yang belum selesai.


Tidak banyak kata-kata yang terucap oleh Isobelle. Membuat Direktur itu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata. Meski sudah berpikir berulang-ulang, ia tidak tahu alasan pasti Isobelle mengundurkan diri.


"Aku mengira kamu tahu tahu sesuatu. Aku sama bingungnya denganmu, Jo. Semakin aku pikirkan, semakin kepalaku mau pecah rasanya." kata Direktur mengusap wajahnya kasar.


Jawaban dan cerita Direktur itu membuat Joshua gelisah. Ia juga khawatir, jika Alexander akan semakin murka saat tahu Isobelle berhenti bekerja tanpa sebab yang pasti dan pergi seolah melarikan diri.


"Bagaimana, ini? bisa-bisa si bedebah itu akan menggila lagi," batin Joshua.


"Saya sungguh tidak tahu apa-apa, Pak. Saya pun saat ini sedang mencari keberadaannya karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Dia menghilang begitu saja tanpa jejak. Saya tidak tahu harus mecarinya ke mana," kata Joshua menjelaska.


Direktur terdiam mendengar perkataan Joshua. Jika Manager yang dekat dengan Isobelle saja tidak tahu, apalagi dirinya yang hanya mengawasi dari balik meja?


Joshua berpikir, siapa orang yang bisa memberikan infomasi padanya tentang keberadaan Isobelle saat ini? bagaimanapun, ia butuh kejelasan dan penjelasan dari Isobelle.


"Isobelle, Isobelle ... di mana kamu? Kenapa kamu tidak memberitahuku apa-apa?" batin Joshua.


Meski ia dan Isobelle hanya terikat pekerjaan, ia juga ingin tau alasan sebenarnya Isobelle meninggalkan dunia hiburan yang sudah menjadi impian Isobelle. Seseorang terpikirkan oleh Joshua. Dan orang itu adalah Kairos. Joshua lantas berpamitan pada Direktur dan pergi dari ruangan Direktur.


"Pak, apa boleh saya pergi sekarang? bagaimanapun, saya harus mencari keberadaan Isobelle," kata Joshua ingin berpamitan.


"Oh, ya, pergilah. Sampaikan permintaan maafku dan ajak dia ke sini karena aku ingin menyampaikan sesuatu. Katakan itu kalau kamu bertemu dengannya, ya." kata Direktur.


Joshua menganggukkan kepala. Ia bergegas pergi meninggalkan ruang kerja Direktur.


***


Dalam perjalanan menuju parkiran, Joshua menghubungi Asisten Kairos, yakni Joel. Joshua tidak punya nomor Kairos. Ia hanya diberi nomor Joel untuk jaga-jaga, jika diperlukan. Dan Joel adalah satu-satunya orang terdekat Kairos.


Joel menerima panggilan Joshua. Setelah menyapa, Joshua pun menyampaikan apa yang diinginkannya. Ia mengajak Joel bertemu dan minum kopi bersama pada jam makan siang. Joel terdiam, membuat Joshua semakin gelisah.


"Ke-kenapa dia diam saja? apa dia sibuk? atau dia ... ah, tidak bisa. Aku harus membuatnya mau bertemu apapun yang terjadi," batin Joshua gelisah.


Joshua pun menyakinkan, jika ia tidak ada maksud terselubung. Ia hanya ingin menanyakan sesuatu yang tidak bisa ia bicarakan di telepon. Joel lagi-lagi diam. Saat Joshua ingin bicara, Joel menjawab dan mengiakan permintaan Joshua.


"Baiklah, ayo kita bertemu." jawab Joel.


Keduanya sepakat bertemu pada saat jam makan siang di sebuah caffe. Joel berpamitan dengan alasan banyak pekerjaan, lalu mengakhiri panggilan. Joshua menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan napas perlahan. Ia merasa lega. Setidaknya ia akan dapat sedikit informasi dari Joel.


"Setidaknya aku bisa bernapas lega sekarang. Entah aku akan dapat i formasi apa nantinya. Yang pasti aku punya sedikit harapan," batin Joshua.


***


Joel tersenyum menatap ponselnya. Ia tidak sangka akan dihubungi Joshua sesuai perkataan Kairos.


"Wah, Pak CEO punya insting yang selalu tepat, ya." gumam Joel.


Sebelumnya Kairos menghubungi Joel. Kairos mengatakan, jika kemungkinan Joshua akan mencari keberadaan Kairos. Karena tidak punya nomor yang bisa dihubungi, kemungkinan Joshua akan mencari Joel.


Kairos menegaskan, jika kepergiannya tidak boleh diketahui Joshua, itu juga adalah kemauan dari Isobelle. Kairos menambahkan, jika apapun yang terjadi, Joel harus bisa menangani Joshua.


Setelah mengingat kembali perkataan Bossnya, Joel yakin, jika Joshua ingin menggali informasi darinya. Bagaimanapun, ia tidak akan mengatakan ke mana Bossnya pergi. Apalagi Bossnya pergi bersama Isobelle, Sean dan Enny.


"Ya, aku akan berusaha menangani Joshua. Siapa yang tahu, bisa aja aku malah mendapatkan kejutan nanti," batin Joel.


Joel merasa hanya perlu mengikuti alur, bertemu Joshua setelah sekian lama juga bukan hal buruk. Joel malah curiga, apa yang Joshua lakukan selama ini, sehingga terkesan tidak mendapatkan kepercayaan Isobelle. Jika memang benar Joshua adalah seorang manager yang baik dan berteman baik dengan Isobelle, pasti Isobelle akan memberitahu ke mana tujuannya pergi.


***


Siang harinya. Joshua datang lebih dulu dan sudah memesan minuman. Ia gelisah menunggu kedatangan Joel. Beberapa kali ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, lalu melihat ke arah pintu masuk Caffe.


"Dia pasti akan datang, kan? aku gelisah sekarag. Jangan sampai dia tidak datang," batin Joshua khawatir.


Sampai beberapa menit kemudian, Joel datang dan menghampiri Joshua. Joshua mempersilakan Joel duduk dan memesankan Joel minuman.


Setelah basa-basi, Joel bertanya apa hal yang diinginkan Joshua sampai mendadak mengajaknya bertemu?


"Apa ada hal yang sangat penting yang ingin kamu sampaikan, Pak Manager?" tanya Joel memancing pembicaraan.


Joshua menganggukkan kepala, ia langsung bertanya tentang keberadaan Kairos pada Joel.


Joel tersenyum, seperti dugaanya, Joshua langsung menanyakan keberadaan Kairos. Joel menjawab, jika Bossnya sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.


Joshua bertanya lagi, apakah bisa bertemu Kairos? Joel menjawab, tidak bisa. Jadwal pertemuan dengan klien pun banyak yang diundur dan dibatalkan karena hal mendesak.


"Jika ada yang ingin kamu katakan, silakan saja. Nanti aku sampaikan," kata Joel.


Joshua menegrutkan dahi, "Apa boleh aku meminta nomor pribadi Kairos? tolonglah, ini hal yang penting dan mendesak." kata Joshua berharap.


Joel menggelangkan kepala, "Tidak bisa, maaf." jawab Joel.


Joel menjelaskan pada Joshua, jika ia tidak bisa sembarangan menyebar informasi pribadi atasannya. Itu menyalahi aturan. Ia pun meminta maaf sekali lagi pada Joshua karena tidak bisa membantu Joshua.


Joshua terdiam. Ia tampak kecewa atas penolakan Joel. Meski begitu Joel tidak peduli, ia harus melakukan sesuai perintah atasannya.