CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 27. Perhatian Kairos



Luciano menghubungi Alexander. Ia ingin memastikan, apa yang sebenarnya terjadi diantara Isobelle dan Alexander.


"Jawab jujur, Lex. Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Isobelle berikeras tidak ingin kembali?" tanya Luciano ingin tahu.


"Ahh ... begini, Paman. Sebenarnya Isobelle memang sudah lama ingin berpisah dariku. Entah kenapa sikapnya berubah. Dia selalu bicara hal yang tidak masuk akal. Padahal aku sudah berusaha memenuhi semua keinginan Isobelle agar dia bahagia. Paman tahu dengan jelas, jika Isobelle adalah prioritasku. Aku sangat sayang padanya, dan dia sekarang entah ada di mana. Tiba-tiba menghilang saat aku pergi perjalanan bisnis tanpa ada kabar sama sekali sampai aku menemukannya secara tidak sengaja pada halaman sebuah majalan pakaian. Aku ... " Alexander berusaha menjelaskan pada Luciano apa yang terjadi.


Tentu saja jawaban dari Alexander mengejutkan. Secara tidak langsung, seolah ia menyudutkan Isobelle. Seolah Isobelle lah yang bersalah dan begitu saja pergi meninggalan Alexander tanpa penjelasan apa-apa.


Mendengar penjelasan Alexander, membuat Luciano murka.


"Anak itu, benar-benar tidak tahu malu sekali. Kalau begini kan aku jadi malu pada Alexander." batin Luciano.


Ia tidak menyanka putri kebangaannya akan membuatnya malu dan mencoret mukanya. Luciano tidak sadar, jika ia sudah termakan ucapan Alexander. Isi kepalanya seakan dicuci, dan diisi oleh hal-hal tidak baik bersangkutan dengan Isobelle. Luciano pun mengakhiri panggilan. Sebelum panggilan benar-benar berakhir, ia meminta Alexander terus mengiriminya informasi. Jika Isobelle tidak bisa dinasihati baik-baik, maka jalan satu-satunya adalah bertindak langsung


***


Di rumah sakit. Isobelle sudah mendapatkan perawatan untuk luka di telapak tangan kirinya. Saat ini Isobelle berada di ruang pasien dan dijaga oleh Kairos. Kairos mengusap rambut Isobelle. Ia melihat Isobelle terlelap tidur karena kelelahan menangis. Kairos merasa sedih. Ia tidak senang Isobelle terluka.


"Apa yang membuatmu sampai harus melukai diri sendiri, Isobelle?" batin Kairos menatap dalam Isobelle yang sedang terlelap. Dadanya serasa penuh sesak.


Tidak lama Isobelle terbangun. Ia melihat Kairos di sampingnya memegangi tangan kanannya yang dipasangi infus.


"Ka-Kai ... " gumam Isobelle.


Melihat Isobelle membuka mata, Kairos langsung bertanya keadaan yang Isobelle rasakan.


"Ya, aku di sini. Bagaimana keadaanmu? apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Kairos gelisah.


Isobelle menggeleng, tidak menjawab. Isobelle hanya mengedipkan matanya yang sudah memerah dan bengkak.


"Aku panggilkan Dokter dulu, ya?" kata Kairos yang berdiri dari posisi duduknya.


Isobelle menarik lengan kemeja Kairos, "Tidak. Tidak perlu. A-aku baik-baik saja." kata Isobelle.


"Kamu sungguh tidak apa-apa?" tanya Kairos memegang tangan Isobelle.


Isobelle pun ingin duduk. Kairos membatu Isobelle duduk dan memberikan Isobelle minum. Setelah itu keduanya sama-sama diam. Kairos terus memperhatikan Isobelle.


Isobelle kembali teringat akan ucapan Papanya dan kembali menangis. Air matanya berlinang membasahi kedua pipinya. Kairos mengusap air mata Isobelle dengan tangan kosong, lalu memeluk Isobelle.


"Menangislah. Jangan ditahan," bisik Kairos.


Seakan menemukan tempat bersandar, Isobelle langsung menangis keras dipelukan Kairos. Isobelle sudah tidak peduli lagi, kini ia menunjukkan sisi lemahnya pada Kairos.


Mendengar tangaisan Isobelle, membuat Kairos terbawa perasaan. Ia mengusap kepala Isobelle dan menepuk-nepuk lembut punggung Isobelle. Kairos berbisik sesuatu, membuat Isobelle semakin mengeratkan pelukan.


Setelah cukup lama menangis. Tangaisan Isobelle pun terhenti. Isobelle sadar, ia terlalu lama memeluk dan menagis dipelukan Kairos. Pelukan terlepas, Isobelle melihat jas dan kemeja Kairos basah karena air matanya.


"Ah, maaf. Pakaianmu jadi kotor dan basah." kata Isobelle mengusap jas dan kemeja Kairos.


"Tidak apa-apa. Ini bisa dicuci," jawab Kairos.


Kairos menyeka air mata Isobelle. Ia mencium kening Isobelle. Mengatakan semua pasti akan baik-baik saja. Kairos juga memperbolehkan Isobelle untuk bersandar dan bergantung padanya. Selama yang Isobelle inginkan. Kairos mengusap tangan kiri Isobelle yang terluka, lalu menciumnya lembut. Kairos meminta Isobelle untuk tidak terluka lagi. Baginya Isobelle adalah seseorang yang berharga. Yang harus dijaganya, meski bertaruh nyawa sekalipun.


"Kamu mengerti ucapanku, kan?" tanya Kairos menatap Isobelle.


Isobelle menatap Kairos. Ia memegang wajah tampan Kairos dan mengusapnya lembut.


"Ya, aku mengerti. Terima kasih untuk semuaya. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa," jawab Isobelle.


Isobelle berterima kasih pada Kairos yang bersedia menjadi pelindung dan tempatnya bersandar. Isobelle meminta maaf, karena ia selalu merepotkan Kairos, membuat Kairos terus khawatir.


Isobelle sadar, selama ini Kairos selalu ada untuknya, tapi ia terkadang mengabaikan itu. Isobelle selalu menganggap, dalam hubungan pernikahannya dengan Kairos, tetap harus ada batasan-batasan tertentu. Karena pernikahan mereka hanyalah pernikahan kontrak. Ia tidak ingin terjebak dilubang yang sama seperti dulu, saat ia masih bersama Alexander.


Kairos memegang tangan Isobelle, lalu mencium tangan Isobelle lagi.


"Jangan terluka lagi. Aku sedih melihatmu seperti ini," gumam Kairos.


Kairos mengatakan pada Isobelle, agar mau lebih terbuka padanya. Jika butuh teman bicara, Kairos akan menjadi temannya. Bahkan ia akan menjadi teman bicara semalaman bila diperlukan. Bagaimanapun, ia dan Isobelle sekarang adalah keluarga, bukan orang asing.


"Kamu harus ingat kata-kataku ini, Iso." kata Kairos menatap Isobelle.


Isobelle diminta untuk mengabaikan perjanjian kontrak dan menganggapnya sebagai suami sungguhan. Sehingga Isobelle tidak merasa canggung dan harus membatasi diri dengan Kairos.


"Apa kamu mengerti?" tanya Kairos.


Isobelle bertanya, "Apakah artinya aku bisa mempercayaimu sepenuhnya? karena ia takut, jika ia harus jatuh ke tempat yang sama dua kali," tanya Isobelle menatap Kairos.


Kairos diam sesaat, "Ya, tentu saja kamu bisa mempercayaiku. Begitu juga aku akan percaya padamu," jawab Kairos.


"Baiklah. Mulai sekarang aku akan lebih mempercayaimu. Jangan katakan lelah dan bosan dengan keluhanku nanti, ya." kata Isobelle tersenyum.


"Tidak mungkin. Mengeluhlah sebanyak yang kamu mau. Bicaralah sepuasmu igin bicara. Dan mintalah apa yang kamu inginkan. Meski permintaanmu sulit sekalipun, aku akan coba mengabulkannya untukmu. Bagaimana? apa dengan ini sudah membuatmu yakin? jika percaya padaku, kamu akan mendapatkan, juga menerima banyak keuntungan?" tanya Kairos tersenyum.


Isobelle memalingkan wajah karena malu, "Jangan berlebihan. Kamu membuatku malu," gumam Isobelle.


Kairos awalnya tidak memahami arti ucapan Isobelle. Setelah beberapa saat, Kairos baru sadar, ini adalah jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya ia tanyakan. Tentang kisah cinta masa lalu Isobelle. Inti dari pembicaraannya dengan Isobelle, Kairos tahu bagaimana gambaran masa lalu Isobelle. Membuat Isobelle enggan untuk membina hubungan baru dengan pria lain, sekalipun mengenal baik seseorang tersebut. Isobelle tidak mau kejadian yang sebelumnya terulang kembali. Tidak ingin tersakiti dan menyesali keadaan.


"Meski belum sepenuhnya tahu. Kini aku mengerti, Isobelle. Aku berjanji pads diriku sendiri, jika aku akan selalu membuatmu bahagia. Tidak akan aku biarkan siapapun lagi menyakitimu," batin Kairos.