
Setelah tiga minggu berada di Korea. Kairos, Isobelle, Enny dan Sean pun kembali ke negara asal mereka. Isobelle minta bantuan pada Kairos, agar menemaninya bertemu Joshua. Isobelle ingi menuntut penjelasan Joshua dengan mulut Joshua sendiri.
"Kamu bisa kan menemaniku?" tanya Isobelle ragu-ragu.
"Bagaimana kalu begini ... " Kairos berbisik sesuatu di telinga kiri Isobelle. Sepertinya kairos merencanakan sesuatu atau memiliki sebuah ide.
Isobelle mengangkat kedua alisnya, lalu mengerutkan dahi. Ia pun menganggukkan kepala seperti setuju dengan sesuatu yang dibisikkan Kairos.
"Apa kamu setuju?" tanya Kairos menatap Isobelle.
"Ya, boleh. Begitu juga bagus. Orang sepertinya memang perlu diberikan pelajaran." kata Isobelle kesal.
"Ya, kita akan beri dia pelajaran setimpal. Jangan bersungut lagi. Wajahmu akan berkerut seperti kain kusut nanti," kata Kairos mengusap wajah Isobelle.
Kairos tidak akan bisa menolak permintaan Isobelle. Ia meminta sobelle mengendalikan emosi, karena Isobelle tidak boleh terlihat lemah dihadapan orang lain. Kairos menambahkan, jika ia akan melakukan apapun yang Isobelle inginkan, dan akan selalu berada dipihak Isobelle.
***
Isobelle gelisah. Waktunya bertemu dengan Joshua semakin dekat. Isobelle mondar-mandir di ruang kerja Kairos. Rasanya dalam rongga dadanya penuh sesak. Ia tidak bisa lagi mengungkapkan apa yang dirasakannya. Sedih, kecewa, gelisah, takut dan khawatir menjadi satu.
"Hahh ... (hela napas Isobelle) bisa gila aku kalau terus memikirkan ini." batin Isobelle.
Ia menghentikan langkah dan menhepalkan tangan, "Sialan! Joshua sialan!" gumam Isobelle memaki.
Kairos hanya diam melihat Isobelle mendar mandir seperti setrika berjalan. Ia ingin mencegah Isobelle, tapi ia lebih ingin Isobelle bisa meluapkan apa saja hal yang dirasakan dan dipikirkannya. Agar Isobelle tidak lagi menyimpan beban.
***
Di Caffe. Joshua duduk diam menunggu Kairos datang. Sebelumnya ia dihubungi Joel, yang mengatakan, jika Kairos ingin menemui Joshua secara pribadi. Mendengar hal yang dinanti-nantikan, tentunya Joshua sangt senang. Ia berharap bisa mendapatkan informasi tetang Isobelle dari Kairos.
Setelah menunggu cukup lama, Kairos pun datang. Ia tidak datang sendiri, melainkan bersama Isobelle. Melihat Isobelle ada di hadapannya, Joshua pun kaget.
"I-Iso ..." gumam Joshua.
Ia langsung bertanya kabar dan di mana Isobelle berada selama ini. Joshua mengatakan, jika ia sangat khawatir, karena Isobelle tidak ada kabar sama sekali.
"Aku sangat mencemaskanmu, Isobelle." kata Joshua.
Joshua mengajukan banyak sekali pertanyaan dan itu membuat Isobelle tidak senang. Wajah Isobelle berubah kesal, dahinya berkerut. Ia ingin sekali langsung memaki Joshua, tapi ia menahan diri. Ia masih ingin dengar penjelasan Joshua, kenapa Joshua tega mengkhianati kepercayaan Isobelle. Dan sejauh apa hubungan Joshua dengan Alexander.
Joshua menatap Isobelle "A-apa yang terjadi padamu, Isobelle?" tanya Joshua.
Tidak mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya, membuat Joshua terdiam dan bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa yang sedang terjadi? kenapa Isobelle tidak menjawab dan kelihatan tidak senang?
"Apa sesuatu telah terjadi?" batin Joshua.
Joshua pun menatap Kairos, seolah bertanya apa yang terjadi pada Isobelle. Kairos menatap Joshua dengan tatapan mata yang tajam, seolah mengatakan, "Tunggu dan lihat saja apa yang terjadi".
Joshua menatap Isobelle dan bertanya, kenapa Isobelle hanya diam saja?
"I-Iso ... kenapa kamu diam saja? jangan buat aku khawatir." kata Joshua.
Isobelle menatap Joshua dengan tersenyum sinis. Isobelle menjawab, apa benar Joshua mengkhawatirkannya? atau ... khawatir akan dibunuh Alexander?
"Jawablah, Jo. Bukankah kamu harus menjelaskan sesuatu padaku?" kata Isobelle menahan emosi.
Deg ... mendengar pertanyaan Isobelle langsung membuat Joshua melebarkan mata. Tidak ingin dicurigai Isobelle, Joshua lantas berpura-pura tidak tahu apa maksud Isobelle.
"A-apa maksudmu? te-tentu saja a-aku khawatir padamu. Si-siapa juga itu Alexander. Aku tidak kenal padanya," jawab Joshua tidak mau mengaku. Tentunya dengan memasang ekspresi tidak bersalah.
Melihat Joshua enggan mengakui perbuatannya, Isobelle pun semakin kesal. Isobelle berdiri dari posisi duduknya, ia mengambil jus jeruk yang ada di atas meja dan menyiramkan jus jeruk itu ke kepala Joshua.
Joshua kaget, ia juga berdiri dan bertanya apa yang Isobelle lakukan padanya.
Plakkkk ...
Isobelle menampar Joshua.
"Is ... " kata-kata Joshua terhenti karena Isobelle menampar Joshua lagi.
Plakkk ....
"Isobelle!" sentak Joshua lagi.
Plakkkk ....
"Isobelle, hentikan!" teriak Joshua kesal.
Plakkkk ....
Tidak hanya sekali Isobelle menampar Joshua, melainkan empat kali. Joshua yang kesal ia pun membentak dan berteriak-teriak memaki Isobelle seakan tidak terima dengan perlakuan Isobelle.
"Apa kamu sudah gila, Isobelle? kenapa kamu menamparku? sialan!" umpat Joshua mengerutkan dahinya.
Melihat perlawanan dan perkataan Joshua, Isobelle pun memuji sikap Joshua yang dinilai menjijikkan.
"Wah, kamu memakiku? Akulah yang seharusnya memaki bedebah busuk sepertimu." kata Isobelle menunjuk bahu Joshua.
Isobelle menatap Joshua dan bertanya, sejak kapan Joshua menjadi budak Alexander dan menjual informasi tentangnya pada Alexander.
"Sudah berapa lama kamu mengenalnya?" tanya Isobelle lagi.
Joshua mengerutkan dahi berpikir. Dalam situasi seperti itu, ia tidak tahu lagi harus melakukan apa.
Isobelle mengejek Joshua yang hanya bisa diam mematung, tanpa menjawab pertanyaannya. Isobelle menarik krah kemeja Joshua dan meluapkan semua kekesalan juga kekecewaannya pada Joshua.
"Kamu ini bisa bicara tidak? jangan diam seperti patung. Jawab, Jo. Jawab!" sentak Isobelle.
Joshua masih tetap diam. Ia tidak berdaya dihadapan Isobelle. Joshua tahu benar, jika Isobelle selalu tulus padanya bahkan bersedia mempercayainya sebagai tempat berbagi suka duka. Bukannya memperlakukan hal sama, ia justru mengkhianati Isobelle. Bahkan sejak awal ia telah memanfaatkan kebaikan Isobelle.
Joshua menunduk dan meminta maaf.
"Maafkan aku, Isobelle." ucap Joshua.
Isobelle yang tidak terima mengguncang kuat tubuh Joshua dan mendorong Joshua hingga jatuh ke lantai. Isobelle sudah sangat emosional saat itu.
"Aku tidak butuh permintaan maafmu. Aku butuh penjelasan! kamu mengerti tidak ucapanku, Joshua? Hhh ... " sentak Isobelle kesal. Matanya melebar menatap tajam pada Joshua.
Meski sudah diminta beberapa kali untuk menjelaskan apa yang sebernarnya terjadi, nyatanya Joshua masih saja bungkam. Ia membisu, seakan mulutnya terekat oleh lem. Tentu saja itu semakin membuat Isobelle muak.
Isobelle mengatakan, jika ia tidak bisa memaafkan pengkhianat seperti Joshua. Isobelle akan menganggap, selama ini tidak pernah mengenal Joshua.
"Dasar pengkhianat!" sentak Isobelle mengepalkan kedua tanganya erat-erat.
Baginya, pengkhianat tetaplah pengkhianat. Sebaik apapun sikap, ucapan dan perbuatannya, tetaplah pengkhianat!
"Ayo, Kai." ajak Isobelle.
Isobelle menarik tangan Kairos dan mengajak Kairos pergi. Ia sudah tidak tahan lagi melihat wajah Joshua karena ia bisa saja lepas kendali nantinya.
***
Di tempat parkir. Di dalam mobil. Isobelle menangis tersedu-sedu dipelukan Kairos. Isobelle tidak menyangka, Joshua hanya akan mengatakan maaf tanpa penjelasan apa-apa. Hatinya sakit, saat orang yang dipercayainya ternyata adalah seorang pengkhianat. Isobelle tidak tahu apa alasan Joshua melakukan itu padanya. Yang ia tahu, sekarang ia hanya perlu menghapus jejak Joshua dalam kehidupannya.