
Isobelle menceritakan semua yang disimpan dalam hati selama ini pada Kairos. Ia tidak mau lagi menyembunyikan kepedihannya. Ia tidak mau pura-pura baik-bak saja, padahal hatinya sakit. Saat bercerita, Isobelle menangis sesenggukan.
Kairos menyeka air mata Isobelle, "Semua akan baik-baik saja. Dia tidak akan berani mengganggumu atau menyentuhmu sesuka hati." kata Kairos.
Isobelle menatap Kairos, "Maaf, aku baru bisa menceritakan semuanya sekarang. Apa kamu marah?" tanya Isobelle.
"Tidak. Kenapa harus marah? bukankah aku sudah pernah bilang, katakan apa yang ingin kamu katakan saja. Jika tidak ingin maka simpanlah. Lantas, apa karena kamu tidak bercerita, aku harus mendesakmu dan marah-marah? Itu tidak akan pernah aku lalukan. Aku harap kamu mengingat kata-kataku ini, Iso." jawab Kairos menjelaskan ulang apa yang pernah ia sampaikan.
Isobelle langsung memeluk Kairos, "Inilah sisi yang paling aku suka darimu, Kai. Sejak awal kamu selalu sabar menghadapiku." kata Isobelle.
Kairos mengusap punggung Isobelle, "Kesabaran penting bagi seorang pembisnis. Terburu-buru dalam mengambil keputusan, akan berakibat fatal." kata Kairos.
Isobelle tersenyum. Ia memendamkan wajahnya ke dalam pelukan Kairos. Ia memejamkan matanya, menikmati hangatnya dekapan Kairos.
Kairos dan Isobelle saling diam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Sambil mengusap-usap kepala Isobelle, Kairos memikirkan cerita Isobelle tentang Alexander.
"Aku harus lebih waspada para pria sampah itu. Bisa saja dia tetap nekat mencari keberadaan Isobelle dan melukai Isobelle." batin Kairos.
Isobelle yang masih dalam pelukan Kairos juga berpikir tentang Alexander. Ia takut, Alexander akan berulah. Meski Kairos bisa melindunginya, tetap saja Alexander itu mampu mengerahkan banyak cara demi keinginannya.
"Kali ini aku tidak akan diam saja kalau dia berani mengusikku. Aku dulu memang lemah, tapi sekarang aku punya suami dan Anak yang senantiasa mendukungku." batin Isobelle.
Isobelle melepas pelukan, "Kapan kamu akan pergi lagi?" tanya Isobelle.
Kairos diam sesaat, lalu menjawab. Kali ini ia tidak akan pergi ke mana-mana. Ia akan bekerja dari rumah. Rapat juga akan diadakan secara virtual. Ia tidak bisa meninggalkan Isobelle dan Sean sendirian. Apalagi keberadaan Isobelle sudah diketahui oleh Alexander. Meski bukan lokasi tempat tinggal.
Mendengae jawaban dan penjelasan Kairos, Isobelle merasa lega. Ia memang tidak ingin ditinggal pergi oleh Kairos. Ia merasa takut, kalau-kalau Alexander berulah lagi.
"Syukurlah. Jujur aku lega kamu tidak akan pergi," kata Isobelle mengungkapkan perasaan leganya.
"Ya, aku tidak akan pergi. Aku akan di sini, di sisimu." sahut Kairos.
Kairos ingat, jika ia perlu memberitahu Joel tentang rencananya yang ingin tetap tinggal. Ia pun meminta izin Isobelle untuk menghubungi Joel. Isobelle menganggukkan kepala sebagai jawaban, ia membiarkan Kairos pergi masuk ke dalam rumah.
Isobelle menatap punggung Kairos yang berjalan membelakanginya. Tidak beberapa lama, punggung itu menghilang dibalik dinding. Isobelle memalingkan pandangan menatap taman bunga mawarnya.
***
Kairos dan Joel berbincang. Kairos memberitahukan apa yang terjadi pada Isobelle, dan karena itulah ia tidak bisa pergi meninggalkan Isobelle.
Mendengar cerita Kairos, Joel pun terkejut. Karena sudah lama sejak masalah yang terakhir kali. Joel pun setuju, jika Tuannya akan tetap tinggal untuk melindungi istri dan Anaknya. Joel bahkan menawarkan bantuan pada Kairos, tapi ditolak oleh Kairos.
Anda tidak mau saya mengirim bantuan?" tanya Joel.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Hanya perlu lebih waspada," jawab Kairos.
"Baiklah, jika itu keinginan Anda. Saya harap Anda berhati-hati, Pak." kata Joel mengingatkan.
Joel mengiakan kata-kata Bossnya. Kairos pun berpamitan dan mengakhiri panggilannya dengan Joel. Kairos menatap laayr ponselnya. Ia mengirim pesan pada Joel, karena lupa menyampaikan sesuatu. Kairos meminta Joel mengirimkan padanya data statistik Hotel pusat dan cabang A& Grup. Karena ia ingin mempelajarinya.
Setelah selesai berbincang di telepon dan mengirim pesan pada Joel, Kairos lantas kembali ke halaman belakang rumah. Ia melihat Isobelle sedang berbincang dengan seseorang di telepon. Terlihat wajah kesal Isobelle, tidak lama ekspresi Isobelle berubah menjadi sedih.
Kairos berjalan mendekat, ia kembali duduk di sisi Isobelle. Isobelle menatap Kairos dan tersenyum tipis, ia lantas kembali berbincang dengan seseorang ditelepon.
"Pa, Papa bisa tidak mendengar penjelasanku?" tanya Isobelle dengan nada suara tinggi.
Dahi Isobelle berkerut. Ternyata Papanya tetap saja tidak ads perubahan. Hanya mementingakan keinginan pribadi semata.
Luciano Williams terus saja menyalahkan Isobelle. Bahkan kali ini Luciano benar-benar tidak akan lagi mengakui Isobelle sebagai putrinya.
"Papa sungguh akan mengakhiri hubungan denganku?" tanya Isobelle.
Kairos mengeryitkan dahi. Ia berbisik sesuatu di telinga kiri Isobelle. Mendengar bisikan Kairos, Isobelle pun terkejut. Isobelle menjauhkan ponsel dari telinga kanannya sejauh mungkin.
Isobelle menatap Kairos, "Apa maksudmu?" tanya Isobelle berbisik.
"Berikan ponselmu. Biar aku saja yang bicara dengan Papamu," kata Kairos berbisik.
"Tidak. Kamu hanya akan kena marah dan dicaci maki. Aku tidak akan biarkan itu," bisik Isobelle lagi.
Kairos menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia meraih tangan Isobelle yang memegang ponsel dan mengambil ponsel itu dari tangan Isobelle. Kairos mendekatkan ponsel Isobelle ke telinga kirinya. Baru saja ingin bicara, ia mendengar kata-kata yang tidak enak didengar dari Luciano.
"Dasar anak tidak tahu balas budi. Kamu ternyata sama saja seperti Arabella yang melarikan diri dengan pria sampah pilihannya. Apa kamu memang mencontohnya? Bagaimana bisa aku punya dua putri bodoh sepertimu dan Kakakmu, Hah? aku bisa gila!" keluh Luciano.
"Siapa yang Anda maksud dengan pria sampah?" tanya Kairos kesal.
"Oh, kamu siapa? Kamu pria? di mana Isobelle putriku?" tanya Luciano.
"Saya bertanya, siapa pria sampah yang Anda maksudkan?" tanya Kairos mengulang pertanyaannya.
"Itu suami anak sulungku. Namanya ... hm, Ken-zo? ya, mungkin itu. Memangnya kenapa? Dan siapa kamu? di mana putriku? Kamu tiba-tiba menyela pembicaraan kami, sangat tidak sopan." kata Luciano marah.
"Saya suami dari Isobelle, Kairos Abarm. Dan tolong jangan pernah merendahkan Adik saya. Dia bukan sampah!" kata Kairos mengertukan dahi.
Isobelle terkejut mendengar pernyataan Kairos pada Papanya. Ia tidak tahu harus apa dan hanya bisa nenatap penuh rasa khawatir ke arah Kairos. Sedangkan Luciano amat terkejut, saat dengar jawaban Kairos yang mengaku adalah suami Isobelle.
"Ka-kamu barusan bilang apa? Suami, Suami Isobelle? dan Adik? apa-apaan ini?" kata Luciano.
"Saya akan jelaskan. Pria sampah yang Anda maksud adalah Adik kandung saya, Kenzo Abarm. Dan saya adalah suami putri bungsu Anda, Isobelle. Apa sudah jelas?" jelas Kairos pada Luciano.
"Tidak! Aku tidak akan menerima pernikahan kalian. Isobelle harus menikah dengan Alexander. Dan kamu, jangan coba-coba membual dengan mengatakan kamu adalah suami Isobelle." kata Luciano tidak terima dengan penjelasan Kairos.
Tidak mau memperpanjang masalah. Kairos meminta Papa dan Mama Isobelle untuk datang dan bertemu. Kairos juga perlu menyampaikan sesuatu hal yang penting yang harus diketahui oleh orang tua Isobelle.