
Joel mengikuti perintah Kairos dan meminta seseorang mengikuti Joshua. Sampai ia mendapatkan laporan bahwa Joshua dan Alexander bertemu di sebuah Caffe. Seseorang yang mengikuti Joshua duduk tepat dibelakang Joshua. Ia datang bersama seorang wanita yang merupakan rekannya kerja. Dua orang yang sedang memata-matai Joshua berpura-pura berbincang membahas pekerjaan sembari mendengar percakapan. Tidak sampai disitu, mata-mata itu bahkan merekam percakapan Joshua dan Alexander.
***
Di kantor. Joel duduk diam di meja kerjanya. Ia menunggu kabar dari orang suruhannya.
"Kenapa belum ada kabar?" gumam Joel gelisah.
Joel berharap ada hal menarik yang bisa ia sampaikan pada Kairos.
Setelah menunggu cukup lama, Joel mendapatkan sebuah pesan dari orang suruhannya itu. Joel mengerutkan dahi, melihat kiriman video dan rekaman suara juga beberapa foto kebersamaan Joshua dengan seorang pria yang tak lain adalah Alexander. Joel pun bertanya-tanya, siapa seseorang yang sedang berbincang dengan Joshua?
"Pria ini? hm, ini sangat mencurigakan." gumam Joel.
Joel pun memeriksa video, rekaman suara dan melihat semua foto yang dikirim padanya. Ia tidak boleh memberika informasi yang tidak pasti pada Kairos.
***
Di Caffe. Joshua dan Alexander bertemu. Joshua tampak gugup berhadapan langsung dengan Alexander.
"Pada akhirnya kami bertemu," batin Joshua.
Hanya orang lain yang tidak mengenal Alexander, yang akan berpikir kalau Alexander adalah orang baik dan hangat. Nyatanya Alexander adalah orang bermuka dua. Seorang psikopat gila bahkan layak disebut monster.
"Apa dia akan menggila seperti biasanya? bagaimana caranya aku bisa lolos kali ini?" batin Joshua berpikir keras ingin melarikan diri dari Alexander.
Joshua awalnya juga mengira Alexander baik karena sudah membantu pengobatan Adiknya. Setelah mengenal cukup lama, barulah sifat asli Alexander terlihat. Alexander adalah seorang yang tega dan keji. Bahkan bisa melakukan apapun pada siapapun orang yang tidak disukainya.
Alexander menatap tajam ke arah Joshua. Ia bertanya bagaimana kabar Joshua dan Adik Joshua selama ini?
"Kamu tampak cukup baik," kata Alexander.
Joshua menjawab ragu-ragu, ia mengatakan keadaannya dan Adiknya baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja, adikku juga. Terima kasih sudah bertanya," jawab Joshua.
Alexander tersenyum, ia senang karena Joshua dan Adiknya sehat. Hanya saja setelah itu Alexander mengatakan hal yang langsung membuat Joshua membeku.
Alexander berkata, jika keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Ia merasa gila tanpa kabar dari Isobelle. Dan meminta pendapat Joshua, bagaimana cara menghilangkannya?
"Jika kamu tahu caranya. Maka beritahu aku," kata Alexander.
Joshua menunduk. Dahinya berkeringat, bahkan sampai kedua tangannya berkeringat juga.
"Ba-ba-bagaimana ini? dia sepertinya sudah mulai kesal dan akan marah," batin Joshua.
Melihat Joshua yang ketakutan, membuat Alexander tersenyum tipis merasa sedikit puas.
"Lihatlah, kamu hanya seperti anak tikus yang masuk ke kubangan lumpur, Joshua. Orang sepertimu perlu kuberi pelajaran yang setimpal," batin Alexander senang.
Alexander meminta Joshua mengangkat kepala dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Alexander mengatakan, jika Joshua tidak perlu sampai menunduk hanya untuk berterima kasih padanya.
"Haha ... jangan sungkan padaku dan angkat kepalamu, temanku." kata Alexander tersenyum penuh arti.
Hal itu dilakukan Alexander agar ia tidak dicurigai orang-orang sekitar. Ia tidak ingin kesan baik yang selama ini menjadi citranya lenyap begitu saja.
Semakin Alexander mengumbar senyuman dan kata-kata manis. Semakin membuat Joshua tertekan.
Joshua pun berbisik, ia bertanya apa hal yang harus ia lakukan agar Alexander tidak marah lagi padanya.
"Ka-katakan saja apa yang kamu inginkan. A-a-aku a-akan la-lakukan." Bisik Joshua terbata-bata.
Tubuh Joshua sudah gemetaran. Ia tidak tahu lagi, apakah kata-katanya bisa membuat Alexander senang atau malah menggila.
Alexander tertawa keras, ia menepuk-nepuk pundak Joshua dan memeluk Joshua. Alexander berkata Joshua tidak perlu melakukan apa-apa dan cukup hidup baik saja.
"Hahahaha ... kamu ini. Aku itu sangat khawatir kalau sampai terjadi apa-apa padamu. Karena itu, jangan tidak ada kabar seperti kemarin-kemarin. Ok," kata Alexander penuh maksud.
Alexander berbisik lagi, jika Joshua harus menerima panggilannya dan membalas pesan yang dikirim olehnya. Kalau tidak Joshua akan menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.
"Aku tak main-main dengan ucapanmu, Joshua." bisik Alexander.
Setelah berbisik, senyum Alexander kembali merekah. Seolah tidak terjadi apa-apa. Alexander begitu pandai mempermainkan perasaan dan membuat mental lawannya melemah.
Mendengar bisikan Alexander, membuat semua bulu di tubuh Joshua langsung berdiri. Ia merinding, hanya dengan mendengar perkataan Alexander. Ia tidak menyangka akan sulit berada dibawah kekangan Alexander. Rasanya tubuhnya terpaku dihadapan Alexander tanpa bisa bergerak sedikitpun. Sebagai jawaban, Joshua pun menganggukkan kepala karena ia dihantui rasa takut.
Pertemuan Joshua dan Alexander pun berakhir. Selesai mengatakan apa yang ingin dikatakan, Alexander pergi meninggalkan Joshua. Sesaat setelah kepergian Alexander, Joshua masih diam terpaku di tempat duduknya. Ia masih terpikirkan ucapan Alexander. Kini Alexander sudah terang-terangan mengancamnya dengan halus.
"Dia benar-benar gila. Entah apa yang akan dia lalukan kalau aku tidak meburuti ucapannya. Bisa-bisa ancamannya menjadi kenyataan. Aahhhh ... (menghela napas) aku bisa gila!" batin Joshua putus asa.
Joshua menghabiskan minuman yang dipesannya. Ia pun pergi meninggalkan Caffe dengan langkah lemas tidak bertenanga.
***
Joel mengirim video dan rekaman suara yang sudah ia periksa pada Kairos.
"Entah apa hubungan Joshua dan pria ini. Yang jelas gerak-geriknya mencurigakan. Isi percakapannya juga aneh. Apa yang sebernarnya pria iti katakan, ucapannya bertele-tele." batin Joel.
Joel tidak tahu maksud ucapan Alexander yang didengarnya di rekaman suara yang ia dapat dari mata-matanya. Ia yang tidak tahu siapa itu Alexander, tentu tidak tahu kalau Alexander adalah mantan tunangan Isobelle. Dan ucapan Alexander yang terkesan bertele-tele itu adalah peringatan tak langsung dari Alexander untuk Joshua. Agar Joshua tidak menghindarinya. Juga sesegera mungkin menemukan keberadaan Isobelle.
Joel bertanya lewat pesan, apakah perlu menyelidiki asal usul pria yang bersama Joshua di Caffe? Joel menyampaikan kecurigaannya. Bahkan sampai mengatakan kalau bisa saja pria yang bersama Joshua adalah pria jahat yang memiliki maksud dan tujuan tidak baik. Joel bertanya lagi, apa yang harus dilakukannya untuk kedepannya?
"Apa yang akan Pak CEO pikirkan, ya? aku juga tidak boleh bergerak tanpa seizin beliau. Bisa-bisa aku kena marah dan dipecat dari pekerjaanku." batin Joel.
"Haaahhh ...."
Joel menghela napas panjang. Ia penasaran, tapi tidak bisa berbuat banyak. Entah mengapa ia tertarik dan igin tahu lebih banyak tentang apa yang dilakukan Joshua. Rasa penasarannya langsung tertahan oleh akal sehatnya. Ia tidak boleh bertidak di luar batas yang ditentukan.