
Isobelle menjelaskan pada Papa dan Mamanya tentang apa yang sebenarnya terjadi selama ia berhubungan dengan Alexander. Ia mengalami hal-hal buruk dan sempat putus asa. Sampai-sampai Isobelle berniat mengakhiri hidupnya. Untungnya niat itu tidak tersampaikan karena Isobelle akhirnya bisa melarikan diri dan bebas.
Hanya saja ternyata Alexander masih terus mengawasinya diam-diam. Alexander mengirim seseorang untuk berada dekat dengan Isobelle, berpura-pura membantu Isobelle yang kesusahan dan membuat Isobelle percaya, jika seseorang itu adalah orang yang baik. Tanpa curiga seseorang itu adalah mata-mata yang dikirim Alexander. Seseorang itu adalah Manager Isobelle, Joshua.
"Kalau dipikirkan lagi, sepertinya aku tetap terperangkap dalam jebakan Alexander. Hanya bedanya dia mengawasi dari jauh," kata Isobelle.
"Katanya dia menyerangmu lagi. Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Anne khawatir.
"Aku baik-baik saja, Ma. Kairos langsung menolongku. Dia memukulnya," jawab Isobelle.
"Sialan! bisa-bisanya mereka sekelarga membodohiku. Selama ini aku mengira mereka adalah keluarga baik-baik karena reputasi mereka tidak perlu diragukan lagi. Ternyata mereka mengubur bangkai dan berharap baunya tak tercium," kata Luciano marah besar sudah dipermainkan.
Luciano menjelaskan. Jika ia tidak tahu apa-apa tentang masalah pribadi keluarga Alexander. Luciano pun tidak mencurigai apapun. Sikap dan ucapan mereka sekeluarga ramah pada Luciano dan Anne. Wajah mereka tersenyum cerah seolah benar-benar mengharapkan pernikahan antara Isobelle dan Alexander.
Sejujurnya bukan karena Luciano serakah, tapi keluarga Alexanderlah yang banyak memberi dengan alasan investasi. Luciano mengira, jika itu murni investasi, tanpa berpikir itu adalah sogokan. Barulah setelah mendengar cerita Isobelle, Luciano menyadari, kalau semua yang ia terima adalah upaya keluarga Alexander agar tidak dicurigai.
Merasa bersalah, Luciano pun meminta maaf. Ia tidak berharap Isobelle bisa memaafkannya, karena memang kesalahannya sudah menjodohkan Isobelle tanpa benar-benar melihat seperti apa Alexander sekeluarga.
"Papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Nyatanya pilihan Papa salah. Maafkan Papa, Isobelle." ucap Luciano penuh penyesalan.
Mendengar pernyataan maaf Papanya, membuat Isobelle menagis. Ia berdiri dari tempatnya duduk dan menghampiri Luciano. Isobelle memeluk Luciano.
"Papa ... " panggil Isobelle menangis dalam pelukan Luciano.
Sebenarnya Isobelle sangat sayang pada keluarganya. Pada Papa, Mama dan Kakaknya. Baginya keluarganya adalah segalanya. Hanya saja setelah kejadian perjodohan dengan Alexander dan tau seperti apa Alexander, Isobelle sedikit kecewa. Terlebih Papanya tidak mau mendengarkan dan acuh tak acuh padanya.
Kairos lega. Akhirnya Isobelle bisa berbaikan dengan Papanya. Hubungan yang sempat renggang, bisa kembali menyatu.
***
Luciano dan Anne tinggal sementara di rumah Isobelle dan Kairos. Mereka dikenalkan pada Sean, yang merupakan Anak mendiang Arabella dan Kenzo.
Saat tahu Sean adalah putra dari putri sulungnya, ekspresi wajah Luciano terlihat sedih. Anne menggendong Sean, memperkenalkan pada Sean, jika ia adalah Nenek Sean, dan Luciano adalah Kakek Sean.
Melihat wajah murung Luciano, Kairos mengajak Lucinao untuk jalan-jalan ditaman belakang. Luciano setuju, ia pun mengikuti Kairos yang berjalan lebih dulu menuju halaman belakang.
"Apa ada sesuatu yang Anda pikirkan?" tanya Kairos.
"Ya, aku tidak tahu harus bicara apa saat melihat Sean." kata Luciano.
"Saya bisa memahaminya. Mungkin perasaan Anda sama seperti orang tua saya yang kecewa pada Adik saya. Saat itu Adik saya hendak dijodohkan, tiba-tiba dia pergi dari rumah dan hanya meninggalkan sepucuk surat. Mengatakan, jika ia tidak ingin dijodohkam karena telah memiliki kekasih. Ia ingin hidup dengan kasihnya dengan tenang. Memita agar kami sekeluarga tidak mencarinya. Papa dan Mama sangat sedih bercampur kecewa. Dan perlahan sikap mereka yang hangat pun berubah dingin. Begitulah, sampai terakhir saya tahu kabar duka yang menimpa mereka. Saat saya datang ke ingin melihat keponakan saya, saat itulah pertemuan pertama saya dengan Isobelle." jelas Kairos pada Luciano.
"Lalu kamu mengajaknya menikah? apa pernikahan itu untuk Sean?" tanya Luciano.
"Untuk Sean juga untuk saya. Karena saya tidak mau dijodohkan, saya menawarkan pernikahan kontrak pada Isobelle. Tujuan saya ingin menghentikan perjodohan yang dilakukan orang tua saya. Dan juga demi Sean, yang mana dengan menikah kami tidak perlu lagi berebutan hak asuh atas Sean." jawab Kairos jujur dengan tegas.
"Apa kamu benar-benar tidak tertarik dengan putriku, Isobelle?" tanya Luciano.
Kairos kaget, "Ya? A-apa maksud Anda?" tanya Kairos menatap Luciano. Wajah Kairos merona.
"Hahaha ... begitu, ya?" kata Luciano tertawa.
Luciano tahu Kairos sedang malu-malu. Makanya ia tertawa seakan meledek Kairos. Sedangkan Kairos bingung sendiri, ia tidak tahu kenapa Luciano tiba-tiba tertawa.
Setelah cukup lama berjalan mengelilingi taman mawar. Kairos mengajak Luciano untuk duduk beristirahat. Luciano dan Kairos berbincang. Kairos diberondong banyak pertanyaan, termasuk pekerjaan Kairos.
Tidak mau menutupi apapun, Kairos mengaku, jika ia adalah CEO A& Grup, sekaligus pemilik A& Hotel. Kairos meminta Luciano untuk tidak khawatir akan masa depan Isobelle ataupun Sean. Ia akan selalu berusaha menyenangkan dua orang terpenting dalam hidupnya itu.
Mendengar perkataan Kairos, Luciano tersenyum puas. Ia tidak sangka, jika Putrinya yang melarikan diri dari pria pilihannya akan bertemu pria baik dan sangat bertanggung jawab seperti Kairos.
"Tolong jaga putriku, ya. Sekarang hanya dia yang aku miliki," kata Luciano berpesan.
"Pasti. Anda tidak perlu khawatir," kata Kairos.
"Oh, ya, bagaiamana kalau kamu ubah cara bicaramu. Jangan bicara formal padaku, dan memanggilku Anda. Aku kan buka Bossmu. Panggil aku, ehemm ... kamu bisa memanggilku Papa seperti halnya Isobelle." kata Luciano.
Kairos melebarkan mata. Ia pun tersenyum dan memanggil Luciano dengan sebutan "Papa" ssperti yang diinginkan Luciano.
Karana udara terasa semakin dingin, dan Luciano tidak mengenakan mantel, Kairos mengajak Luciano kembali masuk ke dalam rumah. Kairos khawatir, kalau terlalu lama Luciano akan terkena flu dan demam.
***
Saat makan malam bersama. Luciano mengatakan ingin bertemu Papa dan Mama Kairos.
"Apa orang tuamu sibuk?" tanya Luciano.
"Terkadang mereka sibuk," jawab Kairos.
"Papa mau apa bertemu Papa dan Mama Kairos?" tanya Isobelle.
Luciano menatap Isobelle, "Memangnya harus ada alasan khusus Papa bertemu orang tua dari menantu Papa?" tanya Luciano.
"Bu-bukan begitu. Hm ... sebenarnya beliau berdua belum tahu tentang kami yang sudah menikah. Beliau hanya tahu kami berkencan." jawab Isobelle sedikit gugup dan takut berbicara.
"Ah ... Kalau begitu, kalian tinggal mengakuinya dan menikah lagi saja. Mudah kan?" jawab Luciano.
Isobelle yang sedang minum pun tersedak setelah mendengar jawaban Papanya. Ide Luciano diterima Kairos. Ia mengatakan, jika mungkin sebaiknya seperti itu. Menawari Isobelle, apakah berkenan menikah kembali dengannya? dihadapan orang tuannya dan orang tua Isobelle?