CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 26. Emosi



Ada panggilan masuk dari nomor asing yang tidak dikenal. Karena dirasa penting, Isobelle pun menerima panggilan itu. Bak tersambar petir, panggilan masuk yang ia terima adalah panggilan dari Papanya. Isobelle langsung mengenali suara sang Papa begitu menerima panggilan.


"Hallo, Isobelle ... " kata seseorang di ujung panggilan.


"Pa-Papa?" batin Isobelle membulatkan matanya.


Isobelle terpaku, ia tidak sangka Papanya akan bisa mendapatkan nomor ponselnya.


Luciano Williams, adalah Papa Isobelle dan Arabella. Ia adalah sosok Papa yang keras dalam mendidik putri-putrinya. Setelah kepergian Arabella dari rumah, Isobelle menjadi korban selanjutnya dari keegoisan sang Papa. Isobelle dijodohkan dengan orang yang salah. Bukannya hidup nyaman, nyawa Isobelle seolah terancam. Masih teringat jelas dikepala Isobelle, saat ia menerima dengan terpaksa perjodohannya dengan Alexander. Demi keluarganya, terlebih demi kemakmuran bisnis Papanya. Isobelle rela menghapus impiannya menjadi seorang model. Sayangnya takdir lebih memihak pada Isobelle. Disaat Isobelle berhasil pergi dan meninggalkan semuanya, termasuk mantan tunangan dan keluarganya, ia berhasil mewujudkan mimpinya. Ia menjadi top model yang banyak membintangi majalan, iklan dan produk-produk lain.


Luciano dan Isobelle berbincang. Saat ditanya Luciano dapat nomor ponselnya dari siapa? Luciano tidak menjawab dan malah balik bertanya. Apa yang sudah Isobelle lalukan. Bagaimana bisa ia pergi begitu saja tanpa memberitahu satu informasi sekecil apapun.


"Kamu ini bukan lagi anak-anak, Iso. Jangan melakukan hal yang memalukan seperti ini!" sentak Luciano.


"Tapi ... " kata Isobelle terjeda.


Baru saja Isobelle ingin bicara, perkataannya dipotong sang Papa. Papanya ingin Isobelle kembali dan segera menikah dengan Alexander.


"Kembalilah dan segera menikah dengan Alexander. Papa tidak mau dengar alasan apapun. Paham?" sela Luciano tidak mau tahu.


Isobelle terkejut, ia sampai tidak bisa bicara karena terlalu kaget. Papanya tidak tahu saja, alasan utama Isobelle pergi melarikan diri adalah karena Alexander.


"Apa? bagaimana bisa Papa ... " batin Isobelle tidak senang.


Tidak tinggal diam, Isobelle langsung menolak keras. Isobelle mengatakan, jika ia tidak mau menjadi boneka hidup keluarganya. Bahkan Isobelle mengungkit perginya Arabell dari rumah sampai Isobelle menangis dan menyampaikan, jika Arabella sudah meninggal.


"Jangan pernah mengekang Isobelle lagi, Pa. Isobelle akan menjalani kehidupan Isobelle sendiri. Bukan atas perintah atau keinginan Papa. Iso tidak ingin menjadi seperti Kak Ara." kata Isobelle dengan mata memerah.


"Apa Papa tahu, jika Kak Ara sudah meninggal? Kakak kecelakaan dan nyawanya tidak terselamatkan," lanjut Isobelle berkaca-kaca.


"Ara? kenapa kamu harus menyebut anak durhaka itu? Mati pun bukan urusanku lagi! Kamu jangan lagi membicarakannya. Papa tidak peduli pada seseorang yang bernama Arabella. Dengar ini baik-baik, Iso, Arabella sudah bukan lagi anggota keluarga kita. Hanya kamu satu-satunya putri Luciano Williams. Mengerti?" sentak Luciano kesal.


Bukanya sedih mendengar kabar duka dari putri sulungnya, Luciano justru marah dan membentak Isobelle. Ia mengatakan, jika Arabella tidak ada hubungan lagi dengan keluarga Williams. Dengan kata lain Luciano telah mencoret nama Arabella dari daftar nama anggota keluarganya.


Isobelle menjerit. Ia mengamuk. Ia bahkan mengatai Papanya adalah seorang yang jahat dan kejam. Papa berhati dingin yang tidak mau tahu isi hati anaknya.


" ... Papa jahat! Isobelle benci Papa!" teriak Isobelle dengan tubuh gemetar.


Luciano terus mendesak Isobelle kembali. Ia bahkan mengancam Isobelle, jika tidak patuh dengan perintahnya.


"Berhentilah berteriak dan kembali ke rumah. Jangan sampai kamu Papa coret dari daftar anggota keluarga." kata Luciano mengancam Isobelle.


Bukan Isobelle namanya, jika ia tidak menentang. Dulu memang ia masih lugu dan polos, setelah pergi dari rumah dan hidup mandiri, ia menyadari sesuatu. Hidup seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri. Bukan orang lain. Begitu juga langkah dan arah jalannya. Karena yang merasakan diri kita sendiri, bukan orang lain.


"Begitu, ya? Inikah sifat asli Papa, ahh ... maksudku Tuan Luciano Williams? Terserah saja. Lalukan sesuai kehendak Anda, Tuan. Saya tidak peduli!" kata Isobelle meneteskan air mata. Ia sangat menahan diri agar tidak menangis.


"Aaaaa ... Nyonya! apa yang sudah Anda lakukan?" kata Enny.


Enny berlari dan langsung menyingkirkan tangan Isobelle dari pisau. Enny segera mencuci tangan Isobelle. Darah segar Isobelle bercucuran, tapi Isobelle hanya diam.


"Nyonya ... ba-bagaimana ini? tangan Anda terluka." gumam Enny panik saat melihat darah Isobelle masih deras keluar dari luka.


Sementara itu panggilan masih terhubung. Luciano bertanya siapa yang menjerit. Dan Isobelle menjawab, tidak perlu tahu. Luciano mengatakan, patuh pada ucapan orang tua adalah tanda bakti anak. Jika Isobelle ingin menjadi anak baik, ia harus patuh dan kembali.


"Maka dari itu, jadilah anak baik, ok." kata Luciano membujuk Isobelle.


Isobelle tersenyum masam, ia serasa ingin menghancurkan meja dapur karena kesal. Tanpa sadar tangan Isobelle mengepal. Membuat darah tanpa henti mengalir. Membuat Enny semakin panik.


"Nyonya ... " gumam Enny berusaha melonggarkan genggaman tangan Isobelle.


Isobelle lantas bertanya, apakah ia akan dihukum, jika ia tidak patuh. Bagaimana, jika ia tidak ingin kembali?


"Apa aku benar-benar akan mendapatkan akibat dari perbuatanku? hukuman berat dari sekedar dicoret dari daftar anggota keluarga?" tanya Isobelle.


Luciano langsung menjawab, apakah Isobelle sudah siap seperti Arabella? hukuman bagi seorang pengekang adalah diusir dari rumah dan pemutusan hubungan keluarga.


" ... Tidak ada toleransi untuk kesalahan sekecil apapun. Susah payah Papa membesarkanmu. Jangan buat Papa kecewa, Isobelle." kata Luciano.


Isobelle kaget sesaat. Ia langsung menjawab tanpa berpikir, jika ia bersedia menerima semua hukuman karena sampai matipun ia tidak akan kembali. Isobelle langsung mengakhiri sepihak panggilan Papanya dan menangis histeris.


"Jahat! bisa-bisanya membuang begitu saja darah dagingnya sendiri. Dia bukan manusia. Dia iblis!" batin Isobelle geram.


Enny panik dan ketakutan. Ia bahkan khawatir dengan luka Isobelle, karena darah Isobelle tidak mau berhenti.


"Nyonya, tenanglah!" kata Enny.


"Sa-saya akan telepon rumah sakit agar mengirim mobil ambulan. Oh, tidak. Apa sebaiknya menghubungi Tuan?" kata Enny lagi kebingungan.


Tepat sekali, Kairos pulang dan melihat apa yang terjadi. Ia sangat kaget saat tahu Isobelle terluka bahkan sampai mengeluarkan banyak darah.


"Iso ... " panggil Kairos.


Buru-buru Kairos mengambil sebuah handuk kecil di laci dapur dan membungkus telapak tangan Isobelle dengan itu.


"Bi, tolong jaga Sean. Saya akan bawa Isobelle ke rumah sakit." kata Kairos menatap Enny.


"Ba-baik, Tuan. Hati-hati di jalan." jawab Enny masih ketakutan.


Kairos langsung menggendong Isobelle pergi dari rumah untuk segera dibawanya ke rumah sakit. Ia khawatir, terjadi sesuatu pada Isobelle. Wajah Kairos terlihat panik, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.