CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 43. Kegilaan Alexander



Alexander menghubungi Joshua, tapi nomor Joshua masih tidak aktif. Sudah lebih dari seminggu Joshua tidak ada kabar beritanya. Membuat Alexander kesal karena ia harus menunggu untuk mendapatkan informasi tentang Isobelle.


Alexander sampai datang ke kantor Joshua hanya untuk mencari Joshua yang tidak bisa ia hubungi. Dengan menyamar sebagai pekerja kebersihan perusahaan, Alexander berusaha mencari tahu informasi tentang keberadaan Joshua pada beberapa orang yang ia temui.


Sayang sekali. Usaha Alexander sia-sia saja. Nyatanya Joshua telah mengundurkan diri perusahaan tanpa doketahui alasannya. Yang tahu alasan berhentinya Joshua adalah Direktur Agensi. Mengetahui ingormasi itu, membuat Alexander marah besar. Ia merasa sudah dipermainkan oleh Joshua.


"Bedebah itu berani sekali mempermainkanku. Lihat saja kalau aku berhasil menemukanmu." batin Alexander marah.


Alexander pun pergi meninggalkan gedung kantor Joshua. Saat berada di luar gedung kantor, ia menatap sekeliling, lalu pergi. Baru saja beberapa langkah ia pergi, ia melihat sosok yang tidak asing. Ya, ia melihat Joshua sedang bersembunyi. Kemungkinan Joshua ingun masuk ke dalam gedung, tapi ada sesuatu hal yang menahannya dan ia berdiri dibalik pepohonan tak jauh dari gedung kantor.


"Aha ... akhirnya aku menenhkanmu, bodoh!" gumam Alexander tersenyum


Melihat ada seseorang yang dicarinya. Tentu saja Alexander senang. Ia berjalan perlahan mendekat ke arah Joshua. Ia harus mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Joshua. Begitu dekat, ia langsung membekap mulut Joshua dan membawanya pergi.


***


Joshua di bawa Alexander ke apartemennya. Tangan dan kaki Joshua diikat. Joshua meminta pada Alexander agar melepaskanya, tapi Alexander menolak. Alexander tersenyum, menginjak kaki Joshua. Ia pun mengungkapkan kekecewaannya pada Joshua. Tidak hanya kaki, Alexander juga menginjak tangan Joshua sampai Joshua menjerit kesakitan.


"Dasar bedebah sialan! Kamu berani sekali mempermainkanku, hah? kamu tidak tahu siapa aku, ya? Kamu mau mati? dasar bodoh! Bodoh! Bodoh! Kaju membuatku kesal, dasar bodoh!" Kata Alexander mengumpati Joshua sembari menyiksa Joshua.


"Aaaaaahh .. hentikan aku mohon. Hentikan!" kata Joshua memohon.


"Rasakan ini. Dasar bodoh!" gumam Alexander.


"Aaaaahh ... sa-sakit! sakit!" Teriak Joshua.


Karena teriakan Joshua kencang dan tidak ingin orang luar mendengar jeritan Joshua, Alexander pun menyumpal mulut Joshua dengan kain. Membuat Joshua hanya bisa bergumam-gumam tidak jelas. Melihat Joshua tak berdaya, membuat Alexander senang.


"Hahaha ... rasakan akibat dari mempermainkanku, sialan!" ucap Alexander merasa puas.


Joshua sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuknya. Ia tahu jelas, apa yang akan Alexander lalukan padanya karena melarikan diri dan bersembunyi. Alexander sudah pasti marah besar. Benar saja, ia sudah dibawa ke tempat yang tidak diketahui  dan diikat. Betikutnya, ia pasti disiksa karena sudah bersikap tidak patuh.


Benar saja pemikiran Joshua. Alexander menyiksanya dengan menempelkan catokan yang sudah dipanaskan ke tangan dan kakinya. Membuat tangan dan Kaki Joshua melepuh. Suara jeritan Joshua sama sekali tidak terdengar karena mulutnya tersumpal kain. Tubuh Joshua hanya bisa menggeliat seperti cacing dengan wajah memerah karena kesakitan.


"Hahaha ... hahaha ...."


"Aku sangat puas bermain dengamu seperti ini. Hahaha ...."


Alexander tertawa keras. Ia tidak peduli pada rasa sakit yang dialami Joshua. Baginya itu adalah sebuah hukuman karena Joshua sudah membuatnya marah. Alexander terus menyiksa Joshua. Sampai tangan kiri dan kaki kiri Joshua penuh luka.


"Rasakan ini, sialan!" gumam Alexander.


Joshua yang tidak tahan dengan siksaan Alexander hanya bisa menangis dan merintih kesakitan tanpa suara. Tubuhnya berguling-guling di lantai karena ia sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit. Meksi begitu Alexander tidak menghentikan siksaannya. Ia malah semakin senang bisa menyiksa Joshua sepuasnya.


Sembari menyiksa, Alexander terus mengingatkan Joshua. Kalau saja Joshua mau menurut, ia tidak akan diperlakukan tidak baik seperti saat ini. Alexander terus bersabar dan menahan diri selama ini. Ia berusaha untuk tidak emosiomal dan menekan keinginannya untuk marah. Karena kalau sudah marah, ia pasti akan menggila.


***


Sementar itu, di negara di mana Adik Joshua tinggal. Jessica (Adik Joshua) diganggu oleh orang suruhan Alexander. Jessica hendak dilecehkan. Karena ada kesempatan, Jessica mendorong pelaku dan kabur. 


Penculik yang menyandera Jessica pun mengambil foto Jessica yang berantakan, sengaja menarik paksa pakaian Jessica hingga robek. Foto-foto Jessica dikirim seseorang itu pada Alexander.


***


Alexander tertawa lebar menatap layar ponselnya. Ia melihat foto-foro Jessica yang menyedihkan dan kacau.


"Aku sangat senang melihat ini. Hahaha ..." katanya tertawa lebar.


Tidak sabar menunggu lagi, Alexander langsung mendatangi Joshua dan menunjukkan foto Jessica dihadapan Joshua.


"Hei, bodoh! Lihatlah ... bagaimana menurutmu? Dia sangat cantik dan menggemaskan, bukan?" kata Alexander menatap Joshua.


Alexander tertawa, melihat ekspresi wajah Joshua yang terkejut. Mata Joshua melebar, dahinya juga berkerut. Joshua pun marah pada Alexander, tapi tidak bisa mengumpat karena mulutnya disumpal kain.


Joshua hanya bisa mengerang-erang dan meronta. Wajahnya merah, sampai otot lehernya terlihat. Joshua tampak benar-benar marah.


"Sialan! Bedebah gila sialan!" batin Joshua mengumpat.


Alexander menarik rambut Joshua kasar, "Ada apa? apa kamu mengumpatiku dalam hatimu? hahh ... telingaku gatal mendengarnya. Hahaha ..." Kata Alexander.


Joshu menatap tajam pada Alexander. Ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah Alexander yang ada di hadapannya.


"Lihat saja, aku akan membunuhmu!" batin Joshua.


Ponsel Alexander berdering. Ternyata ada panggilan masuk yang berasal dari orang-orang suruhan Alexander. Melihat panggilan masuk di ponselnya, Alexander lagi-lagi mengejek Joshua.


"Wah, lihat ini. Orangku menghubungi, pasti mereka ingin bertanya, apa yang harus dilakukan pada gadis itu. Menurutmu, aku harus menjawab apa? Haruskah aku minta mereka untuk ... " kata-kata Alexander terhenti.


Amarah Joshua semakin membara, karena Alexander terus saja memancing emosi Joshua.


"Hmmm ... mmmm ... " gumam Joshua ingin sumpalan di mulutnya dilepas.


Alexander mendekati Joshua, "Kenapa? ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Alexander.


Joshua menganggukkan kepala. Melihat itu Alexander pun menarik kain yang menyumpal mulut Joshua. Ingin mendengar apa yang Joshua sampaikan padanya.


"Katakan, apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Alexander manatap dingin.


"Tolong jangan lakukan apapun pada Adikku. Aku mohon!" kata Joshua memohon.


"Apa? aku tidak dengar apa-apa," kata Alexander mempermainkan Joshua.


"Tolong jangan lakukan hal-hal yang akan merusak masa depan Adikku. Aku mohon. Aku akan lakukan apapun untukmu. Aku berjanji," kata Joshua dengan wajah ketakutannya.


Joshua takut, Alexander akan menyakiti Adiknya. Alexander adalah orang gila yang bisa melakukan apa saja hanya dengan jentikan jari atau perintah. Jika sampai Alexander memerintahkan orangnya melukai atau berbuat sesuatu yang merugikan Jessica, maka Joshua akan sangat sedih sekaligus merasa bersalah.