
Isobelle dan Kairos saling menatap. Kairos membantu Isobelle berdiri seimbang dan melepaskan pelukan dipinggang Isobelle.
"Ma-maaf. Aku tidak bermaksud menyentuhmu tanpa sengaja," kata Kairos tidak ingin disalah pahami Isobelle.
"Tidak apa-apa. Berkatmu aku tidak jatuh. Terima kasih," jawab Isobelle canggung.
Keduanya saling diam. Larut dalam pikiran masing-masing. Isobelle melirik ke arah Kairos sebentar, lalu memalingkan pandangan ke arah lain. Ia mengambil gelas beriri wine dan meminumnya.
"Ehemm ... " dehem Isobelle.
"Malam ini sunyi sekali. Di luar ada bintang atau tidak, ya?" gumam Isobelle ingin mencairkan suasana yang beku.
Isobelle berjalan perlahan menuju halaman belakang melewati dapur. Kairos melihat Isobelle pergi, ia pun mengikuti Isobelle.
***
Di halaman. Isobelle menadahkan kepala. Ia melihat langit malam penuh bintang malam itu. Senyumnya pun mengembang.
"Wah, ada bintang ... " gumam Isobelle.
Kairos juga menadahkan kepala menatap langit. Malam itu memang banyak bintang bertaburan. Angin berembus sepoi menerpa wajah Kairos dan Isobelle.
"Kamu suka bintang?" tanya Kairos dengan
"Suka sekali. Kamu tahu, dulu sewaktu aku masih kecil, aku punya keinginan menjadi bintang. Jauh dijangkauan, tapi terlihat indah dan dinantikan." jawab Isobelle.
"Bukankah kamu sekarang juga seorang bintang? Bintang yang menyinari dunia," sahut Kairos.
Ucapan Kairos mengejutkan Isobelle. Membuat Isobelle malu dan wajahnya memerah. Isobelle menatap sebentar ke arah Kairos yang berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap langit malam.
"Pujianmu berlebihan, Kai. Bintang yang kamu katakan dan yang aku impikan berbeda. Oh, ya, soal bekas lipstik itu ... kita lupakan saja. Kamu juga tidak perlu membuktikan apa-apa," kata Isobelle tiba-tiba.
"Tidak. Aku tetap harus membuktikannya. Setelah aku ingat-ingat, sepertinya memang itu hanya kesengajaan. Aku punya bukti rekaman kamera pengawas saat aku datang dan pergi dari Hotel. Bahkan saat aku makan di restoran Hotel. Hanya saja ... " jelas Kairos yang tiba-tiba diam.
"Hanya apa?" tanya Isobelle manatap Kairos.
"Sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak menceritakan ini, karena aku merasa ini tidaklah penting untuk diceritakan. Karena aku tidak mau ada salah paham diantara kita, lebih baik aku ceritakan saja. Sebenarnya aku bertemu seseorang di Hotel. Dia ... dia ... (Kairos menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas) dia adalah seorang wanita. Lebih tepatnya mantan kekasihku dulu. Dan noda lipstik itu adalah miliknya. Kami bertabrakan saat aku hendak ke kamar mandi. Dia buru-buru, tidak melihat jalan. Aku tidak sadar ada noda yang tertinggal, meski aku masuk ke kamar mandi untuk cuci tangan. Mungkin karena aku juga buru-buru karena harus menerima panggilan, aku tidak sempat melihat cermin. Itu yang bisa aku katakan. Apa kamu masih belum bisa percaya? kita bisa ke ruang kerjaku, dan lihat rekaman kamera pengawas di Hotel." jelas Kairos panjang lebar.
Isobelle menatap lekat Kairos, "Maksudnya tidak penting? apa takut aku berpikiran yang tidak-tidak? atau hal lain?" tanya Isobelle.
"Pertama seperti yang kamu katakan. Kedua, aku punya alasan sendiri. Dia bukan orang yang perlu aku ingat lagi. Aku menganggap pertemuan kami hanyalah sebuah kebetulan saja," jawab tegas Kairos.
Isobelle menganggukkan kepala. Ia mengatakan, jika ia sudah memaafkan Kairos bahkan tanpa penjelasan Kairos. Isobelle tidak ingin dipandang oleh Kairos sebagai wanita jahat yang egois, dan meminta maaf pada Kairos. Karena terlalu emosional dan tidak berpikir jernih, Isobelle dengan mudahnya marah.
Kairos mengatakan, wajar saja Isobelle marah. Jika ia jadi Isobelle, ia pasti akan lebih emosional. Kairos mengerti kekhawatiran Isobelle. Ia menyakinkan Isobelle, jika hanya Isobelle lah wanita yang ada disisinya. Baik untuk saat ini, esok dan seterusnya. Karena Isobelle adalah satu-satunya istrinya, sekaligus Ibu bagi Sean.
Keduanya saling menatap dan saling melempar senyuman. Isobelle terlihat cantik, membuat jantung Kairos berdegup kencang.
"Kenapa aku jadi berdebar?" batin Kairos.
Melihat wajah merah Kairos, Isobelle pun meletakkan tangannya ke dahi Kairos. Ia mengira Kairos demam. Tentu saja itu membuat Kairos terkejut, dan memegang tangan Isobelle yang menyentuh dahinya.
"Apa kamu sakit?" tanya Isobelle menatap Kairos.
"Ti-tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Kairos menurunkan tangan Isobelle dari dahinya.
Isobelle menatap tangannya, "Kamu ingin mengatakan hal lainnya?" tanya Isobelle.
Kairos terkejut. Ia segera melepaskan tangan Isobelle dan meminta maaf karena lagi-lagi menyentuh Isobelle tanpa izin. Isobelle pun tertawa, ia tidak menyalahkan Kairos, lagipula sentuhan ringan tidak masalah. Yang berbahaya adalah sentuhan fisik yang lebih intens. Semisal ciuman bahkan lebih dari itu.
Lagi-lagi Isobelle menggoda Kairos. Ia mengatakan, jika Kairos tidak mungkin ingin menciumnya, kan? Candaan Isobelle membuat wajah Kairos semakin memerah karena malu. Tidak berhenti sampai di situ, Isobelle memberanikan diri menggodai Kairos lebih dari sebelumnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kairos. Isobelle mengira Kairos tidak mungkin berani melakukan apa-apa padanya. Sampai tiba-tiba Kairos mencium bibir Isobelle dan membuat Isobelle terkejut sehingga gelas yang dipegangnya jatuh dan pecah.
"Umh ... " gumam Isobelle melebarkan mata.
"Apa ini?" batin Isobelle.
Kairos melepas ciumannya, "Jika tidak mau, tampar saja wajahku. Aku tidak bisa mengendalikan diri lagi," kata Kairos menatap Isobelle.
Isobelle hanya bisa tertegun dengan bibir setengah terbuka. Sejujurnya ia tidak benci dicium Kairos, hanya terkejut saja.
"Iso ... " panggil Kairos mengusap wajah Isobelle.
"Ya?" jawab Isobelle.
Kairos mendekatkan wajahnya ke wajah Isobelle dan mengecup kening Isobelle. Kecupan turun ke hidung Isobelle. Kecupan pindah ke pipi kiri dan kanan Isobelle, lalu turun ke dagu Isobelle. Bisa dirasakan oleh Isobelle kelembutan kecupan Kairos.
"Apa kami akan berciuman lagi?" batin Isobelle berdebar.
Isobelle menatap Kairos, "Apa kamu akan menciumku lagi?" tanya Isobelle.
"Itu pertanyaan atau permintaan?" tanya Kairos tersenyum, menggoda Isobelle.
"I-itu ... itu ... keduanya," jawab Isobelle menunduk malu dengan wajah merona.
"Aku tidak tahu. Apa ini pengaruh alkohol, suasana atau memang ingin melakukannya. Yang jelas aku tidak bisa menahan diri saat ini. Jadi ... bolehkah aku menciummu, Isobelle?" tanya Kairos menatap Isobelle dalam.
Isobelle mengalungkan tangamnya ke leher Kairos, "Lakukan saja. Jangan menahan diri," jawab Isobelle dengan suara lembut.
Kairos menahan tengkuk leher Isobelle dengan tangan kanan, dan tangan kirinya melingkar di pinggang ramping Isobelle. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Isobelle. Mempertemukan bibirnya dengan bibir Isobelle. Mereka pun berciuman mesra. Isobelle menutup kedua matanya, merasakan sensasi ciuman Kairos.
"Apa ini mimpi? atau kenyataan? entahlah, aku pikir aku sudah gila." batin Isobelle.
Isobelle merasakan darahnya mendidih. Sudah lama sekali sejak ia putus dari Alex. Ia sama sekali tidak pernah berciuman dengan pria manapun. Dengan Alex pun karena dipaksa dan diancam. Makanya ia sangat menghindari kontak fisik dengan laki-laki. Hanya saja kali ini sepertinya ia sungguh mabuk dan tak kuasa menahan diri seperti Kairos.