CEO and Top Model's Secret Wedding

CEO and Top Model's Secret Wedding
Bab 22. Terbangun di Ranjang Kairos



Keesokan harinya. Isobelle terbangun di tempat tidur Kairos. Ia pun sangat terkejut.


"Ahh ... tidak! Di mana aku tidur semalam?" batin Isobell


Ia melihat sekeliling kamar. Ia sadar berada di kamar yang salah. Ia tidur di ranjang Kairos. Isobelle melihat sekelilung, namun Kairos tidak terlihat.


"Dia tidak ada, kan? lebih baik aku cepat kabur. Oh, Isobelle ... bisa-bisanya kamu tidur di tempat tidur orang lain." batin Isobelle, keluar dari dalam selimut.


Baru saja Isobelle ingin turun dari tempat tidur, Kairos keluar dari kamar mandi dan menyapa Isobelle.


"Iso ... kamu sudah bangun?" tanya Kairos.


Kairos berjalan mendekati Isobelle, ia bertanya apakah Isobelle baik-baik aja atau ada yang tidak nyaman?


"Semalam kan kamu minum banyak sekali. Apa kepalamu pusing?" tanya Kairos lagi.


Isobelle terkejut, ia terdiam tak bisa berkata-kata. Isobelle baru menyadari, jika ia sudah berganti pakaian tidurnya. Ia pun bertanya apa hal yang terjadi, dan siapa yang mengganti pakaiannya.


"Apa Enny yang melakukannya?" tanya Isobelle menatap Kairos.


Kairos menjawab, jika Isobelle menumpahkan air minum dan Kairos lah yang mengganti pakaian Isobelle. Tentu saja jawaban Kairos membuat Isobelle semakin kaget.


"Hah? kamu yang mengganti pakaianku? jangan bilang kamu ... aaaaaah gila!" seru Isobelle berteriak.


Isobelle diam sejenak. Ia kembali mengingat-ingat apa hal yang terjadi semalam. Dalam ingatan Isobelle, ia dan Kairos sedang berciuman. Kairos menggendong Isobelle ke ruang tengah, tapi Isobelle minta digendong ke kamar. Isobelle ingin bersama Kairos semalaman. Saat ingin minum, Isobelle juga ingat ia menumpahkan air, setelah itu  ia tertidur dan tidak tahu apa yang terjadi.


"Gila, gila, gilaaaaa! Isobelle kamu sudah gila. Bisa-bisanya kamu seceroboh ini. Apa Kairos melihat semuanya? Tu-tubuhku? Tidak, tidak, tidak boleh." batin Isobelle memeluk diri sendiri.


Isobelle lantas bertanya lagi, apakah selama tertidur ia melakukan hal aneh?


"Katakan sejujurnya. Saat tidur aku tidak melakukan hal aneh kan?" tanya Isobelle manatap Kairos tajam, meski sebenarnya ia malu.


Kairos mendekatkan wajahnya ke wajah Isobelle dan balik bertanya, "Hal aneh apa? Coba sebutkan kemungkinan yang kamu lakukan," Kairos tersenyum pada Isobelle.


Ia meminta Isobelle memberikan contoh hal aneh yang dimaksud. Sebenarnya Kairos sengaja ingin menjahili Isobelle.


Wajah Isobelle memerah. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi setelah ia tertidur. Ia hanya takut telah membuat masalah, sehingga menyusahkan Kairos.


"Apa yang kulakukan? sepertinya tidak mungkin aku macam-macam. Apa aku mendengkur, atau mengigau?" batin Isobelle bingung.


Isobelle kembali bertanya, apakah ia dan Kairos sungguh tidak melakukan apa-apa selain berciuman?


"Kita tidak melakukannya, kan? kita hanya ber ... ciuman, kan?" tanya Isobelle gelisah.


Kairos tersenyum lagi, ia pun menjawab, jika Isobelle sudah menerkamnya sesaat sebelum tidur.


"Kamu seperti harimau kelaparan," kata Kairos.


Isobelle menatap Kairos, bertanya apa maksud dari kata "menerkam" dan Kairos pun menunjukkan lehernya yang merah karena digigit Isobelle.


"Bagaimana? jika seperti ini, apa boleh aku menuntut pertanggung jawaban?" tanya Kairos menyentuh lehernya.


Seketika Isobelle tersentak, ia memalingkan pandangan dari leher Kairos dan meminta maaf.


"Ma-maaf .... aku tidak sadar sudah melakukannya. Ahhh, ini benar-benar mimpi buruk. A-aku pergi saja," kata Isobelle.


Ia segera turun dari tempat tidur Kairos dan berlari pergi keluar kamar karena merasa malu.


Keiros menatap kepergian Isobelle sambil tersenyum. Ia merasa senang sudah berhasil menjahili Isobelle, meski kenyataan Isobelle menggigit lehernya adalah kenyataan.


***


"Isobelle, fokuslah. Saat bekerja pikiranmu tak boleh teralihkan, jika tidak kamu akan ditegur." bisik Hans. Yang berdiri di samping Isobelle. Hans dan Isobelle malakukan pemotretan bersama.


Hans meminta Isobelle untuk fokus bekerja dulu dan memikirkan hal lain setelah selesai kerja. Isobelle tersentak, ia pun berusaha fokus dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.


"Ok, kerja bagus semua. Kita istirahat dulu satu jam. Perbaikin make up kalian," kata fotografer pada Hans dan Isobelle.


Isobelle dan Hans menjawab serentak, "Ya," jawab keduanya.


Isobelle pergi ke ruang ganti untuk istirahat sekalian memperbaiki riasan. Sedangkan Hans ingin mencari angin segar dulu baru ke ruang ganti.


***


Saat berada tak jauh dari parkiran. Hans secara tidak sengaja memergoki gerak-gerik mencurigakan dari Joshua.


"Itukan Manager Isobelle. Apa yang dia lalukan? seperti sedang nenunggu seseorang," batin Hans.


Terlihat Joshua bertemu seorang pria misterius. Pria misterius itu menyerahkan sebuah amplop cokelat pada Joshua. Setelah merasa situasi aman dengan melihat kiri-kanan, baru Joshua menerima pemberian si pria misterius.


"Pria itu memberikan apa pada Joshua? mencurigakan sekali," batin Hans.


Hans merasa ada yang aneh, ia ingin mengikuti si pria misterius yang langsung pergi setelah bertemu Joshua, tetapi ia tiba-tiba mendapatkan panggilan.


"Ah, sial! kenapa harus sekarang?" gumam Hans mengumpat kesal.


Melihat panggilan dari Direktur agensi, mau tak mau Hans mengurungkan niatnya dan lebih memilih menerima panggilan tersebut.


***


Setelah menerima amplop pemberian seseorang yang misterius, Joshua pun pergi. Ia segera menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Joshua melakukan sebuah panggilan. Baru beberapa saat berbincang, Joshua yang emosi langsung marah pada seseorang di ujung panggilan.


"Apa kamu gila? mana mungkin aku bisa melakukannya?" sentak Joshua.


"Oh ... kamu menolak permintaanku, ya?" kata seseorang di ujung panggilan.


Joshua membuka amplop cokelat ditangannya, "Apa kamu minta aku memberikan ini pada Isobelle?" tanya Joshua.


"Ya, berikan itu padanya." jawab lawan bicara Joshua.


"Mau sampai kapan kamu terus mengirim surat ini padanya? Isobelle sudah mencurigaimu dan aku tidak akan lagi bisa menutupi semuanya," kata Joshua.


"Bedebah ini. Kamu itu seharusnya membantuku, bukan menceramahiku. Dengar baik-baik, Joshua. Aku sudah menyelamatkan nyawa Adikmu, kan. Sekarang tiba waktunya kamu membalas kebaikanku. Jangan banyak bicara, jangan pula berkomentar. Lakukan saja apa yang kuperintahkan. Dasar sialan!" kata seseorang di ujung panggilan mengumpati Joshua.


Joshua mengernyitkan dahi. Ia memegang amplop erat-erat seakan ingin merobeknya. Joshua sakit hati akan perkataan lawan bicaranya, tapi ia tidak bisa apa-apa selain diam mendengar makian dan umpatannya.


"Hei, kamu dengar tidak? jawab aku, sialan!" sentak lawan bicara Joshua.


"Ya, baiklah. Aku akan lakukan sesuai keinginanmu." jawab lirih Joshua.


"Bagus. Kabari aku kalau sudah memberikannya," kata seseorang itu mengakhiri panggilan secara sepihak.


Jishua membanting amplop cokelat yang dipegangnya ke kemudi stir. Ia yang kesal pun mengumpat.


"Sialan! bisa-bisanya dia terus mengancamku. Andai saja aku lahir dari keluarga berkecukupan, aku tidak perlu melakukan hal-hal busuk dan rendahan seperti permintaannya. Aku membencinya. Sangat membencinya," batin Joshua.


Ponsel Joshua bergetar. Ia mendapatkan pesan dari Isobelle yang ingin tahu di mana Joshua berada. Isobelle memanggil Joshua ke ruang ganti karena ada yang ingin ditanyakan. Joshua diam sesaat, ia lantas membalas pesan Isobelle. Ia mengatakan akan datang dalam lima menit. Joshua menyimpan amplop cokelat ke dalam tasnya yang ada di mobil, ia lantas turun untuk segera menemui Isobelle.