
Kairos bercerita, jika Agnes datang ke kantornya. Ia meminta Joel menemui Agnes untuk bertanya apa tujuannya datang. Kairos menerangkan, saat ditanya Agnes justru marah dan membuat keributan sehingga terpaksa diusir.
"Aku tidak tahu lagi harus bicara apa. Bisa-bisanya dia seperti itu," imbuh Kairos.
Isobelle bertanya, apakah Agnes datang untuk menemui Kairos secara pribadi? Kairos menjawab dengan anggukan kepala.
Isobelle lantas bergumam, ia mengatakan sepertinya Agnes ingin kembali mengejar Kairos. Kairos yang mendengar gumaman Isobelle pun lantas menepis, ia mengatakan pada Isobelle untuk tidak berpikir yang bukan-bukan.
"Apa yang kamu pikirkan? itu tidak mungkin," sanggah Kairos.
"Tidak mungkin apanya? kalau sampai dia datang ke kantormu dan ingin menemuimu, pasti ada yang dia inginkan, kan? tidak mungkin tanpa tujua dia datang." jelas Isobelle menatap Kairos.
"Ya, anggap saja begitu. Meski begitu aku tidak menemuinya. Jika memang dia ingin mengejarku pun, aku tak akan berpaling kepadanya. Di mataku hanya ada istriku seorang." jawab Kairos.
Isobelle menganggukkan kepala, "Ya, ya, ya. Itu baru jawaban yang benar. Suamiku memang keren. Ayo tidur, besok kita masih harus bekerja. Dahhh ... " kata Isobelle.
"Selamat tidur, Iso ... " ucap Kairos.
"Ya, selamat tidur juga, Kai." jawab Isobelle tersenyum cantik.
Kairos dan Isobelle berpisah jalan. Mereka kembali ke kamar masing-masing. Isobelle berbaring dan kembali memikirkan jawaban apa yang harus ia katakan esok pada Direktur agensinya.
Sedangkan Kairos memikirkan kata-kata Isobelle, yang mengatakan Agnes kembali ingin mengejarnya.
Kairos mengerutkan dahinya kesal, "Jika Agnes mengejarku sekarang. Semua sudah sangat terlambat. Aku sudah lupa cinta seperti apa yang dulu aku elu-elukan. Dan aku juga sudah tidak mau untuk menoleh ke belakang. Bagiku masa lalu tentang Agnes adalah sebuah kejadian yang perlu dikubur dalam-dalam." batin Kairos.
Kairos kembali berpikir, kenapa Agnes menjalin hubungan dengan pria lain? Kenapa tidak dengan Leon, sahabat baiknya dulu? Kairos baru menyadari hal itu saat ini.
"Kenapa aku baru menyadarinya, ya? apakah mereka sudah berpisah? setelah kejadian itu aku sama sekali tidak pernah tahu kabar keduanya karena aku tinggal di luar negeri," batin Kairos.
Meski demikian, itu bukan lagi urusannya. Mau dengan siapapun Agnes berhubungan.
"Apa yang kamu pikirkan, Kai? mau Agnes berhubungan dengan siapapun, itu bukan urusanmu. Lupakan saja, dia tidaklah penting." gumam Kairos menyadarkan diri dari pikiran tentang Agnes.
Pikiran Kairos teralihkan, ia memikirkan Isobele yang murung. Ia tidak tahu apa penyebab Isobelle murung. Melihat Isobelle seperti tertekan membuatnya tidak tenang.
"Semoga kamu bisa tidur nyenyak, Isobelle. Mimpi yang indah," batin Kairos. Berharap Isobelle dapat terlelap dan bermimpi indah.
***
Agnes dan Eddy bertengkar. Eddy kesal karena Agnes tidak menyelesaikan tugasnya dengan baik.
"Apa saja yang bisa kamu lakukan selain belanja dan bersolek, Agnes? Tidak bisakah kamu mebantuku dengan hal kecil?" tanya Eddy menatap dingin ke arah Agnes.
Agnes sudah menjelaskan, tapi ucapannya tidak dihiraukan oleh Eddy. Tidak mau pusing mendengar omong kosong Agnes, Eddy pun meminta Agnes menutup mulut.
"Tutup mulutmu! aku tidak mau dengar alasanmu. Yang aku mau kepastian dan keberhasilan, Agnes." kata Eddy.
Eddy meremat dagu Agnes dan menadahkan kepala Agnes sehingga pandangan Agnes lurus ke arah Eddy. Mata Eddy melebar, raut wajah penuh amarah dan nada suara yang dingin, membuat Agnes ketakutan.
"Ma-ma-maaf. Maafkan aku. Aku ti-tidak akan me-mengulanginya lagi. A-aku akan patuh dan berusaha ke-keras." kata Agnes terbata-bata karena ketakutan.
"Ohh ... mudah sekali jawabanmu, ya. Tadi apa saja yang kamu lakukan? kenapa baru sekarang kamu katakan itu, dasar wanita bodoh!" sentak Eddy kesal.
"Lalu aku harus apa lagi? aku sudah berusaha. Nyatanya usahaku sia-sia karena memang Kairos tidak bisa menemuiku. Kalau kamu tidak puas, silakan saja. Aku muak dengan tekananmu, Ed. Aku muak kamu maki dan kamu bentak. Lebih baik kita akhiri saja hubungan yang gila ini sampai di sini. Carilah seseorang lain yang bisa menerima semua perilaku burukmu." kata Agnes meluapkan semua isi pikirannya pada Eddy.
Plakkk ... Eddy yang tidak terima menampar Agnes tanpa diduga.
"Sialan! beraninya kamu mau melarikan diri dariku. Ingat, kamulah yang menggodaku lebih dulu waktu itu. Setelah seperti ini, kamu mau pergi bergitu saja? pikir dulu sebelum bicara. Jangan buat aku semakin kesal." kata Eddy.
Eddy pun pergi dari kamar tidur meninggalkan Agnes sendirian. Ia ingin menenangka pikirannya sejenak.
***
Keesokan harinya. Isobelle berada di ruangan Direktur hendak menyampaikan pendapatnya tentang tawaran. Ia gugup dan tegang. Ia menunggu kedatangan Direktur yang masih rapat dengan para stafnya.
"Kamu pasti bisa, Isobelle. Ayo, lakukan dengan baik." batin Isobelle. Mengatur napasnya berulang-ulang.
Setelah menunggu cukup lama, Direktur memasuki ruangan dan menyapa Isobelle.
"Hai, Iso. Maaf, membuatmu lama menunggu." kata Pak Direktur. Ia duduk di sofa, di hadapan Isobelle.
Tanpa basa-basi lagi, Isobelle menyampaikan apa yang ingin ia katakan. Isobelle tidak bisa menerima tawaran Direkturnya karena alasan pribadi yang tidak bisa ia katakan.
Mendengar penolakan dari Isobelle, membuat Direktur sedikit kecewa. Ia pun mengungkapkan rasa kecewanya pada Isobelle. Hanya saja Direktur tidak bisa memaksa kehendak Isobelle. Jika Isobelle menolak, apa boleh buat. Ia hanya bisa mencari orang lain dan menawarkan tawaran itu padanya.
Isobelle meminta maaf, ia bukannya ingin mengecewakan Direkturnya, hanya saja ia punya alasan yang lebih kuat. Isobelle mengatakaan, untuk sekarang ia tidak bisa mengambil pekerjaan yang mengharuskannya bepergian ke luar negeri. Setelah menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya, Isobelle pun berpamitan.
***
Di dalam bilik kamar mandi. Isobelle menanis tanpa suara. Ia merasa lega bercampur sedih, rasanya campur aduk. Meski demikian, ia tidak menyesali keputusannya.
"Kerja bagus, Iso. Kerja bagus ... " gumam Isobelle terisak.
Baginya Sean lebih penting dari semua impiannya. Ia akan bekerja secukupnya sembari melihat pertumbuhan Sean dari dekat. Ia tidak mau kehilangan momen berharganya bersama Sean. Ia juga tidak ingin serakah.
Isobelle menghubungi Kairos. Ia meminta Kairos diam mendengarkan ceritanya. Kairos mengiakan dan meminta Iasobelle bercerita. Kairos menambahkan, jika ia akan mendengarkan sepanjang apapun Isobelle akan bercerita. Isobelle tersentuh dengan pengertian Kairos. Ia merasa tenang dan mulai bercerita.
"Aku merasa lega sekarang. Tempat yang tadinya penuh sesak sampai membuatku ingin menjerit, kini telah kosong. Aku sudah melakukannya dengan baik, Kai. Aku tidak menerima tawaran itu." kata Isobelle.
Isobelle menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan.
"Sekarang, aku hanya akan bekerja secukupnya saja. Aku tidak ingin terlalu sibuk, karena mau melihat pertumbuhan Sean." imbuh Isobelle bercerita.
"Ha-hallo ... Kai?" panggil Isobelle.
"Ya, apa sudah selesai bercerita?" tanya Kairos memastika.
"Ya, sudah. Aku senang, juga sedih." jawab Isobelle.
"Jangan telalu dipikirkan. Apapun keputusanmu. Kamu melakukannya dengan baik hari ini. Semangat," kata Kairos memberi semangat pada Isobelle.
"Terima kasih. Pulang kerja belikan aku kue cokelat, ya. Aku ingin makan yang manis-manis agar tidak stres." pinta Isobelle.
Kairos mengiakan permintaan Isobelle. Tidak lama panggilan keduanya pun berakhir. Isobelle pun keluar dari bilik kamar mandi dan mencuci tangan di wastafel. Ia keluar dari dalam kamar mandi untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.