Blooming Life

Blooming Life
OO9. Toko Roti, Ponsel, dan Taksi Online



"Sebenarnya Mama gue udah meninggal, Lan." Mendengar hal itu, Bulan hanya bisa terdiam karena terkejut. Bintang tersenyum saat melihat ekspresi terkejut Bulan. Bintang berpikir bahwa Bulan ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya. "Enam tahun lalu, papa ngasih tau gue kayak gitu. Gue gak tau kenapa beliau meninggal, dan dikuburin di mana. Yang gue inget cuma ulang tahun, wajah, dan kenangan gue sama Mama. Jadi yang bisa gue lakuin buat inget Mama cuma dengan cara ini. Rayain ulang tahun Mama."


"Terus hadiah sebanyak tadi buat apa?" tanya Bulan masih dengan wajah bingungnya.


"Buat orang rumah. Buat art, satpam, sama sopir yang ada di rumah. Kalau Papa lagi di rumah juga sekalian, sih. Tapi sekarang Papa lagi di luar kota setau gue. Gak tau udah pulang atau belum, deh," jelas Bintang.


Tiba-tiba Bulan berdiri dari tempatnya lalu menghampiri Bintang hanya untuk menepuk-nepuk pundak lelaki itu. Kemudian Bulan kembali duduk di tempaynya. Bulan tersenyum pada Bintang, menampakkan lesung pipit yang indah. "Lo hebat banget dan kuat banget!"


Bintang mengangguk-anggukkan kepala sembari tersenyum lebar. Tanpa alasan yang jelas, Bintang sangat senang dipuji oleh seorang Bulan. "Makasih juga buat hari ini ya, Lan. Biasanya Farrel atau Dika yang bantuain gue. Tapi Farrel ada urusan keluarga dan Dika juga habis berantem sama gue. Jadi gue bersyukur banget ada lo."


"Siap, deh. Tapi jangan lupa janji lo buat traktir gue ya," tagih Bulan yang sedari tadi masih membayangkan lemon blueberry roll cake.


"Iya, iya. Mau apa penyelamat gue, nih? Mau tokonya? Bisa, langsung gue bayar cash tapi habis itu lo nikah sama gue." Bulan menanggapi hal itu dengan gelak tawa yang disusul Bintang. "Gue serius, lo mau apa?"


"Emm ... gue mau lemon blueberry roll cake."


"Lemon blueberry? Lo suka sama itu?" Bulan mengangguk-anggukan kepala antusias. "Kayak Mama aja. Addicted banget sama lemon blueberry."


"Enak tau," jawab Bulan yang berpikir bahwa Bintang merendahkan seleranya.


Bintang mengangkat salah satu alisnya. "Iya, gue tau, kok. Nanti gue bungkusin Kalau sekarang makan aja dulu yang ini."


"Asik! Thank you, Tang." Bulan tampak antusisas.


Setelah menyelesaikan makan dan mendapatkan kue yang Bulan inginkan. Bintang mengantar Bulan untuk pulang. "Tang, anter gue ke halte deket sekolah aja, ya. Nanti gue naik taksi online dari sana. Gue takut ketahuan jalan sama cowok lain." tawar Bulan saat Bintang baru saja membelokkan mobilnya keluar dari parkiran toko.


Bintang mengerutkan dahinya. "Takut sama tunangan lo itu? Dia aja nggak perduli gitu kayaknya."


Bulan berdecak. "Bukan takut sama dia, gue juga ogah takut sama dia. Tapi gue takut ketahuan Mama gue."


"Kenapa emang?" Bintang penasaran.


"Dia tuh ...." Bulan menggantungkan kalimatnya. Kemudian menolehkan kepala untuk menatap Bintang. "Gak kenapa-kenapa. Gak usah kepo. Meskipun gue bantuin lo masalah Pak Bri dan hari ini. Bukan berarti kita deket atau temenan, ya." Bulan masih tidak ingin dianggap berteman dekat dengan Bintang.


Bintang terkekeh. Sesaat Bulan terdiam melihat kekehan Bintang. Dia berpikir lelaki itu tertawa dan tersenyum cukup banyak hari ini. "Okay, gue gak kepo. Tapi gue antar sampai rumah, ya? Udah mau malam ini. Bahaya kalau pulang sendiri, Bulan. Gue janji cuma nganter sampai depan rumah, deh. Jadi kalau ditanyain Mama lo bisa jawab taksi online."


"Lo pikir Mama bakal percaya kalau lihat mobil mewah lo?" Kali ini Bintang bukan hanya terkekeh tetapi juga tertawa. Padahal menurut Bulan itu tidak lucu.


Bulan menghela napas. "Sampai depan rumah!" Mereka pun sepakat.


Kemudian, selama sisa perjalanan Bulan terus memainkan ponselnya sembari menunjukkan jalan pada Bintang. Sampai mereka tiba di depan rumah Bulan. Gadis itu meletakkan ponselnya sejenak di kursi tempatnya duduk untuk mengambil kue dan tas yang dia letakkan di kursi belakang. Setelah berpamitan dengan Bintang, Bulan langsung keluar dari mobil dan melupakan ponselnya. Bintang yang menyadari ponsel Bulan tertinggal segera memanggil gadis itu, tetapi yang dipanggil tidak mendengar. Jadi dengan terpaksa, Bintang menyusul Bulan yang ternyata masih di depan gerbang.


Bintang kira Bulan sendirian. "Lan, hp lo ketinggalan." Setelah mengucapkan hal itu, Bintang baru sadar bahwa Bulan bersama seorang wanita paruh baya dan seorang lelaki yang Bintang ketahui sebagai tunangan Bulan.


Padahal sebelum Bintang datang, Bulan baru saja akan beralasan bahwa dia naik taksi online dan tidak langsung pulang karena ada tugas kelompok. Akan tetapi, rencananya gagal. Revallia yang melihat bahwa Bintang memakai seragam yang sama dengan Bulan langsung berpikir bahwa Bintang adalah pacar Bulan.


"Pantes ya beberapa hari terakhir setiap Mama tanya masalah Chan kamu menghindar. Jadi kamu jalan sama orang lain?"


Bukannya menjawab pertanyaan Revallia, Bulan justru menatap Bintang sembari tersenyum tipis. Dia mengambil ponsel yang berada di tangan Bintang. "Makasih, ya. Lo bisa pulang." Kemudian Bulan masuk ke dalam rumah tanpa menjawab pertanyaan Revallia.


"Bulan! Jangan kabur begitu aja kamu." Revallia langsung mengejar Bulan.


Sementara itu, Bintang dan Chan masih bersitatap dengan sengit di depan gerbang. "Lo tau kalau Bulan udah punya tunangan, kan? Jangan ganggu dia lagi."


Bintang tersenyum mengejek seketika. "Urus aja pacar lo." Bintang pergi begitu saja setelahnya karena tadi Bulan terlihat tidak ingin Bintang ikut campur. Jika tidak, Bintang pasti sudah memukuli Chan karena Bintang pernah tanpa sengaja mendapatkan akun sosial media Chan saat mencari tahu tentang Bulan. Akan tetapi yang ada di akun itu hanya kebersamaan Chan dengan perempuan lain, bukan Bulan.


Bintang meninggalkan rumah Bulan. Tidak berselang lama, sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Bintang segera memasangkan wireless earbud pada salah satu telinganya kemudian menjawab panggilan yang berasal dari sekretaris papanya tersebut. "Halo, Om. Ada apa?"


"Maaf mengganggu, Mas. Ini Tuan mabuk berat." Mendengar hal itu, Bintang menghela napasnya.


"Sore-sore begini? Oke, Om. Kirim alamatnya." Bintang segera meluncur ke tempat papanya. Papa lelaki itu jika sudah mabuk berat hanya Bintang yang bisa menangani. Ketika orang lain berusaha menyentuhnya, maka orang itu akan segera babak belur.


Sebelum Bintang masuk ke dalam bar, terlebih dulu lelaki itu melepaskan seragam yang sejak dari sekolah tidak dikancingkan. Menyisakan kaos hitam polos serta mengganti celana seragamnya dengan jeans biru. Lalu saat akan masuk ke dalam bar, seorang lelaki yang tempak berada diusia pertengahan tiga puluhan menjemput Bintang di depan pintu masuk. Lelaki itu sekretaris papanya.


Bintang segera menghampiri Papanya yang sedang terduduk menangis di sofa di dalam sebuah ruangan pribadi yang terletak di lantai dua. Sudah berulang kali Bintang mengingatkan papanya jika ingin mabuk berat, lakukan di rumah saja. Akan tetapi, sang papa selalu berkata bahwa mabuk di tempat seperti ini memiliki sensasi tersendiri.


"Pa, ini Bintang. Pa, Papa." Bintang mencoba memanggil-manggil Papanya. Lalu saat pria itu sedikit tersadar dari tangisannya. Dia berbalik memanggil nama Bintang kemudian menangis lagi. Bintang paham betul bahwa seseorang yang papanya tangisi adalah sang mama.


"Pa, Papa pulang dulu, ya sama Om Eddy. *Okay*, Om Eddy, ingat? Kalau nanti ada yang bantu Papa berdiri terus tuntun Papa ke bawah itu Om Eddy." Setelah itu Eddy memapah atasannya tersebut untuk di bawa ke dalam mobil. Terdapat pintu tersendiri bagi pelanggan VIP untuk keluar masuk secara rahasia dari bar, dan Eddy serta atasannya lewat pintu tersebut. Akan tetapi, Bintang yang mobilnya terparkir di depan memilih untuk lewat pintu utama.


Saat Bintang turun menggunakan tangga ke lantai satu. Dari tangga, Bintang melihat seseorang yang dia kenali sedang berdiri di lantai dansa bersama segerombolan wanita dengan pakaian terbuka. "Chan? Wah, bren*sek."


Bintang segera mengarahkan ponselnya ke bawah. Memotret Chan diam-diam tanpa perduli bahwa ada aturan tidak boleh memotret di bar tersebut. Bintang berencana menggunakan foto yang diambilnya untuk membantu Bulan.