Blooming Life

Blooming Life
SEASON 2 — O29. Kehidupan Baru



Tiga tahun hampir berlalu sejak hari itu, hari di mana aku kehilangannya. Sekarang aku dan Farrel sudah sampai di tahun kedua masa perkuliahan kami. Sedangkan Dika sudah mulai bersiap untuk menyusin skripsinya dan membuat lelaki itu semakin sibuk. Meskipun begitu, kami bertiga masih bersahabat dengan baik.


Oh iya, jangan lupakan Farrel yang berhasil masuk jurusan kedokteran. Begitu juga Chan yang sudah menjalani kehidupannya sendiri. Lelaki itu sudah menikah satu setengah tahun lalu dan pindah ke Australia. Akan tetapi, Chan masih berkontak dan berteman baik dengan Bulan.


Sulit, sangat sulit bagiku untuk melepaskannya. Akan tetapi, aku berhasil melakukan itu. Kutarik ujung bibir, tersenyum sembari menatap tempat peristirahatan terakhir Bintang. Aku meletakkan setangkai mawar sebelum meninggalkan tempat peristirahatannya.


"Gue akan berusaha sebaik mungkin untuk bahagia. Semoga lo juga bahagia di sana." Kakiku mulai beranjak keluar dari lingkungan makam yang sudah tiga tahun terakhir hampir setiap hari aku kunjungi.


"Udah? Ayo, gue antar pulang." Suara lembut seorang lelaki yang menyambutku di luar gerbang makam.


Aku menganggukkan kepala, menyetujui ajakannya. Kemudian sembari berjalan menuju mobil, tangannya meraih tanganku untuk digenggan yang membuatku sedikit terkejut. Ah, aku masih belum terbiasa untuk tiba-tiba disentuh oleh laki-laki.


"Mau mampir makan dulu?"


Dia adalah Jim. Kakak tingkat yang sudah berpacaran denganku sejak enam bulan terakhir. Dia baik, pintar, dan memperlakukanku dengan lembut. Meskipun aku masih belajar untuk mencintainya karena tidak mudah bagiku untuk kembali jatuh hati. Terkadang ingatan tentang Bintang yang ditusuk di hadapanku masih muncul di dalam mimpi.


Akan tetapi, aku yakin. Aku akan baik-baik saja dan akan bisa melewatinya.


___


"Bulan, nanti makan siang sama gue, ya." Sebuah pesan baru saja masuk dari Farrel ketika aku melangkah meninggalkan mobil yang sudah terparkir rapi di parkiran kampus.


"Gue males makan siang sendiri," lanjut pesan tersebut dengan dibubuhi emotikon menangis.


Aku menaikkan salah satu alis setelah membaca pesan Farrel. Lihatlah, masih jam untuk sarapan tapi dia sudah membicarakan tentang makan siang. Aku menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum.


Dengan cepat aku mengetik balasan untuk Farrel. "Kalau ngajak berarti bayarin, ya."


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Suara yang amat aku kenali mengalihkan fokusku dari ponsel. Aku mendongakkan kepala. Begitu melihat Jim, aku segera memasukkan ponsel ke dalam saku. Kemudian tangannya bergerak meraih tanganku untuk digenggam.


"Itu, Dika masih pagi udah ngomongin makan siang," jawabku sesaat sebelum kami memutuskan untuk berjalan beriringan masuk ke dalam gedung fakultas seni dan budaya. Aku dan Jim berasal dari jurusan yang berbeda tetapi kami masih dari fakultas yang sama.


"Emang mau ngapain pas makan siang?" tanya Jim lebih lanjut.


"Itu mau ngajak makan bareng. Kamu ada urusan nggak siang ini? Oh, iya. Kamu hari ini kelasnya cuma pagi, ya."


Sembari tersenyum lembut, Jim mengangguk-anggukkan kepala. "Rencana mau langsung pulang karena lagi banyak tugas. Emang kenapa?"


"Boleh, dong. Kenapa enggak?" Ini adalah salah satu hal yang aku suka dari Jim. Dia tidak pernah cemburu ketika aku menghabiskan waktu bersama Farrel dan Dika. Jim percaya padaku dan aku senang dengan hal tersebut. Selama aku tidak macam-macam dan tidak melakukan hal buru, mau berteman dengan siapa saja bukan masalah bagi Jim.


Kemudian kami hanya saling bergandengan tangan selagi berjalan menuju ruang kelas masing-masing karena hari ini kelasku dan Jim berbeda. Saat sedang berjalan, tiba-tiba Jim merangkul tubuhku. Membuatku terkejut dan membuat tubuhku bergeser ke arahnya. Aku spontan mengerutkan dahi menatap Jim.


Awalnya kupikir Jim hanya berniat menggodaku. Tentu saja aku kebingungan karena itu tidak seperti Jim sama sekali. Akan tetapi ternyata aku salah sangka. Kusadari saat seseorang berlari dari arah belakang dengan terburu-buru. Dia nyaris saja menabrakku jika Jim tidak menarikku ke dalam rangkulannya.


Setelah orang itu lewat, Jim melepaskan rangkulannya. "Kamu nggak apa-apa?"


Aku menganggukkan kepala dengan yakin. "Iya, aku baik-baik aja."


。゚☆☽☆゚


Aku menghampiri Farrel di kantin setelah selesai kelas. Kupikir dia akan duduk sendirian dengan menyedihkan, ternyata aku salah. Mana mungkin Farrel duduk sendirian dengan tampang menyedihkan. Apa yang aku harapkan? Jelas lelaki itu sedang dikelikingi beberapa perempuan.


"Tukang gosip," gumamku lalu melanjutkan langkah menuju meja tempat Farrel berada.


Begitu Farrel melihatku mendekat, aku bisa melihat gelagatnya yang seolah sedang meminta perempuan-perempuan di sekitarnya untuk menyingkir. "Udah ngeteh apa aja hari ini, Pak," ucapku menggoda begitu duduk di hadapan Farrel.


"Ngeteh apa? Udah diabetes gue," jawab Farrel dengan bercanda yang hanya kubalas dengan kekehan.


"Eh, Lan. Nanti lo pulang sama Jim atau sendiri?"


"Sendiri, emang kenapa?" jawabku santai.


"Mau gue traktir makan nggak?" Farrel menaik turunkan alisnya. Aku langsung tau bahwa manusia di depanku ini tentu saja ada maunya.


"Mau lah. Siapa yang nggak mau ditraktir." Meskipun aku tau dia pasti ada maunya, tetapi siapa yang tidak suka makan gratis.


Farrel langsung melengkungkan senyum. "Nah, tebengin gue pulang, ya. Mobil gue lagi di bengkel."


Segera setelah mendengar jawaban Farrel, aku memutar bola mata sembari berdecak. Tetapi sesaat kemudian aku kembali menatap Farrel sembari tersenyum lebar. "Bakmi goreng sama es jeruk. Gue tebengin."


"Siap!" Farrel mengacungkan jempolnya kepadaku. "Menuju stan bakmi dan memesan bakminya."


Ada ada saja kelakuan Farrel memang. Aku tertawa melihat Farrel berlagak seperti Buzz Lighter (salah satu tokoh film animasi Toy Story) ketika menuju tempat untu memesan bakmi.