Blooming Life

Blooming Life
O1O. Rencana (Beneran Rencana)



Bel tanda istirahat baru akan berbunyi lima menit lagi tetapi guru bahasa inggris sudah membubarkan kelas Bulan. Saat Bulan sedang membereskan mejanya, Selin mendekati gadis itu lalu membisikkan sesuatu. "Serius? Kapan lo dikasih tau?"


Selin menganggukkan kepala. "Iya, serius. Tadi pagi, sih. Gue berangkat telat, kan. Terus waktu di koridor ketemu Bintang," jelas Selin dengan memelankan suara ketika menyebutkan nama Bintang.


Bulan menganggukkan kepala kemudian tersenyum pada Selin. "Thanks, Sel."


"Lo ada hubungan apa sama trio itu, Lan?" tanya Selin yang penasaran. Bulan hanya menggelengkan kepala, tidak ada niatan darinya untuk menjawab. "Lo pasti bentar lagi bakal terkenal seantero sekolah. Soalnya setelah kejadian waktu kelas sepuluh, mereka gak pernah kelihatan dekat sama cewek mana pun."


"Oh, iya?" Bulan berusaha terlihat antusias. "Biarin, deh. By the way, gue pergi dulu, ya." Bulan langsung pergi tanpa mendengarkan Selin lagi.


Seperti pesan dari Bintang yang disampaikan melalui Selin, Bulan langsung naik ke rooftop. Ketika sampai rooftop, Bintang dan Farrel sedang bersandar membelakangi tembok pembatas. Ketika melihat Bulan, serempak mereka melambaikan tangan. Kemudian saat Bulan bergabung, mereka berdiri menghadap tembok sembari menatap ke lapangan basket yang berada di bawah.


"Lo udah punya rencana?" tanya Bulan pada Bintang yang berada di sampingnya.


"Belum," jawab Farrel yang berada di samping Bintang pada sisi yang lain.


Bintang mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto pada Bulan. "Gue belum punya rencana masalah Brian. Gue cuma mau nunjukin foto ini, sih. Siapa tau bisa bantu lo." Foto tersebut adalah foto Chan yang berada di lantai dansa dengan banyak wanita.


Bulan mendengus lalu tersenyum miring. "Gak akan berguna, Bintang. Mama gak akan mihak gue. Dia lebih takut pertunangan gue sama Chan batal. Lo simpen aja fotonya buat kenang-kenangan."


"Ini beneran nggak bisa dipakai?" tanya Bintang dengan menatap Bulan. Bulan balas menatap Bintang sekilas lalu mengalihkan pandangan pada langit yang tampak mendung. Kemudian gadis itu menggelengkan kepala.


"Mending sekarang bahas rencana aja. Kalau gue belum ada rencana, sih. Kalian gimana?" tanya Bulan mengalihkan pembicaraan.


"Gue ada rencana," jawab seseorang yang membuat Bulan, Bintang, serta Farrel menolehkan kepala ke kiri. "Apa gue boleh ikut dan ngasih rencana?"


Itu adalah Dika yang berbicara dengan senyum tipisnya. Farrel menatap Dika dengan senyum lebar, Bintang dengan ekspresi tidak percayanya. Sedangkan Bulan dengan jawabannya, "Boleh, kok. Boleh banget."


。゚☆☽☆゚


Setelah kedatangan Dika, mereka kembali mengatur janji untuk bertemu di rooftop sepulang sekolah. Lebih tepatnya Bulan yang mengatur agar mereka bertemu lagi sepulang sekolah. Bintang, Dika, dan Farrel bisa saja melewatkan kelas tetapi tidak dengan Bulan. Padahal Bintang sudah menawarkan bantuan kepada Bulan. Sayangnya, gadis itu membuat banyak alasan agar dia tidak perlu melewatkan satu menit pun pelajaran.


Lalu di sini lah mereka sepulang sekolah. Di basecamp Bintang dan kawan-kawannya. "Mau denger ide gue?" tanya Dika.


"Wait ... wait." Bintang menahan Dika untuk membeberkan rencananya pada mereka. "Pertama, gue mau tau kenapa lo tiba-tiba berubah pikiran. Jangan jangan lo sekongkol sama Brian? Oh, atau gue lagi mimpi?"


Bintang beralih menatap Bulan. "Lan, coba cubit gue. Siapa tau gue mimpi dan belum bangun."


Bulan tampak tersenyum kesal kepada Bintang. Gadis itu mengangkat tangannya lalu menyentil jidat Bintang dengan keras. "Iya, belum bangun ... dari kebodohan lo. Haish!"


Farrel menyoraki Bintang sembari memukulkan sebuah buku tulis ke kejidat Bintang. Kemudian Farrel beralih pada Dika. "Lanjutin, Ka."


"Sekitar seminggu lagi bakal ada perayaan anniversary sekolah dan acaranya adalah night party." Bintang langsung melongo saat mendengar penjelasan Dika.


"Gila! Ngapain, coba bikin begituan?! Buang-buang duit sekolah aja. Gue kira itu cuma gosip." Dika menghela napas sebagai tanggapan dari ucapam Bintang.


"Jadi apa hubungan acara itu sama rencana kita?" tanya Bulan yang selalu menjadi pemusat perhatian selain Farrel.


Dika kembali pada topik sebeumnya. "Jadi acaranya bakal diadain di hotel. Semua murid, guru, dan staf. Mereka bakal berkumpul di sana. Kita jebak dia buat masuk ke sebuah kamar, terus kita rekam waktu dia mencoba buat cabulin salah satu siswi--"


"Tunggu, tunggu." Bulan memotong ucapan Dika. "Maksud lo kita harus lihat dia lakuin pencabulan di depan kita bahkan kita videoin?"


Dika langsung menggelengkan kepala. "Bukan, bukan begitu. Sebelum dia bertindak lebih jauh, di waktu yang tepat kita bawa polisi terus grebek dia."


"Dan untuk itu, kita butuh seorang cewek buat mancing dia?" tebak Farrel yang langsung diangguki oleh Dika. "Siapa yang mau?"


Pertanyaan Farrel langsung mebuat mata Dika mengarah kepada Bulan. "Nggak!" tolak Bulan seketika.


"No!" larang Bintang bersamaan dengan Bulan. "Gue yang bakal cariin orangnya. Tapi bukan Bulan." Bintang menawarkan dirinya untuk mencari seorang relawan dan semua yang ada di dalam ruangan itu setuju.


Setelah itu hening beberapa saat, sampai Bulan kembali membuka suara. "Kalau kita gagal gimana? Katanya dia punya *backing* yang kuat. Kalau seandainya kita berhasil grebek dia tapi dia tetap gak ditahan gimana?"


"Gue bakal nyoba buat urus itu." Sekali lagi Bintang menawarkan dirinya akan tetapi semua orang hanya bisa diam. Mereka meragu.


Bruk. Sebuah suara dari luar yang terdengar seperti benda jatuh, berhasil menyadarkan mereka--Bintang, Bulan, Farrel, dan Dika--kembali. Tanpa disuruh, Farrel langsung berlari keluar. Akan tetapi dia tidak menemukan siapa pun di luar. Kemudian Farrel kembali masuk ke dalam basecamp.


"Nggak ada siapa-siapa," jelas Farrel. "Mungkin kucing atau angin."


"Okay. Gimana kalau sekarang kita pulang dulu. Kita lanjut bahasannya besok," usul Bintang yang disetujui semua orang.


Dika menjadi yang pertama berdiri dari tempatnya. "Gue duluan, ya. Masih ada yang perlu diurus di bawah."


"Yoi, Bro."


Selanjutnya menjadi Farrel yang pulang lebih dulu. Kemudian tersisa Bintang dan Bulan. "Mau gue antar pulang?" tawar Bintang yang anehnya langsung disetujui Bulan. Akan tetapi, meski merasa tidak biasa Bintang memilih diam saja dari pada Bulan berubah pikiran.


Mereka turun ke lantai tiga bersama-sama. "Lo mau nyari cewek yang mau bantuin kita di mana?" tanya Bulan sembari berjalan menuju lift.


Saat Bintang baru akan menjawab bahwa dia belum tau, seseorang yang mengagetkan Bintang dan Bulan sudah terlebih dahulu mengeluarkan suara. "Kalian mau nyari cewek buat bantuin apa?"


Bintang dan Bulan langsung menahan langkah mereka untuk masuk ke dalam lift saat melihat Selin berdiri di belakang mereka. "Oh, tadi gue lihat kalian terus iseng-iseng gue samperin," jelas Selin sebelum ditanya. Akan tetapi bukan itu yang ingin Bulan ketahui.


"Lo kenapa belum pulang?" tanya Bulan.


"Gue ... habis bantuin anak kelas sebelah ngerjain tugas yang kelas kita udah selesai." Bulan mengangguk-anggukkan kepala paham. Kemudian tanpa menjawab pertanyaan Selin, gadis itu langsung menarik Bintang ke dalam lift.


"Gue pulang dulu, ya." Bulan melambaikan tangannya kepada Selin.


"Eh, pertanyaan gue." Selin terlambat, pintu lift sudah tertutup.