
Mata Bulan berbinar-binar menatap sepatu-sepatu mungil dengan berbagai macam warna yang diletakkan pada etalase toko. Mereka tampak sangat menggemaskan. Kemudian mata Bulan terpaku pada sebuah sepatu bayi berwarna coklat dengan gambar karakter kartun terkenal, yaitu Winnie The Pooh. Sepatu itu tampak sangat menggemaskan di mata Bulan.
Tidak jauh dari rak sepatu bayi, terdapat kaos kaki untuk bayi. Benda-benda itu tampak mungil dan menggemaskan. Bulan melihat sebuah kaos kaki berwarna krim dengan garis garis coklat yang menurut Bulan akan tampak serasi dengan sepatu bergambar Winnie The Pooh yang tadi di lihatnya. Ah, Bulan sudah gatal ingin membelinya. Akan tetapi itu masih lama untuk sampai pada hari kelahiran bayinya. Jadi Bulan memilih untuk menunda dulu membeli-beli sesuatu kemudian keluar dari toko perlengkapan bayi tersebut.
Namun saat baru keluar dari pintu toko, Bulan mengentikan langkahnya. "Ahhh, lucu banget," desah Bulan yang kemudian kembali masuk ke dalam toko untuk membeli sepatu dan kaos kaki yang tadi dilihatnya. Lalu setelah itu Bulan merasa lega untuk keluar dari toko perlengkapan bayi tersebut. Kemudian Bulan lanjut membeli baju ibu hamil dan makan siang di sebuah restoran cepat saji yang terletak di dalam mall.
Saat tengah enikmati makannya sendirian, Bulan merasakan seseorang menepuk pundaknya dan perempuan itu mendapati Chan berdiri di sampingnya. "Chan?" Bulan sedikit melebarkan matanya karena terkejut. Lalu tersenyu setelahnya.
Chan balas tersenyum. Di tangan lelaki itu membawa sebuah nampan berisi makanan cepat saji. "Lo sendirian? Boleh gue gabung?" Bulan menganggukkan kepala tanda menyetujui permintaan Chan dan menjawab pertanyaan lelaki itu sekaligus. Kemudian Chan duduk di hadapan Bulan.
"Habis belanja, Chan?" tanya Bulan basa-basi setelah menghabiskan kentang goreng terakhirnya.
"Tadinya, sih gitu. Mau beli sesuatu buat Mama. Tapi ternyata yang mau dibeli nggak ada. Jadi tadi cuma muter-muter sebentar terus beli makan dan habis ini mau pulang. Lo sendiri?"
Bulan menyeruput minumannya sedikit sebelum menjawab pertanyaan Chan. "Gue habis lihat-lihat perlengkapan bayi terus sama beli beberapa hal sekalian jalan-jalan."
Chan mengerjapkan matanya begitu mendengar jawaban Bulan. "Perlengkapan bayi? Buat siapa?"
Bulan terdiam sejenak. Dia pikir kabar kehamilannya akan sampai dengan cepat ke telinga Chan dan keluarganya. Akan tetapi, bagi Bulan lebih baik jika keluarga Chan tidak mengetahui berita tersebut. "Buat ... gue," jawab Bulan sedikit ragu setelah terdiam sesaat.
Setelah mendengar jawaban Bulan, jelas terlihat pancaran keterkejutan di mata Chan. Akan tetapi, lelaki itu segera berusaha untuk kembali menetralkan tatapannya. "Lo hamil? Gue baru tau."
Bulan tersenyum. "Nggak apa-apa kali. Bukan kewajiban lo juga untuk tau. Lagian ... kita udah putus." Bulan memelankan suaranya di akhir kalimat. Meskipu begitu, Chan masih dapat mendengar ucapan Bulan dan membuatnya meringis untuk sebentar.
Kemudian Chan teringat bahwa diriya sempat mendengar percakapan tentang Bulan yang tidak jadi kuliah di luar negeri. "Ah, jadi karena itu lo nggak jadi kuliah ke luar negeri?"
Bulan menaikkan alisnya. "Lo tau?"
"Iya, tapi gue nggak tau alasan lo."
"Ah, gitu." Sejujurnya Bulan enggan untuk membahas perihal perkuliahan itu lagi karena hal tersebut masi terasa mengecewakan bagi dirinya. "Udah lama nggak ngobrol, ya. Lo apa kabar? Oh, iya. Gue denger-denger lo udah dijodohin lagi, ya?"
"Eh, itu...." Chan tersenyum canggung. "Iya, gue dijodohin lagi. Lo tau gimana Mama gue, lah. Ada di berita, ya?"
"Ya, gitu." Bulan mengendikkan bahunya. "Semoga lo bahagia dan lo bisa memperlakukan dia lebih baik dari ketika lo memperlakukan gue."
"It's okay. Gue nggak apa-apa." Kemudian di tengah obrolan mereka. ponsel Bulan mendapatkan sebuah panggilan masuk. Nama Bintang tertera di layarnya. Chan sempat melirik sesaat nama tersebut sebelum Bulan mengangkat teleponnya.
"Halo, Tang? Gue lagi di mall. Kenapa? Eh, mau ngapain? Gue udah mau pulang ... ada yang penting? Lo di mana? Gue aja yang ke sana. Iya, nggak apa-apa. Gue ke sana sekarang." Bulan segera memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang hitam yang dia pakai.
"Lo mau ke mana?" tanya Chan penasaran.
"Gue mau ada urusan penting tentang pelaku yang ...." Bulan menggantungkan kalimatnya. Meskipun begitu, Chan tetap memahami maksud Bulan.
"Lo tadi naik taksi ke sini, kan?" Bulan menganggukkan kepala. "Biar gue antar."
Sebelum mendapatkan jawaban dari Bulan, Chan sudah terlebih dahulu mengambil tas belanjaan Bulan kemudian berjalan menuju mobil. Bulan pun hanya bisa mengikuti lelaki itu.
。゚☆☽☆゚
"Thanks, Chan. Gue pergi dulu," pamit Bulan sebelum keluar dari mobil Chan. Kemudianlelaki itu anya bisa melihat punggung Bulan menghilang di balik gerbang rumah Bintang. Sebenarnya Chan penasaran dengan apa yang terjadi, tetapi dia tidak memiliki hak untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang terjadi.
Sementara itu, Bulan segera menemui Bintang yang sudah menunggu di depan pintu. Tadi ditelepon, Bintang mengatakan bahwa ada sesuatu yang penting menyangkut keberadaan Brian. "Ayo, masuk. Farrel juga ada di dalam," ajak Bintang sebelum Bulan sempat bertanya ada apa.
Kemudian tanpa berkata apa pun lagi Bintang dan Bulan masuk ke dalam rumah. Di dalam sudah ada Farrel yang sudah duduk dengan serius di hadapan sebuah laptop. Ketika melihat keberadaan Bulan, Farrel menggeser duduknya sehingga Bulan bisa duduk diantara Farrel dan Bintang.
"Jadi ada apa?" akhirnya Bulan bisa bertanya. Bulan menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
Farrel dan Bintang saling tatap. Ekspresi Bintang jelas menampakkan kekhawatiran. Farrel menganggukkan kepala ketika Bintang menganggukkan kepala, meyakinkan Bintang memberitahu Bulan apa yang memang perlu diberitahukan.
"Sebelum gue ngasih tau. Gue mau minta lo buat milih. Lo mau gue ceritain aja atau lihat video cctv-nya langsung dengan konsekuensi harus lihat wajah Brian?" Bulan mengerutkan dahinya.
"Kalau emang penting, itu berarti gue harus lihat videonya." Bintang mengangguk-anggukkan kepala paham. Kemudian lelaki itu mulai memutar video yang ada di laptop.
Awalnya tidak ada apa-apa di sana dan tampak gelap juga tidak terlalu jelas. Lalu perlahan Bulan mulai menyadari sesuatu. Dengan dahi yang berkerut, Bulan melebarkan matanya. Itu adalah di depan rumahnya dan seseorang dengan pakaian serba hitam tampak mencoba mengintip ke dalam rumah ketika tengah malam. Orang itu terliat melemparkan sesuatu ke arah rumah lalu segera lari meninggalkan rumah Bulan. Kemudian Bintang menghentikan videonya di sana yang membuat Bulan segera menatap lelaki itu.
"Lo tau itu di mana, kan?" Bulan hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Dia terlalu terkejut untuk mengatakan sesuatu. "Itu rekaman CCTV dua hari lalu. Apa ada sesuatu yang lo inget terjadi sekitar jam sebelasan malam dua hari lalu?"
Setelah berpikir sejenak, Bulan teringat dua hari lalu dia sempat terbangun di tengah malam karena sesuatu seperti jatuh di balkon kamarnya. Dan ketika dicek, ternyata terdapat sebuah batu yang besarnya sekepalan tangan orang dewasa jatuh di sana. "Iya, gue kebangun ... tapi gue gak inet itu jam berapa. Waktu itu ada suara keras banget dari balkon kaya ada barang jatuh, terus waktu gue cek ternyata ada batu sekepalan orang dewasa di balkon yang gak tau dari mana asalnya."