Blooming Life

Blooming Life
OO8. Rencana Bintang



"Lo udah punya rencana?" tanya Bulan sesaat sebelum terdengar bunyi berdenting lalu pintu lift terbuka. Mereka sudah sampai di basement.


"Udah," jawab Bintang singkat. Kemudian mereka bertiga keluar dari lift. Farrel berjalan menuju motornya, begitu juga dengan Bintang, dan Bulan hanya mengekori Bintang.


"Apa rencana lo?" tanya Bulan sembari berjalan.


Bintang tetap diam sampai dia tiba di tempat motornya terparkir. Sebuah Honda CBR keluaran terbaru dengan warna hitam dan beberapa tambahan warna merah. Tanpa aba-aba, Bintang memakaikan helm pada Bulan yang hanya diam kebingungan, lalu Bintang menaiki motor tersebut dan memakai helmnya. Kemudian dia mengulurkan tangan pada Bulan. "Naik, gue ceritain di jalan."


"Lo ... lo gila itu tinggi banget. Lagian, nggak, gue dijemput tunangan gue." Bulan berusaha membuka kaitan helm tetapi dia cukup kesulitan.


Bintang tersenyum miring. "Yakin nungguin tunangan lo? Gue kemarin lihat, lo hampir malem baru pulang dan naik taksi."


Bulan gelagapan seketika. "Gak, kok. Emang gue baru pulang waktu itu."


"Gue tau lo langsung pulang, Lan. Nggak usah ngelak. Buruan naik." Setelah saling bersitatap--Bulan dengan tatapan tajamnya tentu saja--akhirnya Bulan memilih untuk naik. "Taruh tas lo di depan. Pegangan jangan lupa."


Bulan melakukannya sesuai instruksi Bintang. Kemudian lelaki itu melajukan motornya. Bulan hampir tidak pernah naik motor, dan ini pertama kalinya dia naik motor gede dengan Bintang yang jika berkendara tidak lihat-lihat kecepatan. Meskipun saat ini Bintang sudah lebih pelan dari biasanya, tetapi Bulan tetap ngeri. Saking ngerinya dia sampai tidak sempat mengulangi pertanyaannya tentang rencana. Hingga mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan.


Bintang memarkirkan motornya, kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Bulan turun. Setelah memastikan Bulan turun dengan aman, Bintang melepaskan helmnya lalu turun dari motornya sendiri. Sedangkan Bulan masih berkutat dengan pengait helm. Bintang yang melihat hal tersebut berusaha mengulum senyumnya. Kemudian lelaki itu mengulurkan tangan untuk membantu Bulan. Lalu ... tada! Pengait helm tersebut lepas dengan mudah.


Setelah helm terlepas, Bintang dapat melihat dengan jelas wajah Bulan yang pucat. Bintang terkekeh. "Lo kenapa, Lan?"


"Gue yang harusnya tanya. Lo kenapa naik motornya ngebut banget? Gue takut!" Di parkiran yang nyaris sepi, Bulan meninggikan suaranya hingga menggema.


Bintang hanya tersenyum. "Karena kalau pelan-pelan yang ada malah jatuh," jawab Bintang.


"Lagian mana kata lo mau ceritain rencana?" Bulan menatap Bintang dengan kesal.


"Ah, iya." Bintang berekspresi seolah dia baru ingat sesuatu. "Gue hampir lupa. Jadi rencana gue hari ini adalah beliin hadiah ulang tahun buat--awhh awh Bulan, sakit."


Bulan dengan kesal memukuli lengan Bintang. "Lo bawa gue ke sini dan bohongin gue. Ngeselin banget lo! Emang dasar!"


Bintang tidak sedikit pun melawan Bulan yang masih memukuli lengannya yang keras itu. Dia justru terkekeh. "Loh, tadi lo tanya rencana gue apa? Ya, ini rencana gue hari ini. Kan, lo gak tanya dengan spesifik rencana apa maksud lo."


Setelah mendengar jawaban Bintang, Bulan berhenti memukuli lelaki itu dan hanya menatapnya dengan kecewa. "Jadi gue yang salah? Lo, tuh ... udah bohong nggak mau ngaku. Udah, lah. Mending gue pulang sendiri naik taksi."


Bulan sudah balik badan dan mengambil dua langkah pertamanya saat Bintang menahan gadis itu dengan mencekal pergelangan tangannya. "Oke, gue salah. Maaf, gue nipu buat bawa lo ke sini. Tapi gue bener-bener butuh bantuan lo buat milih hadiah. Hari ini ulang tahun Nyokap gue dan gue beneran gak paham sama masalah kayak gitu."


Bulan masih bergeming di tempatnya. "Anggap aja ini balas budi lo karena udah gue selamatin dua kali. Gue juga traktir lo, deh. Gimana? Udah terlanjur sampai sini juga, kan?"


Setelah menghela napas dan mempertimbangkan ucapan Bintang, Bulan pun setuju. "Tapi jangan lama-lama, ya."


"Dijamin nggak akan lama."


。゚☆☽☆゚


"Banyak banget, ya?" ucap Bulan setelah mereka keluar dari toko terakhir yang perlu mereka kunjungi.


"Lagi nggak ada yang pengen gue beli, sih. Tapi gue laper," jawab Bulan jujur yang memang perutnya sudah melilit.


Bintang tersenyum lebar. "Yaudah mau makan apa? Oh, iya. Habis ini gue masih mau mampir ke toko kue langganan Mama, sih. Mau makan di sana aja?"


Mendadak Bulan memikirkan tentang lemon blueberry cake roll. "Di sana ada cake roll nggak?"


Bintang berpikir sejenak. Dia tidak paham dengan yang seperti-seperti itu. "Gue gak yakin, sih. Tapi mungkin ada. Coba tanya dulu nanti."


Bulan mengangguk-anggukkan kepala setuju. Kemudiam mereka melangkah bersama menuju parkiran basement pusat perbelanjaan tersebut. Saat sudah sampai tempat parkir, Bulan tidak dapat melihat motor Bintang di mana pun.


Alih-alih menghampiri motornya, Bintang justru menghampiri sebuah mobil. Kemudian seorang pria paruh baya keluar dari mobil tersebut dengan mengenakan seragam serba hitam. Pria itu menundukkan kepala sepintas kemudian membukakan pintu untuk kursi pengemudi dan penumpang. Setelah itu pria tersebut mengambil alih barang bawaan Bintang untuk memasukkannya ke bagasi.


"Naik, gih," minta Bintang kepada Bulan.


Sesaat Bulan terdiam kebingungan di tempatnya. "Motor lo?"


"Lo pengen gue boncengin kayak tadi? Gue oke aja, sih." Bulan buru-buru menggelengkan kepalanya. Lalu gadis itu masuk ke dalam mobil. Disusul Bintang yang masuk ke sisi pengemudi.


Setelah memastikan dirinya dan Bulan memakai sabuk pengaman, Bintang mengemudikan mobilnya tanpa sang sopir. Bulan menebak-nebak bahwa sopir Bintang yang akan membawa pulang motor lelaki itu. Namun, biarlah. Itu urusan Bintang bukan urusan Bulan.


Setelah berkendara dengan nyaman selama beberapa menit, Bintang membelokkan mobilnya ke sebuah toko roti seperti janjinya tadi pada Bulan. Bintang memarkirkan mobilnya dengan sangat rapi lalu mereka turun. Terdapat plang besar bertulisakan "Lilyan's" di atas pintu masuknya.


Saat baru memasuki toko, bau semerbak roti langsung menyeruak. Sejenak Bulan hanya berdiri di ambang pintuk sembari menikmati aroma di sekitarnya. Kemudian gadis itu melangkahkan kaki mengikuti Bintang yang sudah berjalan lebih dulu menuju salah satu tempat duduk. Toko itu agak sepi, atau mungkin tempat duduknya saja yang sepi. Hanya ada sebuah keluarga kecil yang sedang merayakan ulang tahun putri mereka dan Bulan serta Bintang. Sisanya hanya terlihat berlalu lalang membeli sesuatu untuk dibawa pulang.


Setelah beberapa menit, seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri meja Bulan dan Bintang sembari membawa kue. "Seperti biasa, Fresh Lemon Blueberry Cake pada tanggal dua belas untuk ulang tahun seseorang yang spesial."


Bintang terkekeh menanggapi ucapan wanita tersebut. "Tante Lilyan bisa aja." Kemudian Bintang mulai menyalakan lilin yang sudah ditancapkan di atas kue tersebut.


"Bisa, dong." Selanjutnya mata Lilyan beralih pada Bulan. "Siapa ini cantik sekali? Pacarnya Bintang, ya?"


Bulan tersenyum kaku pada Lilyan. "Bukan tante. Cuma teman." Hanya Bulan yang mengelak, sedangkan Bintang hanya tersenyum.


"Oalah, baru calon, ya? Jangan ditolak Bintangnya, loh. Meskipun kelihatan bandel tapi dia anak baik." Lilyan tersenyum tulus kepada Bulan seolah dia sedang berbicara serius tetapi juga tidak serius.


"Bulan jangan digoda terus, Tante. Kasihan nanti Bintang ditolak beneran sama dia gimana?"


Lilyan menutup mulutnya. Dia tampak terkejut tetapi juga senang. "Wah, nama kalian juga sepasang? Semoga sukses, Bintang." Lilyan menepuk-nepuk pundak Bintang kemudian baru meninggalkan Bulan dan Bintang.


Bulan melihat wanita itu menghilang dibalik sebuah pintu dengan bibir tersenyum. Lalu saat Bulan kembali menatap Bintang, lelaki itu sudah memejamkan mata sembari menyatukan kedua tangan di depan dada. Bulan mengerutkan keningnya bingung. Gadis itu dibuat semakin bingung ketika Bintang sendiri juga yang meniup lilin pada kue tersebut.


Tidak sampai meniup lilin saja. Bintang juga langsung memotong kuenya. Dia menyisihkan potongan pertama. Kemudian membuat satu potongan lagi untuk Bulan dan satu lagi untuk dirinya sendiri.


Selanjutnya seolah tau apa yang dipikirkan Bulan. Bintang mulai berbicara, "Sebenarnya Mama gue udah meninggal, Lan."