Blooming Life

Blooming Life
O2O. Enam Minggu



"Bulan kenapa lama banget, ya?" Sudah dua puluh menit berlalu sejak Bulan meninggalkan halaman belakang rumah Farrel. Seharusnya hanya dibutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas menit untuk berjalan kaki pulang pergi antara rumah Farrel dan *minimarket. Bintang menghela napas, kemudian beranjak dari duduknya.


"Tenang aja kali, Tang. Paling dia lagi milih-milih hal lain di minimarket. Makanya lama," ucap Dika yang sedang menikmati filmnya.


Akan tetapi, Bintang tidak mendengarkan lagi kalimat Dika. Lelaki itu sudah berjalan meninggalkan halaman belakang rumah Farrel. Dika dan Farrel pun hanya membiarkan Bintang begitu saja lalu kembali melanjutkan menonton film yang baru sampai puncak masalah ketika sang tokoh utama perempuan meninggalkan sang tokoh utama laki-laki karena kesalah pahaman.


Tidak sampai satu menit kemudian, terdengar terikan Bintang dari dalam rumah. "Ka! Rel! DIKA!! FARREL!! BULAN PINGSAN!"


Dika dan Farrel terlonjak dari tempatnya. Mereka sampai melompat untuk berdiri. Bergegas berlari menuju asal suara yang berasal dari ruang tamu. Ketika sampai di ruang tamu, Bintang sedang mencoba membangunkan Bulan tetapi tidak juga berhasil. Barang bawaan Bulan sudah berserakan di lantai. "Ambulans, telepon ambulans," gumam Farrel sembari mencari-cari ponsel di saku celananya.


"Ambulans kelamaan. Ka, tolong siapin mobil!" Bintang memberi perintah dengan ekspresi paniknya. Dika pun menganggukkan kepalanya.


。゚☆☽☆゚


"Bulan?" Suara Bintang menjadi yang pertama masuk indra pendengaran Bulan sesaat setelah perempuan itu selesai diperiksa. Bintang berdiri di samping ranjang rumah sakit tempat Bulan membaringkan tubuhnya.


Tangan Bulan bergerak menyentuh permukaan perutnya yang masih rata. "Bintang, gue ...." Bulan bingung bagaimana harus mengatakannya. Dia juga bingung, ekspresi mana yang harus dia keluarkan saat ini.


Namun, Bintang tersenyum. Dia tersenyum lebar dan tampak bahagia. "Iya, gue tau. Berapa usianya, Lan?" Bintang tampak bahagia dan antusias.


"Enam ... minggu," lirih Bulan kemudian menghela napasnya. "Gue bingung, Tang. Apa gue harus seneng karena gue hamil. Atau gue harus sedih karena gue hamil--"


"Kenapa lo harus sedih? Itu anak lo, Lan. Dan cuma anak lo."


Tiba-tiba saja setetes air mata Bulan mengalir dari pelupuk matanya. Perempuan itu langsung memalingkan wajah dari Bintang. "Bukan cuma karena itu, Tang. Tapi ada banyak hal yang ngebuat gue khawatir."


Bintang menggenggam tangan Bulan yang membuat perempuan itu kembali menatapnya. "Lo gak perlu khawatir, Lan. Ada gue di sini. Bilang aja sama gue, selama gue mampu pasti gue bantu."


Setelah Bintang mengatakan hal tersebut, Revallia muncul di ambang pintu bersamaan dengan Dika dan Farrel yang baru kembali dari membeli susu untuk ibu hamil. Pandangan Bulan dan Bintang berhasil teralihkan oleh mereka bertiga, atau lebih tepatnya oleh Revallia. Bintang tidak menyangka bahwa mamanya Bulan akan benar-benar datang ketika dia menghubungi wanita itu tadi.


Ketika Revallia mendekat, Bintang menyingkir dari tempatnya agar Bulan dan Revallia memiliki ruang untuk berbicara berdua. Bulan bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar saat Revallia meletakkan sekeranjang buah ke atas nakas. "Berapa usianya, Bulan?" Revallia menanyakan hal yang sama dengan yang ditanyakan Bintang.


"Enam minggu, Ma," jawab Bulan takut-takut.


"Kondisinya?" tanya Revallia masih sama singkatnya dengan pertanyaan pertama. Wanita itu tidak tersenyum, tetapi juga tidak menampakkan ekspresi marah.


Kemudian tiba-tiba saja Revallia mengangkat tangan kanannya ke atas. Bulan spontan menutup mata dan memalingkan wajah, sedangkan Bintang sudah bersiap menahan tangan Revallia. Akan tetapi, ternyata Revallia hanya berniat untuk mengelus puncak kepala putrinya. Merasakan gerakan tangan Revallia di puncak kepalanya, Bulan membuka mata perlahan.


"Jaga dia baik-baik. Bagaimana pun juga dia ada di rahimmu dan itu anakmu. Mama hanya bisa membantu semampunya." Revallia masih mengucapkan hal tersebut dengan tanpa ekspresi, akan tetapi cukup dengan ucapannya saja sudah bisa membuat Bulan tersentuh dan nyaris menangis lagi.


Revallia menurunkan tangannya perlahan dari puncak kepala Bulan. Saatnya berpamitan. "Mama masih harus lembur, jadi harus kembali ke kantor. Jaga diri baik-baik." Kemudin Revallia meninggalkan ruangan tempat Bulan di rawat untuk kembali ke kantor dan meneruskan pekerjaannya.


Seperginya Revallia, Bulan tersenyum sembari mengelus perutnya. Dia pikir, benar kata Bintang. Kenapa dia harus bersedih. Kenapa dia harus terlalu banyak khawatir? Jika memang dia perlu mengubah rencana masa depannya, mungkin memang itu yang diinginkan takdir. Dan Bulan akan menganggap kehadirian bayinya sebagai berkah.


Setelah itu keempat sahabat yang belum sempat makan malam itu pun memilih untuk makan malam di rumah sakit bersama Bulan yang baru bisa pulang besok setelah cairan infusnya habis. Bintang juga mencari banyak hal di internet kemudian mengatakan banyak hal kepada Bulan seperti bagaimana Bulan harus memilih posisi tidur, makanan apa saja yang sebaiknya dikonsumsi Bulan, olahraga yang sebaiknya mulai bulan lakukan. Bintang juga berkata bahwa dia berencana meminta vitamin pada dokter untuk dikonsumsi Bulan.


"Lama-lama gue curiga kalau lo bapaknya, Tang," celetuk Farrel.


Bintang terkekeh mendengarnya. "Ya lihat aja nanti. Kalau gue nikah sama Bulan otomatis gue jadi bapak dari anaknya."


"Sembarangan mulu kalian kalau ngomong." Bulan tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ngomong-ngomong ... gimana perkembangan kasusnya?"


Pertanyaan Bulan membuat Bintang menghentikan makannya sejenak. Biasanya, Bulan bahkan enggan untuk sekedar mendengar tentang kasus itu meski hanya sekilas."Dia masih sembunyi dan terus pindah-pindah. Tapi detektif swasta yang gue sewa berhasil dapat lokasi dia, semoga dia nggak pindah lagi."


"Kenapa nggak langsung ditangkap aja?"


Bintang menggelengkan kepala. "Dia sembunyi di apartemen yang cukup elit, gak bisa sembarangan buat grebek tempat itu."


Bulan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ponsel Bintang yang berada di atas meja bergetar, sebuah pesan masuk dari detektif yang baru saja dia bicarakan. Bintang menghela napas berat setelah membaca pesan dari detektif tersebut. Lelaki itu segera menuntaskan makannya dan beranjak dari tempat dia duduk.


"Ada apa?" Bulan mengerutkan dahinya sembari menatap Bintang.


"Kayaknya dia bakal bergerak lagi." Bintang menepuk pundak Farrel, memberi kode pada sabatnya itu untuk ikut.


"Terus lo mau ngejar dia? Bahaya, Bintang. Biar polisi aja yang urus." Bulan berusaha mencegah Bintang untuk pergi. Padahal yang tidak diketahui Bulan adalah bahwa Bintang selalu mencoba mengejar Brian sendirian, atau setidaknya bersama Farrel dan orang suruhannya.


Bintang tersenyum pada Bulan. "Tenang aja, gue cuma bakal ngikutin dia pindah ke mana kali ini. Takutnya dia ada yang bantu kabur ke luar negeri dan nggak keburu dicegah."


Bulan hanya terdiam. Kemudian Bintang beralih menatap Dika yang masih menikmati makanannya seolah dia tau bahwa dirinya tidak perlu mengikuti Bintang. "Ka, tolong jaga Bulan, ya." Dika menganggukkan kepala, lalu Bintang dan Farrel pergi meninggalkan ruangan tersebut.