Blooming Life

Blooming Life
O27. Nasi Goreng



"Tell me that you love me too."


"I love you, Bintang." Bulan menatap serius tepat ke dalam mata Bintang.


Bintang menghentikan langkahnya. Lelaki itu mengerjapkan mata. Dia cukup terkejut dengan pernyataan cinta yang tiba-tiba dari Bulan. "Lo ... barusan bilang apa?" tanya Bintang dengan bodohnya dan dilengkapi ekspresi bingung lelaki itu.


Bulan yang mendengar pertanyaan tersebut langsung memanyunkan bibir dan menghempaskan tangan Bintang, lalu memukul dadanya. "Males, ah. Lo diajak ngomong nggak dengerin." Bulan kembali duduk di sofa sembari memanyunkan bibir yang sebenarnya dia hanya berpura-pura kesal karena malu.


"Nggak, kok. Gue dengerin tadi." Bintang menyusul Bulan kembali duduk di sofa. "Lo bilang I love you, kan?"


Bulan menatap Bintang dengan tatapan "berpura-pura marah"-nya. "Gak usah diperjelas juga, kali." Bulan merasa malu hingga membuatnya kembali memalingkan wajah.


Bintang semakin mengembangkan senyum. "Nggak apa-apa. Biar gue juga bisa jawab dengan jelas." Rasanya Bintang semakin ingin menggoda Bulan.


"Jawab apa? Jawab apa?" Bintang sudah menahan diri untuk tidak semakin menggoda Bulan, tetapi perempuan itu justru menantangnya.


"Jawab; I love you too, Bulan," ucap Bintang sembari tersenyum tipis dengan manis yang berhsil menyihir Bulan.


Untuk sesaat, kalimat tersebut membuat Bulan terdiam sembari menatap Bintang lekat. Kemudiam mereka saling tertawa satu sama lain menertawakan tingkah kedunya. Hingga kemudian sebuah suara menginterupsi suara mereka berdua. Kruuk. Suara yang berasal dari perut Bulan itu benar-benar menghentika tawa Bulan dan Bintang, tetapi tidak lama karena kemudian mereka kembli tertawa bersama.


"Gue beliin makanan, ya? Kebetulan tadi gue juga belum makan. Ada makanan yang lo pengen?" tawar Bintang.


"Ada, nasi goreg depan komplek. Tapi dia gak pake layanan pesan antar online jadi ... harus ke sana langsung." Bulan sedikit ragu dan merasa tidak enak untuk meminta hal tersebut.


Akan tetapi, tampaknya Bintang tidak keberatan. "Okay, tapi lo di rumah aja, ya. Bahaya dan dingin juga di luar, soalnya gue mingkin bakal jalan kaki karena nggak terlalu jauh juga, kan."


Bulan menatap Bintang sembari mengerutkan alis. "Tapi gue takut, Tang. Nanti kalau ada yang nerobos masuk lagi kayak tadi gimana?"


Bintang tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Kemudian memegangi kedua pundak Bulan dengan tangannya. "Lan, tenang aja. Sebentar lagi polisi akan datang. Cuma sebentar. Gue juga yakin dia nggak berani macam-macam sampai nerobos masuk rumah. Jadi tenang, okay?"


Akhirnya, Bulan mengangguk setuju. "Jangan lama-lama, ya. Dan hati-hati," pesan Bulan sebelum Bintang pergi.


Mendengar ucapan Bulan, rasanya Bintang hampir meledak bahagia. "Siap!"


Bintang beranjak dari tempat duduknya dan siap melangkah pergi. Tetapi dia berhenti dan menatap Bulan lagi. "Lan."


Melihat Bulan merasa malu sampai wajahnya memerah membuat Bintang tertawa senang. "Dah, Bulan. Pangeran lo ini akan segera kembali membawa nasi goreng dan kebahagiaan. Jangan kangen, ya." Kemudian Bintang berlari keluar dari rumah Bintang karena sebenarnya Bintang sendiri pun malu.


Di tempatnya, Bulan tidak dapat menahan senyum. Dia bahagia, dia senang. Meskipun begitu Bulan tetap berkomentar, "Jijik, gombal."


Setelah Bintang pergi, Bulan berniat menunggu sembari melanjutkan menonton film. Saat akan mengambil remote televisi, Bulan mendapati bahwa ponsel Bintang tertinggal. Bulan pikir dia harus menyusulkan ponsel tersebut karena dia takut jika sesuatu terjadi perempuan itu tidak dapat menghubungi Bintang. Lagi pula mungkin Bintang belum jauh.


Bulan berlari keluar rumah, Bintang sudah tidak ada di luar rumah. Tanpa berpikir panjang dan memikirkan konsekuensinya, Bulan membuka pagar rumahnya dan mengcek di luar pagar. Akan tetapi, Bintang juga sudah tidak ada terlihat. "Cepet banget jalannya," gumam Bulan.


Sementara itu, tanpa Bulan sadari seseorang berjalan perlahan dari arah belakang mendekatinya. Perlahan juga Bulan mulai mendengar suara langkah, membuat rasa takut perempuan itu kembali. Bulan memutar tubuhnya, lalu di sana lah Bulan mendapati seorang pria dengan pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan masker berdiri menatapnya lekat.


Meskipun nyaris seluruh wajahnya tertutup, Bulan tetap bisa mengenali pria itu. Bulan ketakutan, tubuhnya seolah membeku. "Hai, Bulan. Apa kabar? Kangen saya, hem?" Pria itu menurunkan maskernya dan tersenyum miring.


"Brian ... pergi!" Suara Bulan terdengar bergetar hebat. Kepala Bulan pusing, dia panik dan takut. Dia mual dan rasanya sangat sulit untuk sekedar bernapas. "Pergi! Saya gak akan pernah menggugurkn bayi ini. Jadi pergi!"


Brian terkekeh dengan menyeramkan. "Kalau begitu dari pada bayi itu membawa kesulitan bagi saya, lebih baik sekalian saja kalian berdua yang mati."


。゚☆☽☆゚


Bintang berlari keluar dari rumah Bulan dengan senyum lebarnya. Dia merasa menjadi lelaki paling beruntung sejagat raya ketika mendengar pernyataan cinta dari Bulan. Saking senangnya dia sampai tanpa sadar meninggalkan ponsel miliknya.


Awalnya Bintang berniat membiarkan saja ponselnya tertinggal. Akan tetapi, terpikir bagi Bintang untuk mengambil ponselnya sekalian mengecek kondisi Bulan dan jika bisa kembali menggoda perempuan itu hingga wajahnya semerah tomat. Selain itu dia juga takut Bulan kenapa-kenapa dan tidak ada yang bisa perempuan itu hubungi.


Dengan berlari lebih cepat dari ketika berangkat, Bintang kembali ke rumah Bulan. Lalu langkah lelaki itu terhenti ketika mendapati Bulan sedang berdiri di depan rumah bersama seseorang dengan pakaian serba hitam. Lalu sinyal bahaya seperti berbunyi di kepala Bintang ketika dia menyadari siapa pria itu.


Bintang berlari dan berhenti di hadapan Bulan tepat ketika Brian mengeluarkan pisau hingga pria itu yang awalnya berniat menusuk Bulan justru membuat Bintang yang tertusuk hingga dua kali.


Brian yang baru sadar telah menusuk orang yang salah segera menarik pisaunya kemudian melepaskan genggamannya pada senjata tajam tersebut dan berniat lari. Sayangnya tepat di saat yang bersamaan, sekumpulan mobil polisi datang menghadang dan siap menjemput Brian.


Sementara itu, Bintang di tempatnya mulai merasakan rasa sakit yang teramat dalam pada tubuhnya. Lelaki itu perlahan meluruh ke aspal yang dingin dan sengan sigap Bulan menahan tubuh Bintang sehingga mereka secara bersamaan meluruh ke bawah, terduduk. Bulan menyandarkan tubuh Bintang pada tubuhnya.


Darah terus keluar dari luka Bintang. "Bintang," lirih Bulan sembari menangis. Dia memeluk tubuh Bintang dengan erat.


Bintang tidak dapat mengatakan apapun, yang dia bisa lakukan hanya tersenyum pada Bulan--perempuan yang paling dia cintai setelah ibunya. "Jangan pergi, tolong jangan pergi," mohon Bulan selagi tempat mereka duduk semakin digenangi banyak darah karena tanpa Bulan sadari, darah juga mengalir dari tubuhnya.