Blooming Life

Blooming Life
OO4. Kenangan dan Ruangan



Dengan mengintip dari balik pundak Bintang, Bulan dapat melihat Pak Bri berjalan kembali menuju kamar mandi. Sementara itu, Bintang masih menatap Bulan sampai gadis itu berkata, "Tang, Pak Bri jalan ke arah kamar mandi lagi."


Bintang segera melepaskan Bulan. "Tang, kita harus selamatin cewek tadi," lanjut Bulan sembari menatap Bintang dengan tatapan memohon.


Bintang menghela napas. "Oke, tapi sampai gue ke sini lagi lo gak boleh ke mana-mana." Bulan menganggukkan kepala paham. Kemudian Bintang keluar dari ruangan tersebut untuk membunyikan alarm tanda bahaya yang letaknya berada di bawah tangga.


Tidak sampai lima menit berselang, alarm tanda bahaya berbunyi. Semua guru dan murid berhamburan ke luar kecuali Bulan yang tetap di dalam ruangan seperti permintaan Bintang. Dari tempatnya bersembunyi, Bulan dapat melihat Pak Bri berlari meninggalkan kamar mandi lalu disusul siswi yang tadi dilecehkan olehnya. Sedangkan Bintang sendiri berbaur bersama murid lain agar tidak ketahuan.


Semua orang berkumpul di lapangan sekolah, mungkin nyaris semua termasuk Bintang. Akan tetapi, Bintang tidak melihat tanda-tanda kehadian Farrel dan hanya Dika yang sekarang sedang bersamanya.


"Tadi ulah lo, kan?" tanya Dika sembari berbisik. Bintang hanya mengangguk, dia sedang sibuk menghubungi Farrel agar salah satu sahabatnya itu menjemput Bulan dan membawanya ke tempat yang lebih aman.


"Ngapain coba?" tanya Dika lagi.


"Nanti gue ceritain," jawab Bintang kali ini.


。゚☆☽☆゚


Setelah menerima pesan dari Bintang, Farrel bergegas turun ke lantai dua meskipun Bintang hanya memintanya menjemput Bulan tanpa diberikan alasan. "Ruangan terakhir sebelum kamar mandi," gumam Farrel sembari menyusuri lorong.


Kemudian Farrel menemukan dua ruangan yang saling berhadapan, dua ruang terakhir sebelum kamar mandi. Pintu pertama yang dibuka Farrel adalah yang di pintunya bertuliskan Komputer B-3. Akan tetapi, Bulan tidak ada di ruangan itu. Mau tidak mau, Farrel harus mengecek ruangan di seberang ruang Komputer B-3. Tidak ada tanda atau tulisan apa pun pada pintu ruangan itu, karena ruangan itu di kosongkan setelah suatu kejadian.


Farrel menelan salivanya sendiri, dia terlalu ragu untuk membuka ruangan bersejarah itu. "Kenapa di bawa ke sini, sih," gerutu Farrel.


Setelah menghela napas, Farrel memutar knop pintu lalu mendorong daun pintunya dengan keras tanpa sadar bahwa Bulan sedang berdiri di belakang pintu. Seketika terdengar suara dua permukaan keras yang saling bertumbuk dan suara mengaduh yang keras dari dalam. Buru-buru, Farrel masuk ke dalam dan mendapati Bulan yang berjongkok sembari mengelus jidatnya sendiri. Mata Bulan tertutup rapat karena kesakitan.


Namun alih-alih segera menolong Bulan, Farrel justru terdiam di tempatnya. Kejadian di depannya terasa familiar. "Pelan-pelan kalau mau buka pintu, dong," protes Bulan yang membuat Farrel segera tersadar. Lalu Farrel ikut berjongkok untuk menolong Bulan.


"Aduh, sakit, ya? Maaf gue nggak sengaja. Oh, iya. Lo Bulan, kan? Gue Farrel, sahabat Bintang. Gue di sini buat jemput lo."


Bulan masih mengusap-usap jidatnya. "Satu-satu, jidat gue masih sakit."


Farrel agak kikuk karena tingkahnya sendiri. "Eh, intinya gue sahabat Bintang. Lo pasti pernah lihat gue lalu lalang sama Bintang. Gue diminta jemput lo."


Tentu saja Bulan mengenali Farrel, selain karena lalaki itu atlet bela diri taekwondo tetapi juga karena dia dan satu lagi anak OSIS--yang tidak Bulan ketahui namanya atau lebih tepatnya Bulan tidak perduli dengan namanya--sering terlihat berjalan bersama Bintang. "Iya, gue tau lo."


Kemudian Farrel membawa Bulan ke rooftop. Saat berada di rooftop Bulan hanya terdiam sembari menatap ke sekitar. Ruangan itu berpenerangan pendar, ada sofa dan meja yang di atasnya terdapat semangkuk pangsit, dispenser air minum, kulkas mini yang Bulan tebak berisi minuman kaleng, sebuah gitar disandarkan ke tembok.


Sementara Bulan melihat-lihat, Farrel kembali mendapat sebuah pesan dari Bintang. "Udah beres, gue otw ke atas. Jangan biaran Bulan pergi sebelum gue sampe sana." Isi pesan tersebut.


"Kata Bintang, lo disuruh nunggu sebentar lagi. Dia udah selesai, baru mau ke sini." Bulan hanya mengangguk-anggukkan kepala.


Tidak berselang lama terdengar suara ribut-ribut dari luar. "Lo gila, Tang." Hanya kalimat itu yang terdengar jelas sampai ke dalam ruangan. Kemudian pintu terbuka, menampakkan Dika dan Bintang yang berada di belakangnya. Begitu pintu terbuka, hal pertama yang Dika lihat adalah seorang siswi yang duduk di sofa dan siswi tersebut terlihat agak terkejut saat melihatnya.


"Eh." Bulan merasa kikuk untuk sesaat sampai dia melihat Bintang tersenyum dari balik punggung Dika. "Ah ... iya. Gue Bulan," jawab Bulan dengan senyum dipaksakan yang tetap memperlihatkan lesung pipitnya.


Diam-diam, Bulan menggerutu di dalam hatinya. Dia berniat menghindari Bintang, akan tetapi sekarang dia justru terjebak di tongkrongan Bintang bersama teman-teman lelaki itu yang salah satunya tampak tidak bersahabat dengan kehadiran Bulan. Mimpi apa Bulan semalam. Kini Bulan hanya bisa berdoa di dalam hati, semoga untuk ke depan masa SMA-nya masih akan tenang-tenang saja seperti sebelumnya.


Bulan berdiri dari duduk. Dia berniat pamit menuju kelas karena suasana di ruangan itu jadi terasa tidak enak. "Tang, gue ke kelas dulu, ya. Takut dicariin anak-anak kelas."


"Eh, kenapa buru-buru? Gak usah buru-buru, bentar lagi istirahat pasti banyak kelas yang kosong termasuk kelas lo." Bintang menerobos Dika untuk masuk ke dalam ruangan. Kemudian Bintang menghampiri Bulan, duduk di samping gadis itu, lalu sedikit menarik tangan Bulan sehingga gadis itu kembali duduk. Bulan ingin memberontak, tetapi membayangkan akibatnya sudah membuat Bulan seram sendiri karena di sini bukan hanya Bintang sendirian.


"Tadi gue beli pangsit tapi masih sisa satu porsi. Harusnya jatah Dika, tapi kayaknya dia udah nggak mau. Iya, kan, Ka?"


"Gue udah gak nafsu," ucap Dika ketus. Lelaki itu sudah balik badan berniat pergi sampai dia menghentikan langkah setelah mendengar jawaban Bulan.


"Tapi, gue nggak terlalu suka pangsit, Tang. Sorry, ya." Bulan menyengir canggung.


"Oh, iya? Terus lo sukanya apa?" tanya Bintang yang terlihat sekali berusaha menahan Bulan lebih lama.


"Emang lo mau beliin?" Tantang Bulan. Farrel hanya menjadi penonton dan Dika masih berdiri di ambang pintu, menguping.


Bintang mengendikkan bahu. "Lo sukanya makanan bertabur emas juga bakal gue beliin, Lan."


"Gue nggak segitunya, ya." Bulan kemudian berpikir sejenak apa yang paling dia suka. Kemudian dia teringat menu kantin hari ini. "Ada es krim choco mint di kantin hari ini. Gue suka banget itu," jawab Bulan sembari tersenyum sumringah.


Lesung pipit, tidak suka pangsit, dan suka es krim choco mint dari kantin sekolah. Tiga fakta sederhana yang membuat Bintang, Farrel, dan juga Dika terkejut hingga terdiam. Akan tetapi, Bintang berhasil untuk segera mengatasi suasana.


"Oh, es krim pasta gigi itu?" Iseng Bintang.


Ekspresi Bulan menjadi garang seketika. "Enak aja--"


"Apa lo juga lebih suka yoghurt dari pada susu?" Dika menyela tiba-tiba. Bintang dan Farrel langsung memahami apa maksud pertanyaan Dika.


"Emm ... iya. Kok lo tau?" tanya Bulan.


"Lucy," gumam Farrel pelan lalu menelan salivanya sendiri, dia nyaris menahan napas.


"Lo tadi bilang apa?" tanya Bulan yang tidak dapat mendengar dengan jelas gumaman Dika.


"Bukan apa-apa," jawab Dika dengan wajah yang tampak bingung. Kemudian lelaki itu buru-buru pergi tanpa mengucapkan apa pun. Bulan jadi ikut kebingungan dibuatnya.


"Biarin aja, Lan. Dika emang kadang aneh gitu," jelas Farrel.


"Iya, bener kata Farrel," timpal Bintang membenarkan. "Tadi lo bilang mau balik ke kelas, kan? Ayo, gue antar sekalian traktir lo es krim di kantin."