Blooming Life

Blooming Life
O15. Kilas Balik



2 tahun yang lalu


"Lucy, tolong biarin kita bantu lo buat laporin orang itu. Mau, ya?" Untuk kesekian kalinya Dika membujuk Lucy, tetapi untuk kesekian kalinya juga Lucy menolak bantuan Dika juga Bintang dan Farrel.


Lucy menggelengkan kepala sembari tersenyum seperti biasa. "Gue gak apa-apa, tenang aja. Gue bukan orang berada, Ka. Gue gak mau bikin masalah sama orang kayak dia."


Dika hanya bisa menghela napas. Bintang dan Farrel berdiri di belakang Dika, mereka berdua juga sudah kehabisan ide untuk membujuk Lucy. Mungkin sekali dua kali, mereka bisa menyelamatkan Lucy dari Brian seperti hari ini, tetapi mereka tidak bisa terus bersama Lucy 24/7. Karena itu lah mereka ingin agar Lucy mau memproses Brian melalui jalur hukum.


Dika menarik salah satu tangan Lucy lalu menggenggamnya erat. "Mau sampai kapan kamu biarin dia ngelecehin kamu, Lucy?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Dika yang Lucy juga tidak tahu mau menjawab apa, perempuan itu justru terkekeh dan mengalihkan pembicaraan. "Suka banget ya tiba-tiba pakai aku kamu?"


Dika berdecak kesal lalu mengcak-acak rambutnya sendiri. "Kenapa, sih? Kan, sama pacar sendiri."


"Aneh tau, gak?" Lucy mendengus sembari tersenyum kemudian berdiri dari tempatnya duduk. "Kalau lo terus-terusan bahas itu, mending gue balik ke kelas. Udah mau masuk. Kalian juga harus ke kelas, belajar yang bener," pesan Lucy seolah dia lebih tua padahal pada kenyataannya mereka seumuran.


"Okay, okay." Untuk hari ini, Dika menyerah dengan usahanya membujuk Lucy. "Gue temenin ke kelas." Lucy mengangguk-anggukkan kepala setuju, tanpa penolakan. Kemudian perempuan itu terlebih dahulu keluar dari basecamp saat Dika berpamitan dengan teman-temannya yang entah sejak kapan mereka menjadi akrab.


"Gue ke kelas dulu, Bro," pamit Dika yang diacungi jempol dan anggukkan kepala oleh Bintang. Setelah itu Dika bergegas menyusul kekasihnya lalu mensejajarkan langkah mereka.


"Dika, kalau suatu saat gue gak bisa sama lo lagi ... tolong jaga diri baik-baik, ya?" tanya Lucy tiba-tiba ketika mereka sedang menuruni tangga menuju lantai satu. Dika yang sejak tadi diam, seketika terperanjat, hatinya berdenyut nyeri saat mendengar kalimat yang dikeluarkan Lucy. Akan tetapi, lelaki itu tetap mencoba untuk tidak berpikir macam-macam.


"Apa maksud lo, Lucy? Jangan bilang yang aneh-aneh, kita masih punya banyak hari buat dihabisin bareng-bareng." Tangan Dika bergerak mengacak rambut Lucy, lalu membiarkan tangannya tetap membelai kepala Lucy dengan lembut sampai mereka berada di penghujung tangga. Dika menghentikan langkahnya tepat di bawah tangga. "Masuk kelas, gih. Gue lupa kalau ada rapat OSIS."


Dengan cengirannya, Dika menatap Lucy. Lelaki itu tampak berusaha menunjukkan kecerobohannya di depan sang pacar. Lucy memicingkan matanya pada Dika sembari menggelengkan kepala. "Dasar!" Setelah itu, Lucy bergegas menuju kelas tanpa sepatah kata pun lagi.


Sementara itu, cengirian di wajah Dika perlahan memudar seiring dengan menghilangnya Lucy di balik pintu kelas. Dika tidak seceroboh itu untuk melupakan sesuatu secara sembarangan. Itu hanya alasan untuk tidak masuk ke dalam kelas. Tadinya Dika memang sudah berniat kembali ke kelas, tetapi kalimat Lucy membatalkan niatnya karena kalimat itu terlalu mengusik Dika.


"Nggak, dia gak akan ngelakuin sesuatu yang macam-macam," gumam Dika sembari mengeleng-gelengkan kepala lalu kembali berjalan naik ke rooftop.


。゚☆☽☆゚


Seperti biasa Dika menjemput Lucy di kelas sesaat setelah bel pulang berbunyi, rutinitasnya saat pulang sekolah adalah mengantar Lucy pulang. Satu persatu teman sekelas Lucy keluar dari kelas, tetapi Lucy belum juga kelihatan. Dika masih belum berpikir macam-macam karena pacarnya itu memang langganan keluar kelas paling akhir.


Lelaki itu segera mengambil ponselnya dari saku celana lalu mencari kontak Bintang. Setelah dering kesekian, Bintang mengangkat panggilan dari Dika. "Tang, Lucy gak ada di kelasnya. Ini gimana ... hishh firasat gue gak enak," ucap Dika dengan cepat dan panik.


"Tenang dulu, Ka. Tenang. Mungkin dia udah pulang duluan. Coba telepon dia." Bintang mencoba menenangkan salah satu temannya itu.


"Dia gak mungkin pulang duluan, gue nunggu di depan kelas dari sebelum bel. Kalau di keluar kelas pasti gue bakal lihat, Tang. Terus ... terus tadi siang dia bilang kalau suatu saat dia gak bisa sama gue lagi ...." Dika tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Apa-- tenang dulu ... coba telepon Lucy. Gue coba cari lewat CCTV. Siapa tau dia pulang sebelum bel." Dika menyetujui usulan Bintang lalu memutuskan sambungan dengan lelaki itu untuk beralih menghubungi ponsel Lucy.


Sementara Dika terus menghubungi Lucy yang tidak kunjung mendapat jawaban, Bintang berlari secepat mungkin menuju ruang kemanan yang di sana terletak rekaman CCTV dari berbagai penjuru sekolah. Dia berbicara sejenak pada salah satu penjaga untuk memberinya akses, lalu dengan mudah Bintang mendapatkan akses. Tidak sampai lima menit, Bintang mendapati Lucy keluar dari kelas sekitar setengah jam sebelum bel pulang. Gadis itu tampak berjalan menuju tangga lalu muncul lagi di lorong lantai dua.


Setelah ditelusuri jejak Lucy, terakhir perempuan itu terlihat menuju lorong di dekat ruang komputer pada lantai dua. Satu tempat langsung terpikirkan oleh Bintang. Kemudian lelaki itu segera menghubungi Dika sembari keluar dari ruang keamanan. "Dia terakhir kelihatan di lantai dua ... kayaknya dia ke ruangan itu deh, Ka."


"Maksud lo ... shit!"


Bintang dan Dika sama-sama berlari secepat mungkin menuju lantai dua, tepatnya menuju sebuah ruangan tanpa plang nama yang terletak berhadapan dengan ruang komputer B-3. Bintang yang tiba pertama di sana karena dia hanya perlu naik dari lantai satu. Bintang berhenti sejenak di hadapan ruangan itu sebelum membukanya, sembari berdoa bahwa semoga Lucy tidak masuk ke dalam ruangan itu.


Bintang membuka pintu tersebut dalam satu sentakan. Gelap, Bintang tidak bisa melihat apa pun. Lelaki itu masuk satu langkah ke dalam, meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu, lalu menekannya dan lampu menyala. Begitu Bintang mengedarkan pandangannya ke tengah ruangan, dia terkejut hingga terduduk seketika. Lelaki itu lemas dan nyaris tidak dapat percaya dengan apa yang dia lihat.


Dika yang mencari Lucy hingga ke luar gerbang dan farrel yang baru selesai latihan taekwondo, menyusul Bintang beberapa saat setelah lelaki itu jatuh terduduk dengan lemas. Begitu sampai di depan pintu, Farrel melebarkan matanya. Dia mengambil satu langkah mundur tanpa sadar. Sedangkan Dika terpaku di tempatnya, menatap tepat ke tengah ruangan. Seseorang tergantung di sana dengan mengenaskan. "Lucy ...," lirih Dika.


———


Bulan menatap dua buah pil di tangannya dengan perut yang seperti diaduk-aduk. Meminum obat? Dia bahkan tidak sanggup membuka mulut. Seolah jika membuka mulut, seluruh isi perutnya akan keluar begitu saja. Kemudian Bulan meletakkan dua pil tersebut ke atas naskah. Lalu perlahan di berjalan ke kemar mandi.


Awalnya, dia hanya berniat membasuh muka di wastafel. Akan tetapi saat melihat pantulan dirinya pada cermin, entah kenapa rasanya begitu memuakkan. Tanpa berpikir dua kali, Bulan memukul cermin di hadapannya hingga terpecah dan membuat kubu-kubu jarinya terluka.


Sebuah serpihan cermin jatuh ke dalam wastafel, untuk beberapa detik Bulan menatap serpihan tersebut. Tangan Bulan bergerak perlahan mengambilnya lalu menggemnya dengan kuat. Kemudian Bulan menempelkan serpihan tersebut pada pergelangan tangannya. Setetes air mata Bulan jatuh. Dia takut untuk mati, tetapi hidup terlalu memuakkan terlalu melelahkan.


Saat Bulan akan menarik serpihan kaca yang dia pegang, pintu kamar mandi di gedor dengan kuat. "Bulan! Bulan, kamu di dalam?!" teriak Revallia dari luar. Begitu mendengar suara sang mama, Bulan menurunkan tangannya, setelah itu melepaskan serpihan kaca yang dia genggam begitu saja.


Tangis Bulan pecah saat itu juga. Perempuan itu terduduk sembari bersandar pada dinding kamar mandi. Tangisnya semakin keras tanpa sadar, hingga terdengar sampai luar.