Blooming Life

Blooming Life
O21. Kedepannya



Sudah satu minggu semenjak kabar kehamilan Bulan. Hari ini adalah pertemuan keduanya dengan dokter kandungan setelah pingsan hari itu. Setelah menemui dokter kandungan Bulan berjanji untuk bertemu dengan ketiga sahabatnya di toko roti Liliyan's, toko roti langganan Bintang. Ketiga sahabat Bulan mengatakan bahwa mereka ingin merayakan kehamilan Bulan tetapi karena mereka sibuk mengurus persiapan untuk masuk universitas, hal itu baru bisa terlaksana hari ini.


Dengan naik taksi, Bulan menempuh perjalanan dari rumah sakit menuju toko roti. Padahal Bintang sudah berkali-kali membujuk Bulan agar mau dijemput. Akan tetapi, Bulan bersikeras menolak tawaran Bintang karena Bulan tau bahwa lelaki itu sedang sibuk dengan persiapannya.


Terdengar suara lonceng ketika Bulan membuka pintu. Perempuan itu mengedarkan pandanan ke seluruh ruangan. Di salah satu sudut toko roti, Bulan dapat melihat ketiga sahabatnya duduk berdampingan dan melambaikan tangan padanya. Dengan senyum merekah lebar, Bulan menghampiri Bintang, Dika, dan juga Farrel.


Tanpa menunggu dipersilakan, Bulan langsung duduk pada satu-satunya kursi yang tersisa. Sementara itu di atas meja sudah tertata empat set peralatan makan, empat gelas berisi jus jeruk, dan tentu saja sebuah roti dengan hiasa lemon dan blueberry di atasnya. Tadi saat akan memesan kue, Bintang teringat kunjungannya ke toko tersebut bersama Bulan. Saat itu, Bulan meminta Bintang untuk mentraktirnya lemon blueberry roll cake.


"Okay! Karena Bulan sudah ada di sini maka saatnya untuk memotong kue, tapi sebelumnya gue mau Bulan berdoa dulu buat dirinya sendiri dan bayinya."


Bulan mengangguk setuju. Kemudian dia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memejamkan mata, dan mulai memanjatkan doa di dalam hati. Bintang, Dika, dan Farrel juga melakukan hal yang serupa dengan Bulan.


Setelah selesai berdoa, Bulan mulai memotong kuenya. Ketiga sahabat Bulan mengamati dengan serius ketika perempuan itu memotong potongan pertama dari kue. Mereka bertiga menebak-nebak, siapa yang akan mendapatkan potongan pertama. Akan tetapi ketika sudah di potong, Bulan justru menyingkirkan potongan tersebut dari hadapannya. Kemudian Bulan membuat potongan besar dan memotong lagi potongan besar itu menjadi tiga bagian lalu membaginya kepada Bintang, Dika, juga Farrel.


"Loh, potongan pertamanya, Lan?" tanya Farrel yang mengharapkan potoangan pertamanya tanpa maksud terselubung.


"Iya, potongan pertamanya gimana?" tanya Bintang yang mengharapkan potongan pertamanya dengan maksud terselubung.


Bulan menarik kembali piring yang berisi kue potongan pertama ke hadapannya. Dia tersenyum. "Potongan pertamanya buat yang ada di perut," ucap Bulan sembari mengelus-elus perutnya.


***


"Tadi waktu pemeriksaan apa kata dokter, Lan? Aman?" tanya Bintang setelah mereka selesai makan.


"Emm ... katanya kandungan gue lemah. Jadi gue gak boleh ngerjain sesuatu yang terlalu berat atau terlalu stres, kalau gak nanti bisa pingsan lagi atau lebih buruk," jelas Bulan. Bintang mengangguk-anggukkan kepala.


"Tuh, kan. Makanya lo kalau mau dijemput Bintang mau-mau aja. Kalau perlu babuin sekalian dia." Farrel tampak menggebu-gebu yang membuat Bulan terkekeh pelan. Bintang hanya tersenyum mendengar perkataan Farrel.


"Apa, sih kalian ini. Gue gak apa-apa, kok."


"Gak apa apa gimana? Pingsan gitu dibilang nggak apa-apa. Bener tau yang dibilang, Farrel." Kali ini giliran Dika.


Bulan sekali lagi terkekeh. Dimata Bulan, ketiga temannya itu tampak menggemaskan saat mengkhawatirkan bayi yang sedang dia kandung. "Iya, iya. Lain kali gue lebih hati-hati, kok. Kemarin gue belum tau kalau hamil, kan. Kalian ini ... kayak bapak-bapak aja."


Sejenak Farrel tampak berpikir. "Bener juga! Biasanya ada sebutan bapak tiga anak. Nah, kalau anaknya Bulan beda. Nanti disebutnya, Anak tiga bapak," ceplos Farrel yang membuat Dika mengulum senyum dan Bintang serta Bulan sudah pecah tawanya.


"Masuk, sih. Masuk," balas Dika yang pada akhirnya tertawa juga meski pun pelan.


Setelah mendengar penjelasan detektif tersebut selama setengah menit, Bintang menatap ketiga temannya satu persatu. "Orang gue berhasil nemuin cctv yang nunjukin Brian masuk ke minimarket."


"Di mana?" tanya Dika dan Farrel bersamaan.


Saat Bintang akan menjawab pertanyaan itu, Bulan menyelanya. "Biarin polisi yang urus. Nanti lo kenapa-kenapa lagi. Nggak inget itu jidat belum sembuh." Pandangan Bulan menatap lurus ke arah salah satu bagian pada pelipis Bintang yang tertutup perban.


Satu minggu lalu, Bintang melanggar ucapannya untuk tidak mengejar Brian sendirian. Jadilah dia mendaptkan luka tersebut alih-alih menangkap Brian. Saat itu Bulan sudah khawatir setengah mati ketika mendengar kabar bahwa Bintang dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi kepala yang terluka. Untungnya pelipis Bintang hanya perlu dijahit.


"Bener apa kata, Bulan. Serahin aja ke polisi," saran Dika.


Bintang menghela napas, kemudian mengangguk-anggukkan kepala paham. Meskipun Bintang sedikit kesal, tetapi sahabat-sahabatnya benar. Nanti bukannya menangkap Brian malah bisa-bisa dirinya terluka lebih parah atau yang lebih buruk bisa saja terbunuh. Jadi Bintang hanya mengirimkan apa yang dia dapat kepada pihak berwajib yang menangani kasus tersebut.


"*Guys, gue udah tau gue mau ke mana setelah ini," ucap Farrel memecah hening suasana, membuat Dika dan Bintang yang tadinya sibuk dengan ponsel kini beralih menatapnya. Juga Bulan yang tadinya sibuk dengan pikiran perempuan itu sendiri.


"Emang lo mau lanjut ke mana?" tanya Dika.


"Gue pengen jadi dokter anak." Farrel tersenyum lebar sembari mengucapkan hal tersebut, padahal yang mendengar ucapannya terkejut bukan main terutama Bintang dan Dika.


Mereka hening, sesaat kemudian Bintang dan Dika pecah tawa secara bersamaan. "Lo bercanda, Rel? Masuk kelas aja lo males." Bintang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran.


"Ya ... bukan berarti gue nggak bisa, kan? Gue bakal berusaha keras buat belajar dan lewatin tes masuknya. Jadi buat itu mungkin gue bakal istirahat setahun. Tabungan gue dari turnamen-turnamen juga masih cukup." Farrel berbicara dengan santai tetapi pada saat bersamaan dia jua tampak serius. Hal itu berhasil meredakan tawa Bintang dan Dika.


"Bagus, dong. Kalau lo mau usaha. Gue juga rencananya mau istirahat satu tahun." Kini perhatian Farrel, Bintang, dan Dika beralih pada Bulan.


"Lo serius?" tanya Bintang. "Terus ... beasiswa lo gimana? Lo udah lama persiapin diri buat itu, kan?"


Bulan mengendikkan bahu kemudian tersenyum. "Dengan kondisi gue sekarang, gue gak bisa pergi. Jadi gue bakal kuliah tahun depan di dalam negeri. Sambil nungu itu, gue bakal bantu ngajar disebuah tempat bimbel punya teman Mama."


Farrel menopangkan dagu pada tangannya yang bertumpu dengan meja. Lelaki itu menatap Bulan tepat ke dalam mata Bulan. "Lo yakin sama pilihan itu? Lo bahagia sama pilihan itu?"


Bulan menganggukkan kepalanya samar. "Nggak bisa dibilang bahagia juga, sih. Tapi gue yakin sama pilihan itu dan seenggaknya itu pilihan gue sendiri."


Bintang yang duduk di samping Bulan tersenyum lebar begitu mendengar jawaban perempuan itu. "Selama lo senang sama pilihan itu dan nggak melanggar hukum, gue bakal dukung itu," ucap Bintang sembari mengelus pelan puncak kepala Bulan.