
"Halo." Terdengar suara berat dan serak keluar dari ponsel Bintang yang sudah diatur pada mode loudspeaker. Suaranya benar disamarkan.
Saat suara dengan satu kata itu keluar, rasanya Bulan hampir tercekat dan sesak untuk sesaat. Begitu juga tiga orang lainnya, termasuk Bintang. Lalu dengan gugup Bintang menjawab panggilan tersebut. "Ha--halo, gue sekarang lagi sama yang lain. Bulan, Dika, sama Farrel. Apa lo siap dengerin rencana ki--"
"Sebelumnya, apa lo siap sama semua resiko yang akan terjadi?" tanya Farrel menyela pertanyaan Bintang. Yang disela hanya bisa diam, dia tidak ingin bertengkar.
"Iya, gue siap," jawab si Relawan dengan yakin.
"Okay." Farrel terlihat masih memiliki sesuatu untuk dikatakan jadi Bintang tetap diam. "Gimana lo menjamin kalau lo gak akan berkhianat dari kita sedangkan kita gak tau identitas lo dengan pasti?"
Untuk sesaat hanya terdengar suara bergemuruh yang berasal dari gangguan jaringan. "Gue juga korban Pak Bri dan gue pengen lepas dari dia. Kalau gue berkhianat dari kalian, terus ketahuan Pak Bri kalau gue juga berkhianat dari dia bisa bisa gue abis. Gue gak akan berkhianat," jawab suara itu dengan lancar setelah gangguan jaringan sesaat tadi.
Farrel hanya mengangguk-anggukkan kepala setelah itu. Lalu giliran Bulan. "Karena lo gak mau ngasih identitas asli, gimana kita bisa manggil lo?"
"Emm ... Ein, panggil gue Ein," putus sang pemilik suara.
Kini Bintang kembali mengambil alih. "Okay, Ein. Gue bakal jelasin rencananya jadi tolong dengerin baik-baik." Mata Bintang beralih pada satu persatu orang yang berada di dalam ruangan. "Kalian juga."
"Okay."
。゚☆☽☆゚
Ketika tiba pada hari perayaan anniversary sekolah, Bulan, Bintang, Dika, dan Farrel berkumpul terlebih dahulu di rumah Bintang untuk mengecek ulang persiapan. "Kamar sama kameranya udah siap?" tanya Bintang pada Dika yang bertugas mengurus kamar hotel.
"Iya, gue udah sambungin kameranya ke hp gue. Aman udah gue cek juga." Dika menunjukkan layar ponselnya kepada Bintang. Pada layar ponsel itu terdapat rekaman dari empat kamera CCTV yang menunjukkan empat sisi berbeda. Bintang mengangguk-anggukkan kepala setelah melihat itu.
"Gue tadi juga udah telepon Ein lagi. Gue udah ingetin dia sama skenario kita," ucap Bulan melapor. "Tapi ... entah kenapa lama-lama gue jdi merasa familiar sama gaya bicara dia. Kayak, gue kenal siapa dia."
Firasat Bulan sangat tidak enak hari ini, sejak bangun tidur. "Gue ngerasa ada yang gak beres. Tapi gue gak tau itu apa," lanjut Bulan mengutarakan apa yang dia rasakan.
Bintang langsung mengalihkan tatapan pada Bulan yang duduk di sampingnya. Tangan Bintang bergerak menyentuh pundak Bulan. "Percaya sama gue, semua akan baik-baik aja. Itu cuma firasat lo. Atau ... kalau lo emang nggak yakin, lo boleh nggak ikut. Gue bisa anter lo pulang sekarang."
Bulan terdiam sejenak. Terpikir baginya untuk menyetujui tawaran Bintang, akan tetapi kemudiam Bulan menggelengkan kepala sembari tersenyum. "Nggak apa-apa, kok. Kalian butuh kesaksian gue buat kejadian di tangga sama di kamar mandi yang waktu itu."
"Okay, hati-hati." Bintang menurunkan tangannya dari pundak Bulan sembari tersenyum tipis.
"Lan." Bulan mengalihkan pandangan pada Farrel. "Jangan jauh jauh dari kita. Firasat gue juga gak enak, jadi tetap ada di jangkauan gue, Bintang, atau Dika." Bulan mengangguk-anggukkan kepala paham.
Bintang menghela napas kemudian mengecek jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah tujuh. "Setengah jam lagi acaranya bakal dimulai. Kita harus berangkat sekarang."
Begitu sampai di hotel, acara sudah hampir dimulai. Pembukaan dan acara inti berjalan pada dua jam pertama. Lalu ketika jam menunjuk pukul setengah sepuluh sebagian orang memilih untuk pulang lalu sebagian lainnya masih menetap untuk bersenang-senang.
Bintang, Dika, dan Farrel sedang duduk bersama. Beberapa siswi mencoba menggoda mereka tetapi Dika mengusir siswi-siswi tersebut. Farrel terus mengawasi keberadaan Brian yang masih di tempatnya. Sedangkan Bintang terlalu fokus dengan ponselnya karena Ein tidak membalas pesan yang dia kirim. Sembari menunggu balasan pesan dari Ein, Bintang terus melihat ke arah Bulan yang sedang mengobrol dengan temannya.
"Lo gak pulang, Sel?" tanya Bulan pada Selin yang duduk di sampingnya meminum jus sembari melihat lurus ke lantai dansa.
Selin menggelengkan kepala, lalu menatap Bulan dengan memiringkan kepalanya sedikit. "Kenapa? Lo pengen pulang? Udah capek?" tanya Selin balik.
"Nggak, cuma nanya." Kemudian Bulan terdiam sembari menatap ke arah Bintang sekilas.
"Lo yakin? Lo kelihatan capek. Apa lo sering insomnia akhir-akhir ini?" tanya Selin yang terlihat khawatir.
"Hem?" Bulan kembali memusatkan perhatian pada Selin. Gadis itu memasang senyum lalu menggelengkan kepala. "Gue emang sering begadang buat ngerjain tugas, tapi gue gak insomnia, kok. Malah kalau ketemu kasur langsung tepar," ucap Bulan disertai kekehan.
Selin membalas tawa ringan Bulan dengan senyum. "Okay, kalau gitu. Gue mau turun ke lantai dansa. Mau ikut?"
Bulan segera menggelengkan kepala. "Nggak, deh. Gue duduk di sini aja." Selin mengangguk-anggukkan kepala paham lalu pergi meninggalkan Bulan sendiri.
Bulan langsung mengirim pesan kepada Dika setelah melihat Selin berada di lantai dansa. "Ka, nunggu apa?" tanya Bulan melalui pesan teks kemudian menatap ke arah Dika.
Dika balas menatap Bulan lalu menyadari bahwa Bulan baru saja mengirim pesan kepadanya. "Ein nggak bisa dihubungi." Dika mengirimkan pesan tersebut.
"Coba telepon aja," usul Farrel yang sudah tidak bisa menunggu Ein lebih lama lagi. Dia sudah curiga dengan gadis itu dari lama.
"Okay, gue coba telepon siapa tau dia udah di kamar hotel. Gue udah kasih kunci kamarnya ke dia, kok," jawab Bintang.
"Kamar nomor berapa?" tanya Farrel.
"Dua ratus enam puluh tujuh."
Sementara itu, Bulan menghela napas di tempatnya. Saat itu seorang pramusaji datang pada Bulan dengan membawa sebuah nampan berisi penuh minuman. Bulan mengambil satu sebelum ditawari. Kemudian pramusaji tersebut beralih pada meja Bintang saat lelaki itu baru saja berdiri untuk menelepon di toilet. Dika langsung mengangkat tangan, menolak minuman itu.
Kemudian sang pramusaja baru saja akan beranjak pergi saat seseorang menyenggolnya lalu minuman yang dia bawa mengenai Bintang, Dika, dan Farrel secara beruntutan. Kegaduhan langsung terjadi, semua orang langsung menatap ke arah yang sama. Bintang menggebrak meja dengan marah. Lelaki itu melotot tajam, bukan kepada sang pramusaji tetapi kepada seorang siswa yang baru saja menyenggol pramusaji tersebut.
Bintang berjalan mendekati siswa tersebut, lupa pada rencananya untuk sesaat. "Buta lo?" sengit Bintang sembari mencengkram kerah jas siswa tersebut yang tampak ketakutan.
Dika segera merangsek maju, menahan Bintang. "Tang, inget rencana kita. Gak ada waktu buat ladenin dia." Bintang melepaskan siswa tersebut setelah mendengar bisikan Dika. Lalu mereka bertiga--Bintang, Dika, dan Farrel--bersama-sama pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menelepon Ein. Mereka pergi begitu saja tanpa menyadari bahwa Bulan tidak lagi ada di tempatnya.