Blooming Life

Blooming Life
O28. Bagaimana?



Pagi ini Bulan terbangun di atas ranjang rumah sakit setelah tdiak sadarkan diri semalaman. Semalam setelah Bintang diangkat ke ambulans, Bulan menyadari bahwa darah sudah banyak mengalir dari bagian bawah tubuhnya kemudian dia jatuh pingsan. Ketika membuka matanya kembali, Bulan melihat Revallia duduk di sampingnya dengan cemas dan kondisi mata yang terlihat usai menangis.


"Ma ... kenapa mata Mama kelihatan sembab banget?" tanya Bulan setelah dokter memeriksanya dan Revallia selesai berbicara dengan dokter tersebut.


Alih-alih memberi jawaban kepada Bulan, Revallia justru kembali menangis dan tidak sanggup menceritakan apa pun. Wanita itu hanya bisa menangis untuk beberapa saat dan membuat Bulan kebingungan.


"Ma, kenapa Bulan ada di rumah sakit? Ada apa?" tanya Bulan seolah dia tidak dapat mengingat kejadian semalam.


"Bulan, kamu ingat kejadian semalam?" tanya Revallia hati-hati. Bulan pun berusaha mengingat kejadian semalam.


Bulan ingat dengan sangat, semalam dia berdansa dengan Bintang dengan diiringi lagu Put Your Head On My Shoulder yang dinyanyikan oleh Paul Anka. Bulan mengungkapkan perasaannya. Kemudian Bintang pergi membeli makan. Akan tetapi, ponsel lelaki itu tertinggal, jadi Bulan keluar rumah sebentar berniat untuk memberikan ponsel itu kepada pemiliknya. Sayang, sang pemilik sudah tidak lagi berada di sekitar rumah Bulan.


Selanjutnya pria berpakaian serba hitam muncul di kepala Bulan. Wajah Brian, wajah Bintang, luka tusuk, dan darah juga ikut muncul di dalam kepala Bulan secara bergantian. Kemudian Bulan juga mengingat darah, banyak darah mengalir dari tubuhnya lalu tiba-tiba saat itu perutnya terasa amat menyakitkan. Dan ingatan Bulan berhenti di sana.


Bulan segera menyingkap selimut yang menutupi perutnya. Perempuan itu meraba perutnya sendiri. Saat menyadari bahw perutnya terlalu rata untuk perempuan yang sudah hamil delapan minggu, air mata Bulan segera mengalir dengan deras. Revallia hanya bisa menatap putrinya dengan sedih.


"Bulan ...," lirih Revallia.


"Ma, bayi Bulan mana? Bayinya Bulan nggak apa-apa, kan?" Revallia tidak bisa menjawab pertanyaan Bulan. Wanita itu terus menangis tanpa sanggup mengatakan apa pun. "Ma! Jawab pertanyaan Bulan!!"


"Ma! Bayinya Bulan nggak kenapa-kenapa, kan?!!" Bulan mulai berteriak dengan tidak sabar sembari mengguncang pundak Revallia.


"Ma ... jawab, Bulan." Revallia menggenggam tangan kanan Bulan yang digunakan untuk mengguncang tubuhnya. Wanita itu menggenggam dengan erat tangan putrinya, menatap Bulan tepat kedalam matanya.


"Maaf. Maaf karena Mama nggak bisa jagain kalian." Bulan terdiam. "Nggak apa-apa, Bulan. Kamu masih punya Mama. Nggak apa-apa untuk kehilangan mereka berdua."


Bulan merinding seketika saat mendengar kata "berdua" keluar dari mulut mamanya. Bulan ingat, semalam Bintang tertusuk karena menyelamatkan Bulan. Akan tetapi, tidak mungkin. Pikir Bulan tidak mungkin Bintang tidak selamat.


"Apa maksud Mama? Kenapa mereka berdua? Nggak mungkin, nggak mungkin, Bintang pergi!" Revallia menggenggam tangan Bulan lebih erat. "Nggak mungkin, Ma. Nggak mungkin mereka ninggalin Bulan! Nggak mungkin Bintang ninggalin Bulan!!"


Setelah itu Bulan menangis dan menjerit sejadi-jadinya. Revallia berusaha menenangkan Bulan tetapi tidak berhasil. Hinggal Farrel datang bersama seorang dokter dan Bulan terpaksa disuntikkan obat penenang untuk membuat perempuan itu tertidur.


。゚☆☽☆゚


Farrel menatap Bulan dengan sendu. Dia tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Lalu saat dia tengah meratapi kepergian sahabatnya dan nasib malang sahabatnya yang lain, suara langkah kaki membuyarkan lelaki itu. Farrel memalingkan wajah ke arah pintu dan mendapati Chan sudah berada di dalam ruangan, menatapnya dengan tatapan marah.


Farrel menghela napas. "Gue baru kehilangan sahabatku dan lihat sahabat gue yang lain kehilangan bayinya. Jadi gue minta tolong banget, ributnya ditunda dulu. Biarin gue berduka dengan tenang."


Chan menghentikan langkahnya. "Gue cuma mau ketemu Bulan."


Farrel menggeser berdirinya agar Chan bisa melihat Bulan yang sedang memejamkan mata. "Dia lagi tidur. Beberapa jam lalu dia histeria jadi dikasih obat penenang. Tolong biarin kondisi Bulan lebih baik dulu. Gue bakal minta dia hubungin lo setelah kondisinya membaik."


Dengan mempertimbangkan kondisi Bulan, Chan memilih untuk mengalah. "Awas aja kalau sampai Bulan kenapa-kenapa lagi. Gue bakal buat hidup kalian kayak di neraka."


"Tenang aja, dia aman sama gue." Setelah mendengar jawaban Farrel, Chan melangkah pergi meninggalkan ruangan tempat Bulan di rawat.


Farrel mendengus setelah Chan keluar dari ruangan tersebut. "Bisa-bisanya orang yang dulu selalu nyakitin lo bersikap seolah dia gak pernah bikin lo merasa kenapa-kenapa, Lan. Brengsek," gumam Chan sembari kembali menatap Bulan.


Tangan Farrel bergerak mengusap rambut Bulan beberapa kali. "Lo pasti bisa hadapin ini. Lo kuat, Lan. Lo pasti bisa!" Kemudian Farrel berjalan perlahan keluar dari ruangan tempat Bulan di rawat menuju tempat di mana dia bisa merokok. Sembari tangan lelaki itu merogoh bungkus rokok yang dia simpan di saku celana.


Sementara itu ketika Farrel baru saja melangkah keluar dari ruangan Bulan, sang penghuni ruangan membuka matanya. Dia siuman. Hal pertama yang Bulan lakukan selanjutnya adalah mendudukkan diri lalu menatap kosong ke depan.


Otak Bulan melakukan kilas balik. Ketika mereka berdansa bersama, ketika Bulan mengungkapkan perasaannya, ketika Bintang pertama kali mengungkapkan perasaannya. Saat-saat di mana Bintang begitu perhatian padanya. Saat-sata di mana mereka bisa tertawa bersama.


Bulan kembali menangis sesenggukan. Dada Bulan terasa sangat nyeri, ini terlalu menyakitkan baginya. Dia baru saja kehilangan support system yang sangat berharga bagi dirinya. Juga orang yang sangat di cintainya.


Mulanya, Bulan masih menarik-narik rambutnya sendiri dengan putus asa. Dia masih berusaha menahan dirinya sendiri. Akan tetapi, dia tidak tahan lagi. Lalu dengan satu tarikan napas, bulan berusaha mengakhiri semuanya. Bulan berusaha mengakhiri kenangan-kenangan tentang Bintang yang terus berputar di kepalanya. Bulan berusaha mengakhiri sesak dan rasa sakit di hatinya. Bulan berusaha mengakhiri penderitaan yang dia alami.


Darah mulai mengalir ke lantai putih rumah sakit. Tubuh Bulan meluruh ke lantai, dia terduduk lemas sembari bersandar pada kaki meja ... menunggu akhir dari semua dalam hidupnya. "Bintang, ayo kita berdansa di sana ... bersama," gumam Bulan sembari tersenyum tipis.


。゚☆☽☆゚


Farrel baru saja menjepitkan ujung rokok pada kedua bibirnya saat dia tiba-tiba teringat dengan salah satu kalimat Bintang ketika mereka masih kelas satu SMA. "Jangan keseringan ngerokok, gak baik buat kesehatan. Nanti mati mudah gak bisa jadi atlet lagi mampus lo," ucap Bintang kala itu sembari disertai kekehan ringan.


Mengingat hal tersebut, Farrel mengambil kembali sebatang rokok itu dari bibirnya. Farrel berusaha tersenyum, tetapi dia justru menangis. Jadi Farrel menutup kedua matanya dengan telapak tangan dan membiarkan dirinya meneteskan beberapa tetes air mata lalu mengusap air mata tersebut.


Setelah itu, Farrel membuang rokoknya ke tempat sampah untuk kemudian kembali ke kamar Bulan. Ketika sampai di ambang pintu kamar Bulan, lelaki itu mendadak panik karena tidak dapat melihat Bulan di atas tempat tidurnya. Farrel berlari masuk ke kamar, lalu saat itu dia tersadar bahwa Bulan tergeletak di lantai dengan darah yang sudah banyak mengenai lantai.


Kondisi Bulan sudah setengah sadar, tetapi dia masih bisa melihat Farrel yang berjongkok di dekatnya. "Bulan, Bulan. Tolong tetap sadar," ucap lelaki itu sembari sedikit mengguncang tubuh Bulan.


Farrel segera memanggil doktor dan Revallia yang tadi pamit untuk pergi makan siang sebentar di kantin rumah sakit. Setelah dokter dan para perawat datang, perempuan itu langsung mendapatkan pertolongan. Revallia sampai gemetaran melihat kondisi putrinya. Sedangkan Farrel masih terengah-engah dengan detak jantung yang rasanya berdetak sangat cepat karena terkejut.


"Bulan ...," gumam Revallia lalu menutupi mulutnya karena tidak dapat menahan diri untuk tidak menangis.


Setelah Bulan mendapatkan perawatan, perempuan itu hanya duduk dengan tatapan kosong. Perlahan Revallia berjalan menghampiri Bulan lalu memeluk putrinya. Bulan pun tetap menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Bulan, jangan pergi. Mama cuma punya kamu, nak ...."


"Kenapa aku diselamatkan?" Mendengar pertanyaan itu keliar dari mulut Bulan, membuat jantung Revallia seolah berhenti sesaat.


Revallia langsung meleaskan pelukannya untuk menatap Bulan. "Karena kamu belum saatnya pagi, Bulan. Jangan mencoba melakukannya lagi. Mama mohon."


Farrel berjalan sedikit lebih dekat menuju tempat tidur Bulan. "Lan, dengerin gue." Bulan bergeming.


"Bintang bukan nyelamatin lo supaya lo bisa nyoba buat mengakhiri hidup lo sendiri. Tetapi supaya lo bisa melanjutkan hidup lo dan bahagia lebih lama. Gue juga sedih kehilangan dia, Lan. Tapi hanya karena kita sedih dan kehilangan orang yang sangat kita sayang, buka berarti hidup kita sendiri berhenti. Hidup akan terus berjalan apapun yang terjadi."


"Ini terlalu sulit."


"Iya, gue paham. Tapi gue juga yakin lo pasti bisa ikhlasin Bintang, gak harus sekarang. Suatu hari nanti, tapi lo pasti bisa."


。゚☆☽☆゚


"Aaaa! Bintaaang!!" Farrel berlari dengan panik memasuki ruangan tempat Bulan di rawat ketika mendengar teriakan itu.


Begitu Farrel sampai di dalam, Bulan yang tadinya tertidur kini bangun. Perempuan itu duduk sembari memeluk lututnya sendiri. Dia menangis sesenggukan.


"Bulan, lo kenapa?"


Bulan mendongakkan kepala untuk menatap Farrel. "Gue mimpiin malam itu. Waktu Brian ngelakuin sesuatu ke gue. Habis itu gue juga lihat kejadian waktu Bintang ditusuk."


Farrel bergerak mengambil gelas air putih yang berada di atas nakas lalu memberikannya kepada Bulan. Perempuan itu pun langsung meminumnya sampai habis, lalu meletakkan kembali gelasnya di atas nakas. Selanjutnya, Bulan kembali menatap Farrel. "Rel, gue pengen ketemu Bintang. Tolong bawa gue ke makam dia."


Lalu, dengan izin dari rumah sakit, Farrel membawa Bulan keluar sebentar untuk pergi ke makam Bintang.


Langit sudah berwarna jingga ketika mereka sampai di tempat peristirahatan terakhir Bintang. Angin bertiup sedikit lebih kencang dari biasanya. Bulan berlutut di samping makam Bintang.


"Bintang, malam itu lo bilang kalau lo akan kembali dan bawa kebahagian buat gue. Tapi kenapa sekarang lo justru pergi buat selamanya? Tang, gue takut. Gue taku buat menghadapi semuanya sendiri. Gimana gue harus hidup selanjutnya?"