Blooming Life

Blooming Life
OO7. Topik Sensitif



"Sorry, Tang. Gue nggak bermaksud buat nyinggung hal yang sensitif buat kalian." Mendadak Bulan merasa bersalah.


Bintang menggelengkan kepala sembari tersenyum. "Nggak apa-apa. Lo juga nggak tau, kan."


Bulan hanya tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepala. Bintang juga mendadak menjadi canggung sampai menggaruk-garuk tengkuknya sendiri yang tidak gatal. Dan Farrel juga sudah sibuk dengan game-nya. Suasana benar-benar menjadi sangat senyap sampai lagi-lagi sebuah suara mengagetkan datang dari pintu.


"Lo ngapain ke sini lagi?" tanya Dika yang berdiri di ambang pintu sembari menatap tajam ke arah Bulan.


Dalam hati Bulan, gadis itu berpikir bahwa ternyata topik tentang Lucyane sebegitu sensitifnya sampai membuat orang yang terkenal ramah langsung menjadi ketus kepadanya. Sekarang Bulan bingung harus menjawab apa kepada Dika.


"Lo gak usah gitu, dong. Lagian tempat ini masih bagian sekolah, masih tempat umum." Farrel mencoba membela Bulan.


"Oh gitu? Bagus, deh. Setelah ini kalian bisa bawa siapa pun ke tempat umum ini dengan bebas karena gue gak akan balik ke sini lagi." Dika masuk ke dalam ruangan sejenak untuk mengambil gitarnya lalu kembali melangkah untuh keluar dari tempat itu.


"Ka, jangan pergi. Gue aja yang pergi dari sini," ucapan Bulan berhasil membuat Dika melambatkan langkahnya hingga berhenti. Kemudian Bulan menatap Farrel dan Bintang secara bergantian. "Maaf, ya kalau gue ganggu kalian."


Lalu sekarang mata Bulan hanya tertuju pada Bintang. "Ada yang mau gue bicarain sama lo sepulang sekolah," bisik Bulan. Bintang mengangguk-anggukkan kepala sembari tersenyum. Setelah itu Bulan benar-benar keluar dari ruangan itu.


"Ka, lo kenapa segitunya, sih?" tanya Bintang sembari menghampiri Dika setelah kepergian Bulan.


"Segitunya ... sih?" Dika menatap Bintang dengan tatapan tidak percaya lalu terkekeh dengan kekehan yang terdengar dipenuhi kekecewaan. Setelah itu Dika menyisakan senyuman miring pada wajahnya sembari berkata, "Sesepele itu buat lo, ya? Emang dari awal lo cuma main-main sama Lucy."


Bintang mengusap wajahnya kasar. "Gue gak pernah sedikit pun menyepelekan masalah itu! Gak!" Bintang benar-benar menatap Farrel dengan tajam kali ini. "Tapi gue capek terjebak di masa lalu. Gue terus terjebak di sana sedangkan di sini, di masa sekarang Brian terus bikin ulah. Gue yakin, Lucy juga gak akan seneng lihat kita kayak gini."


Seketika Dika menarik kerah baju Bintang. Melihat gelagat kedua sahabatnya, Farrel sudah berdiri dari duduknya bersiap untuk melerai. "Gue udah bilang, jangan bawa-bawa orang yang udah meninggal." Farrel memberi penekanan pada setiap katanya.


"Tapi apa yang gue bilang nggak salah, kan?"


"Lo ini lupa apa gimana, hah? Lo lupa gimana gue trauma sejak kejadian itu? Gimana gue akhirnya harus rutin konsultasi ke psikolog?" Dika sudah mulai berteriak-teriak dan mengguncang tubuh Bintang. Mati-matian Dika menahan agar tidak memukul sahabatnya.


Kali ini giliran Bintang balas mencekal kerah Dika. "Berapa kali gue harus bilang? Gue gak lupa. Meskipun perasaan gue emang main-main sama Lucy. Tapi gue masih punya hati nurani, anj*ng! Gue gak akan pernah lupa sama kejadian itu!"


"Hey, hey. Gak usah kayak gitu. Omongin baik-baik. Gak usah sok jadi jagoan di depan gue lo berdua." Farrel menatap tajam kedua temannya secara bergantian lalu menarik paksa cekalan pada kerah keduanya akan tetapi tidak berhasil. Bintang dan Dika masih saling memelototi dan mencengkram kerah satu sama lain.


"Lo berdua tau. Kalau kalian ribut, gue yang bakal menang. Gak usah sok-sokan. Bicarain baik-baik," tegas Farrel dan kali ini dia berhasil menghentakkan kedua sahabatnya hingga cengkeraman pada kerah mereka terlepas.


Setelah saling melepaskan kerah, Bintang adalah orang pertama yang ditatap Farrel. "Ada benernya apa yang dibilang Dika, Tang. Kita semua masih trauma, kita masih merasa bersalah. Terutama Dika. Pelan-pelan, Tang."


Kini giliran Dika. "Dan lo, Ka. Lo gak bisa selamanya nangisin Lucy. Gak bisa, hidup lo harus berlanjut. Kita emang merasa bersalah, tapi bukan kita yang salah. Si Brian yang salah, dia yang harus merasa bersalah, dia yang harus nanggung dosanya, dia yang harus masuk penjara."


"Kalau seandainya Lucy nggak deket sama kita. Dia pasti masih jadi siswi biasa yang gak menonjol. Brian gak akan tau keberadaan dia. Dan sekarang dia pasti masih di sini." Dika masih belum berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Ka, pikirin dulu apa yang gue omongin." Farrel menepuk-nepuk pundak Dika sembari tersenyum. Kemudian dia menggamit leher Bintang untuk diajaknya keluar. "Lo bisa pakai ruangan ini selama apa pun yang lo butuhin buat nenangin diri. Gue jajan dulu sama Bintang, nanti gue bawain."


。゚☆☽☆゚


Bel sekolah baru saja berbunyi lima menit lalu dan setiap siswa siswi yang melewati koridor dua belas IPA Tiga akan melambatkan langkahnya. Bahkan beberapa sembari berbisik. Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan terjadi karena Bintang dan Farrel yang mengobrol dengan Bulan di lorong. Bintang dan Farrel tidak keberatan dengan menjadi pusat perhatian karena sudah terbiasa. Akan tetapi tidak dengan Bulan.


"Mending kita bicara di tempat lain, deh," usul Bulan.


"Di tempat parkir aja gimana?" usul Bintang.


Bulan mengerutkan dahi seketika. "Lo gila? Yang ada makin ramai di sana." Bulan langsung gas tanpa berpikir dulu.


Bintang terkekeh. "Lo juga gila? Gue punya tempat parkir sendiri, kali."


"Di mana emang?"


"Basement, tempat parkir khusus guru sama staf." jawab Farrel yang diangguki Bintang. "Jam segini pasti masih sepi karena guru sama staf belum pulang."


Bulan mengangguk-anggukkan kepala paham. Kemudian Bintang langsung menggenggam tangan Bulan. "Ayo," ajak Bintang. Akan tetapi, Bulan tidak sedikit pun melangkah dari tempatnya.


Bulan menarik tangannya dari genggaman Bintang. "Gue bisa jalan sendiri." Kemudian Bulan berjalan mendahului Bintang.


Namun, Bulan kembali berhenti setelah satu langkah. Dia menengokkan kepala ke belakang, pada Bintang dan Farrel. "Bukannya basement cuma bisa diakses sama guru atau staf?"


Bintang mengambil satu langkah untuk berdiri lebih dekat dengan Bulan. Kemudian lelaki itu mengakat tangannya, memberi satu sentilan kecil pada kening Bulan. "Makanya jangan sok tau."


Farrel yang ada di belakang Bintang hanya mengulum senyum dan murid-murid lain yang ada di sekitar mereka harus menahan jiwa-jiwa iri yang berapi-api. Lalu akhirnya Bulan hanya pasrah saat tangannya di genggam Bintang sampai masuk ke dalam lift. Dan Bulan cukup bersyukur bahwa mereka naik lift karena dia benar-benar tidak ingin dianggap orang lain bahwa dirinya dekat dengan Bintang.


"Lo mau ngomongin apa, Lan?" tanya Farrel yang penasaran.


"Ngomongin masalah hati," sahut Bintang. "Iya, kan, Lan?"


Bulan langsung menampakkan wajah sinisnya kepada Bintang. "Jijik, sok tau. Orang gue mau ngomongin masalah Pak Bri."


"Kalau itu tanpa lo omongin gue juga tau." Bintang menaikkan salah satu alisnyam "Lo mau bantuin gue, kan?" Bintang langung memasang wajah sombongnya.


"Tau dari mana?"


"Tau, lah. Emang urusan apa lagi yang lo punya sama gue selain itu? Ya ... kecuali memang bener kalau lo mau bicarain masalah hati sama gue."


"Jijik!" Kini Bintang dan Farrel sama-sama terkekeh dengan jawaban dan tatapan Bulan kepada Bintang.