
Setelah acara makan-makan dan perbincangan singkat mereka selesai, Dika pamit pulang terlebih dahulu karena dia sudah dicari orang tuanya untuk mengurus masalah perkuliahan dan lanjut mengikuti papanya menghadiri rapat. Selanjutnya Farrel yang berpamitan karena memiliki janji dengan ibunya, lelaki yang satu ini memang sangat menyayangi ibunya. Lalu Bintang dan Bulan selalu menjadi yang paling akhir pulang.
Bintang mengantar Bulan seperti biasa. Saat akan keluar dari toko roti, tampak sebuah mobil bak terbuka memasuki halaman toko roti. Di bagian belakang mobil tersebut memuat pot-pot besar berisi banyak tanaman hias dengan berbagai macam warna. Oleh tanaman hias tersebut, Bulan dibuat terdiam di ambang pintu toko.
"Lan," panggil Bintang yang membuat Bulan tersadar kemudian melanjutkan berjalannya mengikuti Bintang yang sudah sampai di depan pintu mobil. Lalu Bulan segera masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Bintang.
Saat Bintang akan masuk ke kursi pengemudi, lelaki itu menyadari apa yang mambuat Bulan terdiam karena itu saat melewati sebuah toko bunga, Bintang membelokkan mobilnya. "Gue mau beli tanaman buat di rumah. Lo mau ikut?" tanya Bintang yang sebenarnya ingin mengajak Bulan membeli tanaman hias.
Saat Bulan melihat-lihat satu persatu tanaman di dalam toko, Bintang hanya berpura-pura memilih tanam sembari menatap Bulan diam-diam. Apa ini efek jatuh cinta? Rasanya Bintang ingin mengabadikan Bulan yang tampak sangat cantik berdiri di antara tanaman-tanaman hias. Akan tetapi, itu akan tidak sopan jika memotret Bulan diam-diam. Jadi Bintang menghampiri Bulan.
"Lan, foto bareng, yuk." Bulan terdiam sejenak mencerna ucapan Bintang.
"Di sini?" tanya Bulan. Bintang menganggukkan kepala. Selanjutnya Bintang meminta tolong pada salah satu pengunjung yang lain untuk memotret mereka.
Bulan hanya menurut saja dan berdiri di samping Bintang yang beberapa senti lebih tinggi darinya. Saat orang yang dimintai tolong Bintang memberi aba-aba dan hampir memotret, Bintang merangkul pundak Bulan. Hal itu membuat Bulan berekspresi terkejut di dalam foto.
Bulan memukul pundak Bintang setelah melihat hasil fotonya. "Tuh, kan. Gara lo, sih. Gue jadi kelihatan jelek."
Bulan memanyunkan bibirnya dengan kesal kemudian meningalkan Bintang yang justru senyum-senyum di tempatnya. "Loh, mana ada jelek? Cantik, gini."
Bulan menatap sekilas ke arah Bintang dengan ekspresi yang berpura-pura kesal. "Jijik, gombal." Bintang terkekeh mendengar hal tersebut lalu menyusul Bulan yang melanjutkan melihat-lihat tanaman.
。゚☆☽☆゚
Setelah kebingungan selama bermenit-menit, Bulan akhirnya menjatuhkan pilihan kepada tanaman Begonia. Daunnya lebar berwarna merah gelap di tengah dan semakin ke tepi semakin berwarna merah terang. "Ini mau di taruh mana, Lan?" tanya Bintang saat dia akan menurunkan bunga tersebut dari bagasi mobil.
"Taruh aja di situ nanti gue bawa masuk sendiri," jawab Bulan sembari mencari-cari kunci rumahnya di dalam tas.
"Gak boleh. Lo gak inget apa kata dokter? Gue aja yang bawa masuk, bilang mau ditaruh mana."
Bulan terdiam sebentar sembari menatap Bintang. Setelah itu dia tersenyum sembari menghela napas. Akan lebih cepat jika menuruti Bintang. "Okay, lo boleh bantu bawa masuk." Bintang menyambut jawaban tersebut dengan senyuman.
"Taruh mana?" tanya Bintang lagi setelah mereka masuk ke dalam rumah.
"Taruh dapur aja." Bulan meletakkan tas selempangnya di sofa ruang tamu kemudian menunjukkan arah dapurnya kepada Bintang. "Taruh samping pintu masuk." Bintang meletakkan tanaman tersebut sesuai arahan Bulan.
"Sip." Bulan tersenyum lebar setelah melihat tanamannya ditata dengan apik. "Lo mau minum?"
Saat sedang melihat Bulan mengambil air, mata Bintang teralihkan oleh sebuah kotak susu yang masih tersegel di samping dispenser. "Lan, itu susu yang gue beliin waktu itu?" tanya Bintang ketika Bulan menyusulnya duduk di bar dapur.
"Iya, belum gue minum."
"Kenapa?"
Bulan mengendikkan bahu. "Gue eneg banget nyium bau susu. Emang dari dulu nggak suka minum susu, sih. Terus mungkin sekarang ditambah efek hamil jadi makin pengen muntah. Mama gue suka minum susu murni gitu, kan. Nah, tiap nyium baunya, di perut tuh kaya ... eneg banget pokoknya." Melihat ekspresi Bulan, Bintang bisa membayangkan betapa mualnya perempuan itu.
"Tapi lo harus coba sekali-kali, Lan. Demi bayi lo," minta Bintang kemudian menghabiskan air putihnya dalam sekali teguk.
Bulan terkekeh sembari menolehkan kepala ke kiri, menatap Bintang. "Okay, nanti gue coba."
"Good." Setelah mengucapkan hal tersebut, Bintang berniat turun dari tempat duduknya untuk mencuci gelas yang dia pakai. Karena jarak duduk Bulan dan Bintang yang berdekatan, wajah mereka hampir bersentuhan saat menolehkan kepala ke kanannya tempat Bulan duduk.
Bulan dan Bintang sama-sama terkejut karena jarak tersebut, sehingga Bintang terdiam beberapa saat di hadapan wajah Bulan. Mereka bahkan dapat merasakan napas satu sama lain. Juga mata keduanya yang seolah saling mengunci. Jantung Bulan berdegup dengan kencang saat Bintang semakin memajukan wajahnya perlahan tanpa sadar.
Namun, saat wajah keduanya semakin dekat. Tiba-tiba saja ada bayangan lain yang muncul di depan mata Bulan. Wajah Brian dan Bintang secara bergantian muncul di hadapan Bulan. Pandangan Bulan mengabur, perasaan berdegup yang tadi dia rasakan kini berubah menjadi rasa mual. Bulan buru-buru berdiri dari tempatnya dan berlari menuju kamar mandir.
Bintang ikut menegakkan tubuhnya ketika Bulan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lama setelahnya, terdengar suara khas orang muntah dari dalam kamar mandi. Bintang mendekati pintu kamar mandi dan mengetuk-netuknya beberapa kali. "Lan. Bulan, lo kenapa?"
"Gue nggak kenapa-kenapa," ucap Bulan setelah keluar dari dalam kamar mandir. Perempuan itu mengambil sebuah tisue dari atas meja pantry kemudian mengelap bibirnya. Lalu Bintang menyodorkan gelas air putih milik Bulan.
"Lo beneran nggak kenapa-kenapa?" tanya Bintang sekali lagi. Bulan mengangguk-anggukkan kepala.
Mereka berdua lalu berjalan menuju ruang tamu dan mendudukkan diri di sana. Bulan mengurut pangkal hidungnya sendiri dengan wajah pucat sementara Bintang hanya duduk diam menungu Bulan berbicara. Bintang berpikir, apakah dirinya berbau seperti susu atau dia melakukan kesalahan sampai-sampi Bulan merasa mual terhadapnya.
"Maaf, Tang." Bulan membuka suara setelah diam selama hampir sepuluh menit.
"Lo kenapa? Gue ada bikin salah, ya?" tanya Bintang dengan hati-hati.
Bulan segera menggelengkan kepala. "Bukan, bukan salah lo. Tadi tiba-tiba ... wajah dia muncul di kepala gue. Gue kebayang-bayang hari itu lagi. Maaf, jangan salah paham. Tadi bukan salah lo, kok."
"Lo masih sering kepikiran hari itu, ya?" Bulan hanya menganguk sebagai jawaban.
Bintang mengepalkan erat-erat tangannya. "Gue juga masih sering mimpi buruk tentang hari itu. Meskipun udah nggak sesering dulu," jelas Bulan sembari berusaha tersenyum.