Blooming Life

Blooming Life
O19. Piknik Dadakan



Acara kelulusan sudah dimulai sepuluh menit lalu tetapi Bulan dan Bintang baru saja memasuki aula sekolah dan duduk di kursi mereka masing-masing. Ya, mereka sedikit terlambat. Hanya melewatkan beberapa basa-basi pemandu acara dan sambutan dari beberapa orang terpilih.


Bulan bergabung dengan teman sekelasnya, begitu juga dengan Bintang yang langsung mendudukkan diri di samping Farrel. Sedangkan Dika yang baru menyelesaikan sambutannya sebagai perwakilan mantan pengurus OSIS, segera bergabung bersama Farrel dan Bintang dengan sembarangan menduduki kursi kosong di deretan kelas 12 IPA 1.


"Ngapain lo ke sini? Bukannya duduk sama temen-temen sekelas lo," tegur Farrel. Bintang hanya menatap Dika sekilas, lalu kembali memperhatikan Bulan yang tersenyum dengan asik mengobrol bersama teman-temannya. Dalam batin Bintang, Bulan benar-benar pandai menyembunyikan lukanya.


"Suka-suka gue, lah. Lagian ada yang mau gue tanyain ke Bintang," jawab Dika.


Bintang kembali menatap Dika, kali ini lebih lama. "Apa?"


"Gimana tadi?" tanya Dika langsung pada intinya.


"Oh, iya. Bener juga. Gimana hasilnya, Tang?" Farrel ikut-ikutan bertanya.


Bintang menghela napas, kemudian memalingkan wajah dari kedua sahabatnya. "Kepo banget lo berdua."


Setelah mendengar jawaban Bintang, Dika dan Farrel langsung saling tatap dengan senyum yang sama-sama tertahan. Seolah menangkap sinyal yang sama, mereka pun memikirkan hal yang sama. "Lo ditolak, ya?" tebak Dika.


"Bukan ditolak," sanggah Bintang sembari tersenyum tipis.


"Terus?"


———


*Dua jam lalu


Bintang menggenggam kedua tangan Bulan dengan lembut. Matanya menatap dengan serius. "Gue suka sama lo, Lan ... Bukan, bukan suka lagi. Gue jatuh cinta sama lo, Bulan."


Kali ini Bulan dibuat benar-benar terdiam. Setengahnya karena bingung harus merespon bagaimana. Setengahnya lagi karena dia sedikit terkejut. Melihat Bulan yang masih diam, Bintang melanjutkan kalimatnya. "Gue gak tau ini dimulai dari kapan. Waktu lo pertama kali pegang tangan gue? Waktu gue pertama kali nyelamatin lo? Atau waktu petaka itu terjadi? Gue gak tau kapan pastinya itu dimulai, tapi gue yakin dengan pasti sama perasaan yang gue rasain buat lo ... dan ini bukan perasaan yang main-main."


Bulan berusaha tersenyum setenang mungkin. Dengan perlahan, dia melepaskan genggaman tangan Bintang. "Bintang ... masih ada banyak hal yang perlu gue pikirin. Ada trauma yang harus gue sembuhin. Ada masa depan yang perlu gue perjuangin. Gue ... gue gak sempat mikirin hal-hal kayak gitu, Tang."


Bulan menundukkan kepalanya. "Bukannya gue gak punya perasaan buat lo, tapi masih ada banyak hal lain yang lebih penting. Selain itu, sebentar lagi gue juga bakal kuliah di luar negeri. Kita akan jauh." Bulan kembali mendongakkan kepala. Sembari tersenyum, Bulan kembali menatap Bintang yang kini balik dibuat terkejut oleh Bulan.


Bintang segera tersadar dari rasa terkejutnya. "Gak apa-apa, kok. Yang terpenting adalah lo tau gimana perasaan gue. Soal lo bisa balas perasaan gue atau nggak, itu urusan belakangan. Lagian juga gak masalah selama kita masih bisa temenan kayak biasa." Bintang membalas senyuman Bulan.


"Iya, kita masih bisa temenan kayak biasa." Bulan menganggukkan kepala setuju.


"Terus soal lo yang bakal kuliah di luar negeri ... gue bisa nungguin lo, kok. Gue tau itu gak akan sebentar, tapi gue bakal nungguin lo. Sekali pun itu butuh sepuluh atau dua puluh tahun," ucap Bintang dengan yakin.


"Tang ... masih banyak cewek yang lebih baik dari gue di luar sana. Lo gak perlu nungguin gue sampai segitunya." Bintang hanya tersenyum menanggapi ucapan Bulan. Sedangkan Bulan serius dengan ucapannya, dia tidak ingin Bintang menunggu dirinya yang sangat tidak pasti*.


———


"Dia bilang gitu?" Bintang menganggukkan kepala.


"Bukan ditolak, cuma gue harus nunggu lebih lama lagi." Bintang masih kekeh dengan pendapatnya.


"Ngeyel!" ucap Dika dengan kesal kemudian meninggal Bintang dan Farrel untuk bergabung dengan teman-teman sekelasnya.


。゚☆☽☆゚


Pada sore harinya Bintang, Bulan, Dika, dan Farrel berkumpul di rumah Farrel. Hal itu dapat terjadi setelah siang tadi seusai acara kelulusan, Bulan mengutarakan keinginannya untuk pergi berpiknik bersama ketiga sahabatnya. Jadi Bulan mendapat kejutan dengan tiba-tiba dijemput Bintang dan Dika, lalu mereka juga berhasil menyeret Bulan dengan berkata bahwa mereka akan pergi piknik. Akan tetapi, Bulan justru dibawa ke rumah Farrel.


"Bukannya kalian bilang piknik?" tanya Bulan yang kebingungan begitu turun dari mobil.


"Iya, kita piknik di halaman belakang rumah Farrel." Bintang dan Dika langsung masuk dan menuju halaman belakang rumah tersebut, Bulan pun mau tidak mau mengikuti mereka berdua.


Memang, rumah Farrel yang paling hijau karena orang tau lelaki itu suka berkebun dan keduanya juga lulusan dari jurusan yang berhubungan dengan tanaman. Dengan rumah minimalis dua tingkat, halaman depan yang indah dipenuhi tanaman hias, dan halaman belakang luas serta sejuk karena dikelilingi pohon. Rumah Farrel adalah pilihan yang bagus untuk piknik dadakan mereka.


"Woah." Bulan dibuat kagum ketika sampai di halaman belakang rumah Farrel. Tempat itu dikelilingi dengan lampu kuning temaram. Sebuah karpet yang cukup besar terbentang di halaman rumput, di atasnya terdapat sebuah meja kecil yang sudah tersedia berbagai macam makanan ringan di atasnya dan juga jus buah serta soda. Di depan sana juga berdiri sebuah layar besar yang lengkap dengan alat proyeksinya.


"Piknik dadakan ini dipersembahkan untuk Nona Bulan," ucap Bintang lengkap dengan gestur menirukan seorang abdi kepada bangsawan yang dilayaninya.


Bulan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum lebar. "Kalau begitu biarkan aku menikmati piknik ini," balas Bulan sembari membungkukkan tubuh bak seorang putri yang menerima suatu persembahan.


Setelah itu mereka berempat tertawa untuk kemudian menimati piknik tersebut. Mereka membakar sosis dan menonton film komedi romantis pilihan Bulan. "Bisa-bisanya kalian kepikiran buat bikin ginian. Padahal tadi siang gue cuma iseng."


"Gak apa-apa. Hitung-hitung habisin waktu sama lo. Ngeri kalau kita gak pernah seneng-seneng bareng terus lo tiba-tiba mati, soalnya akhir-akhir ini wajah lo pucat banget," celetuk Dika yang langsung mendapat pukulan pada belakang kepalanya dari Bintang.


"Ngaco!" Bintang beralih menatap Bulan yang tampak tidak terusik dengan candaan Dika. "Jangan dengerin Dika, Lan. Emang kadang suka ngelantur."


Farrel menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memasukkan sesuap makanan ringan ke dalam mulutnya. "Tapi lo emang sering kelihatan pucat akhir-akhir ini, Lan." Farrel membenarkan sebagian ucapan Dika.


"Iya? Gue juga merasa gitu, sih. Kayak sering lemas juga." Bulan memanyunkan sejenak bibirnya, kemudian mengendikkan bahu.


Setelah itu, Bulan berniat untuk meminum jus jeruk lagi. Akan tetapi, ternyata jus tersebut sudah habis. "Jus jeruknya udah habis, ya?"


"Udah habis? Sebentar, gue beliin lagi." Farrel sudah akan beranjak dari tempatnya saat Bulan tiba-tiba mengangkat tangan.


"Biar gue beli sendiri aja. Belinya di mana? Jauh nggak?" Bulan berdiri dari duduknya dan Farrel kembali duduk.


"Di minimarket deket sini aja, sih. Jalan lurus ke barat dari rumah gue, terus nanti ada plangnya, kok. Kalau jalan kaki paling cuma lima menit." Farrel memberikan arahan. Bulan pun mengangguk paham.


"Udah gelap, Lan. Mau gue antar?" tanya Bintang sebelum Bulan beranjak lebih jauh dari tempatnya. Bulan menolak tawaran Bintang sembari berjalan meninggalkan halaman belakang rumah Farrel.


Tepat seperti arahan Farrel, Bulan hanya perlu lima menit berjalan kaki untuk sampai di minimarket tersebut. Hanya lima menit, tetapi rasanya Bulan sangat lelah untuk jarak sedekat itu. Padahal seingatnya, dia bisa jogging sampai lima belas menit tanpa henti. Akhir-akhir ini Bulan juga semakin mudah lelah saat melakukan hal-hal kecil.


Bulan pun harus berjalan kaki untuk kembali ke rumah Farrel. Kini bebannya bertambah tiga botol besar jus jeruk dan hal itu benar-benar membuat kaki Bulan rasanya seperti akan lepas. Saking lelahnya, mata Bulan sampai terasa berkunang-kunang dan pedih. Kepalanya juga terasa panas. Beruntung, Bulan masih berhasil berjalan masuk sampai ke ruang tamu rumah Farrel sebelum akhirnya terjatuh dan kehilangan kesadaran.