Blooming Life

Blooming Life
O23. Perihal Penilaian Orang-Orang



"Jadi dua dikali tiga sama dengan penambahan dua sebanyak tiga kali. Dua ditambah dua lalu ditambah dua kali, paham?" Serentak kesebelas murid yang diajar Bulan menjawab pertanyaan Bulan bahwa mereka paham.


"Okay, kalau begitu sampai sini dulu pelajaran hari ini." Bulan tersenyum sumringah sembari menatap murid-muridnya.


Lalu setelah murid-muridnya di tempat bimbel keluar dari kelas. Bulan segera mengangkat telepon yang sejak beberapa saat lalu bergetar di saku celananya. Nama Bintang tertera di layar ponsel tersebut. "Ada apa?"


"Lo udah selesai ngajarnya?" tanya Bintang balik.


"Baru aja selesai. Ada yang penting, ya?" Tangan Bulan bergerak membereskan buku dan barang-barang lainnya yang berada di atas meja dengan salah satu tangannya yang tidak memegang ponsel.


"Nggak, sih. Gue cuma bilang kalau gue mau jemput lo." Bulan mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


"Tapi kayaknya nggak usah, deh, Tang. Gue nanti naik taksi aja. Lo juga udah mulai sibuk bantuin ngurus perusahaan Papa lo, kan?" Bulan benar-benar tidak ingin merepotkan Bintang karena tampaknya lelaki itu semakin sibuk akhir-akhir ini.


"Tapi gue udah di depan, Bulan. Masa gue harus pulang lagi tanpa ketemu sama lo?" Bulan mengerjapkan matanya beberapa kali.


Sedangkan Bintang di ruang tunggu--tempat para orang tua menunggu anak-anak mereka--hanya tertawa kecil saat mendengar Bulan ber-hah kebingungan. Lalu sesaat kemudian Bulan kembali tersadar. "Okay, tunggu sebentar. Gue beres-beres dulu. Habis ini gue pulang, kok." Setelah Bintang menyetujui hal tersebut, panggilan berakhir.


Tidak lama setelah panggilan mereka berakhir, seorang perempuan baru datang dan langsung mengambil tempat duduk di samping Bintang. Lelaki itu hanya melihat perempuan yang tampak seperti di usia pertengahan dua puluhan itu secara sekilas. Bintang pun mencoba menyibukkan diri dengan menggulir beranda media sosialnya.


"Nunggu siapa, Mas? Adiknya, ya?" tanya perempuan di samping Bintang.


Untuk sesaat Bintang kebingungan, kemudian dia tersadar bahwa yang ditanyai adalah dirinya. "Ah, itu ...." Bintang agak kebingungan untuk menjawabnya.


"Atau jangan-jangan Mas nunggu anaknya, ya?" tanya perempuan tersebut sembari tersenyum genit dan telunjuk tangannya yang mencolek lengan Bintang dua kali.


Spontan Bintang menggeser duduknya sedikit menjauh. Kemudian menjawab, "Maaf, Bu. Saya nungguin istri. Dia salah satu pengajar di sini." Bintang tetap berusaha tersenyum sesopan mungkin meskipun merasa risih.


Di saat bersamaan, Bulan datang menghampiri Bintang. "Nah, ini istri saya, Bu. Permisi, saya pamit dulu."


Bintang membiarkan Bulan yang kebingungan dan menariknya begitu saja agar mereka bisa segera menjauh dari perempuan tadi. Barulah setelah masuk ke dalam mobil dan mobil melaju selama beberapa saat, Bulan tersadar bahwa yang dimaksud Bintang sebagak istri adalah dirinya.


"Lo apa-apaan tadi, deh, Tang?" Bulan mulai mengajukan protesnya kepada Bintang.


Akan tetapi, bukan itu yang ingin didengar Bulan dari Bintang. Bulan pun melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Bintang dengan kesal. Bintang yang merasa ada sesuatu yang menusuknya--tatapan Bulan--menolehkan kepala kesamping sesaat. "Apa? Emang begitu ceritanya. Gue gak godain dia balik, kok. Jadi lo nggak perlu cemburu." Bintang berucap dengan percaya dirinya setelah kembali memfokuskan pandangan ke jalan.


Seketika Bulan mendelikkan mata kepada Bintang. "Siapa juga yang cemburu? Orang yang gue maksud apa-apaan itu yang lo ngaku-ngakuin gue istri lo. Pacar aja bukan, ini lo ngakuin istri."


"Yaudah, kalau gitu sekarang kita tinggal pacaran. Abis itu kita nikah," ucap Bintang dengan entengnya yang membuat Bulan rasanya ingin menjitak kepala lelaki itu atau memukulnya dengan sepatu Bulan. Yang jelas sekarang Bulan benar-benar geregetan kepada Bintang.


"Apa-apaan lo, Tang. Bilang gitu ... Lagian, ya. Usia kita sekarang ini belum bisa digunain buat nikah." Meskipun Bulan mengurungkan niatnya untuk memukul Bintang karena dapat membahayakan keselamatan mengemudi, tetapi nada bicara Bulan cukup mewakili kekesalannya.


Namun, sepertinya Bintang tidak menangkap--atau berpura-pura tidak menangkap--nada kekesalan Bulan. Lelaki itu mengendikkan bahunya. "Tahun depan juga bisa, kok. Kan, tahun depan usia kita udah cukup. Terus meskipun memalukan buat bilang ini. Tapi dengan kekuatan Papa gue, gue bisa bikin kita nikah dan diakui secara sah oleh hukum."


Bulan langsung meringis mendengar apa yang dikatakan Bintang. Kemudian dia memukul pundak Bintang. "Itu namanya melanggar hukum. Lagian gue gak suka pernikahan dini. Terus juga ... gue bukan hamil anak lo, jadi lo gak perlu sampai melakukan itu." Bulan memelankan nada suaranya di akhir kalimat.


"Dengerin gue ya, Lan. Pertama, gue bukan pengen nikah sama lo cuma karena lo hamil. Gue cinta sama lo, dan harapan setiap orang di dunia ini pasti ingin menikah dengan orang yang dicintai, kan? Kedua, gue gak pernah mempermasalahkan lo hamil atau nggak. Atau lo hamil anak siapa, karena gue tau kondisi dan apa yang terjadi sama lo."


Bulan menghela napasnya denan berat. "Gue yang masalah ... lo juga tau sendiri apa yang terjadi sama gue. Lo juga pasti tau ini anak ...." Bulan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


Bintang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lan ... kalau lo aja melabeli anak lo dengan pandangan kayak gitu, gimana orang nanti mau memandang anak lo? Emang mereka cuma oran lain. Tapi kita manusia dan kita hidup bermasyarakat, Bulan. Meskipun kita nggak perduli sama mereka, tapi ketika kita dengar pandangan negatif orang tentang diri kita pasti bakal sakit hati, kan? Apalagi kalau yang denger anak kecil, masih belum bisa menyaring mana yang perlu mereka masukin ke hati mana yang enggak.


"Terlepas dari apa pun yang terjadi sama lo, itu bukan salah lo dan terutama bukan salah anak lo. Anak lo gak akan pantas dilabeli dan dipandang dengan cara kayak yang lo lakuin tadi." Setelah selesai menyampaikan hal tersebut, Bintang menatap Bulan sekilas. Perempuan itu tampak terdiam dan menundukan kepala dalam-dalam.


Bulan terus terdiam tanpa memberi tanggapan apa pun terhadap apa yang Bintang katakan. Sampai beberapa saat kemudian, Bintang mendengar suara isakan tangis. Bulan menangis sembari menutupi wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangan. "Bulan, lo kenapa?" Bulan hanya menggelengkan kepala tanpa berhenti menangis saat ditanyai oleh Bintang.


Bintang yang panik segera menepikan mobilnya. "Lan, gue terlalu kasar, ya? Aduh ... maaf gue nyinggung perasaan lo. Maaf, ya." Bintang menepuk-nepuk pundak Bulan sampai tangisan perempuan itu mereda.


Kemudian setelah Bulan berhenti menangis, Bintang kembali melanjutkan perjalanannya mengantarkan Bulan pulang. Selama perjalanan, perempuan itu tetap diam sembari memalingkan pandangan keluar jendela membuat Bintang cemas jika Bulan masih sangat tersinggung dengan ucapannya.


"Lan, maaf, ya." Bintang meminta maaf sekali lagi sebeluk Bulan keluar dari mobilnya.


Bulan menggelengkan kepala, lalu menatap Bintang sembari tersenyum. "Lo nggak salah, kok. Apa yang lo bilang tadi ada benernya. Suatu saat pasti anak gue harus dengar pandangan negatif dari orang-orang. Meskipun gue berharap itu ngak akan pernah terjadi, tapi itu bukan sesuatu yang bisa gue pungkiri. Suatu saat dia harus menghadapi itu, dan saat itu tiba gue harus jadi orang yang nggak memandang dia dengan cara yang sama dengan yang orang-orang lakukan. Gue harus bisa jadi tempat yang paling nyaman buat tempat dia berkeluh kesah tentang semua perlakuan orang-orang itu."