
Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya terdengar suara pintu yang dibuka. Revallia langsung berdiri dari duduknya begitu melihat Bulan keluar dari kamar mandi. Mata dan hidungnya bengkak serta memerah sisa menangis. Perempuan itu hanya diam sembari menunduk lalu kembali merebahkan diri di atas ranjang rumah sakit.
Revallia mendekati putrinya. Tanpa mengucapkan apa pun, dia menarik selimut Bulan yang tiduran membelakanginya. Setelah mengelus kepala Bulan dua kali, Revallia berbalik menuju pintu. "Kalau Chan mau mutusin Bulan, biarin aja, Mah," ucap Bulan tanpa repot-repot membalikkan badan.
Revallia menghentikan langkahnya sesaat, tetapi tetap tidak memberikan komentar apa pun. Dia hanya menghentikan langkah lalu kembali berjalan keluar dari ruangan Bulan.
。゚☆☽☆゚
Hari nyaris siang ketika Bulan tengah sibuk melamun dan Revillia yang sedang memotong buah untuk Bulan, sekelompok tamu datang berkunjung. Itu adalah Chan dan kedua orang tuanya. Revallia sigap berdiri dari duduknya untuk menyapa sang atasan.
Revallia tersenyum sembari menundukkan kepala sekilas sebagai tanda hormat, kemudian menghampiri mereka di depan pintu. "Terimakasih sudah mau repot-repot mengunjungi Bulan, Tuan Andreas dan Nyonya Andrea." Secara bergantian Revallia tersenyum dan menatap kedua orang tua Chan
Andreas terkekeh. "Jangan terlalu formal di luar kantor, Revallia. Kita sudah lama bekerja bersama dan di masa depan kita juga akan berbesanan. Jadi santai saja ... lagi pula, Bulan tunangan anak kami. Sudah kewajiban bagi kami untuk berkunjung."
kemudian Revallia mempersilakan kedua orang tua Chan untuk duduk, serta mempersilakan Chan untuk menemui Bulan. "Jadi, apa yang terjadi pada Bulan?" tanya Andrea.
"Hanya tifus. Bulan akhir-akhir ini sering begadang karena banyak tugas. Lalu kemarin malam saat perayaan ulang tahun sekolah, dia pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit." Revallia menghela napas. "Terkadang anak itu terlalu ambisius sampai tidak memperhatikan kesehatannya sendiri."
Andreas mengangguk-anggukkan kepala. "Seperti ibunya. Kamu juga sangat ambisius saat masih muda." Mereka bertiga kemudian terkekeh bersama-sama.
Sementara itu Bulan dan Chan. "Ada yang mau gue omongin sama lo, Chan," lirih Bulan.
"Bilang aja," jawab Chan enteng yang tangannya sedang sibuk mengupaskan jeruk untuk Bulan.
Bulan mengerutkan dahi saat melihat respon Chan padanya. Bulan pikir, Chan akan menyingkir darinya, tetapi tidak. "Gue gak bisa bilang di depan orang-orang tua."
Chan menghentikan gerak tangannya lalu menatap Bulan. Tatapan yang berbeda dibanding yang biasa lelaki itu berikan pada Bulan. "Mau bicara di taman rumah sakit? Sekalian jalan-jalan." Bulan langsung menggelengkan kepala.
"Terlalu ramai. Kita bicara di lorong deket sini aja yang sepi." Chan menganggukkan kepala setuju. Lelaki itu meletakkan jeruk ke atas nakas lalu berusaha membantu Bulan untuk berdiri, akan tetapi Bulan langsung menepis tangannya. "Gue ... bisa sendiri."
"Ma, Pa, Tante, Chan mau jalan-jalan keluar sebentar sama Bulan," pamit Chan sebelum mereka keluar dari kamar.
Meski Bulan menolak dibantu Chan, tetapi dia tetap membiarkannya ketika Chan memaksa untuk membantu mendorong tiang infus Bulan. Kemudian mereka duduk pada salah satu kursi tunggu yang terletak di lorong sekitar ruang rawat inap Bulan. "Chan ...." Bulan membuka suara.
"Chan, gimana kalau kita putus aja? Kalau lo yang bilang lo gak mau sama gue, pasti orang tua kita setuju?" tanya Bulan. Matanya menatap serius ke arah Chan.
Chan terdiam beberapa detik. Matanya berkedip beberapa kali karena kebingungan. "Ke ... napa? Ah, gue belum ngasih tau lo, ya. Gue udah berhenti selingkuh, kok. Kayanya gue mulai suka sama lo. Jadi kita gak perlu putus." Chan mencoba memberikan senyum terbaiknya kepada Bulan.
"Bukan karena itu, Chan. Gue ...." Bulan menelan salivanya sendiri kemudian menghela napas. Berat untuknya mengucapkan sebuah kalimat. "Gue udah gak perawan lagi, Chan. Gue ... lo tau apa yang terjadi sama gue, kan?" Suara Bulan semakin lirih.
Senyum Chan memudar, kini dia balas menatap serius kepada Bulan. "Lan, gue juga selingkuh berkali-kali. Gue bahkan udah nidurin lebih dari satu cewek dengan sengaja. Apa yang gue lakuin, gak sebanding sama kecelakaan yang terjadi sama lo, Lan. Jadi anggap aja kita impas? Okay?"
"Gak usah khawatir masalah itu. Gue bakal lakuin apa pun buat ngasih pelajaran ke orang yang ngelakuin itu. Pemerkosa kaya dia gak pantas hidup nyaman. Dia harus dihukum karena ngerusak masa depan orang yang gak bersalah," ucap Chan menggebu-gebu.
Bulan hanya menanggapi ucapan Chan dengan senyum tipis. Kemudian dia beranjak dari duduknya. Saat Bulan baru akan melangkah kembali menuju kamar, seketika dia mengurungkan niat ketika melihat Andrea berdiri tidak jauh dari mereka. Bulan terdiam di tempatnya. Chan berdiri dari duduknya dengan ekspresi terkejut.
Andrea berjalan ke hadapan Bulan dengan wajah serius. "Apa yang Chan bilang, Bulan?" tanya Andrea memastikan.
Chan maju satu langkah hingga berdiri sejajar dengan Bulan. "Ma, nanti biar--"
"Bulan, jawab Tante!" perintah Andrea dengan ekspresi yang semakin mengeras.
Bulan menelan salivanya sendiri. Gugup sekaligus takut dan ... malu. Perempuan itu meremas celananya kuat-kuat sembari menundukkan kepala. "Jawab, Bulan!"
"Ma!" Chan berusaha menghentikan Andrea.
"Diam, Chan. Mama mau Bulan yang jawab, bukan kamu."
Bulan menundukkan kepala semakin dalam. "Bulan ... di ... diperkosa," ucapnya kemudian mulai mendongakkan kepala perlahan untuk menatap Andrea.
Sedangkan yang ditatap berekspresi begitu datar. "Mulai sekarang jangan pernah menghubungi Chan lagi. Hubungan kami denganmu selesai, Bulan." Andrea melangkahkan kakinya berjalan kembali ke ruang perawatan Bulan.
Bulan dan Chan hanya saling tatap di tempat mereka. Setengahnya, Bulan merasa lega hubungan itu berakhir. Akan tetapi, setengahnya lagi dia mengkhawatirkan sang mama. Sedangkan Chan yang mulai menaruh hati, merasa tidak terima dengan keputusan ibunya. Lalu secara bersamaan mereka mengejar Andrea.
Chan berhasil menghentikan langkah Andrea saat berada di ambang pintu kamar perawatn Bulan. Chan menggenggam lengan mamanya erat-erat. "Ma, Mama gak bisa seenaknya kayak gitu. Chan dan Bulan yang jalanin hubungan ini. bukan Mama!"
"Saat seseorang berhubungan sama kamu, itu artinya dia juga berhubungan sama keluarga kita. Dan dia ...." Mata Andrea menatap ke arah Bulan seorang Bulan bukan sesuatu yang pantas ditatap baik-baik. "... dia gak pantas berhubungan sama keluarga kita."
Bulan membeku di tempatnya. Andreas dan Revallia mulai mendekati pusat keributan. Chan melepaskan genggaman pada lengan Andrea. "Selama bertahun-tahun Chan tunangan sama Bulan, berkali-kali Chan selingkuhin Bulan ... dan Chan juga dengan sengaja nidurin banyak cewek yang berbeda, Ma. Menurut Chan, apa yang Chan lakuin bahkan gak bisa dibandingin sama kecelakaan yang terjadi sama Bulan."
"Kamu pikir Mama gak tau? Mama tau semunya, Chan. Dan menurut Mama kamu masih tetap lebih baik dari pada seorang perempun yang diperkosa oleh orang asing--"
"Ya! Saya memang tidak sebanding dengan kalian. Jadi silakan kalian pergi dari sini jika kalian takut menjadi sebanding dengan saya!" tegas Bulan yang sudah tidak tahan dengan ucapan Andrea.
Mendengar hal itu, Revallia merangsek keluar kamar kemudian berdiri disamping Bulan. "Bulan, jangan gitu. Minta maaf sama Tante Andrea," ucapnya sembari menatap Bulan dengan tajam.
Saat Bulan akan menjawab tidak mau, Andrea mendahuluinya. "Tidak perlu minta maaf! Hubungan kita selesai di sini." Andrea mengambil tas selempangnya ke dalam sejenak kemudian kembali keluar lalu pergi begitu saja sembari menyeret Chan yang mau tidak mau mengikuti ibunya.
Tersisa Andreas dan Revallia yang sedang menatap marah pada Bulan. "Revallia, tolong jangan diambil hati omongan Andrea. Biarkan saya yang urus dia. Saya akan mengabari beberapa hari lagi. Dan untuk apa pun yang terjadi sebenarnya, saya turut prihatin." Andreas pun buru-buru melangkah pergi menyusul Andrea. Revallia hanya sempat menundukkan kepala dalam sebagai tanda hormat, tanpa sempat menjawab kalimat atasannya itu.
Setelah Andrea tidak lagi terlihat, Revallia menarik Bulan dengan kasar agar masuk ke dalam ruang perawatan. Mereka saling tatap dengan sengit. "Berhentilah mengecewakan Mama atau Mama yang akan berhenti memperdulikan kamu." Lalu pada akhirnya, Revallia ikut melangkahkan kaki meninggalkan Bulan sendirian.