Blooming Life

Blooming Life
O26. Put Your Head On My Shoulder



"Bulan, gue udah di depan rumah tapi ini gerbangnya dikunci. Lo bisa bukain?" tanya Bintang perlahan." Lelaki itu menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Bulan sembari mengawasi kondisi sekitar. Sepi, tidak ada siapa pun.


"Lo beneran udah di depan? Gue takut banget, Tang." Bintang membunyikan klakson mobilnya sekali untuk memberi tanda pada Bulan bahwa dirinya memang sudah benar-benar sampai di depan rumah Bulan.


"Lo denger, kan?" Bulan hanya menganggukkan kepala sembari berdehem sebagai jawaban. "Gue tungguin lo. Jalan pelan-pelan, jangan takut. Gue gak akan biarin Brian macam-macam lagi sama lo selagi ada gue."


Setelah mendengar perkataan Bintang, Bulan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Terdengar suara klik ketika Bulan memutar kunci rumahnya. "Nggak apa-apa, Bulan. Jangan takut, gue di sini." Suara Bintang kembali terdengar, sedikit banyak membantu Bulan memberanikan diri untuk memutar knop pintu.


Ketika pintu terbuka, pandangan Bulan langsung tertuju pada bagian luar gerbang. Di sana Bintang masih di dalam mobilnya. Melalui jendela mobil yang terbuka, Bintang melambaikan tangan kepada Bulan, tentu saja lengkap dengan senyuman lelaki itu. Sedikitnya Bulan merasa lega, perempuan itu segera berlari dan membukakan gerbang untuk Bintang.


Lalu Bulan segera kembali menutup gerbang selagi Bintang memarkirkan mobil di halaman rumahnya. Setelah itu, Bulan menghampiri Bintang yang baru saja keluar dari mobil. Bintang menatap Bulan sembari tersenyum, senyum yang begitu hangat. Mereka saling tatap beberapa saat dengan senyum yang terukir di wajah Bintang dan kecemasan yang menghiasi ekspresi Bulan.


Sampai kemudian Bulan meneteskan air matanya. Dia berjongkok dan menangis lebih keras. Bulan takut, dia sangat ketakutan. Bintang pun melangkah perlahan mendekati Bulan lalu berjongkok di hadapannya. Tangan kanan Bintang bergerak menepuk-nepuk pundak Bulan.


"Nggak apa-apa, gue di sini. It's okay, semua akan baik-baik aja. Semua akan baik-baik aja, Bulan." Bulan menangis lebih deras, melepaskan ketakutannya.


。゚☆☽☆゚


Bulan duduk di sofa ruang tengah sembari memeluk lututnya, perempuan itu masih sesenggukan. Dia masih sedikit takut, tulisan dan suara-suara tadi terus membayang-bayangi kepalanya. Sedangkan di samping Bulan, Bintang hanya bisa menatap perempuan yang dia cintai itu dengan tatapan sendu dan sedih.


Setelah beberapa saat dan Bulan sudah lebih tenang dari sebelumnya, Bintang mulai bertanya perihal apa yang terjadi. "Lan, lo kenapa? Apa yang terjadi?"


Bulan menelan salivanya. Dia menolehkan kepala perlahan, menatap Bintang dengan mata sembabnya. "Tadi ... tadi ada orang yang kaya manjat tembok buat masuk, terus dia nempelin surat ancaman ...." Bulan menolehkan kepala ke arah jendela tempat di mana surat ancaman itu berada.


Bintang mengikuti arah pandangan Bulan. "Di jendela?" tanya Bintang sembari kembali menatap Bulan. Yang ditanya hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.


Bintang berdiri dari duduknya. Dia berniat untuk mengecek jendela tersebut. Tetapi sebelum membuka gorden yang menutupi jendela, Bintang meminta Bulan untuk tidak melihat ke arah jendela. Jadi Bulan memalingkan wajahnya.


Setelah Bulan memalingkan wajahnya, Bintang menyingkap gorden yang menutupi jendela. Bintang menghela napas kesal begitu gorden terbuka. Dia mengepalkan tangan erat-erat. Dia nyaris saja meninju jendela kaca di depannya jika tidak menahan diri.


Sekali lagi Bintang menghela napas. Dia mengambil beberapa foto pada surat ancaman tersebut lalu mengirimnya pada pihak yang berwajib. Bintang juga menelepon pihak yang berwajib untuk mengecek kondisi sekitar rumah Bulan. Kemudian Bintang menutup kembali gorden yang menutupi jendela tersebut.


Setelah itu Bintang kembali duduk di samping Bulan. Perempuan itu masih memeluk lututnya sendiri dengan ketakutan. "Lo nggak perlu khawatir, gue udah panggil polisi buat cek keadaan sekitar. Jangan takut lagi, okay? Ada gue juga di sini." Bulan hanya menjawab dengan menganggukkan kepala dan tetap memeluk lututnya sendiri sembari menatap ke bawah.


Melihat Bulan murung membuay Bintang resah sendiri. Kemudian sebuah ide muncul di pikiran Bintang untuk dapat mengalihkan perhatian perempuan yang duduk di sampingnya itu. Bintang berdiri dari duduknya. "Bulan," panggil Bintang sembari menatap Bulan dengan posisi berdiri di hadapan perempuan itu.


"Hem?" Bulan mendongakkan kepala lalu menatap Bintang.


"Maksud lo? Dan ... sa? Tapi gue nggak bisa dansa." Bulan masih menatap Bintang dengan kebingungan.


Akan tetapi, Bintang tetap mengulurkan tangan pada Bulan. "Itu cuma langkahin kaki ke depan belakang kanan kiri sambil pegangan tangan dan diiringi lagu." Bulan menatap lama ke arah Bintang. Lalu anggukan kepala Bintang berhasil meyakinkan Bulan.


Bintang membantu Bulan berdiri dengan tangan kanannya dan menghidupkan musik pada ponsel dengan tangan kirinya. Selanjutnya alunan nada lembut mulai terdengar memenuhi ruang tengah rumah Bulan. Perempuan itu lalu tersenyum tipis ketika mengenali lagu apa yang diputar Bintang pada ponselnya.


"Put your head on my shoulder. Hold me in your arms, baby." Bintang menggenggam tangan Bulan. Dengan sedikit mengangkat ke atas genggaman tangan kanan mereka dan membiarkan tangan kiri mereka tetap di bawah. Dia sengaja tidak memegangi pinggang Bulan karena takut hal tersebut akan memicu Bulan pada ingatan yang tidak diinginkan. Lalu Bintang tersenyum lebih lebar, dengan sengaja memancing Bulan untuk ikut tersenyum lebih lebar.


"Squeeze me oh-so-tight. Show me that you love me too."


Bintang berbisik. "Ikutin aja arah kaki gue. Kalau gue maju, lo mundur dan sebaliknya. Kalau gue ke kanan lo ikut ke kanan, kalau gue ke kiri lo juga ikut ke kiri." Bulan menganggukkan kepala paham.


"Put your lips next to mine, dear. Won't you kiss me once, baby?" Bintang mulai melangkahkan kakinya maju ke depan perlahan, jadi Bulan memundurkan langkahnya. Selanjutnya giliran Bintang yang memundurkan langkahnya. Lalu mereka melangkahkan kaki ke kanan dan setelah itu ke kiri.


"Just a kiss goodnight, maybe. You and I will fall in love." Awalnya Bulan agak kesulitan mengikuti langkah kaki Bintang, tetapi setelah beberapa langkah Bulan mulai terbiasa. Bulan mendongakkan kepala, menatap Bintang sembari tersenyum senang. Ekspresi murung itu telah sirna meskipun bukan untuk selamanya.


"Gue gak nyangka kalau lo punya selera musik semanis ini," komentar Bulan setelah merasa lebih rileks.


"Emang menurut lo selera musik gue bakal gimana?" tanya Bintang. Mereka tetap melanjutkan dansa selagi musik masih berputar.


Bulan mengerutkan dahi sesaat. "Hip hop? Atau rock?"


Bintang terkekeh pelan. "Sayangnya, telinga gue lebih nyaman sama lagu jazz dan ballad."


Bulan melebarkan mata lalu ikut terkekeh pelan. Mereka melanjutkan berdansa dengan saling tatap dan tersenyum lebar.


"Put your head on my shoulder. Whisper in my ear, baby." Rasanya ... Bulan hampir tidak bisa mendeskripsikan apa yang dia rasakan. Dia bahagia dan semakin jatuh hati pada Bintang. Untuk sejenak, semua kenangan tentang perhatian Bintang padanya terputar di kepala perempuan itu.


"Words I want to hear. Tell me ...."


"Bintang," panggil Bulan pelan. Bintang menaikan sedikit kedua alisnya sebagai jawaban.


"Tell me that you love me too."


"I love you, Bintang."