Blooming Life

Blooming Life
O30. Siapa Di Sana?



"Lo masih baik-baik aja sama Jim, kan?" tanya Farrel tiba-tiba dan sangat random ketika aku dan dia sedang berjalan menuju tempat parkir seusai kelas terakhir kami.


Aku mengangguk dengan mantap. "Iya, dia juga masih baik kayak biasanya." Aku mengerutkan dahi. Jangan-jangan Farrel baru saja mendengar gosip tentang Jim.


"Yaudah kalau gitu. Semoga kalian tatap baik-baik aja." Farrel tau aku tidak terlalu suka dengan gosip, kecuali jika memang itu sudah fakta. Jadi dia dengan sengaja hanya mengatakan hal seperti itu. Aku penasaran, tetapi aku juga terlalu malas untuk mendengar gosip yang hanya akan membuatku kepikiran.


"Emang kenapa?" tanyaku akhirnya. Aku takut kepikiran, tetapi Farrel juga belum tentu memberitahukannya kepadaku.


Farrel menggelengkan kepala. "Nggak, gue cuma mau kalian baik-baik aja dan sahabat gue bahagia. Itu aja." Benar, bukan? Farrel tidak mungkin menceritakan yang dia dengar kepadaku.


Aku mengendikkan bahu. Kemudian menatap ke arah mobilku yang sudah tampak oleh mata. Samar-samar aku melihat seseorang berpakaian serba hitam berada di dekat mobilku. "Rel, coba deh lihat di deket mobil gue kayanya ada orang mencurigakan," ucapku sembari menatap Farrel.


Farrel terlihat menatap ke arah mobilku, laku menatapku dengan dahi berkerut. "Ada orang siapa? Gak ada tuh."


Aku kembali menatap ke arah mobil dan di sana memang sudah tidak ada siapa pun. Aku mengkhawatirkan suatu hal jadi aku bergegas lari menuju mobil tersebut. Lalu aku mendapati bahwa salah satu sisi mobilku mendapatkan dua goresan yang sangat panjang.


Seketika aku langsung berdecak kesal saat melihat goresan tersebut. Aku melambaikan tanga pada Farrel agar dia cepat mendekat, dan Farrel pun menyusul dengan berlari. "Tuh, kan. Gue bilang tadi ada orang. Sial*n!"


Farrel menatap goresan mobilku sembari meringis, tampak ngilu. Jelas, aku pun juga ngilu ketika melihatnya. Bukan perihal biaya perbaikannya, tetapi tindakan orang itu sangat menyebalkan. Padahal aku juga tidak merasa memiliki musuh dengan pihak mana pun. Apa orang-orang sekarang sedang kurang kerjaan? Sampai mobil yang diparkir baik-baik saja dikerjai. Jika memang kesal denganku seharusnya bilang langsung padaku, bukan seperti ini.


"Nanti gue mau ambil mobil di bengkel, sekalian aja mobil lo langsung di bawa ke sana," usul Farrel setelah kami berdua hanya menatap lama pada goresan tersebut. Aku menghela napas dan mengangguk setuju.


Lihat saja jika aku menemukan pelakunya. Aku akan membuat perhitungan yang setimpal dengan orang tersebut.


Aku dan Farrel masuk ke dalam mobil. Sebelumnya aku memberikan kunci mobilku kepada Farrel. Suasana hatiku terlalu buruk untuk mengemudi. Aku tidak ingin membuat masalah di jalanan jadi kuminta Farrel untuk mengemudi.


Aku membatalkan niat untuk naik ke dalam mobil. Lalu berusaha mengejar orang tersebut. Sayangnya ketika aku keluar dari mobil, orang berpakian hitam itu sudah tidak terlihat di mana pun. Aku menelan salivaku sendiri. Tidak mungkin. Itu tidak mungkin, kan?


Aku segera kembali masuk ke dalam mobil. "Ada apa?" tanya Farrel begitu aku menutup pintu mobil.


"Gue lihat Brian," jawabku dengan suara bergetar.


Sepintas aku dapat melihat ekspresi ketidak percayaan dari wajah Farrel. "Apa maksud lo? Nggak mungkin, lah."


"Tapi gue beneran lihat wajah dia dengan jelas." Aku menghela napas.


"Bulan, coba lo pikirin. Brian di fonis seumur hidup penjara dan lo lihat sendiri waktu itu, waktu hakim ketuk palunya." Aku terdiam, menundukkan kepala. Benar juga apa yang dikatakan Farrel. Hari itu aku melihat dan mendengar sendiri ketika keputusan dibacakan dan hakim mengetuk palunya. Apa mungkin aku mulai berhalusinasi lagi?


"Bener juga. Mungkin gue mulai berhalusinasi lagi, kayaknya gue harus bikin janji sama psikolog minggu ini." Aku menghela napas. Dulu setelah kematian Bintang, selama beberapa Bulan aku terus mimpi buruk. Terus-terusan menangis. Bahkan sampai mengalami halusinasi.


"B--bukan gitu maksud gue, Lan. Mungkin emang tadi ada orang beneran. Tapi gue gak yakin itu, Brian." Farrel tampak merasa bersalah.


Aku mengguk-anggukkan kepala sembari tersenyum. "Iya, gue paham, kok. Nggak apa-apa. Udah, jalan, yuk."


---------------


PENGUMUMAN!!


KARENA BEBERAPA ALASAN PRIBADI DARI PENULIS. SEASON 2 BLOOMING LIFE DIBATALKAN! TERIMAKASIH.