
Suara alarm ponsel Bulan yang sudah berbunyi untuk kesekian kalinya membuat gadis itu akhirnya berjingkat kaget dari tidurnya. Tubuhnya terasa pegal semua pagi ini karena beberapa hari terakhir dia harus begadang untuk mengerjakan tugas. Saat Bulan masih meregangkan tubuhnya, terdengar suara mamanya memanggil agar segera turun untuk sarapan. Bulan buru-buru bersiap lalu bergegas sarapan.
"Kamu nanti berangkat sama Chan?" tanya Revallia--mamanya Bulan--saat sarapan mereka hampir selesai.
Bulan menggelengkan kepala. "Chan lagi sibuk sama tugasnya, Ma," bohong Bulan karena sebenarnya Chan sudah hampir tiga hari hilang kabar. Memang sudah biasa Chan hilang muncul seperti itu, hanya saja kadang jika ketahuan Revallia bahwa Bulan tidak mengetahui kabar Chan maka wanita itu akan langsung menganggap anaknya tidak perduli lagi kepada Chan.
Revallia mengangguk-anggukkan kepala lalu menyelesaikan sarapannya lebih cepat karena akan ada rapat pagi ini. "Mama pergi dulu. Sekolah yang bener, jangan cari masalah," pamitnya sebelum pergi.
Setelah memastikan sang mama meninggalkam rumah, Bulan baru bisa bernapas lega karena Revalia tidak menanyakan yang macam-macam. Kemudian Bulan segera berangkat dengan naik ojek online karena belum bisa menyetir sendiri.
Ketika sampai di sekolah, Bulan sempat bersimpangan dengan Dika di koridor tepat sebelum Bulan memasuki pintu kelasnya. Kemudian gadis itu terdiam di ambang pintu karena teringat sesuatu yang digumamkan Dika kemarin. "Luuu ...." Bulan berusaha mengingat. "Lu ... si?"
"Lucy?" sahut seorang teman sekelas Bulan yang kebetulan akan keluar kelas.
"Ah, Lucy? Itu apa?" tanya Bulan spontan.
"Lucy, ya? Familiar." Salah satu teman sekelas Bulan itu sampai mengerutkan dahinya. "Oh, iya. Skandal waktu masih kelas sepuluh." Setelah mengucapkan hal itu kepada Bulan, dia pun segera melanjutkan untuk berjalan keluar kelas. Sedangkan Bulan dibuat penasaran.
Bulan segera meletakkan tas di tempat duduk, lalu menghampiri seorang siswi bernama Selin yang memegang peran sebagai ketua kelas. "Sel, lo tau Lucy?"
"Lucy?" Selin berusaha mengingat. "Lucyane?"
Bulan mengangkat kedua bahunya sekilas. "Gue gak yakin, mungkin iya. Yang gue tau cuma Lucy ... atau Lusi?"
Kini Selin mengangguk dengan yakin. "Iya, pasti Lucy yang itu."
"Kenapa? Ada apa sama Lucy emang?"
Selin tampak berpikir sejenak. Kemudian dia melambaikan tangannya kepada Bulan, memberi gadis itu kode agar sedikit mendekat. Jadi Bulan agak membungkukan badannya. "Waktu itu, lo belum pindah ke sini, sih. Kabarnya dia itu korban pencabulan salah satu guru di sini," bisik Selin.
Bulan membeku sejenak di tempatnya, kemudian segera kembali terasadar untuk menegakkan badannya. "Terus sekarang dia masih di sekolah ini?"
Selin menggelengkan kepala. "Gue kurang tau, sih. Kasusnya juga ditutup-tutupi sama sekolahan jadi banyak kabar simpang siur. Ada yang bilang dia udah meninggal, ada yang bilang dia pindah ke luar negeri."
Bulan mengagguk-anggukkan kepalanya paham. "Tapi, Lucy ini pernah populer banget waktu angkatan kelas dua belas sekarang masih kelas sepuluh," lanjut Selin.
"Kenapa?"
"Seinget gue, waktu itu awal-awal kelas sepuluh. Lucy ini sebenernya biasa aja dan awalnya juga gak banyak yang tau keberadaan dia selain teman sekelasnya. Terus suatu ketika dia direbutin sama dua cowok paling populer di angkatan kita." Populer? Pemikiran Bulan langsung tertuju pada dua orang yang itu.
"Salah satunya emang Bintang tapi sama Dika. Waktu itu beberapa bulan sekolah dibuat geger karena Lucy si cewek biasa direbutin sama dua cowok populer sekolah. Kayak novel remaja banget, kan?"
Bulan hanya mengangguk-anggukkan kepala setelah itu. Pikirannya melayang kemana-mana. Kenapa Dika menggumamkan nama Lucy saat bertemu dengannya? Apa hubungan Bulan dengan Lucy?
。゚☆☽☆゚
Setelah kejadian kemarin, Dika masih belum mampir ke rooftop sama sekali jadi Bintang dan Farrel hanya duduk berdua di dalam basecamp. "Tang, gimana ceritanya lo kemarin bisa nolong Bulan dua kali? Yang kedua kebetulan juga?" tanya Farrel memecah hening suasana setelah selesai memainkan game.
"Sebenernya yang terakhir itu bukan kebetulan. Waktu itu gue habis dari kelas terus mau ke kantin. Waktu mau keluar kelas, gue lihat Bulan lewat di depan kelas jadi gue ikutin aja," jelas Bintang. Farrel hanya mengangguk-anggukan kepala. Mereka berdua masih belum sadar bahwa Bulan berdiri di ambang pintu sejak percakapan mereka di mulai.
"Jadi kemarin lo ngikutin gue?" Suara Bulan nyaris membuat Bintang terlonjak karena benar-benar tidak menyadari keberadaan gadis itu. Sedangkan Bulan bersandar pada pintu sembari memiringkan kepalanya sedikit dengan ekspresi yang menuntut penjelasan.
Bintang hanya bisa menyengir lebar. "Sorry, gue gak ada niat sebenernya, kok."
Bulan mendengus. "Yaudah, lagian udah kejadian. Tapi awas aja lain kali. Penguntitan bisa dipidanain, tau."
"Gue juga gak segitunya kali, Lan."
Bulan hanya mengendikkan bahu, kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut lalu duduk di sofa. Bintang sendiri terkejut melihat apa yang dilakukan Bulan. Farrel hanya terbengong bengong di samping Bulan.
Bulan menatap Bintang dan Farrel secara bergantain. "Jangan salah paham, gue begini juga ada maunya ... Lucy. Kenapa kemarin Dika nyebutin nama Lucy di depan gue? Dengan tatapan yang ... kayak gitu."
Farrel seketika menyibukkan dirinya dan berpura-pura tidak mendengar apa pun. Sedangkan Bintang kebingungan sendiri harus menjawab apa. "Eeee ... singkatnya dia dulu pernah deket sama gue dan Dika, dan korban si Brian," jawab Bintang dengan sangat hati-hati.
"Ah gitu." Bulan masih penasaran. Jadi dia berusaha mengorek lebih dalam. "Jadi lo ngajak gue buat penjarain Pak Bri karena Lucy?"
"Eh, bukan gitu." Bintang terkekeh, dia salah tingkah sendiri karena kesalah pahaman Bulan. "Mungkin iya karena Lucy, tapi lebih tepatnya gue cuma gak mau ada Lucy kedua. Gue gak mau kejadian itu keulang lagi, Lan." Dengan alasan yang tidak diketahui Bulan, suara Bintang semakin memelan di akhir kalimatnya.
"Terus sekarang Lucy di mana?" Bulan kembali bertanya tanpa dapat merasakan sedikit pun untuk peka bahwa Bintang mencoba menghindari percakapan tentang Lucyane.
"Nanti juga lo bakal tau sendiri seiring bertambahnya waktu," jawab Bintang yang enggan bercerita lebih banyak tentang Lucy karena memang pada dasarnya cerita tentang perempuan itu bukan sebuah dongeng yang bisa diceritakan ke semua orang.
"Ahhh ...." Bulan mendesah kecewa. "Kenapa harus nanti kalau bisa sekarang?"
"Karena buat gue, Farrel, dan terutama Dika, topik tentang Lucy adalah yang paling sensitif. Mungkin gue atau Farrel masih bisa terima, tapi Dika?" Bintang menggelengkan kepala. "Siapa pun bisa lupa tentang Lucy, tapi Dika pengecualian."