Blooming Life

Blooming Life
O25. Suara Langkah dan Ketukan



"Lo nggak perlu khawatir. Gue udah serahin videonya ke polisi. Jadi mereka akan segera ngurus itu. Setelah nganterin lo pulang, gue juga mau ketemu detektif swasta yang gue sewa buat nyari lebih banyak petunjuk."


Wajah Bulan tampak semakin pucat sejak selesai menonton video rekaman CCTV yang menunjukkan keberadaan Brian. Mendadak banyak ketakutan berkumpul di kepalanya. "Gimana kalau dia tiba-tiba masuk rumah dan nyerang gue? Gimana kalau dia ngelukain gue?"


Bintang meraih tangan kanan Bulan lalu menggenggamnya dengan salah satu tangan Bintang yang bebas. Sedangkan tangannya yang lain tetap berpegangan pada setir mobil "Gue akan berusaha sebisa gue buat melindungi lo. Jangan khawatir, semua akan baik-baik aja."


Bulan tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala kemudian mengalihkan pandangan keluar jendela.


"Tadi ke rumah gue naik taksi, Lan?" tanya Bintang iseng untuk mengalihkan pikiran Bulan. "Beli apa tadi di mall?"


Kini Bulan kembali menatap Bintang. Lelaki itu pun melemparkan senyumannya sembari menatap Bulan sekilas lalu kembali fokus pada jalan. "Gue diantar Chan."


Mendengar hal tersebut, senyuman Bintang memudar perlahan. "Lo ... masih berhubungan sama dia? Lo ke mall sama dia?" Bintang ingin marah saat mendengar bahwa Bulan diantarkan Chan. Bintang juga tau dengan pasti kenapa rasanya dia ingin marah. Akan tetapi, Bintang tidak punya hak apa pun untuk marah.


"Bukan gitu, Tang. Tadi gue ke mall sendirian, gue ke toko perlengkapan bayi. Beli sepatu bayi lucu banget. Terus pas makan gue gak sengaja ketemu Chan. Kita cuma ngobrol sebentar. Terus waktu gue buru-buru pergi dia pengen ngatarin. Jadi, ya gak apa apa karena kalau nunggu taksi online lama lagi. Toh, dia udah ada tunangan. Gue juga udah gak punya perasaan apa-apa sama dia, Tang." Dan secara naluriah, Bulan merasa dia harus menjelaskan keadaan tersebut pada Bintang. Sebagian kecil diri Bulan merasa heran pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dalam kondisi seperti ini, dia masih memikirkan tentang cinta dan perasaan Bintang.


"Padahal tadi gue juga udah nawarin buat jemput lo. Tapi lo lebih milih buat sama dia." Bintang sadar bahwa seharusnya dia tidak mengatakan itu, tetapi rasnya dia terlalu kesal. Apa lagi mengingat bagaimana dulu Chan memperlakukan Bulan.


"Terus kalau udah gitu lo bolak balik? Dari rumah ke mall balik ke rumah lo lagi terus nganterin gue pulang."


"Dia gak nyakitin lo lagi, kan?" tanya Bintang penuh curiga.


"Nggak, Bintang."


Mereka selanjutnya saling diam sampai Bulan turun dari mobil, dan mereka berpisah tanpa sepatah kata pun. Bulan menghela napas, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah ketika melihat mobil Revallia terparkir di depan rumah. Akhir-akhir semakin sulit bagi Bulan untuk menemui ibunya sendiri. Wanita itu semakin sibuk dan semakin jarang pulang setiap harinya.


Bulan berniat untuk secepatnya memberitahu mamanya tentang apa yang terjadi. Sayangnya ketika Bulan masuk ke dalam rumah, wanita itu terburu-buru untuk pergi. "Bulan, nanti Mama lembur lagi. Jangan lupa tutup pintunya nanti malam. Makan malam pesen online aja, ya," pamit wanita itu bahkan sebelum Bulan bisa berbicara sepatah kata pun. Revallia sudah keluar rumah dengan setengah berlari.


Bulan menghela napas lalu menjawab pelan, "Iya, Ma." meskipun tidak terlalu berharap bisa mengobrol cukup lama dengan Revallia, tetapi Bulan tetap kecewa. Sejujurnya, Bulan merasa bahwa wanita itu menghindari dirinya.


Suara berdentum terdengar keras memenuhi ruang tengah rumah Bulan. Perempuan itu sedang asyik bersantai menonton film sembari makan camilan. Mata Bulan tidak sedikit pun lepas dari film aksi yang sedang dia tonton. Sampai suara perut Bulan terdengar cukup keras.


Sebenarnya, Bulan sudah merasa lapar sejak tadi. Tetapi dia terlalu malas untuk memesan sesuau dan membiarka perutnya sedikit kelaparan. Tetapi sepertinya Bulan harus memesan makanan. Jadi Bulan menghentikan sejenak film yang sedang dia tonton.


Namun sesaat setelah menghentikan film yang sedang dia tonton, terdengar suara berdebam yang sepertinya datang dari luar. Bulu kuduk Bulan meremang seketika. Setelah itu, samar-samar Bulan mendengar suara langkah mendekat. Dia langsung menolehkan kepala ke belakang yang terdapat sebuah jendela di sana. Suara langkah itu seperti terdengar dari sana dan Bulan hanya bisa terdiam kaku di tempatnya.


"Tok ... tok ... tok." Suara tersebut membuat Bulan terlonjak kaget. Tanpa sadar Bulan mengepalkan tangannya erat-erat. Selanjutnya terdengar suara langkah menjauh lalu senyap.


Bulan menelan salivanya sendiri. Dia terus terdiam ketakutan di tempat duduknya sampai beberapa menit kemudian dan suasana tetap sunyi. Bulan pikir, mungkin siapa pun itu sudah pergi. Jadi Bulan memberanikan diri untuk mengecek dengan membuka gorden yang menutupi jendela.


Namun setelah menyingkap gorden tersebut, Bulan langsung terduduk ketakutan di lantai. Sebuah kertas tertempel pada jendela dan terdapat tulisan yang di tulis dengan tinta merah pada kertas tersebut. "GUGURKAN ATAU MATI?!!"


Bulan yang ketakutan segera menutup kembali jendela tersebut dengan gorden lalu terdiam ketakutan di sudut ruangan.


Sementara itu, Bintang di rumahnya baru selesai mandi setelah menemui detektif swasta yang disewanya. Dan sekarang perutnya terasa lapar. Awalnya Bintang ingin memesan makanan. Akan tetapi, Bintang teringat aksi saling diamnya dengan Bulan tadi sore. Dia pikir, mungkin akan menjadi ide bagus untuk mengajak Bulan makan bersama.


Bintang mengecek jam sebelum menghubungi Bulan. "Masih jam sembilan, dia pasti masih bangun," gumam Bintang. Lalu menekan tombol memanggil pada nomor Bulan.


Setelah terdengar nada sambung beberapa kali, Bulan mengangkat teleponnya. Hal pertama yang Bintang dengar dari Bulan adalah suara perempuan itu yang terengah-engah. Bintang mengerutkan dahi. "Lo kenapa, Lan?"


"Bintang ... tolongin gue. Gue takut." Suara Bulan bergetar seperti orang yang sedang menangis.


Bintang melebarkan matanya. "Bulan, lo kenapa? Lo di mana? Biar gue ke sana sekarang."


"Gue takut, Tang. Gue di rumah sendiri." Setelah itu terdengar isakan tangis dari Bulan.


"Jangan matiin teleponnya, gue ke sana sekarang."