
"Kalian ada yang tau Bulan, nggak?" tanya Bintang yang baru datang di tempat nongkrong sudah menanyakan tentang Bulan kepada teman-temannya.
"Yang ada di langit, kan? By the way, semalem bulannya gede banget. Apa, sih ... itu namanya?" jawab Farrel yang sama sekali melenceng dari jawaban yang Bintang inginkan.
"Super moon," jawab Dika kepada pertanyaam Farrel.
Sesaat Bintang hanya terdiam, tidak paham dengan teman-temannya ini. Yang ditanya apa, jawabnya kemana. Kemudian Bintang menepuk-nepuk meja dengan keras untuk mendapatkan kembali perhatian teman-temannya.
"Bukan itu, woy! Maksud gue Bulan anak sekolah kita. Dia kelas dua belas berapa? Anaknya manis banget punya lesung pipit. Rambutnya hitam sepundak," Dari badge kelas yang dipakai Bulan pada seragamnya, Bintang jadi berhasil mengetahui bahwa gadis itu kelas 12 atau bisa dikatakan seangkatan dengannya.
"Kok kelas, sih? Bukannya bulan itu di langit?" Farrel masih juga belum nyambung dengan pertanyaan Bintang. Memang susah menghadapi teman Bintang yang satu itu. Masalah berantem aja jago, tapi kalau disuruh mikir susah.
"Bukan itu, Bego!" sahut Dika. Kalau kata Bintang, Dika ini seorang teman yang bisa diharapkan otaknya.
Dika menunjukkan sebuah unggahan foto dari media sosial Instagram. "Ini, kan? Dia anak dua belas IPA tiga. Dia temen sekelas salah satu anak OSIS." Dika menarik kembali ponselnya dari hadapan Bintang. "Tapi dia kayanya nggak punya Instagram. Soalnya gue cari-cari nggak ketemu."
Bintang tersenyum puas sembari menepuk-nepuk pundak Dika. "Seperti yang gue harapkan dari kawan yang bisa diandalkan otaknya."
"Siapa, sih? Cewek? Cantik nggak? Coba lihat." Farrel berusaha menggapai ponsel Dika. Akan tetapi oleh sang pemilik ponsel sudah keburu memasukkannya kembali ke dalam saku.
"Kepo," ucap Dika mengejek.
Bintang hanya tertawa saat melihat kelakuan dua sahabatnya itu. "Gue cabut dulu, ya," pamit Bintang setelah selesai tertawa.
"Mau ke mana?" tanya Farrel, tetapi Bintang sudah keburu keluar dari tempat nongkrong mereka yang ada di rooftop dengan ruangan berukuran 5 x 4 meter itu.
。゚☆☽☆゚
Bintang berjalan dengan ringan sembari menatap jam tangannya sesekali. Saat ini lorong sekolah masih sepi karena masih dalam jam pembelajaran, tetapi tujuh menit lagi lorong tersebut akan segera ramai oleh murid-murid yang melaksanakan istirahat usia pembelajaran yang memusingkan. Bintang berencana menunggu Bulan di depan kelas gadis itu dan mencegatnya untuk diajak makan siang.
Namun, langkah Bintang terhenti saat melihat seseorang berdiri tegak di atas tangga menuju lantai dua. Bintang segera menarik orang tersebut menjauhi tangga, masuk ke dalam lift khusus guru dan staff dengan kartu akses yang dulu pernah Bintang ambil diam-diam dari dompet ayahnya. Begitu pintu lift tertutup, seseorang itu kini terduduk lemas di lantai.
"Lo nggak apa-apa, Lan?" tanya Bintang sembari berjongkok di depan Bulan. Tangannya menepuk-nepuk pundak gadis itu agar lebih tenang.
Bulan menatap Bintang dengan ekspresi terkejut dan ketakutan. "Itu tadi ...."
"Harusnya kalau lihat yang kayak gitu lari aja, Bulan. Lo bisa-bisa jadi korban dia."
Tadinya Bulan hendak kembali ke kelasnya setelah mengembalikan buku di perpustakaan. Akan tetapi Bulan melihat seorang siswi ditarik paksa olah seorang guru yang Bulan kenali sebagai Pak Bri, seorang guru matematika di sekolahnya. Karena penasaran, Bulan mengikuti mereka berdua hingga sampai di tangga menuju lantai dua. Lalu Bulan pun melihat kejadian itu saat Pak Bri memaksa siswi tersebut agar mau diajak berciuman.
Melihat apa yang dilihatnya, Bulan terkejut sekaligus ketakutan. Otaknya memberi perintah untuk melarikan diri dari sana tetapi kakinya seolah tidak mau digerakkan. Sampai kemudian tangan Bulan terasa ditarik dan gadis itu mendapati Bintang di sana, menyelamatkannya.
"Terimakasih," ucap Bulan lirih.
Bintang berusaha menahan senyumnya setelah mendengar satu kata itu keluar dari mulut Bulan. "Hah? Apa? Gue nggak denger."
Bulan menghela napas. "Te-ri-ma-ka-sih," ulang Bulan dengan menekankan pengucapan pada setiap suku katanya. Akan tetapi Bintang masih belum ingin berhenti menggoda Bulan.
"Coba ulangi lagi, Lan. Gue masih nggak denger."
Bulan memberikan tatapan datar kepada Bintang. "Haish! Telinga lo aja yang bermasalah kayaknya."
Setelah itu terdengar bunyi berdenting, pintu lift terbuka. Bulan langsung keluar begitu saja dan berjalan menuju tangga untuk kembali ke kelas. Sayangnya, Bintang sudah terlebih dahulu menarik tangan Bulan sebelum gadis itu mulai menaiki tangga.
"Jangan dulu, kita nggak tau apa di sana masih ada Pak Bri atau nggak. Bahaya, nanti aja kalau udah istirahat," jelas Bintang sebelum Bulan sempat melayangkan protes.
"Tapi gue harus ke kelas Bintang. Lagian kenapa tadi harus pakai acara naik lift coba?"
Sesaat Bintang tersadar. "Bener juga, ya? Tadi gue panik, Bulan. Jadi spontan aja masuk ke dalam lift buat sembunyi. Gue ngelakuin itu juga buat nolongin lo tau. Kalau gue yang lihat kejadian itu paling nggak diapa-apain. Tapi kalau lo yang ketahuan lihat dia?"
Bulan menelan salivanya sendiri, tidak terbayangkan jika itu dia. "Kenapa orang kayak gitu nggak di masukin ke penjara aja, sih?"
"Itu lah yang dinamkan kekuatan orang dalam, Bulan. Cuma orang nekat yang mau lawan orang kayak dia, contohnya kaya lo sama gue yang bakal penjarain dia." Bulan seketika menatap Bintang dengan alis berkerut.
Bulan berdecak. "Jangan main-main, deh." Akan tetapi, Bintang tidak sedikit pun terlihat main-main.
"Gue serius, Bulan. Kalau bukan kita siapa lagi?"
Jujur saja Bulan ingin melakukannya. Dia paling tidak tahan melihat manusia seperti Pak Bri ikut menghabiskan jatah oksigen di muka bumi ini. Akan tetapi, Bulan masih teringat dengan misinya yang harus lulus SMA tanpa menimbulkan masalah apa pun. Apa lagi yang mengajaknya bekerja sama saat ini adalah the most trouble maker sekolah--atau setidaknya, itu yang dipikirkan Bulan tentang Bintang.
"Gue nggak bisa," jawab Bulan yang terdengar mutlak.
Kemudian bel sekolah berbunyi tanda istirahat. Bulan menghempaskan tangan Bintang lalu mulai menyusuri tangga untuk kembali ke kelasnya.